Surah Al-'Alaq masuk kelompok surah Makkiyah. Ayat 1-5 merupakan ayat Al-Qur’an pertama yang diwahyukan pada malam 17 Ramadhan ketika Rasulullah bermunajat di gua Hira.
Peristiwa Pertama Kali Turunnya Wahyu
Berikut penuturan Aisyah ra mengenai peristiwa ini yang diriwayatkan oleh Ahmad, Bukhari dan Muslim:
Wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasulullah saw adalah mimpi yang benar. Beliau tidak bermimpi melainkan mimpi tersebut datang seperti fajar Subuh. Kemudian beliau senang menyendiri. Beliau sering mendatangi gua Hira untuk beribadah dalam beberapa malam. Beliau membawa perbekalan untuk melakukan hal itu. Kemudian beliau kembali ke Khadijah dan berbekal lagi seperti semula. Sampai pada akhirnya beliau didatangi wahyu ketika sedang berada di gua Hira.
Seorang malaikat mendatangi beliau dan berkata, "Bacalah!" Beliau menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Rasulullah saw bersabda, "Kemudian malaikat tersebut mendekapku hingga aku merasa sesak, lantas melepasku kembali dan berkata, "Bacalah!" Rasulullah saw menjawab, "Kemudian dia mendekapku untuk kedua kalinya hingga terasa sesak. Lantas melepasku kembali dan berkata, "Bacalah!" Rasulullah saw menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Lantas dia mendekapku ketiga kalinya hingga terasa sesak. Lantas melepasku kembali. Lantas dia membaca ayat 1-5 Surah Al-'Alaq.
Rasulullah saw kembali dengan membawa wahyu tersebut dengan gemetar hingga sampai di rumah Khadijah. Beliau bersabda, "Selimutilah aku, selimutilah aku". Khadijah menyelimuti beliau hingga ketakutan beliau hilang.
Kemudian beliau berkata, "Wahai Khadijah ada apa denganku?" Kemudian beliau menceritakan Khadijah mengenai apa yang telah terjadi dan berkata, "Aku mengkhawatirkan diriku." Lantas Khadijah berkata, "Tidak. Bergembiralah. Demi Allah, Allah tidak akan merugikanmu selamanya karena sesungguhnya kamu selalu bersilaturrahim dan selalu berkata benar, membantu orang lemah, menjamu tamu dan membantu orang-orang yang tegak di atas kebenaran."
Kemudian Khadijah pergi bersama beliau untuk menemui Waraqah bin Naufal, anak paman Khadijah dari pihak ayahnya. Di masa jahiliah Waraqah beragama Nasrani. Dia menulis kitab Injil dengan menggunakan bahasa Arab, dan dia merupakan sosok yang tua dan buta.
Khadijah berkata, "Wahai anak pamanku, dengarkanlah perkataan anak saudaramu."
Waraqah berkata, "Wahai anak saudaraku, apa yang telah kamu lihat?"
Rasulullah saw menceritakan apa yang telah beliau lihat.
Waraqah berkata, "Ini adalah Jibril yang juga pernah turun kepada Musa. Andai saja aku masih muda belia, andai saja aku masih hidup ketika kaummu mengusirmu."
Rasulullah saw bertanya, "Apakah mereka akan mengusirku?"
Waraqah berkata, "Ya. Tidak ada seorang pun yang mengimani ajaranmu melainkan dia akan dihalang-halangi. Jika aku mendapat masa dakwahmu, aku akan membantu sekuat tenaga."
Tidak lama setelah itu, Waraqah pun meninggal dunia.
Di ayat lain, digambarkan ciri-ciri Jibril yang mendatangi Rasulullah saw sebagai berikut:
Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi; maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. (An-Najm 53:5-11)
Dua Sifat Allah dan Dua Bekal Manusia
- Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
- Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
- Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah
Dalam konteks sebagai wahyu yang pertama kali turun, Allah SWT memperkenalkan diriNya melalui dua sifatNya kepada RasulNya, Muhammad SAW:
Sifat 1: Tuhan yang Maha Menciptakan
Allah SWT merefleksikan sifatNya sebagai Maha Pencipta ini kepada manusia - sebagai pembaca Al-Qur’an. Disebutkan bahwa manusia diciptakan dari segumpal darah (2). Proses lengkap penciptaan dan siklus kehidupan manusia ini dijelaskan pada ayat berikut:
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat. (Al-Mu’minun 23:12-16)
Sifat 2: Tuhan yang Maha Mulia
- Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam
- Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Selanjutnya, Allah memperkenalkan diriNya sebagai Tuhan yang Maha Pemurah, yang mengilhamkan kepada manusia berbagai ilmu dan minat eksplorasi terhadap alam semesta (4-5).
Melalui kedua sifat di atas, Allah SWT menjelaskan bahwa setiap manusia diberikan dua modal, yakni (bekal 1) kehidupannya (yang berasal dari penciptaan oleh Allah Yang Maha Menciptakan) dan (bekal 2) keilmuannya (yang berasal dari Allah yang Maha Mulia yang mengajarkan manusia).
Setinggi dan sehebat apa pun manusia, tetap dia tidak bisa terlepas dari asal mula penciptaannya (bekal 1). Pun, setelah manusia diciptakan, apa yang diketahuinya tidak terlepas dari pengajaran Allah SWT melalui berbagai ilham kepadanya dan ketertarikan kepada fenomena alam di sekitarnya (bekal 2). Ilmu pengetahuan inilah yang dapat diserap oleh akal manusia, sehingga membawa kepada kemajuan peradaban dan teknologi seperti saat ini dan masa mendatang.
Di sini, implisit Allah SWT berpesan, bahwa sehebat apa pun kelak kedudukan manusia di dunia dengan ilmu yang dikuasainya, tetap harus mengingat bahwa dua bekal modal utamanya, yakni kehidupannya dan pengetahuannya, tidak lain merupakan karunia pemberian Allah, dari Tuhan yang Maha Menciptakan dan Maha Mulia. Dengan menyadari ini, maka tidak ada alasan bagi manusia untuk bersikap sombong dan menolak keberadaan Tuhan semesta alam.
Manusia Cenderung Melampaui Batas
- Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas,
- karena dia melihat dirinya serba cukup.
- Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali(mu).
Ayat selanjutnya, kita diperintahkan untuk berhati-hati, karena sebagian besar manusia akan lupa diri, melampaui batas setelah dirinya sukses/berhasil dalam kehidupan dunianya (kedudukan, harta, pengetahuan, keluarga, dll) (7). Dia lupa darimana dirinya berasal dan bagaimana dirinya diciptakan (seperti diterangkan pada ayat 1-2 sebelumnya), bagaimana ia mendapatkan pengetahuan (seperti diterangkan pada ayat 3-5 di atas), dan lupa kemana ia akan kembali setelah kematiannya (8).
Katakanlah (wahai Muhammad saw), "Jika bapak-bapak kamu, anak-anak kamu, saudara-saudara kamu, istri-istri kamu, kaum kerabatmu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (daripada) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk bagi kaum fasik (keluar dari ketaatan kepada Allah SWR). (At-Taubah 9:24)
Sejalan dengan jawaban Waraqah bin Naufal pada asbabun nuzul pada awal pembahasan, peristiwa turunnya wahyu pertama kali kepada Rasulullah saw ini mirip dengan yang dialami oleh Musa as, ketika menerima wahyu pertama, dimana Allah juga memperkenalkan diriNya di lembah Thuwa. Perbedaannya, Allah memperkenalkan diriNya dengan berbicara langsung kepada Musa as, sementara Rasulullah melalui malaikat Jibril.
Maka, ketika dia mendatanginya, dia dipanggil, "Wahai Musa! Sesungguhnya Aku adalah Tuhan Pemeliharamu! Maka tanggalkanlah kedua alas kakimu (sebagai penghormatan); sesungguhnya engkau berada di lembah suci Thuwa." (Thaha 20:11-12)
Maka ketika (Musa as) mendatanginya, dia dipanggil dari (arah) pinggir lembah sebelah kanan di tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, "Wahai Musa! Sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan Pemelihara seluruh alam." (Al-Qasas 28:30)
Mereka yang Menghalangi Ibadah
- Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang,
- seorang hamba ketika mengerjakan shalat
- bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu berada di atas kebenaran,
- atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)?
- Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling?
- Tidaklah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?
- Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya
- (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.
- Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya),
- kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah
- sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan).
Ahmad, Tirmidzi, Nasai dan Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata,
Pernah suatu hari Rasulullah saw menunaikan sholat. Lantas Abu Jahal mendatangi beliau dan berkata, “Tidakkah aku telah melarangmu untuk mengerjakan ini?” Lantas Nabi saw menolaknya. Abu Jahal berkata, “Sesungguhnya kamu mengetahui bahwa tidak ada orang yang mempunyai teman lebih banyak daripada aku.” Allah kemudian menurunkan ayat 17-18 ini.
Di rangkaian ayat 9-19 ini, Allah SWT mencontohkan Abu Jahal sebagai manusia yang melampaui batas, sehingga dia tanpa segan menghalangi Nabi saw yang akan beribadah (9-13). Padahal, sebagaimana bahasan pada ayat sebelumnya, semulia apa pun seorang manusia tidak akan bisa lepas dari rahmat dan kebaikan Allah yang memberinya kehidupan dan mengajarkannya ilmu. Juga, dia tidak bisa bersembunyi dari penglihatan Allah (14).
Mereka yang melampui batas ini kemudian diancam siksa neraka yang menghinakan (15-18) dan kita diperintahkan untuk menolak keras perlakuan ini, tetap melaksanakan ibadah sebagaimana dijelaskan secara eksplisit pada ayat-ayat berikut:
Sekali-kali tidak! Janganlah engkau patuh kepadanya; dan sujudlah serta dekatkanlah (dirimu kepada Allah) (19)
Maka janganlah engkau patuhi orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah) (Al-Qalam 68:8)
Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Referensi tafsir klik di sini.
Photo credit: Adli Wahid
Diselesaikan pada 20190602