Al An'aam 6 : 10-44

Allah Membesarkan Hati Nabi saw

  1. Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum kamu, maka turunlah kepada orang-orang yang mencemoohkan di antara mereka balasan (azab) olok-olokan mereka.
  2. Katakanlah, "Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu".

Melanjutkan bahasan sebelumnya, Allah membesarkan hati Nabi saw dalam menghadapi cemoohan kaum kafir, dengan menyatakan bahwa para rasul sebelum beliau pun juga dicemooh oleh umatnya (10). Kemudian Allah memerintahkan agar mereka yang tidak percaya ini utk mengunjungi situs-situs peninggalan umat terdahulu pernah maju tetapi kemudian mereka berbuat zalim sehingga diturunkan azab kepada mereka (11). Allah SWT membesarkan hati Nabi saw (dan orang beriman) yang saat itu mendapat banyak celaan bahwa tidak usah goyah dengan ejekan kaum kafir karena sebenarnya bukti kebesaran Allah yang menghancurkan mereka yang ingkar kepadaNya tampak jelas terlihat jejak peninggalannya.

  1. Katakanlah, "Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi". Katakanlah, "Kepunyaan Allah." Dia telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang. Dia sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. Orang-orang yang meragukan dirinya mereka itu tidak beriman.
  2. Dan kepunyaan Allah-lah segala yang ada pada malam dan siang. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
  3. Katakanlah, "Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Dia memberi makan dan tidak memberi makan?" Katakanlah, "Sesungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang pertama kali menyerah diri (kepada Allah), dan jangan sekali-kali kamu masuk golongan orang musyrik"

Allah kemudian menegaskan bahwa Dia lah satu-satunya Dzat yang memiliki segala yang ada di langit dan di bumi (12). Dialah yang menggilirkan siang dan malam (13). Dan Dia pula yang memberi dan menahan rezeki bagi hambaNya (14).

Nasib Kaum Musyrik di Akhirat

  1. Katakanlah, "Sesungguhnya aku takut akan azab hari yang besar (hari kiamat), jika aku mendurhakai Tuhanku".
  2. Barang siapa yang dijauhkan azab dari padanya pada hari itu, maka sungguh Allah telah memberikan rahmat kepadanya. Dan itulah keberuntungan yang nyata.
  3. Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.
  4. Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

Di ayat selanjutnya Allah menegaskan, bahwa Dia lah yang menguasai hari pembalasan (15), yang di saat itu hanya Allah yang dapat menyelamatkan hambaNya dari siksa dan mudharat (16-18).

  1. Katakanlah, "Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?" Katakanlah, "Allah". Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al-Qur'an ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Qur'an (kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain di samping Allah?" Katakanlah, "Aku tidak mengakui". Katakanlah, "Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)".

Kemudian ditegaskan juga, bahwa biarlah di akhirat nanti Allah yang menjadi saksi kebenaran antara apa yang dibawa oleh Nabi saw (beserta Al-Qur'an) dengan kaum musyrik (beserta berhala yang mereka sembah) (19).

Nasib Kaum Ahli Kitab di Akhirat

  1. Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman (kepada Allah).
  2. Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan.

Allah kemudian menyinggung kaum Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) yang sebenarnya sangat jelas mengenali tanda-tanda akan datangnya rasul terakhir pada diri Nabi saw – sebagaimana tertulis di dalam Taurat dan Injil (20). Tetapi mereka menutup-nutupi fakta tsb dan mengubah ayat-ayat di dalam Taurat dan Injil (21). Bahasan detail mengenai ini dapat dibaca di sini.

  1. Dan (ingatlah), hari yang di waktu itu Kami menghimpun mereka semuanya kemudian Kami berkata kepada orang-orang musyrik, "Di manakah sembahan-sembahan kamu yang dulu kamu katakan (sekutu-sekutu) Kami?".
  2. Kemudian tiadalah fitnah mereka, kecuali mengatakan, "Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah".
  3. Lihatlah bagaimana mereka telah berdusta kepada diri mereka sendiri dan hilanglah daripada mereka sembahan-sembahan yang dahulu mereka ada-adakan.

Mirip dengan ayat 19 sebelumnya, Allah bertanya (retoris) kepada kaum Ahli Kitab nanti di akhirat, dimanakah tuhan anak, roh kudus yang mereka sandingkan dengan Allah ketika di dunia? (22). Kemudian diceritakan, karena takutnya melihat suasana akhirat yang mencekam, mereka menjawab “Demi Allah, (Allah lah) Tuhan kami, tiadalah kami mempersatukan Allah” (23-24).

Nasib Kaum Munafik di Akhirat

  1. Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkani (bacaan)mu, padahal Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinganya. Dan jikapun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata, "Al-Qur'an ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu".
  2. Dan mereka melarang (orang lain) mendengarkan Al-Qur'an dan mereka sendiri menjauhkan diri daripadanya, dan mereka hanyalah membinasakan diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadari.

Selanjutnya Allah menerangkan kaum Munafik. Mereka ini digambarkan sebagai orang yang sudah menerima Islam, tetapi menutup hati dari memahami ayat Allah. Menarik di sini, bahwa kaum munafik ini menganggap Al-Qur'an adalah cerita takhayul dan dongeng zaman dulu (25). Di ayat lain disebutkan,

dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang (munafik) yang berkata “Kami mendengarkan, padahal mereka tidak mendengarkan.” Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun. (Al Anfaal 8:21-22)

Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala.” (Al Qalam 68:15)

Dan apabila dikatakan kepada mereka “Apakah yang telah diturunkan Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Dongeng-dongengan orang-orang dahulu” (An Nahl 16:24)

  1. Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata, "Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman", (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan).
  2. Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta belaka.
  3. Dan tentu mereka akan mengatakan (pula), "Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia ini saja, dan kita sekali-sekali tidak akan dibangkitkan".
  4. Dan seandainya kamu melihat ketika mereka dihadapkan kepada Tuhannya (tentulah kamu melihat peristiwa yang mengharukan). Berfirman Allah, "Bukankah (kebangkitan ini benar?" Mereka menjawab, "Sungguh benar, demi Tuhan kami". Berfirman Allah, "Karena itu rasakanlah azab ini, disebabkan kamu mengingkari(nya)".

Kemudian diterangkan juga, paradigma kaum munafik ini, Hidup di dunia hanya sekali dan tidak ada hidup setelah mati (29), yang menyebabkan mereka tidak takut berbuat khianat terhadap sesama muslim demi mendapatkan keuntungan duniawi.

Allah kemudian menceritakan peristiwa ketika orang munafik ini sudah melihat kerasnya siksa neraka di depan mata mereka. Mereka dengan memelas memohon agar bisa dikembalikan ke dunia menjadi muslim yang benar-benar beriman. Implisit di sini diceritakan mengharukannya peristiwa ini ketika disaksikan juga oleh orang beriman, karena mereka yang akan masuk neraka ini adalah sama-sama muslim, di antara mereka bisa jadi ada saudara, adik, kakak, orangtua dari kaum beriman yang pernah sama-sama mempelajari Islam. Hanya saja kemudian mereka salah jalan sehingga terkena penyakit munafik (27-28). Diceritakan juga, Allah bertanya kepada mereka, “Bukankah kebangkitan ini benar?” yang kemudian dijawab, “Sungguh benar demi Tuhan kami.” (30).

Dunia adalah Permainan

  1. Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata, "Alangkah besarnya penyesalan kami, terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!", sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amat buruklah apa yang mereka pikul itu.
  2. Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?

Di ayat selanjutnya digambarkan besarnya penyesalan mereka ini, dan sangat meruginya mereka karena menipu diri selama di dunia, hidup hanya sekali sehingga tidak mempersiapkan bekal untuk akhirat (31). Implisit Allah seakan menegur karena kebodohan (kelalaian) mereka ini, “Kenapa kok tidak sadar bahwa sebenarnya dunia ini hanyalah permainan, padahal kehidupan sejati yang sesungguhnya adalah kehidupan akhirat.” (32).

Dunia adalah permainan ini ditegaskan di banyak ayat lain juga:

Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui. (Al Ankabuut 29:64)

Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu. (Muhammad 47:36)

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (Al Hadiid 57:20)

Dari ayat-ayat di atas ini, dapat kita ambil beberapa kesimpulan:

  • Dunia adalah seperti permainan. Ada aturan mainnya (yakni sunnatullah atau hukum alam – seperti siapa yang bekerja keras/tekun akan berhasil). Ada periode waktu permainannya (selama hayat masih dikandung badan)
  • Tidak hanya permainan, tetapi dunia juga bisa membuat kita terlena – terbawa dengan permainannya - kenikmatan dunia dan kebanggaan atas pencapaian (achievement). Padahal semua di dunia sifatnya sementara, pasti ada life-time-nya.

Misi Rasul dan Sikap Beriman kepada Allah SWT

  1. Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.
  2. Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu.
  3. Dan jika perpalingan mereka (darimu) terasa amat berat bagimu, maka jika kamu dapat membuat lobang di bumi atau tangga ke langit lalu kamu dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka (maka buatlah). Kalau Allah menghendaki, tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang jahil

Ayat 34 Allah menerangkan, kaum kafir saat itu bukannya tidak percaya Nabi (terbukti dengan beliau dikenal sebagai Al-Amin) melainkan sebenarnya mereka ingkar terhadap Tuhan mereka. Hati merekalah yang tertutup, menolak ayat-ayat Allah (33). Allah kemudian memerintahkan Nabi untuk bersabar menghadapi cemooh dan tekanan mereka, karena para rasul sebelum beliau pun juga mengalami hinaan, dikatakan berbohon dan bahkan sampai dibunuh oleh kaumnya.

Kemudian Nabi saw diperintahkan untuk tidak membebani diri beliau dengan memaksakan dakwah kepada kaum kafir tersebut haruslah berhasil. Padahal mereka beriman atau tdk beriman adalah hak prerogatif Allah, sementara Nabi saw hanya menyampaikan (35) – seperti disebutkan juga di ayat berikut:

Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (Al Maidah 5:92)

  1. Hanya mereka yang mendengar sajalah yang mematuhi (seruan Allah), dan orang-orang yang mati (hatinya), akan dibangkitkan oleh Allah, kemudian kepada-Nya-lah mereka dikembalikan.
  2. Dan mereka (orang-orang musyrik Mekah) berkata, "Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu mukjizat dari Tuhannya?" Katakanlah, "Sesungguhnya Allah kuasa menurunkan suatu mukjizat, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui".

Allah selanjutnya menjelaskan, bahwa jalan mereka yang memenuhi panggilan iman adalah mereka yang memahami dan merenungkan (memikirkan dan merefleksikan ke diri) atas ayat-ayat Allah yang sampai kepada mereka. Sedangkan mereka yang berpaling (seperti kaum Munafik), mereka menolak untuk memahami (walaupun mendengarkan), sehingga dikatakan hati mereka sudah mati (36).

  1. Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.

Di ayat selanjutnya, disebutkan bahwa binatang yang ada di bumi pun sama adalah umat juga, yang akan dihisab oleh Allah (38). Dalam salah satu hadits, disebutkan:

Nabi saw bertanya, “Wahai Abu Dzar, tahukah kamu apa yang membuat kedua domba itu saling menandung?” Abu Dzar menjawab, “Tidak.” Beliau bersabda, “Tetapi Allah SWT mengetahuinya dan kelak akan menghukumi di antara keduanya” (HR Imam Ahmad)

  1. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah pekak, bisu dan berada dalam gelap gulita. Barangsiapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya), niscaya disesatkan-Nya. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi-Nya petunjuk), niscaya Dia menjadikan-Nya berada di atas jalan yang lurus.

Kemudian di ayat 39 ditegaskan kembali, bahwa mereka yang kafir dianalogikan sebagai orang yang bisu, tuli dan sedang berada di dlm suasana yang gelap gulita. Di ayat lain digambarkan kegelapan ini sebagai berikut:

Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun. (An Nuur 24:40)

  1. Katakanlah, "Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu, atau datang kepadamu hari kiamat, apakah kamu menyeru (tuhan) selain Allah; jika kamu orang-orang yang benar!"
  2. (Tidak), tetapi hanya Dialah yang kamu seru, maka Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepada-Nya, jika Dia menghendaki, dan kamu tinggalkan sembahan-sembahan yang kamu sekutukan (dengan Allah).

Ayat selanjutnya, diterangkan bahwa di hari kiamat semua akan mengakui keberadaan Allah karena sudah karakter manusia untuk segera mengingat Allah di waktu mengalami kesulitan (41).

Sikap Kaum Kafir thd Seruan Kebenaran

  1. Ingkar, turun azab dan kemudian bertaubat

    1. Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri.

    Dijelaskan ada umat yang sudah turun azab atas mereka tetapi kemudian mereka bertaubat, tunduk taubat kpd Allah dengan merendahkan diri kpdNya (42).

  2. Ingkar, turun azab tetapi terus bertambah kekufurannya

    1. Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan.

    Ada juga yang tidak mau bertaubat walaupun sudah turun azab atas mereka. Hal ini disebabkan hati mereka yang sdh keras dan syetan yang sengaja menampakkan yang bagus2 thd apa yang mereka kerjakan (43).

    Demikianlah Kami menjadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan dari jenis manusia dan dari jenis jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). (Al-An‘am 6:112)

  3. Ingkar, dibiarkan hingga diturunkan siksa dengan tiba-tiba

    1. Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.

    Inilah orang yang diberikan istidraj, dibiarkan hidup bertambah sukses, dibukakan pintu2 kenikmatan di dunia hingga satu waktu diturunkan siksa yang tiba2 atas mereka, hingga mereka putus asa (44).

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.