Hud 11 : 84-95
Kisah Nabi Syu’aib
Nabi Syu’aib diutus kepada kaum Madyan yang letaknya di Yordania sekarang. Beliau dikenal sebagai org yang lemah lembut, penyantun, berasal dari keluarga yg terpandang dan cerdas sehingga beliau dikenal sebagai Khathibul Anbiya’ (Ahli Pidato dari kalangan para nabi). Menurut riwayat, beliau adalah salah satu dari 4 Nabi/Rasul yang berasal dari bangsa Arab (garis keturunan Ismail), Huud as, Shalih as, dan Muhammad saw. Tidak banyak yang diketahui mengenai Nabi Syu’aib as ini. Juga, tidak dijelaskan apa mukjizat beliau, walaupun implisit di dalam ayat 88 diterangkan bahwa beliau memiliki mukjizat yang diperlihatkan kepada kaum Madyan, yang juga disebutkan di ayat berikut:
Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu…
Allah mengutus Nabi Syu’aib as untuk mendakwahkan 2 hal (84):
- Pemurnian tauhid, menyembah hanya kpd Allah (84). Menurut riwayat, kaum Madyan ini menyembah pohon dan berhala.
- Berlaku jujur dan adil dalam takaran/timbangan (jujur dalam transaksi jual beli) dan tidak tamak, merugikan orang lain dengan mengambil hak orang lain (84-85). Allah menerangkan, bahwa keuntungan dari sisi Allah berupa ridho dan berkahNya karena menjaga kejujuran adalah lebih baik daripada keuntungan yang diperoleh melalui kecurangan dalam timbangan dan jual-beli (86).
Di ayat lain, ditegaskan larangan Allah utk berbuat curang dalam timbangan:
Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. (Al Muthaffifin 83:1-3)
Kaum Madyan kemudian mempertanyakan, mengapa Syu’aib meminta mereka meninggalkan sesembahan berhala yang sudah dilakukan sejak nenek moyang mereka. Juga, mengapa Syu’aib melarang mereka mengurangi takaran padahal yang mereka jual-belikan adalah harta mereka sendiri. Terlebih-lebih mereka heran karena Syu’aib orang yang cerdas dan memiliki garis keluarga yang terpandang (87).
Beliau juga mengajak kaumnya untuk memohon ampun, bertaubat kepada Allah atas perbuatan musyrik dan kecurangan mereka dalam timbangan dan jual-beli (90).
Akhirnya kaum Madyan mengusir Nabi Syu’aib dan pengikutnya, seperti digambarkan kekecewaan beliau pada ayat berikut,
Hai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu. (89)
Diusirnya Nabi Syu’aib ini diterangkan juga di ayat lain:
Pemuka-pemuka dan kaum Syu’aib yang menyombongkan dan berkata, “Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, atau kamu kembali kepada agama kami.” Berkata Syu’aib, “Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya?” (Al A’raaf 7:88)
Kemudian diceritakan bagaimana Nabi Syu’aib as di saat terakhir sebelum meninggalkan Madyan, berkata kepada kaumnya dengan sedih utk yang terakhir kali:
“Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta. Dan tunggulah azab (Tuhan), sesungguhnya akupun menunggu bersama kamu.” (93)
Maka Syu’aib meninggalkan mereka seraya berkata, “Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku telah memberi nasihat kepadamu. Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir?” (Al A’raaf 7:93)
Setelah Nabi Syu’aib dan pengikutnya meninggalkan kota Madyan, turunlah azab Allah berupa gempa dan suara guntur yang keras yang memusnahkan semua penduduk Madyan, menjadikan kota tersebut mendadak seperti kota mati. Allah menerangkan juga, azab kepada penduduk Madyan ini sama dengan azab yang membinasakan kaum Tsamud – kaum Nabi Shalih as (94-95).
Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka (Al A’raaf 7:91)
Na’udzubillahi min dzalik…
Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Referensi tafsir klik di sini.