Al-Mursalat 77 : 1-50

Al-Mursalat 77 : 1-50

Surah ini termasuk kelompok Makkiyyah. Dinamakan Al-Mursalat karena ayat pertama surah ini dijadikan sumpah, yakni "Demi (malaikat) yang diutus untuk membawa kebaikan."

Hal menarik di dalam surah ini adalah sistematisasi bahasan pada ayat 7 - 49 dimana setiap bahasannya diakhiri oleh:

وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِّلْمُكَذِّبِينَ

Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.

Dijelaskan ada 10 pengingkaran yang menjadi sebab menyesalnya orang-orang kafir di Hari Akhir.

Malaikat dan Tugasnya

  1. Demi (malaikat-malaikat) yang diutus (al-Mursalaat) untuk membawa kebaikan,
  2. dan (malaikat-malaikat) yang terbang dengan kencangnya,
  3. dan (malaikat-malaikat) yang menyebarkan (rahmat Tuhannya) dengan seluas-luasnya,
  4. dan (malaikat-malaikat) yang membedakan (antara yang hak dan yang bathil) dengan sejelas-jelasnya,
  5. dan (malaikat-malaikat) yang menyampaikan wahyu,
  6. untuk menolak alasan-alasan atau memberi peringatan,

Mayoritas mufasir (ath-Thabari, al-Qurthubi, ar-Razi dll), al-Mursalaat pada ayat pertama di atas bermakna malaikat atau angin. Allah bersumpah dengan angin dan malaikat, menggabungkan keduanya karena daya dan kecepatan gerak keduanya yang tampak dalam berbagai fenomena di bumi - lumrah dan pasti terjadi - sebagai analogi gambaran kepastian terjadinya hari Kiamat. Sumpah ini adalah peringatan mengenai keagungan obyek yang dijadikan sumpah (malaikat atau angin), karena keutamaan dan sifat-sifatnya sebagai berikut:

  1. Angin yang terus menerus berhembus, atau malaikat yang turun berbaris rapi seperti 'urf kuda, yakni rambut yang berurutan yang tumbuh di atas leher (1)
  2. Mereka yang bergerak dengan cepat (2)
  3. Mereka (angin atau malaikat) yang menggiring turunnya hujan/awan. Malaikat yang mengatur menyebarkan karunia Allah kepada seluruh makhluk, meliputi rezeki, makanan, hujan, angin yang menghantarkan serbuk bunga, dll (3)
  4. Malaikat yang mencatat perbuatan baik dan buruk manusia dan jin (4)
  5. Malaikat yang diutus menyampaikan wahyu dan ayat-ayat Allah kepada para Nabi dan Rasul (5). Ayat-ayat Allah ini berisi bantahan terhadap ajaran Rasul yang sudah menyimpang oleh umat sesudah mereka wafat, seperti Tuhan memiliki anak (Nabi Isa oleh kaum Nasrani dan Uzair oleh kaum Yahudi) (6). Selain itu, wahyu ayat-ayat Allah ini juga mengandung peringatan kepada orang-orang yang mengingkari dakwah Rasul (6)

Penyesalan Besar di Hari Akhir

Ayat-ayat selanjutnya menerangkan 10 kelalaian orang Kafir sehingga menjadi penyesalan besar di Hari Akhir. Setiap akhir pembahasan kesepuluh hal ini ditutup dengan peringatan atas kerugian karena mengingkarinya dan tidak ada yang bisa dilakukan mereka kecuali hanya menyesalinya sebagai berikut:

Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan (15,19,24,28,34,37,40,45,47,49)

Al-Qur’an banyak sekali menerangkan ekspresi penyesalan di Hari Akhir ini, di antaranya:

Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata, "Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah (tetap di alam kubur, tidak dibangkitkan)" (An-Naba 78:40)

Dan berkata orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan (kepada orang-orang yang kafir), "Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit; maka inilah hari berbangkit itu akan tetapi kamu selalu tidak meyakini(nya)". Maka pada hari itu tidak bermanfaat (lagi) bagi orang-orang yang zalim permintaan uzur mereka, dan tidak pula mereka diberi kesempatan bertaubat lagi (Ar-Rum 30:56-57)

Dan kamu akan melihat orang-orang yang zalim ketika mereka melihat azab berkata, "Adakah kiranya jalan untuk kembali (ke dunia)?" (Asy-Syura 42:44)

Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku)" (Al-Furqan 25:27-28)

Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata, "Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku daripadaku" (Al-Haqqah 69:25-29)

1. Mengingkari Kepastian Hari Kiamat

  1. sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu itu pasti terjadi.
  2. Maka apabila bintang-bintang telah dihapuskan,
  3. dan apabila langit telah dibelah,
  4. dan apabila gunung-gunung telah dihancurkan menjadi debu,
  5. dan apabila rasul-rasul telah ditetapkan waktu (mereka).
  6. (Niscaya dikatakan kepada mereka:) "Sampai hari apakah ditangguhkan (mengazab orang-orang kafir itu)?"
  7. Sampai hari keputusan.
  8. Dan tahukah kamu apakah hari keputusan itu?
  9. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.

Rangkaian ayat di atas menjelaskan 2 hal kelalaian orang kafir terkait Hari Kiamat:

  1. Mengingkari kepastian kedatangan hari Kiamat
  2. Menyia-nyiakan umur/kehidupan di dunia yang sebenarnya merupakan penangguhan balasan atas perbuatan buruk mereka, dimana mereka diberi kesempatan untuk bertaubat dan berbuat amal kebaikan sebagai penghapus perbuatan buruk mereka

2. Tidak Mengambil Pelajaran dari Sejarah Umat Terdahulu

  1. Bukankah Kami telah membinasakan orang-orang yang dahulu?
  2. Lalu Kami iringkan (azab Kami terhadap) mereka dengan (mengazab) orang-orang yang datang kemudian.
  3. Demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berdosa.
  4. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.

Hal kedua yang dilalaikan orang kafir adalah tidak mengambil pelajaran dari sejarah umat-umat terdahulu yang diadzab karena mengingkari risalah Allah SWT. Di antaranya, kaum 'Ad dan Tsamud dengan Nabi Hud as dan Saleh as, Fir'aun dan Bani Israil dengan Nabi Musa as, dll. Padahal sisa-sisa peninggalan mereka masih ada dan jelas terlihat, seperti peninggalan kaum Tsamud di situs Madain Saleh (sekitar 470 km dari Madinah, Arab Saudi). Atau peninggalan kaum 'Ad di kota Ubar, daerah Dhofar, Oman.

3. Mengabaikan Hakikat Penciptaan Manusia

  1. Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina?
  2. kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (rahim),
  3. sampai waktu yang ditentukan,
  4. lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kami-lah sebaik-baik yang menentukan.
  5. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.

Yang ketiga, adalah mengingkari proses penciptaan dirinya (manusia). Yakni, bermula dari sesuatu yang hina (sperma), kemudian melalui proses yang kompleks sehingga tumbuh menjadi janin yang lengkap, lahir dan dimuliakan dengan pikiran, hati nurani sehingga dapat memilah baik dan buruk. Kesempurnaan manusia ini disebutkan di ayat lain:

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (At-Tin 95:4)

4. Mengingkari Kenikmatan Hidup di Bumi

  1. Bukankah Kami menjadikan bumi (tempat) berkumpul,
  2. orang-orang hidup dan orang-orang mati?
  3. dan Kami jadikan padanya gunung-gunung yang tinggi, dan Kami beri minum kamu dengan air tawar?
  4. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.

Hal keempat yang diingkari kaum Kafir adalah mengingkari alam kehidupan di bumi beserta segala manfaatnya sebagai bentuk kemurahan Allah SWT. Betapa besar nikmat yang diberikan Allah Yang Maha Pemurah kepada manusia melalui alam, seperti tanah dan pegunungan untuk ditinggali dan berkebun dan air tawar dari mata air dan sungai. Kemurahan Allah terhadap kehidupan manusia ini disebutkan pula di ayat lain:

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan (Al-Isra' 17:70)

5. Mengingkari Kepastian Adanya Neraka

  1. (Dikatakan kepada mereka pada hari kiamat), "Pergilah kamu mendapatkan azab yang dahulunya kamu mendustakannya.
  2. Pergilah kamu mendapatkan naungan yang mempunyai tiga cabang,
  3. yang tidak melindungi dan tidak pula menolak nyala api neraka".
  4. Sesungguhnya neraka itu melontarkan bunga api sebesar dan setinggi istana.
  5. Seolah-olah ia iringan unta yang kuning.
  6. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.

Di ayat ini, Allah SWT menghinakan mereka yang mengingkari kepastian adanya siksa berupa api neraka. Digambarkan asap api neraka ini membumbung tinggi bercabang tiga. Disebutkan juga di ayat lain, bahwa api neraka ini mengepung mereka dan memiliki banyak lapisan:

... Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. (Al-Kahfi 18:29)

Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan (dari api). Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hamba-Nya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepada-Ku hai hamba-hamba-Ku. (Az-Zumar 39:16)

Digambarkan pula di ayat 32, bahwa bunga api yang dilontarkan api neraka ini besarnya seukuran istana (bangunan besar) dan terus-menerus seperti iringan rombongan unta berwarna kuning.

Maka Allah SWT kembali mengingatkan kita, apakah atau siapakah yang dapat menyelamatkan kita dalam keadaan seperti ini? Betapa kecilnya manusia di tengah kobaran api neraka yang bunga-bunga apinya saja sebesar bangunan besar. Apakah penyesalan ini belum cukup menjadi peringatan bagi mereka yang masih menolak kebenaran Tauhid dan syariat Rasulullah saw?

6. Mengingkari Padang Mahsyar

  1. Ini adalah hari, yang mereka tidak dapat berbicara (pada hari itu),
  2. dan tidak diizinkan kepada mereka minta uzur sehingga mereka (dapat) minta uzur.
  3. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.

Penyesalan berikutnya adalah ketika mereka berada di padang Mahsyar yang mencekam. Mereka tidak berbicara karena kegentingan yang mereka lihat, kebingngan dan kedahsyatan yang menimpa mereka. Allah SWT juga tidak mengizinkan mereka untuk mengajukan alasan, karena perbuatan mereka telah disaksikan oleh anggota tubuh mereka. Hal ini dijelaskan juga di ayat lain berikut:

Hai orang-orang kafir, janganlah kamu mengemukakan uzur pada hari ini. Sesungguhnya kamu hanya diberi balasan menurut apa yang kamu. (At-Tahrim 66:7)

Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. (Ya Sin 36:65)

Maka Allah SWT kembali mengingatkan kita, yang dulu di dunia bisa berkelit dengan argumen dan kata-kata, semua itu tidak akan ada di Akhirat. Hanya anggota tubuh kita yang berbicara, menyaksikan apa yang telah kita perbuat di dunia ini. Adakah penyesalan yang lebih besar daripada ini semua?

7. Mengingkari Kekuasaan Mutlak Allah di Hari Akhir

  1. Ini adalah hari keputusan; (pada hari ini) Kami mengumpulkan kamu dan orang-orang terdahulu.
  2. Jika kamu mempunyai tipu daya, maka lakukanlah tipu dayamu itu terhadap-Ku.
  3. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.

Allah SWT menegaskan bahwa Dia lah Penguasa Tertinggi di Hari Akhir ini. Dia yang mendatangkan kiamat. Dia pula yang membangkitkan seluruh manusia dan mengumpulkannya di Padang Mahsyar. Allah SWT implisit menantang siapa pun yang bisa mengelak atau menandingi kekuasaanNya di Hari Akhir ini. Inilah yang dimaksud ayat Al-Fatihah berikut:

Yang Menguasai (atau Raja) Hari Pembalasan (Al-Fatihah 1:4)

Maka siapa lagi yang dapat diharapkan sebagai penolong bagi mereka yang menolak kebenaran risalah Nabi saw? Betapa besar penyesalan mereka saat itu, sementara api neraka yang sangat besar sudah menghadang di depan mereka.

8. Mengingkari Kepastian Adanya Surga

  1. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam naungan (yang teduh) dan (di sekitar) mata-mata air.
  2. Dan (mendapat) buah-buahan dari (macam-macam) yang mereka ingini.
  3. (Dikatakan kepada mereka), "Makan dan minumlah kamu dengan enak karena apa yang telah kamu kerjakan".
  4. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
  5. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.

Allah SWT kemudian menerangkan nasib mereka yang bertakwa. Mereka mendapatkan balasan surga sebagai balasan amal mereka dan juga rahmat Allah SWT. Di ayat 43 digambarkan Allah menjamu mereka dengan berbagai makanan dan minuman sebagai penghargaan Allah terhadap ketaatan dan amal kebaikan mereka di dunia. Di ayat lain, digambarkan sambutan Allah yang memuliakan orang beriman ini:

"Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan isteri-isteri kamu digembirakan." Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya. (Az-Zukhruf 43:70-71)

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku. (Al-Fajr 89:27-30)

Ini dikontraskan dengan mereka yang berada di dalam neraka karena menolak kebenaran di dunia.

9. Mengingkari bahwa Kehidupan Dunia Bersifat Sementara

  1. (Dikatakan kepada orang-orang kafir), "Makanlah dan bersenang-senanglah kamu (di dunia dalam waktu) yang pendek; sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang berdosa".
  2. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.

Allah SWT kemudian mengkontraskan dengan suasana Padang Mahsyar, pengadilan (mizan) dan surga-neraka yang abadi dengan kehidupan dunia yang relatif sangat singkat. Di ayat lain, disebutkan juga:

Allah bertanya, "Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?" Mereka menjawab, "Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung." Allah berfirman, "Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui" (Al-Mu'minun 23:112-113)

Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu. (Al-Hajj 22:47)

10. Menolak Tunduk dan Beribadah kepada Allah

  1. Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Ruku'lah, niscaya mereka tidak mau ruku'.
  2. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.

Terakhir, Allah SWT menyimpulkan, sebenarnya sebab utama penyesalan besar mereka di Hari Akhir ini tidak lain bersumber dari penolakan mereka terhadap risalah dan kitab Allah yang disampaikan para rasul kepada mereka.

Kepada mereka ini, kemudian ditanyakan pertanyaan metaforis:

  1. Maka kepada perkataan apakah selain Al-Qur'an ini mereka akan beriman?

Adakah risalah lain yang akan menyelamatkan mereka di Hari Akhir ini? Adakah risalah lain (selain risalah Tauhid), yang diridhai oleh Penguasa Mutlak (Al-Malik) Hari Akhir ini?

Melalui rangkaian ayat di atas seakan Allah SWT berpesan kepada kita, bila memang demikian benar-benar tidak ada sesuatu apa pun yang dapat menyelamatkan kita di Hari Akhir selain Dia, maka mengapakah kita yang masih diberi kesempatan hidup di dunia ini tidak segera bertaubat dan menaati perintah dan laranganNya - menjadi hambaNya yang bertakwa?

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa (Ali Imran 3:133)

Demikianlah surat Al-Mursalat ini ditutup. Sebagaimana maknanya, Al-Mursalat ini dimaksudkan sebagai malaikat penyampai wahyu risalah Allah untuk disampaikan kepada manusia. Mereka yang mengingkarinya akan mengalami penyesalan besar di Hari Akhir. Sebaliknya, mereka yang menaatinya, beriman dan mengamalkannya akan mendapatkan keberuntungan besar di Hari Akhir.

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.

Photo credit: Shot by Cerqueira

Diselesaikan pada 20210807