Al-Isra' 17 : 1-11

Al-Isra' 17 : 1-11

Peristiwa Isra’ Mi’raj

  1. Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan pada suatu malam hamba-Nya dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Ada beberapa point bahasan dari ayat ini (sebagian mengambil dari tafsir Al-Qurthubi):

  1. Maha suci Allah: kata ini merupakan dzikir yang agung kepada Allah SWT, pernyataan mensucikan dan membebaskan Allah dari segala kekurangan, dan tidak layak dipakaikan untuk selain Dia. Menarik di sini Allah menyatakan dirinya sebagai yang Maha Suci, atau dengan kata lain, subyek bahasan ayat ini adalah DiriNya - Dzat yang Maha Suci, yang ayat-ayat kekuasaanNya tersebar di seluruh penjuru alam, dan bukanlah keajaiban dari peristiwa Isra Mi’raj. Allah menggunakan "Maha Suci" sebagai sifatNya di ayat ini, juga untuk mengontraskan dengan sang hamba yang diperjalankanNya (yakni Rasulullah saw) yang berasal dari kalangan manusia - makhluk yang penuh kesalahan, dosa dan keterbatasan/lemah - kecuali atas pertolongan Allah.

  2. Memperjalankan di suatu malam: sebagian besar ulama berpendapat peristiwa ini terjadi pada awal malam (dari kata asraa), walaupun ada juga yang berpendapat di akhir malam (dari kata saraa).

  3. HambaNya: Allah tidak menggunakan nama "Muhammad" ataupun sebutan lain seperti "Rasulullah." Di sini hendak ditekankan hubungan antara Khaliq - yang Maha Suci dengan makhluk. Bukan Khaliq dengan RasulNya. Secara implisit Allah berpesan bahwa kebesaran kekuasaanNya, Maha Suci-Nya Dia berlaku bagi segenap makhluk ciptaanNya. Bahwa tidak ada satu pun makhlukNya yang dapat menyandang sifat Maha Suci Dia.

  4. Peristiwa perjalanan Isra' Mi'raj. Hal ini dapat dibaca di dua tulisan menarik berikut: Hal-hal Menarik di Balik Isra Mi’raj.

  5. Masjidil Haram dijadikan tempat bertolak karena masjid ini adalah masjid pertama yang dibangun. Ali bin Abu Thalib berkata, "Allah memerintahkan kepada para malaikat untuk membangun masjid (baitullah) di muka bumi dan sebagai tempat bertawaf. Hal ini terjadi sebelum penciptaan Adam. Kemudian Adam menyempurnakan bangunan yang sebelumnya telah dibangun dan bertawaf mengelilinginya. Baru setelah itu dilanjutkan oleh para Nabi sesudahnya. Adapun secara fisik pembangunannya sempurna pada zaman Nabi Ibrahim.[1]

    Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia (Ali Imran 3:96)

  6. Masjidil Aqsha yg diberkahi. Menurut sebagian mufasir, kalimat "yang diberkahi" ini adalah lokasi Masjidil Aqsha yang subur oleh buah-buahan dan dialiri sungai. Ada juga yang mengartikan, dengan para Nabi dan orang-orang saleh yang dimakamkan di sekelilingnya

  7. Sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami: Tujuan dari Isra' Mi'raj Rasulullah ini tidak lain, Allah hendak menunjukkan tanda-tanda kekuasaanNya, sebagai salah satu mukjizat Nabi saw kepada kaum Musyrik Mekkah

  8. Uraian peristiwa Isra' Mi'raj ini kemudian ditutup dengan pernyataan dua sifat Allah. Hal ini terkait dengan peristiwa Isra’ Mi’raj yang tidak lama terjadi setelah wafatnya Khadijah dan Abu Thalib. Maha Mendengar doa Nabi saw dan kaum muslim saat itu, yang mengalami guncangan setelah wafatnya Khadijah (istri Nabi) dan Abu Thalib (paman Nabi) - dua orang pendukung utama pada masa awal dakwah Islam. Kemudian Allah juga menyebutkan Maha Mengetahui - yang bermakna, hanya Dialah yang Maha Mengetahui apa maksud dan hikmah di balik peristiwa ini. Salah satunya, dengan disyariatkannya sholat, yang disebut oleh Rasulullah sebagai pertemuan/munajat hamba kepada Khaliq:

    Sesungguhnya kalian apabila shalat maka sesungguhnya ia sedang bermunajat (bertemu) dengan Tuhannya, maka hendaknya ia mengerti bagaimana bermunajat dengan Tuhan. (HR. Hakim).

Secara singkat dapat disimpulkan, ayat pertama ini menjelaskan Maha Suci-nya Allah, Maha Agung dan Maha Mulia-nya Allah SWT di atas semua berhala yang disembah kaum Musyrik Mekkah, yakni Dzat yang kekuasaanNya meliputi seluruh penjuru bumi dan alam semesta sehingga mudah saja bagiNya memperjalankan hambaNya dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha kemudian mi'raj ke Sidratul Muntaha - pergi dan kembali lagi ke Mekkah hanya dalam satu malam. Mu'jizat ini sengaja diperlihatkan, bagi kaum beriman untuk meneguhkan keimanan mereka; dan bagi kaum musyrik Mekkah untuk menggentarkan jiwa mereka yang ingkar terhadap dakwah Nabi saw.

  1. Dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman), "Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku,"

Ayat selanjutnya, menurut Qurthubi di dalam tafsirnya, adalah perimbangan antara Rasulullah saw dan Musa as, dimana Allah SWT memuliakan Nabi Muhammad saw melalui Isra Mi’raj, maka Dia memuliakan Nabi Musa as dengan menurunkan kepadanya kitab Taurat. Disebutkan pula, fungsi kitab Taurat yang diturunkan tersebut adalah sebagai petunjuk bagi Bani Israil, yakni jalan lurus Tauhid sebagaimana disebutkan pada akhir ayat 2, ”Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku.”

Beberapa Nasihat dan Teladan bagi Bani Israil

  1. (yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.

Allah kemudian menyebutkan Nabi Nuh as dan pengikutnya, sebagai teladan atas sifat syukur dan tabah bagi Bani Israil. Seperti disebutkan di ayat lain berikut, Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun dan menurut riwayat pengikutnya hanya 40 orang, atau rata-rata 1 orang beriman setiap 23 tahun dakwah - dibandingkan dengan dakwah Nabi Musa kepada Fir’aun selama sekitar 10 tahun, hingga eksodus Bani Israil dari Mesir.

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim. (Al-'Ankabuut 29:14)

Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. (Huud 11:40)

Allah menjelaskan perilaku Bani Israil yang tidak sabar dan tidak mensyukuri di dalam banyak ayat, di antaranya:

Contoh pertama. Bani Israil diberikan daerah yang subur (sebagian mufasir menyebut, Yerussalem, Palestina, juga ada Syiria), tetapi mereka menolak memasukinya karena tidak mau mengikuti perintah Allah untuk memerangi penguasa zalim di daerah tersebut:

Mereka (Bani Israil) berkata, “Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya.”

Mereka berkata, “Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.” (Al-Ma’idah 5:22,24)

Allah akhirnya menjadikan kota tersebut tidak bisa dimasuki oleh Bani Israil selama 40 tahun akibat ingkar dan tidak bersyukur:

Allah berfirman, "(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu". (Al-Ma’idah 5:26)

Contoh kedua. Tidak lama setelah Bani Israil menyaksikan langsung dengan mata kepala mereka kekuasaan Allah menenggelamkan Fir’aun dan pasukannya, alih-alih bersyukur dan merenungkan kebesaran Allah dan kasih sayang-Nya pada peristiwa tersebut, mereka malah meminta Musa as untuk membuatkan berhala:

dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, Maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata, “Hai Musa, buatlah untuk Kami sebuah Tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa Tuhan (berhala).” Musa menjawab, “Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)” (Al A’raaf 7:138).

Dari bahasan mengenai perilaku Bani Israil ini, implisit Allah menyatakan bahwa tidak ada umat yang selamanya berjalan lurus. Bani Israil yang dikatakan berasal dari keturunan umat Nuh as yang beriman, setelah berjalannya waktu, ternyata berubah menjadi kaum yang ingkar kepada Allah - bahkan mereka bolak-balik ingkar-taubat seperti yang diterangkan pada ayat-ayat selanjutnya di bawah.

Hal ini juga menegaskan kembali bahwa keturunan (nasab) tidak bisa menjadi jaminan seseorang masuk surga dan beriman - membantah pandangan Bani Israil bahwa hanya mereka yang keturunan Bani Israil yang berhak masuk surga.

Perjalanan Bani Israil dan Keadilan Hukum Allah

  1. Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu, "Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar".

Allah menyebutkan bahwa Bani Israil melakukan kezaliman dua kali.

Kezaliman Pertama

  1. Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana.

Menurut Ibnu Ishaq, kezaliman pertama Bani Israil ini adalah pembangkangan mereka terhadap hukum Taurat, meninggalkan hukum Taurat dan pembunuhan Nabi Sya’ya.

Allah kemudian menurunkan azab berupa penyerangan oleh berbagai penyerangan dari pasukan yang sangat kuat dan bengis. Ada beberapa pendapat dari mufasir dan ahli sejarah mengenai tentara yang menyerang Bani Israil ini:

  • Pasukan Nebukadnezar
  • Pasukan Jalut Al-Khazri
  • Pasukan Raja Babilonia, bernama Sanherib

Mereka membunuh, memperbudak, membakar Taurat dan menghancurkan Masjidil Aqsha dan Baitul Maqdis (4-5). Refer ke hadits panjang Qurthubi 10/550-552.

  1. Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar.

Allah kemudian memberikan giliran kepada Bani Israil untuk berjaya.

Disebutkan di ayat 6 ini, Allah tetap adil, memberi balasan kebaikan bagi hambaNya yang bertakwa, dalam hal ini, Daud as dan dilanjutkan oleh putranya, Sulaiman as yang tampil sebagai pemimpin Bani Israil menggantikan Thalut. Mengenai Daud as dan ketaatannya diterangkan lebih detail di Meneladani Daud.

Setelah Jalut berhasil dikalahkan oleh Daud remaja, Raja Thalut kemudian digantikan oleh Daud as sehingga menjadi Raja pada Kerajaan Yehuda di Hebron pada 1010–1002 SM, dan kerajaannya menguasai seluruh Israil pada 1002–970 SM.

Kemudian, Sulaiman as menggantikan Daud as yang tentaranya juga diperkuat oleh kaum jin dan berbagai hewan. Di dalam tafsir Thabari dijelaskan dari riwayat al-Hakim dalam al-Mustadrak, al-Qurthubi dalam tafsirnya, dan as-Suyuthi dalam ad-Durr al-Mantsur menerangkan pasukan Sulaiman as, bila berbaris mencapai hingga 800 km, dengan 200 km pasukan manusia, 200 km jin, 200 km hewan liar serta 200 km burung. Diceritakan juga, Sulaiman as memiliki 1000 rumah dari kaca berlapis kayu, yang di dalamnya terdapat 300 menara dan 700 budak. Ia bisa memerintahkan angin kencang untuk menerbangkannya dan memerintahkan angin sepoi-sepoi membawanya.

Silih-berganti, naik-turunnya suatu masyarakat ini pun merupakan sunnatullah, sebagaimana disebutkan di ayat berikut:

… Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada'. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim (Ali Imran 3:140)

  1. Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri…

Kejayaan Israel pada masa Daud as dan Sulaiman as adalah bukti keadilan (fairness) Allah. Tidak ada pengutukan atas Bani Israil. Karena hukum Allah selalu berlaku adil atas hambaNya. Siapa saja yg berbuat baik maka kebaikannya untuk dirinya (kaumnya) sendiri (dalam bentuk nikmat, rahmat dan keberkahan Allah). Demikian juga, siapa yang berbuat zalim maka keburukannya pun untuk dirinya (kaumnya) sendiri (dalam bentuk azab Allah - kerusakan, penjajahan, genoside dll).

Sebagai bahan refleksi dari perjalanan Bani Israil di atas, dapat kita renungkan, bahwa
bila suatu negeri mengalami kemunduran di berbagai bidang, maka marilah introspeksi sebagai bangsa dan masyarakat. Kezaliman apakah yang merajalela di negeri tersebut. Semakin tinggi tingkat kezalimannya maka semakin terpuruk dan besar musibah yang dialami negeri tersebut. Na’udzubillah min dzaalik.

Juga implisit di ayat ini, Allah berpesan kepada kita untuk tetap optimis dan berprasangka baik kepadaNya. Betapa pun suatu negeri terpuruk, namun keadilan hukum Allah tetap berlaku. Siapa saja dari penduduknya yang beriman dan berbuat baik, menjaga ketaatan dengan ikhlas, menjauhi perbuatan zalim, maka Allah akan memberikan balasan kebaikan, keberkahan dan keselamatan baginya walaupun dia berada di tengah-tengah situasi negeri yang lumpuh, terpuruk dan dikelilingi oleh orang-orang yang zalim. Hal inilah yang dimaksudkan di dalam ayat berikut (dan banyak ayat lain yang semakna):

Siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang yang beriman (mukmin), maka sungguh Kami pasti akan menganugerahkan kepadanya kehidupan yang baik, dan sungguh Kami pasti akan memberikan balasan kepada mereka (dengan) pahala yang lebih baik dari pada apa yang mereka kerjakan. (An-Nahl 16:97)

Kezaliman Kedua

  1. …dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.

Kezaliman Bani Israil yang kedua menurut sebagian besar pendapat (di antaranya Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud) adalah pembunuhan para Nabi, yakni Nabi Zakaria as dan Yahya as; dan percobaan pembunuhan atas Nabi Isa as. Allah juga memperluas kekuasaan dan keturunan mereka sehingga mereka bertambah2 kesombongannya.

Allah kemudian menurunkan azab berupa berkuasanya orang Persia untuk yang kedua kali. Kemudian mereka diserang oleh Raja Judzruz (atau Khardus menurut sebagian riwayat) dari Babilonia yang membunuh ribuan orang Bani Israil, menawan anak-anak mereka dan menghancurkan Baitul Maqdis untuk yang kedua kalinya.

  1. Mudah-mudahan Tuhanmu akan melimpahkan rahmat(Nya) kepadamu; dan sekiranya kamu kembali kepada (kedurhakaan) niscaya Kami kembali (mengazabmu) dan Kami jadikan neraka Jahannam penjara bagi orang-orang yang tidak beriman.

Allah kemudian menegaskan kembali keadilan hukumNya, yang berlaku bagi siapa saja, dan bangsa mana pun di dunia, dari dahulu, sekarang hingga akhir zaman. Di ayat lain disebutkan,

… Padahal Allah tidak menghendaki kezaliman terhadap hamba-hambaNya (Al-Mu’min 40:31)

Khusus terhadap Bani Israil, hukuman azab Allah kepada mereka berlaku selamanya sampai hari kiamat, sebagaimana disebutkan di ayat berikut:

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu memberitahukan, bahwa sesungguhnya Dia akan mengirim kepada mereka (orang-orang Yahudi) sampai hari kiamat orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka azab yang seburuk-buruknya. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksa-Nya, dan sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Al A’raaf 7:167)

Nasib kaum Yahudi yang diperangi hingga hari kiamat ini juga disebutkan oleh Nabi saw,

Kiamat tidak akan terjadi sehingga kaum Muslimin memerangi Yahudi, lalu kaum Muslimin akan membunuh mereka sampai-sampai setiap orang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon, tetapi batu dan pohon itu berkata, "Wahai Muslim, wahai hamba Allah, ada orang Yahudi di belakangku, kemarilah dan bunuhlah dia." Kecuali (pohon) gharqad karena ia adalah pohon Yahudi." (Shahih Muslim No. 2922)

Fungsi Diturunkannya Al-Qur’an

  1. Sesungguhnya Al-Qur'an ini (1) memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan (2) memberi kabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar
  2. dan sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, Kami sediakan bagi mereka azab yang pedih.

Pembahasan naik-turunnya kehidupan Bani Israil ini ditutup oleh penegasan Allah, bahwa pangkal kejatuhan dan azab yg menimpa mereka adalah pengingkaran mereka atas Taurat.

Allah berpesan kepada kita - umat Rasulullah, agar jangan sampai melakukan kesalahan yang sama seperti yang dilakukan oleh Bani Israil, yakni tidak menjadikan Taurat sebagai petunjuk hidup, bahkan mereka meninggalkan hukum Taurat.

Allah SWT mengingatkan fungsi Al-Qur’an, yang menggantikan (nasakh) Taurat sebagai berikut:

  1. Sebagai petunjuk jalan yang lurus (sama seperti Taurat)
  2. Berita gembira bagi mereka yang taat beriman dan beramal saleh atas balasan keberkahan dan surga dan peringatan atau ancaman keburukan dan azab neraka bagi mereka yang ingkar.

Kedua fungsi Al-Qur’an ini disebutkan juga di beberapa ayat, salah satunya:

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hambaNya Al Kitab (Al-Qur'an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya; sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik (Al Kahfi 18:1-2)

  1. Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.

Ayat selanjutnya menerangkan, bahwa sifat manusia pada dasarnya adalah tergesa-gesa. Mudah salah, mudah kagum, terlalu cepat mengambil kesimpulan. Dikiranya jalan benar ternyata salah. Demikian pula, dikiranya jalan buruk membawa sengsara dan dia jauhi, ternyata keliru. Di sinilah implisit ditekankan fungsinya Al-Qur'an sebagai petunjuk dan pembeda, dimana di dalamnya terdapat banyak prinsip-prinsip guidance - yang diperuntukkan khusus untuk umat akhir zaman - untuk dipelajari, dipikirkan dan direnungkan aplikasi praktiknya. Ayat Al-Qur'an tidak lagi sebatas simbol dan ritual serta dihafalkan; melainkan menjadi kacamata (paradigm) untuk menilai benar/salah - baik/buruk - manfaat/mudharat dari berbagai aspek kehidupan seperti pendidikan, ekonomi, keluarga, budaya, politik, demokrasi, hubungan antar negara dll. Adapun kuncinya adalah tidak tergesa-gesa dalam menelaah melalui kacamata Al-Qur'an, tidak terlalu cepat mengambil kesimpulan, menjaga cermat dan seksama agar diperoleh kesimpulan yang komprehensif, adil (fair) dan aplikatif.

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.

Photo credit: Pawel Nolbert

Diselesaikan pada 20210926


  1. Tafsir Qurthubi Ali Imran ayat 96-97 ↩︎