Prinsip-Prinsip dalam Menggunakan Harta
- Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.
- Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.
- Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas.
- Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.
- Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.
Ayat 26-30 membahas beberapa prinsip penggunaan harta dalam Islam:
-
Prioritas dalam menolong sesama (26), yakni (1) keluarga dekat, (2) orang miskin, (3) musafir. Menurut jumhur ulama, keluarga dekat yang wajib ditolong adalah kepada pihak orangtua, kakek dan seterusnya ke atas, serta kepada anak, cucu dan seterusnya ke bawah. Sedangkan untuk kerabat yang lain tidaklah wajib.
-
Berhemat, tidak berlebih-lebihan dalam membelanjakan harta (26-27). Di dalam ayat lain diterangkan:
Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. (Al-Furqan 25:67)Di dalam Musnad al-Firdaus diriwayatkan dari Anas, Nabi saw bersabda:
Pengaturan yang baik adalah setengah dari rezeki, sikap lemah lembut adalah setengah dari akal sehat, kegelisahan adalah setengah dari ketuaan dan sedikitnya orang yang menjadi tanggungan adalah satu dari dua kemudahan. (HR ad-Dailami)
Kemudian Allah SWT mengingatkan buruknya sikap boros dengan menyebutnya sebagai perbuatan syetan. Diriwayatkan dari Ali ra, dia berkata,
Apa yang kamu gunakan untuk keperluanmu dan keluargamu secara tidak boros dan berlebihan, serta apa yang kamu sedekahkan, maka itu adalah untukmu. Sedangkan, yang kamu gunakan untuk pamer, maka itu adalah untuk syetan.
-
Menolak dengan ucapan yang baik (28). Jika kita tidak dapat memberi karena alasan ekonomi sehingga berpaling malu berterus terang, maka tolaklah dengan kata-kata yang lembut kepada mereka.
-
Wajar dan bijaksana dalam memberi pertolongan. Bijaksana dan proporsional dalam memberi pertolongan, tidak kikir (terbelenggu) tetapi tidak terlalu banyak (mengulurkan) (29). Berikut beberapa tips yang selaras dengan perintah Allah SWT pada ayat ini:
-
Ukurlah pertolongan melalui kacamata penerima, bukan kacamata kita (pemberi). Memberi terlalu banyak tidak selalu menjadi kebaikan (bagi kita, maupun bagi penerima). Jangan sampai pemberian kita malah menjadi jalan bagi orang yang menerima untuk berbuat zalim (memanfaatkan). Sering terjadi, kita ditarik karena mengulurkan tangan terlalu jauh, sehingga tanpa sadar tumbuh sifat-sifat tercela pada diri kita (seperti ujub, riya, merasa paling berjasa, merasa memiliki hak lebih karena sudah memberi banyak). Demikian pula bisa tumbuh sifat tercela pada si penerima bantuan, seperti menjadi bergantung kepada kita, mengambil jalan pintas untuk sedikit-sedikit meminta bantuan, dan mengada-adakan kebutuhan padahal tidak perlu. Sebaliknya, memberi terlalu sedikit dan sikap kikir juga dilarang. Di dalam satu hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Umar, Nabi saw mengingatkan bahaya kikir:
Jauhilah sifat kikir, sesungguhnya sifat itu telah membinasakan umat sebelum kalian. Sifat tersebut memerintahkan mereka untuk bersikap kikir lalu mereka pun kikir. (Sifat tersebut) memerintahkan mereka untuk memutuskan hubungan silaturrahim, lalu mereka melakukannya. Sifat itu memerintahkan mereka untuk berbuat jahat dan mereka pun berbuat jahat. (HR Abu Dawud)
-
Jagalah harga diri si penerima. Bila memungkinkan, usahakan memberi secara anonim atau kolektif.
-
Bila menyumbang bersama secara kolektif, hindari sikap menonjol menjadi donatur yang mencolok (karena menyumbang sangat besar). Bila pun harus memberi cukup besar maka carilah cara agar tidak tampak mencolok. Ini akan memudahkan kita untuk terhindar dari sifat ujub dan riya.
-
Tidak memaksakan keuangan untuk memberi bantuan. Di dalam harta kita juga ada hak keluarga (istri dan anak). Memberi nafkah kepada mereka adalah wajib. Jangan sampai karena memaksakan diri, sehingga membantu orang lain yang sifatnya kebaikan menjadi mengorbankan nafkah keluarga yang sifatnya wajib
-
Luruskan niat dan jujur kepada diri sendiri. Berikan pertolongan sesuai dengan kemampuan dan sregnya hati nurani kita (timbang dengan hati sambil berdzikir kepada Allah SWT). Bila dalam kondisi terbatas, memberi sedikit masih lebih baik daripada tidak memberi sama sekali. Jaga hati dari riya dan ujub dengan menyadari bahwa pertolongan yang diberikan adalah sebenarnya milik Allah yang dititipkan kepada kita. Juga, jaga hati bila penerima bantuan bersikap tidak baik dan mengecewakan kita. Tetap tenang (tawadhu') karena sebenarnya motivasi utama kita menolong adalah menunaikan perintah Allah, bukan mengharapkan terima kasih dan penghargaan dari si penerima.
-
Buat tabungan khusus untuk keperluan infaq, sedekah dan zakat. Bagi karyawan, setiap bulan sisihkan minimal 2.5% (zakat pekerja) dari gaji ke dalam tabungan tersebut. Tambahkan prosentase ini seiring dengan kenaikan pendapatan. Adanya tabungan khusus ini sangat meringankan kita dalam memberi pertolongan karena dananya ready, sudah dialokasikan sebelumnya dan tidak mengganggu cash flow kebutuhan bulanan kita.
Nabi saw bersabda jaminan Allah berikut:Tidaklah berkurang harta karena sedekah, tidaklah seorang hamba bersedekah kecuali Allah memuliakannya, dan barangsiapa bersikap tawadhu karena Allah niscaya Allah mengangkat derajatnya. (HR Muslim)
-
Prinsip penggunaan harta dalam Islam adalah tawassuth (secara wajar) dan i'tidal (moderat atau tidak berlebihan), tanpa sikap kikir dan boros, serta tidak membuat keluarga sendiri terlantar pada masa-masa yang akan datang, atau membuat orang yang menjadi tanggungannya tidak memiliki apa-apa saat membutuhkan.
Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Referensi tafsir klik di sini.
Photo credit: Zlaťáky.cz
Diselesaikan pada 20211226