Dua Generasi - Dua Umat
Melalui rangkaian ayat 131-145 Allah SWT menjelaskan mengenai dua generasi umat, yang pertama untuk menjadi contoh baik, sedangkan yang kedua menjadi contoh buruk. Penjelasan kedua generasi umat ini ditutup oleh ayat yang identik sama, ayat 134 dan 141:
Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan. (134 dan 141)
1. Generasi Umat yang Menjaga Tauhid dan Ketaatan kepada Allah
Generasi Umat pertama ini memiliki beberapa ciri, yakni:
- Ketika Tuhannya berfirman kepadanya, "Tunduk patuhlah!" Ibrahim menjawab, "Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam."
Ciri pertama. Generasi / Umat ini berawal dari Ibrahim as yang diperintahkan Allah SWT untuk mengesakan dan taat kepada Allah SWT.
Perintah mengesakan Allah SWT yang diterima Ibrahim ini dikenal sebagai agama lurus (hanif), yang ditegaskan juga di ayat lain:
Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). (Asy-Syuraa 42:13)
Agama Allah itu satu, yakni agama lurus/hanif yang memiliki 2 ciri:[1]
- Mengesakan Allah secara murni dan penolakan syirik serta keberhalaan dalam berbagai ragamnya
- Penyerahan diri kepada Allah dan ketundukan kepadaNya dalam semua perbuatan.
Siapa pun yang tidak memiliki dua ciri di atas, maka ia bukanlah seorang muslim dan tidak menganut agama lurus yang didakwahkan oleh semua Nabi, termasuk Rasulullah saw. Di ayat lain disebutkan, mereka yang menaati kedua hal diatas, tidak akan dibedakan di hadapan Allah:
Katakanlah, "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya'qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nyalah kami menyerahkan diri." (Ali Imran 3:84)
- Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata), "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam."
- Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya."
Ayat 133 ini turun berkenaan dengan orang Yahudi ketika mereka berkata kepada Nabi saw, "Apakah kau tidak tahu bahwa Ya'qub pada saat sakaratul maut telah mewasiatkan anak-anaknya agar berpegang pada agama Yahudi?"
Ciri kedua. Mereka mengajarkan kepada anak-anaknya agar tetap menjaga tauhid - ketaatan kepada Allah SWT. Sedemikian pentingnya pesan tauhid dan ketaatan ini, sehingga sengaja diwasiatkan secara khusus dan dijadikan dialog dengan keturunan mereka ketika mereka akan meninggal. Hal ini digambarkan dengan wasiat Ibrahim as dan Ya'qub kepada anak-anaknya pada ayat 132-133 di atas.
Bahkan pada ayat 133 digambarkan pula, bahwa komitmen ketaatan kepada Allah ini tidak hanya sebatas orangtua ke anak, tetapi juga lintas generasi sampai ke cucu dan buyut.
- Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan.
Allah menutup uraian Generasi Umat teladan ini dengan menegaskan bahwa mereka akan mendapatkan balasan kebaikan atas ketaatan yang mereka usahakan, di dunia dalam bentuk keselamatan dan keberkahan dan juga di akhirat dalam bentuk surga.
Generasi Umat inilah yang dimaksudkan sebagai orang-orang yang diberi nikmat di dalam Surah Al-Fatihah ayat 7 dan ayat lainnya berikut:
(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (Al-Fatihah 1:7)
Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. (19:58)
Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (4:69)
2. Generasi Umat yang Sesat dan Dimurkai Allah
- Dan mereka berkata, "Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk". Katakanlah, "Tidak, melainkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik."
Ayat selanjutnya menggambarkan generasi Umat Yahudi dan Nasrani (Ahli Kitab), cara pandang mereka dan sikap mereka terhadap Rasulullah. Di dalam salah satu hadits, Nabi saw menjelaskan makna "mereka yang dimurkai" dan "mereka yang tersesat" pada ayat 7 Surah Al-Fatihah berikut:
“Sesungguhnya yang dimaksud mereka yang dimurkai adalah kaum Yahudi dan yang dimaksud mereka yang tersesat ialah kaum Nasrani.” (HR Ahmad 18572, Tirmidzi 2878)
Pada ayat 135 di atas, Allah SWT menegaskan bahwa tidaklah sama antara agama Yahudi dan Nasrani dengan agama Ibrahim. Agama Yahudi sudah dibelokkan sehingga menganggap Uzair sebagai anak Tuhan, sedangkan agama Nasrani juga sudah diubah-ubah dengan menjadikan Isa as sebagai anak Tuhan. Pengingkaran terhadap kemurnian ajaran tauhid inilah yang menyebabkan agama Yahudi dan Nasrani dikatakan Allah tidak dapat lagi dikatakan sama dengan ajaran Tauhid murni yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya serta Musa dan Isa.
Orang-orang Yahudi berkata, "Uzair itu putra Allah" dan orang-orang Nasrani berkata: "Al-Masih itu putra Allah." Itulah ucapan mereka dengan mulut-mulut mereka. Mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah melaknat mereka; bagaimana mereka sampai berpaling? Mereka menjadikan para ahbar (pemuka agama Yahudi), dan para rahib (pemuka agama Nasrani) mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan (mereka juga mempertuhankan) al-Masih putra Maryam; padahal mereka tidak diperintah kecuali menyembah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (Yang Kuasa dan berhak disembah) melainkan Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sekutukan. (At-Taubah 9:30-31)
- Katakanlah (hai orang-orang mukmin), "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya."
Selanjutnya orang beriman diperintahkan untuk beriman kepada Allah dan ajaran Tauhid yang murni yang disampaikan oleh para Rasul terdahulu dan kitab yang diberikan kepada Musa as (Taurat) dan Isa as (Injil).
- Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Maka Allah memberikan pilihan kepada kaum Yahudi dan Nasrani ini. Apakah mereka akan kembali mengikuti ajaran Tauhid seperti agama Ibrahim, yang didakwahkan kembali oleh Rasulullah saw, ataukah tetap berpegang pada agama dan kitab suci mereka yang sudah diubah-ubah oleh para pemuka agama mereka?
- Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah.
Allah menyebutkan, bahwa mereka yang mengikuti ajaran Tauhid yang murni, yakni agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw, sebagai umat yang mendapat celupan hidayah Allah (Sibghah Allah).
Ibnu Abbas meriwayatkan. Apabila di antara kaum Nasrani melahirkan anak, tujuh hari kemudian mereka mencelup anak itu dalam air yang disebut al-ma'muudy (air baptis) dengan maksud menyucikan anak itu. Mereka berkata, "Air ini menyucikan, sebagai ganti khitan." Maka anak itu telah benar-benar menjadi seorang Nasrani. Allah menurunkan ayat 138 ini terkait peristiwa ini.
- Katakanlah (Muhammad saw), "Apakah kalian (kaum Yahudi dan Nasrani) memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhanmu? Bagi kami amal kami, dan bagi kalian amal kalian dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati
- ataukah kalian (kaum Yahudi dan Nasrani) mengatakan sesungguhnya Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya adalah (penganut agama) Yahudi atau Nasrani?" Katakanlah, "Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah?" "Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menyembunyikan kesaksian dari Allah yang ada padanya (bahwa agama Yahudi dan Nasrani yang murni sebenarnya mengajarkan Tauhid sebagaimana didakwahkan oleh Ibrahim as dan para rasul yang lain)?" Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.
Kepada kaum Yahudi dan Nasrani yang tetap mengingkari ajaran Tauhid, kita diajarkan untuk menghindari perdebatan dengan mereka, lakum din nukum wa liyadin - karena mereka berpegang pada sesuatu yang sudah tidak murni, sudah diubah-ubah oleh pendeta mereka. Sehingga secara konsep tidak akan bertemu dan sepakat. Di akhir ayat 140, Allah kembali menegaskan bahwa agama Yahudi dan Nasrani sudah sedemikian melencengnya dari risalah awal sehingga tidak lagi tampak ajaran tauhid (mengesakan Allah) di dalamnya.
- Itu adalah umat yang telah lalu; baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan; dan kamu tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan.
Inilah generasi umat kedua, yang dimurkai (kaum Yahudi) dan yang tersesat (kaum Nasrani). Walaupun kepada mereka sama-sama diutus Rasul yang membawa kitab suci, tetapi mereka berbeda sekali dengan generasi umat pertama.
Generasi pertama sangat menjaga kemurnian ajaran Tauhid yang diajarkan dari generasi ke generasi, Ibrahim as sampai ke anak-cucunya, sementara generasi kedua taqlid kepada para para ahbar dan rahib mereka yang sudah mengubah-ubah agama mereka.
Generasi umat yang pertama sangat menaruh perhatian pada keimanan kepada kepada Allah yang Maha Esa dan keikhlasan dalam beramal, sedangkan generasi umat yang kedua dilandasi oleh janji-janji jaminan (kepastian) masuk surga yang disampaikan oleh para ahbar dan rahibnya karena keunggulan keturunan (nasab) dan agama mereka.
Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata, "Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani." Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah, "Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar." (Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Al-Baqarah 2:111-112)
Tidak menjadikan nasab/keturunan sebagai jaminan surga ini juga diperingatkan oleh Nabi saw,
Wahai Bani Hasyim, jangan sampai terjadi orang-orang datang kepadaku dengan berbekal amal-amal mereka, sedangkan kalian datang kepadaku dengan berbekal nasab (garis keturunan darah) kalian.
Kepada Generasi Umat kedua ini, ditegaskan bahwa mereka akan dimintakan pertanggungjawaban atas perbuatan mereka sebagaimana firman Allah di ayat lain,
...Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain... (Al An'aam 6:164)
Implisit dari rangkaian ayat di atas, Allah memerintahkan agar kita jangan mengikuti sikap kaum Yahudi dan Nasrani ini, yang mensucikan (menuhankan) para ahbar dan rahibnya. Jangan sampai kita taqlid buta kepada para tokoh Islam / ustadz dan menganggap mereka terjaga dari kesalahan. Padahal mereka sebenarnya hanya boleh diikuti selama mereka mengikuti 4 sifat rasul berikut:
-
Shiddiq (berkata benar dan sesuai perkataan dengan perbuatan)
dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah apa yang diwahyukan (kepadanya). (An-Najm 53:3-4) -
Amanah (dapat dipercaya)
Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang terpercaya bagimu. (Al-A'raaf 7:68) -
Fathonah (cerdas dan berilmu)
Dia (Allah) menganugerahkan al-Hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan siapa yang dianugerahi al-Hikmah, maka sungguh dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (darinya) melainkan Ulil Albab (orang-orang yang berakal bersih, murni dan cerah) (Al-Baqarah 2:269) -
Tabligh (menyampaikan apa adanya)
Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya (Yunus 10:109)
Implisit juga di sini, kita diperintahkan untuk mempelajari, menelaah, dan membaca dan memperluas wawasan agama, agar bisa bersikap kritis dan bijaksana terhadap materi yang disampaikan oleh para penceramah/ustadz, menghindari menunggu disuapi oleh mereka, tanpa kita memiliki ilmu untuk menimbang benar/salahnya. Inilah yang ditegaskan di ayat lain kepada kita,
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya. (Al-Isra' 17:36)
Perpindahan Kiblat dan Umat yang Adil
Imam Bukhari meriwayatkan dari al-Bara' bin Azib:
Tatkala tiba di Madinah, Rasulullah saw menunaikan shalat dengan menghadap ke Baitul Maqdis selama 16 atau 17 bulan, sementara beliau ingin menghadap ke arah Ka'bah. Maka Allah menurunkan firmanNya, "Kami melihat wajahmu (Muhammad saw) menengadah ke langit ... (dan seterusnya sampai akhir ayat 144)."
Shalat yang pertama kali beliau tunaikan adalah sholat ashar. Kaum Yahudi, musyrik dan munafik lantas berkata, "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?" Maka Allah berfirman, Katakanlah, "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat." (142)
- Orang-orang yang kurang akalnya diantara manusia akan berkata, "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?" Katakanlah, "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus."
Allah SWT kemudian menyinggung mengenai sikap kaum Yahudi dan Nasrani ketika umat Islam diperintahkan untuk mengubah arah kiblat. Perubahan arah kiblat saat itu dipandang sangat absurd karena sudah berlaku turun temurun, berpuluh-ratus tahun kaum Yahudi dan Nasrani beribadah menghadap Baitul Maqdis.
- Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.
Maka di sini Allah memberikan pedoman, bahwa umat Islam haruslah menjadi umat yang adil, bersikap wasath (moderat, seimbang), yakni manusia yang seimbang dalam 3 hal berikut:
- Ketaatan kepada perintah Allah - yang disampaikan melalui rasul atau ulama
- Penguasaan ilmu agama, wawasan basic keagamaan sehingga bisa memilah mana yang benar dan mana yg meragukan / salah
- Kritis secara proporsional terhadap dakwah para tokoh agama, tidak mensucikan mereka, tidak taqlid buta, sebagaimana yang terjadi pada umat Yahudi dan Nasrani
Selain itu, Allah juga menerangkan, bahwa dalam peristiwa perubahan arah kiblat, sebenarnya terkandung ujian ketaatan kepada umat Islam saat itu, karena tidak mudah berbeda sendiri, mengubah arah kiblat yang sudah berlaku sejak sangat lama. Disebutkan juga di akhir ayat, kaum Muslim yang sudah terlanjur wafat sebelum perubahan kiblat akan tetap diterima iman (pahala sholatnya). Sedangkan penutup ayat, "Sesungguhnya Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang" menegaskan berkat kasih sayangNya yang luaslah Dia memindahkan kalian (umat Islam) dari satu hukum ke hukum lain yang lebih bermanfaat bagi kalian dalam agama.
- Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.
Allah kemudian menerangkan beberapa hikmah dan maksud di balik perubahan arah kiblat:
- Pengabulan doa Nabi saw saat itu, dimana Islam saat itu dianggap mengikuti agama Yahudi dan Nasrani karena berkiblat sama menghadap Masjidil Aqsha. Dengan turunnya perintah mengubah arah kiblat, maka Islam memiliki identitas sendiri, tidak menjadi follower dari syariat agama Yahudi dan Nasrani lagi.
- Ujian bagi kaum Yahudi dan Nasrani, yang kalau saja mereka mendalami Taurat dan Injil, maka mereka akan meyakini bahwa Allah bisa saja memerintahkan perubahan arah kiblat melalui RasulNya. Bahwa sebenarnya arah kiblat bukanlah hal yang tabu, bukanlah hal yang tidak bisa diubah, melainkan sebagai perlambang persatuan yang diformalkan dalam bentuk syariat. Hal ini disebabkan "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat" (142).
- Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al-Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamupun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebahagian merekapun tidak akan mengikuti kiblat sebahagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu termasuk golongan orang-orang yang zalim.
Sebagai penutup, Allah menjelaskan sikap kaum Muslim terhadap kaum Yahudi dan Nasrani untuk tetap lakum di nukum wa liyadin saja. Mereka tidak mengakui kebenaran risalah Nabi saw sehingga tidak akan mengikuti / membenarkan perubahan arah kiblat yang diberitakan oleh Nabi saw. Umat Islam adalah generasi umat yang berbeda dengan generasi umat Yahudi-Nasrani (Ahli Kitab). Masing-masing akan mendapatkan balasan dan dimintakan pertanggungjawaban atas apa yang dikerjakan, sebagaimana disimpulkan pada dua ayat identik sebagai berikut:
Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan. (134, 141)
Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Referensi tafsir klik di sini.
Photo credit: Mohamed Elzalabany
Diselesaikan pada 20210821
Tafsir Al-Munir oleh Wahbah az-Zuhaili ↩︎