Highlight Kisah Beberapa Rasul (2)
3. Nabi Musa as dan Harun as
-
Musa as dan Harun as diutus dg membawa banyak mukjizat kpd Fir’aun yang takabur dan sombong (45-46), yakni 9 mukjizat: tongkat, tangan, belalang, kutu, katak, darah, angin topan, laut terbelah, dan bukit Thur, sbgmn disebutkan di ayat lain:
Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mukjizat yang nyata, maka tanyakanlah kepada Bani Israil, tatkala Musa datang kepada mereka lalu Fir’aun berkata kepadanya, “Sesungguhnya aku sangka kamu, hai Musa, seorang yang kena sihir.” (Al Israa’ 17:101)
-
Fir’aun menolak dakwah Musa as dan Harun as krn mereka keturunan Bani Israil yang menjadi budak bangsa Mesir saat itu (47)
-
Fir’aun dan pembesar2nya tetap ingkar hingga akhirnya Allah menenggelamkan mereka semua di laut Merah (48) sbgmn diterangkan di ayat lain:
Kemudian (Fir’aun) hendak mengusir mereka (Musa dan pengikut-pengikutnya) dari bumi (Mesir) itu, maka Kami tenggelamkan dia (Fir’aun) serta orang-orang yang bersama-sama dia seluruhnya
-
Nabi Musa as kemudian menerima Taurat sbg petunjuk bagi kaumnya, Bani Israil (49)
4. Nabi Isa as
-
Proses Maryam melahirkan Isa as adalah bukti kekuasaan Allah (50), sbgmn juga disebutkan di ayat berikut:
Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuh)nya ruh dari Kami dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam. (Al Anbiyaa’ 21:91)
-
Kemudian Allah melindungi Maryam dan Isa as di suatu tempat dataran tinggi yang subur. Menurut ar-Razi ini merefer periode dimana Maryam dan Yahya as meninggalkan kampung halamannya dan melahirkan Isa as selama 12 tahun (beliau berusia 12 tahun), sebelum kembali pulang kpd kaumnya.
Kesatuan Agama yang Dibawa para Rasul
Allah menerangkan Rasul secara umum:
-
Para rasul diperintahkan mengonsumsi hanya makanan yang baik (51), sbgmn Allah pun memerintahkan kita utk makan makanan yg halal dan baik:
Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (Al Baqarah 2:168)
-
Para rasul diperintahkan mengerjakan amal saleh, menjadi contoh bagi umatnya atas risalah Allah yang mereka sampaikan (51)
Disebutkan, para Rasul awalnya mendakwahkan agama/ajaran yang satu, yakni agama yang mengajarkan 2 tema pokok sbb (52):
- Menyembah hanya kepada Allah, tdk menyembah tuhan2 lain selain Allah
- Melaksanakan ketakwaan, ketaatan dlm bentuk ibadah kpd Allah
Allah kemudian menjelaskan setelah rasul meninggal, umat mereka akan terpecah menjadi 2 kelompok sbb:
Kelompok Pertama, mereka berbeda pendapat, terpecah belah dlm memahami agama yang diajarkan oleh para Rasul.
-
Mereka merasa bangga, merasa paling benar serta paling berhak masuk surga (53). Maka atas perpecahan mereka dan pembangkangan mereka terhadap dakwah dan peringatan para rasul, biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai waktu yang ditentukan, yaitu saat kemusnahan mereka atau jatuhnya siksa neraka atas mereka (54).
-
Mereka yakin amal mereka diterima Allah; menyangka bahwa nikmat duniawi dlm bentuk harta dan anak2 yang mereka terima adalah pertanda ridha Allah kpd mereka dan bukti bhw kelompok mereka yang benar (55-56). Padahal Allah sengaja membiarkan hati mereka tertutup shg tdk dapat memahami kebenaran (63).
dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang berkata ”Kami mendengarkan, padahal mereka tidak mendengarkan.” Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun. (Al Anfaal 8:21-22)
Allah mengancam menurunkan azab kpd mereka di akhirat dan tidak ada seorang pun yang mampu menolong mereka saat itu (64-65)
Kelompok Kedua, mereka yang amalnya diterima:
- Mereka berhati-hati dlm menjaga adab hati dan dlm melaksanakan ketaatan kpd Allah. Tidak merasa aman dari ditolaknya amal. Mereka beribadah dengan rasa harap cemas amal mereka tdk diterima dan takut akan siksaNya (57)
- Mereka beriman, percaya dan mengembalikan segalanya kepada ayat2 Allah (Al Quran) (58)
- Mereka bertauhid, memurnikan penyembahan hanya kpd Allah SWT (59)
- Mereka menginfakkan sebagian hartanya dg menjaga keikhlasan dg berharap balasan hanya dari Allah SWT (60)
- Mereka bergegas dlm mengerjakan amal-amal kebajikan (61)
Kepada Kelompok Kedua ini Allah menegaskan agar jangan risau thd kekurangan yang mungkin masih ada pada amal mereka, krn Allah tdk akan membebani seseorang dg kewajiban yang tdk sanggup dikerjakannya, dan Allah Maha Mengetahui hambaNya, mencatat setiap niat dan amal perbuatan hambaNya dg detail di dalam kitab catatan (Lauh Mahfuzh) (62)
Secara ringkas ayat 53-65 di atas, Allah berpesan kpd agar:
- Tidak menjadikan pencapaian duniawi, spt kemewahan harta dan banyaknya keturunan sebagai kriteria dlm mengukur kesalehan kita dalam melaksanakan ketaatan kpd Allah SWT.
- Tidak merasa aman dengan pasti diterimanya amal kita, tetapi juga tetap menjaga prasangka baik kita kpd Allah SWT.
- Berhati-hati dlm beramal. Mengembalikan praktek ibadah kita kpd sumber utama Al Quran dan Hadits.
Kewajiban Melaksanakan Agama sesuai Kemampuan
- Kami tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu catatan yang menuturkan dengan sebenarnya, dan mereka tidak dizalimi
Para pendurhaka yang disebut pada ayat sebelumnya boleh jadi menganggap bahwa ajaran agama sangat memberatkan. Untuk menyanggah anggapan ini, Allah SWT menjelaskan seorang hamba tidak dibebani untuk beribadah kecuali sesuai kesanggupannya. Di ayat lain dijelaskan, Allah SWT tidak menzalimi hambaNya, melainkan merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri, karena amal ibadah dan kebaikan itu semuanya adalah kembali diperuntukkan bagi manusia sendiri.
Sesungguhnya Allah tidak menzhalimi manusia sedikit pun, tetapi manusia itulah yang menzhalimi dirinya sendiri. (Yunus 10:44)
Terkait tidak butuhnya Allah SWT terhadap manudia, di dalam hadits Qudsi, Allah SWT berfirman,
Wahai hambaKu sesungguhnya Aku haramkan kezaliman atas diriKu, dan kujadikan diantara kalian sebagai tindakan haram, karena itu janganlah kalian saling menzalimi.
Wahai hambaKu, kalian semua tersesat, kecuali orang yang Aku beri hidayah, maka mintalah hidayah kepadaKu, Aku akan memberi hidayah kepadamu.
Wahai hambaKu, kalian semua lapar, kecuali orang yang Aku beri makan, karena itu mintalah makan kepadaKu, Aku akan memberimu makanan.
Wahai hambaKu, kalian semua telanjang, kecuali orang yang Aku beri pakaian, maka mintalah pakaian dariKu, Aku akan memberikan pakaianmu.
Wahai HambaKu, sesungguhnya kalian berbuat salah di malam hari dan siang hari, sedangkan Aku mengampuni semua dosamu, maka mohonlah ampunan kepadaKu, niscaya Aku mengampunimu.
Wahai hambaKu, sesungguhnya kalian belum sampai pada penderitaan dariKu, maka mohonlah agar dijauhkan dari penderitaan dariKu. Dan kalian belum sampai meraih manfaatKu, maka mintalah manfaat dariKu.
Wahai hambaKu, jika saja dari generasi awal dan akhir, manusia dan jin diantaramu, dikumpulkan dalam ketaqwaan seseorang (lalu semuanya sangat bertaqwa kepadaKu) maka semua itu tidak akan menambah sedikitpun KerajaanKu.
*Wahai hambaKu, jika saja generasi awal dan akhir baik dari manusia dan jin berada dalam satu hati seorang yang ingkar (lalu semuanya jadi ingkar kepadaKu) maka sama sekali tidak akan mengurangi sedikit pun KerajaanKu.
Wahai hambaKu, jika generasi awal hingga akhir mu, manusia maupun jin berkumpul dalam satu puncak tinggi, lalu mereka semua meminta kepadaKu, lalu Aku memberikan apa yang mereka pinta, sama sekali tidak mengurangi apa yang ada padaKu, kecuali seperti benang yang dicelup di lautan.
Wahai hambaKu, sesungguhnya adalah amal-amalmu yang Aku hitung bagimu, lalu Aku selaraskan kepadamu sesuai dengan hitungan, maka siapa yang mendapatkan kebajikan, hendaknya memuji Allah, dan siapa yang mendapatkan selain itu jangan memaki kecuali memaki dirinya sendiri. (HR. Muslim dan lainnya)
Sikap Orang Kafir terhadap Ayat-Ayat Allah
Ayat selanjutnya Allah menjelaskan bbrp fenomena sikap orang kafir terhadap ayat2 Allah sbb:
-
Mereka membenci, menolak tdk mau merenungkan dan tdk mempercayai ayat2 Allah baik yang berbentuk tanda2 di alam semesta (ayat Kauniyah) maupun ayat2 Allah di dalam kitab suci (ayat Qauliyah) (66)
-
Mereka menyombongkan diri terhadap Al Quran, merasa aman dari siksa Allah dan menganggap ayat2 Al Quran hanyalah syair dan sihir semata (67), sbgmn disebutkan di ayat lain sbb:
Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan. (Yaasin 36:69)
lalu dia berkata, “(Al Quran) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.” (Al Mudatsir 74:24-25)
-
Mereka enggan mengakui kebenaran Al Quran walaupun tahu bhw Al Quran itu membenarkan kitab2 yang diturunkan sebelumnya (Taurat, Zabur, Injil) (68)
Tugas dan Adab Para Rasul dlm Berdakwah
Allah kemudian menjelaskan tugas dan adab para Rasul sebagai berikut:
-
Rasul diutus dari kalangan mereka. Kaumnya tahu persis integritas pribadi sang Rasul, kehidupannya sejak kecil hingga dewasa sebelum mendakwahkan risalah Allah (69)
-
Rasul diutus membawa kebenaran tetapi kebanyakan umatnya membenci kebenaran tersebut dan menganggap Rasul menderita sakit gila (70). Di ayat lain disebutkan:
Katakanlah, “Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua ataupun sendiri-sendiri; kemudian kamu saksikan bahwa temanmu (Muhammad SAW) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada dirinya. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras (Saba’ 34:46)
Fir’aun berkata, ”Sesungguhnya Rasulmu yang diutus kepada kamu sekalian benar-benar orang gila.” (Asy Syu’araa’ 26:27)
Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kamu Nuh, maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan, ”Dia seorang gila dan dia sudah pernah diberi ancaman). (Al Qamar 54:9)
-
Para Rasul membawa kitab suci yang mengandung kebenaran kepada kaumnya. Ditegaskan bahwa kebenaran tidak selalu sesuai dengan keinginan/hawa nafsu, melainkan keinginanlah yang seharusnya ditundukkan mengikuti kebenaran, dan bukan sebaliknya. Dijelaskan juga bahwa Al Quran sengaja diturunkan dalam bahasa Arab yang keindahannya melampaui keindahan syair-syair bangsa Arab saat itu agar bangsa Arab bangga, tidak lagi rendah diri terhadap kaum Yahudi dan Nasrani karena akhirnya mereka memiliki kitab suci dalam bahasa Arab sebagaimana halnya Bani Israil memiliki Taurat dan Injil dalam bahasa Ibrani. Namun mereka tetap menolak Al Quran karena kebencian mereka yang sangat besar terhadap kebenaran Al Quran (71).
-
Rasul tidak meminta balasan keuntungan duniawi apa pun, seperti finansial, kekuasaan atau ketenaran atas dakwahnya, karena Allah menjanjikan balasan yang lebih baik bagi mereka dan menjamin rezeki mereka di dunia (72). Di ayat lain hal ini ditegaskan berkali-kali, salah satunya diulang-ulang dalam redaksi yang sama dalam 5 ayat di Surah Asy Syu’araa’ berikut:
dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam (Asy Syu’araa’ 26:109, 127, 145, 164, 180)
-
Rasul memiliki sifat amanah dan sungguh-sungguh mengajak kaumnya kepada jalan yang lurus (73). Allah kemudian menjelaskan, salah satu ciri utama jalan yang lurus tersebut adalah meyakini akan kepastian adanya akhirat.
Hal ini disebutkan juga di ayat berikut:
Apakah dia mengada-adakan kebohongan terhadap Allah ataukah ada padanya penyakit gila?” (Tidak), tetapi orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat berada dalam siksaan dan kesesatan yang jauh. (Saba’ 34:8)
Maha Benar Allah dg segala firmanNya.
Wallahu a’lam bish-shawab