Al-Humazah 104 : 1-9

Al-Humazah 104 : 1-9

Surah ini diturunkan di Mekkah setelah surah Al-Qiyamah. Diriwayatkan, surah ini turun terkait beberapa orang kafir Mekkah yakni Walid bin Mughirah, Umayyah bin Khalaf, Akhnas bin Syariq, Ash bin Wa'il dan Jamil bin Mu'ammar yang selalu menggunjing Nabi saw di belakangnya dan memaki Nabi saw di hadapannya.

Dua Akhlak Tercela dan Ancamannya

Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela (1), yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung (2), dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya (3)

Di rangkaian ayat surah Al Humazah ini, Allah SWT menerangkan dua akhlak tercela berikut:

  1. Manusia yang mudah mengumpat (al-humazah) dan mencela (al-lumazah) (1). Salah seorang Tabi'in, Ibnu Kaisan berkata, "al-humazah adalah orang yang menyakiti teman-temannya dengan perkataan yang buruk, sedangkan al-lumazah adalah orang yang mempermalukan temannya dengan memberi isyarat mata, kepala dan kedua alisnya." Hamka di dalam tafsirnya menerangkan, pengumpat (al-humazah) adalah orang yang suka menjelek-jelekkan orang lain dan merasa bahwa dia saja yang benar. Sementara pencela (al-lumazah), tiap-tiap pekerjaan orang, betapa pun baiknya namun bagi dia ada saja cacatnya, ada saja kurangnya.

    Mengumpat dan mencela ini berawal dari prasangka buruk terhadap orang lain dan rasa sombong, merasa bahwa diri lebih tinggi, lebih mulia dan lebih baik daripada orang lain.

    Di ayat lain, Allah SWT mengibaratkan mereka yang berprasangka buruk dan mencari-cari keburukan ini seperti orang yang memakan daging manusia lain:

    Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (Al-Hujurat 49:12)

    Di ayat lain pun disebutkan, kita dilarang bersikap sombong dan merasa lebih mulia dari orang lain:

    Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. (Al-Isra 17:37)

    Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Luqman 31:18)

    Allah SWT juga mengancam Bani Israil yang sombong karena berbagai kelebihan yang dikaruniakan kepada mereka, seperti kecerdasan, umat yang besar, serta diturunkannya banyak Nabi dan Rasul seperti Musa, Harun, Daud, Sulaiman, Yahya, Zakaria, Isa dll berikut kitab suci Taurat dan Injil kepada mereka.

    Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Bani Israil Al Kitab (Taurat), kekuasaan dan kenabian dan Kami berikan kepada mereka rizki-rizki yang baik dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa (pada masanya). (Al-Jatsiyah 45:16)

    Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu, "Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar".

    Di dalam satu hadits, Nabi saw bersabda,

    Sebaik-baik hamba Allah ialah hamba yang senantiasa mengingat Allah, dan seburuk-buruk hamba Allah ialah orang-orang yang suka mengadu domba, suka memecah belah antara orang-orang yang saling mengasihi, serta mereka yang suka berbuat zhalim, mencerai-beraikan manusia dan selalu menimbulkan kesusahan. (HR Ahmad)

  2. Manusia yang menyibukkan diri bekerja mengumpulkan harta, terobsesi menjadi kaya melimpah sehingga meyakini bahwa harta itulah yang akan menolongnya dari segala kesulitan dan memuliakan dirinya selama-lamanya (2).

sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah (4), Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (5), (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan (6), yang (membakar) sampai ke hati (7), Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka (8), (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang (9)

Pada ayat selanjutnya, Allah SWT menolak anggapan mereka ini. Harta tidak dapat membuat seseorang kekal di dunia. Akan tetapi yang dapat membuat kekal adalah ilmu dan amal sebagaimana dikatakan oleh Ali ra, "Para pemilik harta telah mati saat mereka masih hidup. Sedangkan para ulama akan terus abadi sepanjang masa."

Digambarkan mereka yang gemar mencela, mengumpat dan mempertuhankan harta ini akan mengalami azab di dalam neraka Huthamah sebagai berikut:

  • Di dalamnya terdapat api yang membara, yang tidak pernah padam karena dinyalakan Allah. Api yang sangat panas, berbeda dengan api dunia. Api tersebut menjilat dan naik sampai ke ulu hati, kemudian masuk ke dalam rongga perut sampai ke dada dan membakar hati sehingga pedih tiada tara. Diriwayatkan dari Khalid bin Abi Umran, Nabi saw bersabda,
    Sesungguhnya neraka itu akan membakar penghuninya, hingga jika telah sampai pada hati mereka maka api tersebut berhenti. Kemudian jika mereka kembali seperti semula, maka api tersebut kembali membakarnya. Hal itu sebagaimana firman Allah SWT, yaitu "Api (adzab) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati."

  • Api tersebut berlapis-lapis mengelilingi mereka dari segala arah

  • Di dalamnya, mereka tidak dapat keluar karena diikat pada tiang-tiang yang panjang, sebagaimana disebutkan juga pada ayat berikut:

    Setiap kali mereka hendak ke luar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (Kepada mereka dikatakan), "Rasakanlah azab yang membakar ini." (Al-Hajj 22:22)

    Nabi saw menerangkan kondisi neraka ini di dalam hadits berikut,

    Sesungguhnya Allah SWT mengutus kepada mereka malaikat yang membawa tutup, paku dan tiang yang semuanya terbuat dari api neraka, kemudian mereka ditutup dengan tutup tersebut, dan dipaku dengan paku-paku tersebut, dan diikat pada tiang tersebut, maka tidak tersisa sedikit pun celah yang dapat dimasuki oleh kesenangan, dan tidak pula dapat keluar darinya kesedihan, sedangkan Yang Maha Pemurah melupakan mereka di Arsy-Nya, para penghuni surga sibuk dengan nikmat yang diberikan kepada mereka, celakanya orang-orang itu tidak akan mendapatkan pertolongan selama-lamanya, komunikasi menjadi terputus, perkataan mereka yang tersisa hanyalah rintihan dan teriakan, maka itulah firman Allah SWT, "Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang." (HR Al-Hakim At-Tarmidzi dari Abu Hurairah)

Di dalam tafsirnya, Hamka menjelaskan juga, makna "yang membakar sampai ke hati" adalah untuk menekankan betapa buruk dan kejinya perbuatan mereka ini. Mereka akan rela mengorbankan agamanya, tanah airnya, saudara bahkan anak kandungnya demi mendapatkan keuntungan materi. Hati mereka bagaikan sudah membusuk, penuh prasangka buruk, membatu, tidak ada perasaan halus lagi, sehingga pantaslah api neraka membakar hati mereka ini.

Na'udzubillahi min dzaalik.

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.

Photo credit: Bünyami̇n Görünmez

Diselesaikan pada 20200820