Al Baqarah 2 : 106-123

Karakter Bani Israil (6)

  1. Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?
  2. Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong.
  3. Apakah kamu menghendaki untuk meminta kepada Rasul kamu seperti Bani Israil meminta kepada Musa pada jaman dahulu? Dan barangsiapa yang menukar iman dengan kekafiran, maka sungguh orang itu telah sesat dari jalan yang lurus.
  4. Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
  5. Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.
  6. Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata, "Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani". Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah, "Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar".
  7. (Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
  8. Dan orang-orang Yahudi berkata, "Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan", dan orang-orang Nasrani berkata, "Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan," padahal mereka (sama-sama) membaca Al Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili diantara mereka pada hari Kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya.
  9. Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalanghalangi menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (mesjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat.
  10. Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.
  11. Mereka (orang-orang kafir) berkata, "Allah mempunyai anak". Maha Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya.
  12. Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya, "Jadilah!" Lalu jadilah ia.
  13. Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata, "Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami?" Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu; hati mereka serupa. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin.
  14. Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka.
  15. Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.
  16. Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.

Masih menyambung perilaku Bani Israil:

  • Mereka tdk rela syariat Islam dan Al Quran menghapus dan mengganti syariat dan kitab suci mereka (106)
  • Mereka memprovokasi kaum muslim agar banyak bertanya spt yg mereka lakukan sebelumnya kpd rasul2 sebelumnya (108). Ini dilakukan agar kaum muslim kembali ragu dan kembali kpd kekafiran (109)
  • Mereka meng-klaim bhw hanya yg beragama Yahudi / Nasrani saja yg masuk surga (111-112). Padahal sebenarnya hanya yg beramal soleh (110) saja yg mendapat pahala dan mengantarkannya masuk surga.
  • Antara Yahudi dan Nasrani saling tuding kitab sucinya tdk bisa dipegang (mgkn krn menganggap tdk lengkap atau tdk otentik) (113)
  • Mereka menghalangi kaum muslim sholat di masjid bahkan mencoba merobohkannya (114). Allah kemudian menenangkan kaum muslim dg membolehkan mereka sholat dimana saja (kemana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah) (115)
  • Mereka percaya Allah punya anak (Isa -Nasrani; dan Uzair -Yahudi) (116). Di sini Allah membantah betapa tdk pantasnya hal tsb dg menegaskan Dia yg menciptakan langit dan bumi dan hanya perlu “Kun” utk menjadikannya.
    Di sini seakan Allah meminta kita utk mengkontraskan dg lamanya proses kehamilan dan berkembangnya anak dari bayi hingga dewasa, yg tdk mungkin dilakukan oleh Dzat yg Maha Mencipta dg satu ucapan “Kun” (117)
  • Mereka mempertanyakan kenapa Allah tdk berbicara langsung kpd mereka (atau pemuka agama mereka) sebagaimana Allah berbicara kpd Musa? (118)

Singkatnya sebenarnya Yahudi dan Nasrani ini sdh berusaha dg berbagai cara bagaimana bisa membantah, tdk ikut kpd risalah Rasulullah bahkan berusaha melemahkan keimanan pengikut Nabi. Mereka bahkan dikatakan tdk akan rela/tenang sampai pengikut Rasulullah ini goyah dan mengikuti agama mereka (120).

  1. Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Ku-anugerahkan kepadamu dan Aku telah melabihkan kamu atas segala umat.
  2. Dan takutlah kamu kepada suatu hari di waktu seseorang tidak dapat menggantikan seseorang lain sedikitpun dan tidak akan diterima suatu tebusan daripadanya dan tidak akan memberi manfaat sesuatu syafa'at kepadanya dan tidak (pula) mereka akan ditolong.

Kisah Bani Israil ini ditutup dg mengulang pernyataan Allah akan keistimewaan mereka (122) dan peringatan akan kepastian datangnya hari akhirat dimana setiap orang akan bertanggung jawab sendiri-sendiri atas amalnya. (123).

Mendapatkan Nikmat dan Kelebihan tidak Menjadi Jaminan Iman dan Amal Saleh - Keselamatan di Akhirat

Menarik di sini melihat struktur bahasan Bani Israil yg dibuka dan ditutup oleh 2 ayat yang identik:

Ayat 47:

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ

Ayat 122:

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ

“Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Ku-anugerahkan kepadamu dan Aku telah melebihkan kamu atas segala umat.” (2:47 dan 2:122)

Di sini Allah implisit memberikan highlight dari rangkaian ayat yang cukup panjang mengenai Bani Israil ini (47-121), yakni kisah suatu kaum yang dikaruniai banyak sekali nikmat (seperti dengan diturunkannya banyak rasul dan nabi kepada mereka) dan juga dilebihkan dari kaum yang lain (seperti diberikan kecerdasan yang lebih daripada umat lain), namun ternyata itu tidak menjamin mereka menjadi beriman dan beramal saleh (bertakwa) serta selamat di Akhirat.

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.