Surah Al-'Ankabut termasuk surah Makkiyyah. Dinamakan Al-'Ankabut (laba-laba) karena Allah menyerupakan orang-orang yang menjadikan berhala sebagai tuhan dengan laba-laba yang membuat rumah yang lemah dan sangat ringan.
Visi dan Misi Seorang Mukmin
- Alif laam miim
- Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?
- Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.
Allah menyebutkan ada beberapa hal terkait cobaan bagi orang beriman:
- Cobaan adalah keniscayaan yang harus dijalani oleh setiap orang beriman sebagai ujian keteguhan keimanannya.
- Cobaan bisa berupa kelapangan maupun kesempitan. Setiap orang akan mengalami ini. Perbedaannya, bagi orang beriman, cobaan ini menjadi 'ujian kenaikan kelas' keimanan mereka.
- Cobaan atas orang beriman ini adalah sesuatu yang umum dan sudah berlangsung sejak dahulu. Jangan disangka dengan beriman maka otomatis kehidupannya dijamin akan baik-baik saja, semua menyenangkan tanpa masalah. Namun, yang dijanjikan Allah atas orang beriman adalah keberkahan atas segala yang dialami dan diterima (termasuk harta, tahta, keturunan dan keluarga), ketenangan hati di waktu sempit maupun lapang, hati yang khusyu' dalam beribadah, hati yang selalu bersyukur, dan pertolongan serta bimbingan Allah dalam berbagai aspek kehidupannya.
- Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput (dari azab) Kami? Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu.
Di sini Allah seakan mengajukan pertanyaan, "Apakah berarti kalau orang baik (beriman) akan menderita, sedangkan orang jahat akan selamat dan lolos dari hukuman dan penderitaan?"
- Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah Yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.
Allah SWT kemudian menjawab, bahwa yang pantas dijadikan pengharapan atas keimanan dan ketaatan kita kepada Allah, bukanlah segala kemudahan dan kemuliaan dalam hidup di dunia serta lolos dari penderitaan. Namun, yang pantas menjadi harapan bagi keimanan dan ketaatan kita adalah pertemuan dengan Allah nanti di akhirat, dimana di dalam pertemuan itu, amal kita akan ditimbang sampai sekecil-kecilnya. Inilah VISI seorang Mukmin.
- Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.
- Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.
Kemudian diterangkan, bagaimana cara mencapai visi di atas, yakni pertemuan dengan Allah. Yakni dengan cara berjihad, atau bersungguh-sungguh dalam menjaga 2 hal:
- Kemurnian iman tauhid kepada Allah SWT
- Keikhlasan dan konsistensi dalam mengerjakan berbagai amal saleh, baik itu amal ibadah syariat (seperti sholat, zakat, shaum, haji dll), namun juga amal sosial (seperti infaq, mengajar, sedekah jariah, menjadi pemimpin yang amanah dan adil dll).
Bersungguh-sungguh (mujahadah) di dalam kedua hal inilah yang menjadi MISI seorang Mukmin.
Allah juga menerangkan, bahwa mujahadah ini bukanlah untuk kepentingan Allah SWT, karena Dia Maha Kaya yang tidak memerlukan apa pun dari makhlukNya. Mujahadah ini murni untuk kebaikan dan keselamatan kita sebagai hambaNya, walaupun tampak luarnya seperti untuk "kepentingan" Allah. Mengapa? Bisa jadi yang dimaksud adalah amal perbuatan kita akan masuk ke dalam perhitungan amal kita di akhirat, sebagaimana dijelaskan di ayat berikut:
Barangsiapa mengerjakan kebajikan maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa berbuat jahat maka (dosanya) menjadi tanggungan dirinya sendiri. Dan Tuhanmu sama sekali tidak menzhalimi hamba-hamba(-Nya). (Fussilat 41:46)
Penafsiran lainnya, bisa jadi karena di dalam "iman dan amal saleh" ini tersirat banyak manfaat untuk kita - bahkan di dunia sekalipun, seperti fisik yang sehat, kehidupan yang produktif, pembelajaran terus menerus, kebersihan dan ketenangan hati, silaturahmi yang akrab, dicintai dan didoakan oleh orang yang kita pimpin, dll, sebagaimana diterangkan di ayat berikut:
Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri... (Al-Isra 17:7)
Selanjutnya, Allah menjanjikan dua hal bagi mereka yang melaksanakan misi tersebut, yakni:
- Dihapuskannya dosa-dosa mereka. Setiap manusia tidak bisa luput dari dosa. Dihapuskannya dosa ini berarti bahwa dosa tersebut tidak lagi menjadi pengurang timbangan amal di akhirat.
- Diberikan balasan yang lebih baik dari amal mereka. Termasuk di dalamnya, disempurnakan amal-amal mereka. Sama seperti dosa, setiap manusia tidak luput dari kekurangan dan ketidaksempurnaan, dalam segala hal, termasuk dalam ibadah - dalam banyak hal, seperti riya halus, tidak rutin dalam beribadah, tidak sempurnanya rukun dan syarat ibadah, marah/emosi yang tidak terkendali, dst. Diberi balasan yang lebih baik daripada amal yang dikerjakan ini menjadi pelipat pahala dalam timbangan amal di akhirat.
- Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
Ayat ini masih sambungan dari ayat sebelumnya. Allah menerangkan, bahwa mujahadah yang utama (dan pertama) adalah berbakti kepada orangtua. Di sini kita diminta untuk membedakan antara berbuat baik versus menaati. Tidak selamanya berbuat baik kepada orangtua berarti menaati mereka. Di dalam ayat ini ditegaskan, bahwa kita tidak perlu menaati orangtua bila permintaan mereka mendorong kita kepada perbuatan musyrik dan dosa. Di dalam salah satu hadits, Nabi saw bersabda:
Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam membangkang Pencipta. (HR Imam Ahmad dan al-Hakim)
Di akhir ayat ditegaskan kembali, bahwa hanya kepada Allah lah (dan bukan orangtua) tempat kita semua kembali dan mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan kita.
Golongan "Shalihin"
- Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh benar-benar akan Kami masukkan mereka ke dalam (golongan) orang-orang yang saleh.
Allah kemudian menerangkan, bahwa mereka yang menjaga dan melaksanakan mujahadah iman dan amal saleh di atas akan dimasukkan ke dalam golongan "Shalihin". Mereka yang dimasukkan ke dalam golongan "Shalihin" ini dijelaskan di banyak ayat lain adalah para Rasul seperti Ibrahim, Zakaria, Isa, Yusuf, Luth, Ismail, Idris, Zulkifli, Ishaq, Yunus.
Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (An-Nisa' 4:69)
Di ayat di atas bahkan dijelaskan bahwa golongan "Shalihin" ini adalah salah satu dari orang-orang yang diberikan nikmat oleh Allah, sebagaimana yang dijelaskan di dalam surah Al-Fatihah, yang menjadi doa utama kita, sebagaimana dijelaskan berikut ini:
Tunjukilah kami jalan yang lurus. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (Al-Fatihah 1:6-7)
Golongan Munafik
- Dan di antara manusia ada orang yang berkata, "Kami beriman kepada Allah", maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah. Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata, "Sesungguhnya kami adalah besertamu". Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia?
- Dan sesungguhnya Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang beriman, dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang munafik.
Kontras dengan ayat sebelumnya, di ayat ini diterangkan mengenai orang yang tipis imannya, sifat munafik mereka tampak ketika ada cobaan berbentuk godaan atau tekanan/ancaman dalam kehidupan mereka.
Menurut sebagian Mufassir, ayat ini terkait peristiwa yang terjadi pada seseorang yang bernama Iyasy bin Abi Rabi'ah di mana pada mulanya ia telah masuk Islam kemudian berhijrah ke Medinah. Akan tetapi, karena keislamannya itu, ia mengalami berbagai macam siksaan. Karena tidak tahan lagi, dia kembali murtad dan kembali menjadi musyrik. Orang yang menyiksanya adalah tokoh kafir Quraisy bernama Abu Jahal dan al-harits yang merupakan pamannya sendiri. Akhirnya Iyasy masuk Islam kembali dan menjadi muslim yang baik.
Di dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa tidak seharusnya seorang Mukmin menyerah kepada keadaan dan melepaskan keimanannya. Keimanan kepada Allah, tauhid kepada Allah, harus dipertahankan, apa pun resikonya, sebagaimana diterangkan di ayat berikut:
Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu sehingga Kami mengetahui orang-orang yang benar-benar berjihad dan bersabar di antara kamu... (Muhammad 47:31)
Perilaku ini juga diterangkan di ayat berikut:
Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah hanya di tepi; maka jika dia memperoleh kebajikan, dia merasa puas, dan jika dia ditimpa suatu cobaan, dia berbalik ke belakang. Dia rugi di dunia dan di akhirat. Itulah kerugian yang nyata. (Al-Hajj 22:11)
Dan sungguh, Allah telah menurunkan (ketentuan) bagimu di dalam Kitab (Al-Qur'an) bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk bersama mereka, sebelum mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena (kalau tetap duduk dengan mereka), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sungguh, Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di neraka Jahanam, (yaitu) orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu. Apabila kamu mendapat kemenangan dari Allah mereka berkata, “Bukankah kami (turut berperang) bersama kamu?” Dan jika orang kafir mendapat bagian, mereka berkata, “Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang mukmin?” Maka Allah akan memberi keputusan di antara kamu pada hari Kiamat. Allah tidak akan memberi jalan kepada orang kafir untuk mengalahkan orang-orang beriman. (An-Nisa 4:140-141)
Klaim Orang Kafir akan Memikul Dosa Pengikutnya
- Dan berkatalah orang-orang kafir kepada orang-orang yang beriman, "Ikutilah jalan kami, dan nanti kami akan memikul dosa-dosamu", dan mereka (sendiri) sedikitpun tidak (sanggup), memikul dosa-dosa mereka. Sesungguhnya mereka adalah benar-benar orang pendusta.
- Dan sesungguhnya mereka akan memikul beban (dosa) mereka, dan beban-beban (dosa yang lain) di samping beban-beban mereka sendiri, dan sesungguhnya mereka akan ditanya pada hari kiamat tentang apa yang selalu mereka ada-adakan.
Ayat berikutnya menerangkan salah satu perilaku orang Kafir yang karena kekuasaaan mereka, dengan angkuhnya menyatakan akan memikul dosa pengikutnya. Dijelaskan bahwa bahkan orang kafir tersebut sebenarnya tidak akan mampu memikul dosa dari syirik dan kejahatan mereka sendiri, apalagi ditambah dosa orang lain.
Sedang mereka saling melihat. Pada hari itu, orang yang berdosa ingin sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab dengan anak-anaknya. (Al-Ma'arij 70:11)
Allah SWT menegaskan bahwa setiap orang akan memikul dosa masing-masing. Tidak ada transfer dosa. Namun dosa seseorang akan ditambah dengan dosa orang-orang yang dia sesatkan, dan orang yang mereka sesatkan tetap memikul dosa masing-masing. Hal ini diterangkan di ayat berikut:
Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang dibebani berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul bebannya itu, tidak akan dipikulkan sedikit pun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. (Fathir 35:18)
(Ucapan mereka) menyebabkan mereka pada hari Kiamat memikul dosa-dosanya sendiri secara sempurna, dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, alangkah buruknya (dosa) yang mereka pikul itu. (An-Nahl 16:25)
Dalam sebuah hadis Nabi saw bersabda,
Siapa yang mengajak seseorang kepada petunjuk (Tuhan), ia akan memperoleh pahala sebanyak yang diperoleh oleh orang yang mengamalkan petunjuk itu tanpa dikurangi sedikit pun pahalanya (sampai Kiamat), dan siapa yang mendorong seseorang kepada kesesatan, baginya dosa sebanyak dosa orang yang mengikuti kesesatan itu (sampai hari Kiamat) tanpa dikurangi sedikit pun dosanya. (HR Muslim dari Abu Hurairah)
Pada akhir ayat ini, Allah menegaskan bahwa di hari kemudian kelak mereka akan dimintai pertanggungjawabannya tentang kebohongan yang mereka perbuat di dunia.
Dakwah Nabi Nuh as
- Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.
- Maka Kami selamatkan Nuh dan penumpang-penumpang bahtera itu dan Kami jadikan peristiwa itu pelajaran bagi semua umat manusia.
Ayat selanjutnya menjelaskan perjuangan panjang Nuh as dalam berdakwah kepada kaumnya selama 950 tahun. Menurut riwayat, hanya sekitar 80 orang yang beriman dan diselamatkan dari banjir besar. Hal ini diterangkan dalam banyak ayat, di antaranya:
Dia (Nuh) berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam, tetapi seruanku itu tidak menambah (iman) mereka, justru mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya aku setiap kali menyeru mereka (untuk beriman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jarinya ke telinganya dan menutupkan bajunya (ke wajahnya) dan mereka tetap (mengingkari) dan sangat menyombongkan diri. (Nuh 71:5-7)
Dakwah Nabi Ibrahim as
- Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya, "Sembahlah olehmu Allah dan bertakwalah kepada-Nya. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.
- Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan.
Ayat selanjutnya menerangkan dakwah Nabi Ibrahim kepada kaumnya. Tampak Ibrahim memberikan argumen kenapa berhala tidak pantas dijadikan tuhan, bahwa berhala yang disembah tidak bisa memberika rezeki kepada penyembahnya (justru mereka yang memberikan sesajen kepada berhala), maka tidaklah masuk akal kalau mereka menyembah dan meminta pertolongan kepada berhala yang bahkan dia tidak mampu menolong dirinya sendiri.
- Dan jika kamu (orang kafir) mendustakan, maka umat yang sebelum kamu juga telah mendustakan. Dan kewajiban rasul itu, tidak lain hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya.
Ibrahim as kemudian juga menerangkan bahwa urusan iman dan kafir adalah tanggung jawab mereka sendiri, dan bukan tanggung jawab dia sebagai rasul. Tugas rasul adalah menerangkan dan mengajarkan ajaran Allah kepada kaumnya dengan sejelas-jelasnya.
Bukti Kekuasaan Allah pada Diri Manusia
Ayat selanjutnya menerangkan berbagai argumen atas besar dan luasnya kekuasaan Allah, sebagai kontras dengan "kekuasaan" berhala dan tuhan-tuhan lain yang disembah oleh mereka yang kafir. Luasnya kekuasaan Allah ini melingkupi siklus penciptaan, kehidupan dan kematian manusia sebagai berikut:
1. Fase Penciptaan & Kebangkitan
- Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (kembali). Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
- Katakanlah, "Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Manusia diciptakan dua kali. Pertama ketika penciptaan Adam dan ditiupkan ruh hingga kelahiran. Kedua, ketika manusia dibangkitkan di Akhirat. Al-Qur'an menyebut kedua peristiwa ini sebagai penciptaan, karena manusia secara fisik diciptakan dari tidak ada menjadi ada.
Hanya kepada-Nya kamu semua akan kembali. Itu merupakan janji Allah yang benar dan pasti. Sesungguhnya Dialah yang memulai penciptaan makhluk kemudian mengulanginya (menghidupkannya kembali setelah berbangkit), agar Dia memberi balasan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan dengan adil. Sedangkan untuk orang-orang kafir (disediakan) minuman air yang mendidih dan siksaan yang pedih karena kekafiran mereka. (Yunus 10:4)
Di ayat lain Allah juga menegaskan bahwa penciptaan kedua (membangkitkan manusia) adalah perkara yang lebih mudah daripada penciptaan manusia pertama kali:
Dan Dialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya kembali, dan itu lebih mudah bagi-Nya. Dia memiliki sifat yang Mahatinggi di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana. (Ar-Rum 30:27)
(Allah) berfirman, “Demikianlah.” Tuhanmu berfirman, “Hal itu mudah bagi-Ku; sungguh, engkau telah Aku ciptakan sebelum itu, padahal (pada waktu itu) engkau belum berwujud sama sekali.” (Maryam 19:9)
Juga, digambarkan bahwa Allah SWT sama sekali tidak kesulitan menciptakan dan membangkitkan seluruh umat manusia karena bagiNya sama saja dengan menciptakan dan membangkitkan satu jiwa:
Menciptakan dan membangkitkan kamu (bagi Allah) hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja (mudah). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat (Luqman 31:28)
2. Fase Kehidupan - Nikmat dan Azab
- Allah mengazab siapa yang dikehendaki-Nya, dan memberi rahmat kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan.
- Dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di bumi dan tidak (pula) di langit dan sekali-kali tiadalah bagimu pelindung dan penolong selain Allah.
Allah menurunkan azab dan rahmat kepada siapa saja yang dikehendakiNya. Keputusan mengenai azab dan rahmat ini adalah hak prerogatif Allah. Disebutkan pula bahwa manusia tidak dapat menghindarkan dirinya dari azab Allah dan tidak ada yang bisa menolongnya kecuali atas izin Allah, betapapun cerdas dan berkuasanya manusia.
Sesungguhnya orang-orang kafir, baik harta maupun anak-anak mereka, sedikit pun tidak dapat menolak azab Allah. Mereka itu penghuni neraka, (dan) mereka kekal di dalamnya. (Ali Imran 3:116)
3. Fase Kematian
Di bagian akhir ayat 21 di atas, diterangkan, bahwa setelah manusia meninggal maka manusia akan kembali kepada Allah
4. Fase Pertemuan dengan Allah
- Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan Dia, mereka putus asa dari rahmat-Ku, dan mereka itu mendapat azab yang pedih.
Terakhir, disebutkan bahwa ujung perjalanan manusia adalah kembali kepada Allah, pertemuan dengan Allah di Akhirat, dimana setiap amal perbuatan ditimbang dengan teliti dan masing-masing manusia akan mendapatkan balasan akhir berupa neraka atau surga. Inilah moment yang menjadi VISI seorang mukmin seperti telah diterangkan di ayat 5 sebelumnya. Pada saat itu, mereka yang ingkar ketika hidup di dunia akan putus asa karena azab neraka di depan mata yang kekal selamanya.
Dan kamu akan melihat mereka dihadapkan ke neraka dalam keadaan tertunduk karena (merasa) hina, mereka melihat dengan pandangan yang lesu. Dan orang-orang yang beriman berkata, “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari Kiamat.” Ingatlah, sesungguhnya orang-orang zhalim itu berada dalam azab yang kekal. (Asy-Syura 42:45)
Na'udzubillah min dzaalik.
Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Referensi tafsir klik di sini.
Diselesaikan pada 20240304.