Karakter Bani Israil (2)
Kisah Sapi Betina
- Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya, "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina". Mereka berkata, "Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?" Musa menjawab, "Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil".
- Mereka menjawab, "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami; sapi betina apakah itu". Musa menjawab, "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu".
- Mereka berkata, "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya". Musa menjawab, "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya".
- Mereka berkata, "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu)".
- Musa berkata, "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya". Mereka berkata, "Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya". Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.
Musa as memerintahkan mencarikan sapi untuk menyelesaikan perkara pembunuhan. Di dalam kisah ini tampak sifat Bani Israil yang banyak bertanya thd perintah Allah, bersikap kritis berlebihan dalam beragama, sehingga akhirnya mereka kesulitan mendapatkan sapi yang diminta.
Ayat 70 dan seterusnya masih melanjutkan karakter Bani Israil yang banyak bertanya dan enggan berkorban, dalam kisah Sapi Betina. Menarik melihat bagaimana peningkatan spesifikasi sapi betina dari yang awalnya mudah, kemudian semakin sulit seiring dengan semakin banyak pertanyaan yang diajukan oleh Bani Israil:
- Seekor sapi betina (67)
- Sapi betina pertengahan, tdk muda dan tdk tua(68)
- Sapi betina yang kuning, kuning tua, dan menyenangkan orang yg melihatnya (69)
- Sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya (71)
Di akhir ayat 71 dijelaskan Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.
Jadi walaupun sapi itu akhirnya berhasil didapat dan disembelih, tetapi hampir saja Bani Israil tidak melaksanakannya karena sulit menemukannya dan harganya yang mahal sekali.
- Dan (ingatlah), ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling tuduh menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan.
- Lalu Kami berfirman, "Pukullah mayat itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu!" Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dam memperlihatkan padamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti.
Kemudian cerita dilanjutkan hingga anggota tubuh sapi tersebut dipakai untuk menghidupkan mayat korban pembunuhan tersebut dan diputuskanlah perkara berdasarkan kesaksian korban tersebut (73).
Turunnya Keimanan dan Hidayah Allah pada Hati yang Keras
- Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.
Ada yang menarik di ayat 74 di atas. Ayat ini menggambarkan iman yg kadang naik kadang turun dari kaum Musa (tetapi juga berlaku untuk orang beriman secara umum).
Sebenarnya ada saat-saat hati yang keras itu bisa menerima hidayah (diumpamakan dengan air yang mengalir di tengah-tengah batu). Ada saat bahkan dari hati yang keras itu muncul setitik pancaran hidayah (diumpamakan dengan ada batu yang terbelah dan keluar mata air daripadanya). Batu yang terbelah dan keluar mata air daripadanya ini menggambarkan sesungguhnya jiwa manusia pada dasarnya - fitrahnya adalah suci dan dapat mengenali kebenaran/hidayah Allah sehingga dapat terbit iman daripadanya. Kemudian dijelaskan, bahwa mereka yang menerima cahaya iman ini ada yang akhirnya kembali takwa kepada Allah (“meluncur jatuh krn takut kpd Allah”), dan ada pula yang kembali kepada kekufuran, mengabaikan sinar iman / hidayah Allah yang terbit di dalam hatinya.
Orang beriman yang labil ini disebut juga di dalam ayat lain berikut:
Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. (Al Hadid 57:16)
Di sini, kita - orang beriman seakan dibujuk, diajak, dan ditunggu kapan siapnya untuk kembali kepada Allah sebelum terlalu lama jauh-jauh dari Allah, berjalan menyimpang dari jalan yang lurus, sehingga hati kita terlanjur menjadi keras seperti orang fasik.
Karakter Bani Israil (3)
- Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?.
- Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata, "Kamipun telah beriman," tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja, lalu mereka berkata, "Apakah kamu menceritakan kepada mereka (orang-orang mukmin) apa yang telah diterangkan Allah kepadamu, supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan Tuhanmu; tidakkah kamu mengerti?"
- Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan?
- Dan diantara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga.
- Maka kecelakaan yAng besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.
- Dan mereka berkata, "Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja". Katakanlah, "Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?"
- (Bukan demikian), yang benar: barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.
- Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.
Melanjutkan karakter Bani Israil, Allah kemudian menerangkan sikap mereka terhadap risalah para Rasul sbb:
- Para pendetanya mengubah-ubah perintah Allah (75)
- Enggan, tidak mau membaca langsung isi sebenarnya Taurat. Menganggap isi Taurat hanya cerita dongeng dan ilustratif saja (78)
- Para pendetanya menambah-nambah isi Taurat utk kepentingan mereka (spt mengukuhkan kedudukan di depan umat, atau keuntungan finansial) (79)
- Merasa aman bahwa pasti semua Bani Israil pasti masuk surga, dan kalau pun masuk neraka tdk akan lama (80). Di ayat lain dijelaskan juga over confident Bani Israil ini, yang kemudian dibantah oleh Allah SWT:
Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan, “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.” Katakanlah, “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?” (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) diantara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu) (Al Maa’idah 5:18)
Dan mereka berkata, “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani.” Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah, “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar.”
(Tidak demikian) melainkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Al Baqarah 2:111-112)
Allah kemudian menegaskan keadilan hukumNya yang berlaku sama atas Bani Israil dan umat-umat yang lain (termasuk umat Rasulullah saw), yakni ancaman neraka bagi mereka yang ingkar berbuat dosa, dan balasan surga bagi mereka yang beriman dan beramal saleh.
Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Referensi tafsir klik di sini.