Hud 11 : 50-60

Kisah Nabi Hud

Ayat selanjutnya menceritakan kisah Nabi Hud, dengan tahapan yang mirip dengan tahapan yang dialami oleh Nabi Nuh beserta kaumnya. Menurut riwayat, Nabi Hud masih keturunan Nabi Nuh, lengkapnya, Hud bin Syalikh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh, dari golongan terpandang di kalangan bangsa Ad. Bangsa Ad adalah salah satu kabilah Arab yg tinggal di Yaman, Ahqaf sebelah utara Hadramaut.

Menurut riwayat, kaum Ad diberi kelebihan fisik yang kuat dan tinggi, serta tinggal di daerah yang subur dan banyak hewan ternak.

Kaum Ad, selain menyembah berhala, mereka juga dikenal dengan kekejaman para pemimpinnya atas rakyatnya, sebagaimana disebutkan di ayat berikut:

Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main, dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)? Dan apabila kamu menyiksa, maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis. (Asy Syu’araa’ 26:128-130)

Tahap 1: Rasul menyerukan Tauhid serta berita gembira dan peringatan

Nabi Hud as diutus kepada kaum Ad. Beliau berdakwah agar kaumnya meninggalkan penyembahan berhala, dan menyembah hanya kepada Allah (50).

Dijelaskan juga, Hud as mengatakan hal yang sama dengan Nuh as, yakni tidak meminta upah dan berharap keuntungan materil dari dakwahnya, sudah cukup ridha Allah sbg imbalan atas usahanya (51).

Hud as kemudian menjelaskan janji Allah kepada kaumnya, yakni bila mereka memohon ampun dan bertaubat atas dosa-dosa mereka maka niscaya Allah akan menambah nikmat yang selama ini sudah dikaruniai kepada mereka, berupa hujan deras yang menambah kesuburan daerah mereka dan ditambahkan kekuatan fisik mereka (52).

Tahap 2: Rasul ditentang oleh kaumnya

Kaum Ad kemudian menolak dakwah Hud as, dan menganggap Hud as telah gila (53-54). Di ayat lain juga disebutkan mereka menganggap Hud berbohong:

Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata, “Sesungguhnya kami benar benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang orang yang berdusta.” (Al A’raaf 7:66)

Hud as kemudian mengatakan kepada kaumnya, kalau saja mereka merenungi nikmat Tuhan yang selama ini dikaruniai kepada mereka, maka akan jelas terang benderang bahwa tidak mungkin itu semua berasal dari berhala yang mereka sembah. Pasti ada Tuhan Pencipta lain yang mengaturnya, Dzat yang lebih tinggi, Dzat yang kekuasaannya meliputi seluruh makhluk hidup di alam semesta, Tuhan yang patut disembah (56).

Tahap 3: Rasul ditantang untuk segera menurunkan siksa sebagai bukti kebenaran kerasulan mereka

Kaum Ad meminta disegerakan datangnya azab Allah sebagai bukti bahwa Hud adalah benar utusan Tuhan, sebagaimana dijelaskan di ayat berikut:

Mereka berkata, “Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami? Maka datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” (Al A’raaf 7:70)

Tahap 4: Rasul menyerahkan urusan mereka yg masih ingkar kepada Allah

Hud as kemudian mengatakan kepada kaumnya, bahwa seluruh pesan kerasulan sudah beliau sampaikan kepada mereka. Terserah kepada mereka apakah akan mengikuti atau mengingkarinya. Serta ancaman Allah kalau mereka tetap ingkar, yakni akan mengganti mereka dengan kaum yang lain yang taat kepada Allah (57).

Tahap 5: Diturunkan azab yang membinasakan mereka yang ingkar kepada Allah

Akhirnya Allah menurunkan azab-Nya, menyelamatkan Hud as dan org yang beriman, serta memusnahkan kaumnya yang tetap ingkar dan musyrik (58). Dahsyatnya azab Allah terhadap kaum Ad ini digambarkan sbb:

Kaum Ad pun mendustakan (pula). Maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus menerus, yang menggelimpangkan manusia seakan-akan mereka pokok kurma yang tumbang. (Al Qamar 54:18-20)

Dan juga pada (kisah) Ad ketika Kami kirimkan kepada mereka angin yang membinasakan, angin itu tidak membiarkan satupun yang dilaluinya, melainkan dijadikannya seperti serbuk. (Adz Dzaariyaat 51:41-41)

Adapun kaum Ad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). Maka kamu tidak melihat seorang pun yang tinggal di antara mereka (Al Haaqqah 69:6-8)

Allah kemudian menerangkan turunnya azab kepada kaum Ad adalah karena sebab berikut (59):

  1. Bersikap abai, ignorance atas tanda-tanda bukti adanya Dzat yang Maha Kuasa, satu-satunya Tuhan yang disembah; bukan malah berhala yang tidak bisa berbuat apa-apa
  2. Mendurhakai rasul, utusan Allah. Mengingkari seruan dakwahnya dan menganggapnya gila
  3. Tidak berani menolak pemimpin kaumnya yang berlaku sewenang-wenang dan kejam/bengis thd rakyatnya dan menentang kebenaran.

Menutup kisah Hud, Allah menerangkan kaum Ad ini menerima kutukan di dunia dan akhirat karena kekafiran mereka kepada Allah, dan mereka dibinasakan, dimusnahkan dari muka bumi yang diakibatkan oleh perilaku mereka (60). Na’udzubillah min dzaalik.

Bercermin dari kisah kaum Ad, menarik diperhatikan bahwa ternyata salah satu sebab turunnya azab Allah adalah karena mereka tidak berani melawan pemimpin-pemimpinnya yang sewenang-wenang dan kejam. Hal ini mirip dengan murka Allah terhadap Bani Israil yang mengabaikan sikap amar ma’ruf nahi munkar terhadap sesama mereka, seperti dijelaskan di ayat dan hadits berikut:

Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. (Al Maa’idah 5:79)

Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, hendaknya kalian benar-benar mengajak kepada yang ma’ruf dan benar-benar mencegah dari yang munkar atau jika tidak, niscaya Allah akan mengirimkan hukuman/siksa kepada kalian sebab keengganan kalian tersebut, kemudian kalian berdo’a kepada-Nya namun do’a kalian tidak lagi dikabulkan. (HR. Tirmidzi No.  2095)

Dengan demikian, jelaslah hamba Allah yang diridhai Allah adalah bukan hanya mereka yang taat melaksanakan perintah dan menjauhi laranganNya dalam bentuk ibadah individual (seperti sholat, shaum dan haji) maupun sosial (seperti zakat, infaq, mengurus anak yatim, dll), melainkan juga mereka yang berani melawan ketidakadilan, kezaliman dan saling menasehati sesamanya.

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.