Kaya Bukan Tanda Mulia: Ketegasan Surah Az-Zukhruf

Pernahkah kita bertanya-tanya: mengapa orang yang jauh dari agama justru hidupnya terlihat lebih makmur? Mengapa perusahaan-perusahaan raksasa dunia dikendalikan oleh mereka yang tidak mengenal shalat, sementara banyak orang shalih hidup dalam kesederhanaan?

Pertanyaan ini bukan pertanyaan baru. Kaum Quraisy pun pernah mempertanyakan hal serupa — bahkan lebih tajam lagi: mengapa Nabi yang diutus Allah bukan orang kaya dan berkuasa dari Makkah atau Thaif?

Allah menjawab keberatan ini dengan tiga ayat yang sangat tegas dalam Surah Az-Zukhruf ayat 33-35. Dan jawabannya mungkin akan mengubah cara kita memandang harta selamanya.

Tiga Ayat yang Membalikkan Cara Pandang

Ayat 33:

وَلَوْلَا أَن يَكُونَ ٱلنَّاسُ أُمَّةً وَٰحِدَةً لَّجَعَلْنَا لِمَن يَكْفُرُ بِٱلرَّحْمَٰنِ لِبُيُوتِهِمْ سُقُفًا مِّن فِضَّةٍ وَمَعَارِجَ عَلَيْهَا يَظْهَرُونَ

“Dan sekiranya bukan karena manusia akan menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), niscaya Kami jadikan bagi orang-orang yang kafir kepada (Allah) Ar-Rahman, loteng-loteng perak untuk rumah-rumah mereka, dan tangga-tangga (perak) yang mereka naiki.”

Ayat 34:

وَلِبُيُوتِهِمْ أَبْوَٰبًا وَسُرُرًا عَلَيْهَا يَتَّكِـُٔونَ

“Dan pintu-pintu (perak) untuk rumah-rumah mereka, dan dipan-dipan yang mereka bersandar di atasnya.”

Ayat 35:

وَزُخْرُفًا ۚ وَإِن كُلُّ ذَٰلِكَ لَمَّا مَتَٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۚ وَٱلْـَٔاخِرَةُ عِندَ رَبِّكَ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan perhiasan-perhiasan (dari emas). Dan semua itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia. Dan (kehidupan) akhirat di sisi Tuhanmu adalah untuk orang-orang yang bertakwa.”

Dunia Itu Terlalu Remeh untuk Jadi Ukuran

Imam Ibn Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim menjelaskan bahwa makna ayat 33 sangat mengejutkan: seandainya bukan karena kekhawatiran bahwa manusia akan berbondong-bondong menjadi kafir demi mengejar harta, niscaya Allah akan memberikan seluruh kemewahan dunia — atap perak, tangga perak, pintu perak, dipan mewah, perhiasan emas — kepada orang-orang kafir saja.

Mengapa? Karena dunia itu terlalu remeh di sisi Allah untuk dijadikan pembeda antara yang mulia dan yang hina.

Al-Qurtubi dalam Al-Jaami’ li Ahkam Al-Qur’an memperjelas bahwa ungkapan “ummatan wahidatan” dalam ayat ini bermakna satu umat dalam kekafiran, bukan dalam kebaikan. Artinya, Allah menahan kemewahan total dari orang kafir bukan karena pelit, tetapi karena menjaga orang beriman dari fitnah harta. Kalau semua orang kafir hidup dalam kemewahan absolut sementara semua orang beriman hidup dalam kesederhanaan, banyak orang yang imannya lemah akan berpindah ke kekafiran demi dunia.

Imam Al-Razi dalam Mafatih Al-Ghayb menambahkan pengamatan penting: perhatikan bagaimana Allah menyebut detail kemewahan secara rinci — atap, tangga, pintu, dipan, perhiasan. Ini bukan tanpa maksud. Allah sedang menunjukkan bahwa semua simbol status yang diagungkan manusia, dari rumah mewah sampai interior mahal, seluruhnya bisa saja diberikan kepada orang kafir. Penyebutan detail ini justru untuk merendahkan nilai semua itu.

Satu Kata yang Menghancurkan Ilusi

Kunci dari ketiga ayat ini ada pada satu kata di ayat 35: مَتَاع (mataa’).

Al-Tabari dalam Jaami’ Al-Bayan menjelaskan bahwa mataa’ dalam bahasa Arab bermakna sesuatu yang dinikmati sementara lalu habis — seperti bekal perjalanan yang pasti akan ludes dimakan. Dengan menyebut seluruh kemewahan tadi sebagai mataa’, Allah sedang menyatakan: perak, emas, rumah mewah, dipan mahal — semuanya hanyalah barang pakai sementara yang pasti usang dan lenyap.

Lalu bandingkan dengan penutup ayat 35: “wal aakhiratu ’inda Rabbika lil muttaqiin” — akhirat di sisi Tuhanmu adalah milik orang-orang yang bertakwa.

Ibn ’Asyur dalam Al-Tahrir wa Al-Tanwir memberikan catatan penting pada frasa عِندَ رَبِّكَ (di sisi Tuhanmu). Kata ’inda menunjukkan kedekatan dan kekhususan. Akhirat itu bukan sekadar “lebih baik dari dunia” — ia berada di sisi Allah sendiri, dan hanya diperuntukkan bagi orang bertakwa. Dunia itu barang pakai yang bisa dimiliki siapa saja. Akhirat itu harta eksklusif yang hanya untuk mereka yang bertakwa.

Mengapa Ada Kesan Orang Kafir Lebih Makmur?

Pertanyaan ini wajar muncul setelah membaca ayat di atas. Dan Al-Qur’an sendiri menjawabnya dari beberapa sudut.

Kaya dan Miskin: Keduanya Ujian, Bukan Ukuran

Prinsip dasar yang harus dipahami terlebih dahulu adalah: kekayaan bukan tanda kemuliaan, kemiskinan bukan tanda kehinaan. Allah menegaskan ini dalam Surah Al-Fajr ayat 15-16:

فَأَمَّا ٱلْإِنسَٰنُ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ رَبُّهُۥ فَأَكْرَمَهُۥ وَنَعَّمَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَكْرَمَنِ · وَأَمَّآ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَهَٰنَنِ

“Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata: ‘Tuhanku memuliakanku.’ Tetapi apabila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata: ‘Tuhanku menghinakanku.’”

Allah membantah kedua kesimpulan itu dengan kata كَلَّا (sekali-kali tidak!) di ayat berikutnya. Kaya bukan berarti dimuliakan, miskin bukan berarti dihinakan. Keduanya adalah bentuk ujian yang berbeda.

Rezeki Itu Rahmat Umum, Bukan Tanda Cinta Khusus

Allah memberi rezeki kepada semua makhluk tanpa pandang bulu. Ini adalah rahmat umum-Nya sebagai Rabb seluruh alam. Perhatikan Surah Al-Isra’ ayat 20:

كُلًّا نُّمِدُّ هَٰٓؤُلَآءِ وَهَٰٓؤُلَآءِ مِنْ عَطَآءِ رَبِّكَ ۚ وَمَا كَانَ عَطَآءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا

“Masing-masing — golongan ini dan golongan itu — Kami beri bantuan dari pemberian Tuhanmu. Dan pemberian Tuhanmu tidak pernah terhalangi.”

Al-Tabari menjelaskan bahwa ayat ini menegaskan: Allah memberi kepada yang beriman dan yang kafir. Pemberian dunia bersifat umum — ia tanda rububiyyah (pemeliharaan Allah atas semua makhluk), bukan tanda kecintaan khusus.

Kemewahan Bisa Jadi Istidraj: Ditarik Pelan-pelan Menuju Kehancuran

Inilah yang paling perlu diwaspadai. Dalam Surah Al-An’am ayat 44, Allah menggambarkan pola yang mengerikan:

فَلَمَّا نَسُوا۟ مَا ذُكِّرُوا۟ بِهِۦ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَٰبَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّىٰٓ إِذَا فَرِحُوا۟ بِمَآ أُوتُوٓا۟ أَخَذْنَٰهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ

“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan untuk mereka pintu-pintu segala sesuatu. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.”

Perhatikan polanya: lupa peringatan → dibukakan pintu segala sesuatu → gembira → dihancurkan tiba-tiba. Al-Qurtubi menjelaskan bahwa inilah istidraj — diberi banyak bukan karena dicintai, tapi karena sedang ditarik menuju kehancuran. Kemakmuran mereka justru bagian dari azab yang belum terasa, bukan rahmat.

Larangan Langsung: Jangan Pandang Kagum Kemewahan Mereka

Setelah menjelaskan bahwa rezeki dunia bersifat umum dan kemewahan bisa jadi istidraj, Allah kemudian memberikan perintah langsung agar orang beriman tidak memandang kagum kemewahan orang kafir. Perintah ini begitu penting sehingga diulang di dua surah berbeda.

Dalam Surah Al-Hijr ayat 88, Allah berfirman:

لَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِۦٓ أَزْوَٰجًا مِّنْهُمْ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَٱخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Jangan sekali-kali engkau (Muhammad) tujukan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang kafir), dan jangan engkau bersedih hati terhadap mereka, dan berendah hatilah engkau terhadap orang-orang yang beriman.”

Perhatikan ungkapan لَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ — jangan kamu panjangkan (arahkan) pandangan matamu. Kata mudda bermakna memanjangkan, memperpanjang. Artinya bukan sekadar melihat sekilas, tapi memandang dengan penuh perhatian dan kekaguman — tatapan yang berlama-lama karena terkesan dan iri. Tatapan semacam inilah yang dilarang.

Ibn Katsir menjelaskan bahwa ayat ini turun dalam konteks perintah kepada Nabi ﷺ agar tidak terpesona melihat kemewahan kaum kafir Quraisy. Meskipun ditujukan kepada Nabi ﷺ, perintah ini berlaku untuk seluruh umatnya. Jika Nabi ﷺ saja — manusia terbaik — diingatkan agar tidak terpesona oleh kemewahan duniawi, apalagi kita.

Lalu perintah yang sama diulang lagi dalam Surah Thaha ayat 131:

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِۦٓ أَزْوَٰجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

“Dan jangan engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, (sebagai) bunga kehidupan dunia, agar Kami uji mereka dengannya. Dan rezeki Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.”

Ayat di Surah Thaha ini menambahkan dua informasi penting yang tidak ada di Surah Al-Hijr.

Yang pertama: kemewahan orang kafir disebut زَهْرَة (zahrah) — bunga. Al-Qurtubi menjelaskan bahwa bunga itu indah dipandang tapi cepat layu. Ini penguat kata mataa’ di Az-Zukhruf 35 — kemewahan dunia itu indah tapi sementara, seperti bunga yang pasti gugur.

Yang kedua: Allah menyebut tujuan pemberian kemewahan itu secara eksplisit — لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِagar Kami uji mereka dengannya. Kemewahan itu bukan hadiah, melainkan ujian. Dan bagi orang kafir yang tidak lulus ujian ini, kemewahan itu berubah menjadi istidraj sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

Lalu ayat ini ditutup dengan kalimat yang sangat menenangkan hati: وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ — rezeki Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal. Ini sejalan persis dengan penutup Az-Zukhruf 35: akhirat di sisi Tuhanmu adalah milik orang bertakwa. Kedua penutup ayat ini menyampaikan pesan yang sama — apa yang Allah simpan untuk orang beriman jauh melampaui apa pun yang terlihat di dunia ini.

Orang Beriman Diuji untuk Dinaikkan Derajatnya

Sementara itu, kekurangan harta bagi orang beriman bisa menjadi ujian yang sengaja diberikan untuk meninggikan derajat. Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 155:

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

“Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, dan kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Bentuknya bisa sama — orang beriman kekurangan, orang kafir berkelimpahan — tapi maknanya di sisi Allah sama sekali berbeda. Yang satu sedang diuji untuk dinaikkan, yang lain sedang di-istidraj untuk dijatuhkan.

Payung Ayat dan Hadits Penjelasnya

Hadits Nabi ﷺ menegaskan prinsip yang dibangun oleh ketiga ayat ini:

Payung ayat: Az-Zukhruf ayat 35 — dunia hanyalah mataa’ (kesenangan sementara).

Hadits penjelas:

“Seandainya dunia ini bernilai di sisi Allah seberat sayap nyamuk, niscaya Dia tidak akan memberi minum orang kafir seteguk air pun darinya.”
(HR. At-Tirmidzi no. 2320, dinilai hasan)

Hadits ini bukan sekadar penguat — ia adalah penjelasan presisi atas logika Az-Zukhruf 33-35: Allah memberikan dunia kepada orang kafir justru karena dunia itu tidak bernilai di sisi-Nya. Kalau dunia ini berharga walau seberat sayap nyamuk saja, orang kafir tidak akan mendapat setetes pun darinya.

Empat Prinsip yang Bisa Langsung Diamalkan

Pertama: Jangan menilai seseorang dari hartanya. Ketika melihat orang kaya yang jauh dari agama, jangan berkesimpulan bahwa ia dimuliakan Allah. Ketika melihat orang shalih yang hidup sederhana, jangan berkesimpulan bahwa ia ditelantarkan Allah. Kekayaan bukan ukuran kemuliaan — ini eksplisit dari ayat ini.

Kedua: Jangan iri dengan kemewahan orang yang jauh dari Allah. Ayat ini secara langsung menyembuhkan penyakit iri hati. Allah sendiri yang menyatakan bahwa semua kemewahan itu hanya mataa’ — barang pakai sementara. Bahkan lebih dari itu, kemewahan tersebut bisa jadi justru merupakan istidraj — jalan halus menuju kehancuran.

Ketiga: Investasi terbesar adalah takwa. Akhirat disebut secara eksklusif milik orang bertakwa (lil muttaqiin). Ini bukan metafora — ini ketetapan. Setiap keputusan hidup, dari karier sampai pengelolaan keuangan, perlu ditimbang dengan pertanyaan sederhana: apakah ini mendekatkan saya pada takwa, atau menjauhkan?

Keempat: Dunia boleh dimiliki, tapi jangan sampai memiliki hati kita. Ayat ini tidak melarang memiliki harta. Yang dikritik adalah menjadikan harta sebagai standar kemuliaan dan tujuan hidup. Dalam mazhab Syafi’i, kekayaan yang digunakan untuk ketaatan justru menjadi sarana ibadah yang utama — haji, zakat, sedekah, dan infaq semuanya membutuhkan harta. Harta menjadi masalah hanya ketika ia berpindah dari tangan ke hati.


Ketika kita melihat kemewahan dunia — baik milik sendiri maupun milik orang lain — ingatlah bahwa Allah sendiri yang menyebutnya mataa’: barang pakai sementara yang pasti habis. Yang kekal hanya satu, dan itu sudah dijamin bagi orang bertakwa: wal aakhiratu ’inda Rabbika lil muttaqiin.

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.