Al A'raaf 7 : 80-95

Al A'raaf 7 : 80-95

Kisah Nabi Luth as

Luth adalah anak Haran, saudara Nabi Ibrahim as. Luth mengikuti risalah Nabi Ibrahim sebagaimana disebutkan di ayat berikut:

Maka Luth membenarkan (kenabian) nya (Ibrahim)… (Al ‘Ankabuut 29:26)

Luth mengikuti perjalanan bersama Nabi Ibrahim, hingga akhirnya beliau menetap di Sodom, yang terletak di timur Yordania.

Nabi Luth as diutus kepada kaumnya yang berbuat keji, perilaku homoseksual yang menyimpang, yang bahkan dikatakan sebagai sesuatu yang belum pernah dilakukan siapa pun sebelum mereka dan kaum yang melampaui batas (80-81).

Menarik memperhatikan jawaban kaumnya terhadap seruan Nabi Luth as ini. Mereka menjawab (diterjemahkan secara bebas), "Usirlah Luth dan pengikutnya karena mereka adalah orang-orang yang sok suci" (82). Jadi tampak di sini, bahwa kaum Luth bukannya tidak tahu perbuatan yang mereka lakukan itu adalah sesuatu keji dan kotor. Justru mereka dengan sengaja menantang dan membenci orang yang tidak mau mengikuti mereka. Orang tersebut dianggap sebagai sok suci, pura-pura tidak mau mengikuti perbuatan mereka.

Maka tidak lain jawaban kaumnya melainkan mengatakan, “Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu; karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang (mendakwahkan dirinya) bersih.” (An-Naml 27:56)

Sedemikian keras kemungkaran yang dilakukan oleh kaum Luth, sehingga sedikit sekali orang yang mengikuti Luth as. Menurut sebagian besar Mufasir, dakwah beliau hanya diterima oleh keluarganya saja – itu pun tidak termasuk istrinya sebagaimana disebutkan pada ayat berikut:

Dan Kami tidak mendapati negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang yang berserah diri (rumah keluarga Luth). (Adz-Dzaariyaat 51:36)

Mengenai istri Nabi Luth as ini, di satu ayat Allah menyamakannya dengan istri Nabi Nuh:

Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya), “Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam).” (At-Tahrim 66:10)

Kedua istri para Nabi ini dikatakan berkhianat karena menolak mengikuti risalah yang dibawa oleh suami mereka dan mereka berpihak kepada orang kafir (seperti istri Nabi Luth ketika dia memberitahu kedatangan malaikat yang sedang bertamu kepada kaumnya). Implisit di sini, kita ditunjukkan bahwa hidayah tidak bisa dibuat-buat. Bahkan orang terdekat, istri seorang Rasul sekalipun bisa menjadi penentang atas risalah Allah.

Perbuatan keji kaum Luth ini digambarkan pula di ayat-ayat lain, di antaranya:

Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya, “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji (mesum) itu sedang kamu memperlihatkannya (melakukannya dengan terang-terangan)?”
“Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu (mu), dan bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu).” (An-Naml 27:54-55)

Akhirnya Allah SWT menurunkan azab kepada kaum Luth ini dengan membalikkan satu kota keseluruhannya. Setelah itu, kota yang telah terbalik itu dihujani bertubi-tubi oleh batu dari tanah yang terbakar. Sebagian riwayat menerangkan kota ini meninggalkan tanda khusus berupa batu yang bertumpuk-tumpuk; ada juga yang menyebutkan sebuah danau yang airnya hitam dan berbau busuk.

Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka), kecuali keluarga Luth. Mereka Kami selamatkan sebelum fajar menyingsing (Al-Qamar 54:34)

Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tidak akan jauh dari orang-orang yang zalim. (Huud 11:82-83)

Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. (Al-Hijr 15:74)

Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut kepada siksa yang pedih. (Adz-Dzaariyaat 51:37)

Mengenai perbuatan homoseksual ini, Nabi SAW bersabda:
Barangsiapa yang mendapati seseorang melakukan perbuatan kaum Luth, maka bunuhlah pelaku dan objek perbuatan itu. Dalam redaksi lain, maka rajamlah yang di atas dan yang di bawah (HR Abu Dawud, Tirmidzi dan an-Nasa’i)

Kisah Nabi Syu’aib as

Madyan adalah nama kabilah Arab yang menempati daerah Ma’an di sebelah timur Yordania. Mereka keturunan Madyan bin Ibrahim. Mereka menyembah malaikat dan sering menipu dalam takaran dan timbangan.

Nabi Syu’aib menyerukan ketauhidan, sama dengan para rasul yang lain (85). Selain itu, Nabi Syu’aib juga menyerukan beberapa hal:

  1. Meninggalkan praktek menipu dalam timbangan dan takaran ketika berjual beli (85)
  2. Jangan menakut-nakuti dan menghalangi orang utk beriman dan taat di jalan Allah (86)
  3. Jangan menginginkan jalan Allah menjadi bengkok. Maksudnya, jangan mencari-cari sesuatu yang bertentangan dengan akal sehat dalam risalah Allah dan mencari-cari kontradiksi di dalam ayat-ayat Allah sehingga membuat ragu orang-orang yang sudah beriman (86)

Kaum Madyan ini kemudian diingatkan akan nikmat Allah, bahwa mereka dulu berjumlah sangat sedikit sehingga Allah memberikan banyak keturunan sampai menjadi suku yang besar (menurut riwayat, Madyan bin Ibrahim menikahi Raiya binti Luth dan memiliki anak yang banyak). Selanjutnya mereka juga diingatkan akan siksa Allah atas umat-umat sebelumnya (Nuh, Hud, Shalih dan Luth) yang berbuat zalim (86).

Kemudian di ayat (88) diceritakan kesombongan mereka terhadap seruan Nabi Syu’aib dan mengancam agar Nabi Syu’aib dan pengikutnya kembali menyembah malaikat seperti mereka atau akan diusir. Nabi Syu’aib pun dengan tegas menolak. Beliau kemudian berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah pemberi keputusan yang sebaik-baiknya” (89) sehingga diturunkanlah azab kepada kaum Madyan ini berupa gempa yang mematikan mereka semua (91). Diterangkan, akibat kerasnya adzab ini menyebabkan kota tersebut menjadi kota mati yang kosong seperti tidak pernah didiami (92).

Ayat (93) adalah perkataan terakhir Nabi Syu’aib kepada kaumnya, ungkapan kekecewaan sebelum beliau mengungsi meninggalkan umatnya menghindari dari azab Allah yang sudah tampak di depan mata.

Maka Syu'aib meninggalkan mereka seraya berkata, "Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku telah memberi nasihat kepadamu. Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir?" (93)

Kata-kata Nabi Syu’aib di atas memiliki redaksi yang sama dengan perkataan yang disampaikan Nabi Shalih pada ayat (79). Ungkapan kekecewaan dimana Rasul akhirnya menyerahkan nasib kaumnya kepada Allah SWT ini tampaknya sebagai tanda pembukaan diturunkannya azab. Hal yang sama juga tampak pada kisah Nuh as pada ayat berikut:

Nuh berkata, "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka, dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang mukmin besertaku." (Asy-Syu'ara 26:117-118)

Ayat selanjutnya menerangkan ketetapan Allah, sudah menjadi sunnatullah, yakni diutusnya rasul akan diiringi oleh musibah dan penderitaan kepada kaum yang mengingkarinya sebagai bentuk pertolongan Allah kepada para Rasul dan orang beriman pengikutnya. Musibah dan penderitaan ini berupa:

  1. Azab yang diturunkan secara langsung, tidak lama setelah para Rasul berdoa meminta pertolongan dan menyerahkan nasib mereka yang ingkar kepada Allah. Azab ini dapat berupa musibah yang langsung membinasakan umat Rasul tersebut (seperti pada umat Nabi Syu'aib as dan Salih as di atas); atau pun berbentuk kesulitan hidup dan penderitaan (seperti pada kisah Bani Israil yang dihukum menjadi kera, diperangi oleh Raja Nebukadnezar, dan diharamkannya mereka memasuki kota yang dijanjikan selama 40 tahun) (94). Azab jenis pertama ini disebutkan pula pada ayat berikut:

    Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan. (Al-An'aam 6:42-43)

    Menarik bila kita perhatikan ayat (42-43) di atas. Ternyata disebutkan bahwa mereka yang ingkar masih diberi kesempatan bertaubat ketika azab Allah itu menjelang turun. Inilah yang dilakukan oleh kaum Ninawa, yang segera bertaubat setelah ditinggalkan oleh Nabi Yunus as dan mereka melihat awan hitam menutupi langit, pertanda awal diturunkannya azab, sehingga akhirnya Allah menerima taubat mereka dan azab tidak jadi turun.

  2. Azab yang ditunda dan diberi tempo sementara. Kaum yang mengingkari Rasul ini dibiarkan menikmati kesenangan dan kenikmatan dunia sampai waktu tertentu, baru kemudian didatangkanlah azab dengan seketika ketika mereka sedang lengah (95). Hal ini diterangkan pula pada ayat berikut:

    Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (Al An’aam 6:44)

Na'udzubillahi min dzalik.

Semoga kita dijauhkan dari terlena di dalam kezaliman dan diberi kekuatan hati untuk segera bertaubat dan kembali ke jalan yang diridhoi Allah SWT. Aamiin.

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.

Photo credit: @sedograph

Revisi 20190326