Surah ini termasuk kelompok Makkiyah, dinamakan Al-Muzammil, artinya orang yang berselimut dengan pakaian-pakaiannya, yang menceritakan peristiwa Nabi saw ketika awal menerima wahyu. Selain itu, karena surah ini dimulai dengan perintah Allah SWT agar Nabi saw beranjak dari berselimut dan bangkit untuk menyampaikan risalah Islam.
Keutamaan Bangun Malam untuk Beribadah
- Hai orang yang berselimut (Muhammad),
- bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya),
- (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit.
- atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan.
Empat ayat pertama surah ini menjelaskan perintah bangun malam untuk beribadah. Menarik di sini, Allah SWT menyeru kepada Nabi saw dengan sebutan "Orang yang berselimut." Implisit sebenarnya, bahwa Allah memerintahkan manusia yang masih terikat dengan kebutuhan jasmaninya (mengantuk, tidur dan berselimut agar terlindung dari dingin) untuk bangkit, meninggalkan sisi manusiawi sebagai makhluk fisik menuju derajat fitrahnya sebagai hamba Allah, yakni beribadah kepada Allah SWT dengan penuh ketekunan, sebagaimana disebut pada ayat 8:
Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan sungguh-sungguh dan penuh ketekunan (8)
Allah SWT sangat memahami hambaNya yang tetap manusiawi, sehingga memberikan beberapa keringanan dan fleksibilitas. Allah SWT menekankan di ayat lain bahwa ajaran Islam bukanlah diturunkan untuk membuat kehidupan menjadi sempit:
Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Al-Hajj 22:78)
Ayat 1-3 menjelaskan keringanan yang dimaksud sebagai berikut:
-
Bangunlah pada sebagian kecil (sedikit) malam hari (1). Allah SWT tidak memerintahkan kita untuk bangun sepanjang malam, melainkan hanya sedikit (sebagian kecil) dari waktu malam
-
Kita diberikan fleksibilitas pilihan bangun malam. Boleh pada 1/3 malam (sekitar pukul 22.00 - 23.00), atau 1/2 malam (sekitar pukul 00.00 - 01.00) dan 2/3 malam (sekitar pukul 02.00 - 03.00). Ayat ini merupakan penjelasan rinci atas ayat berikut:
Dan pada sebahagian malam hari laksanakanlah sholat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. (Al-Isra 17:79)
Adapun ibadah qiyamul-lail yang diutamakan dilakukan pada malam hari ini adalah:
-
Sholat malam. Nabi saw menerangkan keutamaan sholat malam ini sebagai berikut:
Pada setiap malam, Allah SWT turun ke langit dunia ketika malam hanya menyisakan sepertiganya saja. Allah berfirman, "Barangsiapa yang meminta sesuatu kepadaKu maka Aku akan memenuhi permintaannya. Barangsiapa yang berdoa kepadaKu pada saat ini maka akan aku perkenankan doanya. Barangsiapa yang memohon ampunan kepadaKu maka Aku akan mengampuninya." Keistimewaan ini akan terus berlaku hingga datangnya fajar. (HR Ibnu Majah dari Abu Hurairah) -
Membaca Al-Qur'an dengan perlahan-lahan (tartil) dan merenungkan maknanya (4). Di dalam tafsir Ibnu Katsir, diceritakan Aisyah ra ditanya mengenai bacaan Nabi saw, lalu dia berkata, "Tidak seperti bacaan kalian. Kalau orang yang mendengar bacaan Nabi ingin menghitung huruf-hurufnya, maka dia bisa menghitungnya."
Di dalam hadits lain, Nabi saw juga menekankan keutamaan memperindah bacaan Al-Qur'an:Hiasilah Al-Qur'an dengan suara kalian (HR Abu Daud 1468, Nasa'i 2/179, Ibnu Majah 1342)
Bukanlah termasuk golongan kami orang yang tidak melagukan (memperindah) bacaan Al-Qur'an (HR Bukhari 7527)
- Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat
- Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu') dan bacaan di waktu itu lebih berkesan
Allah SWT kemudian menjelaskan keutamaan dari melaksanakan ibadah malam ini:
- Dikaruniai perkataan yang berat (qawlan tsaqila) (5). Menurut sebagian besar Mufasir, yang dimaksud perkataan berat ini adalah wahyu Al-Qur'an yang diturunkan kepada Nabi saw. Namun demikian, secara umum bagi orang beriman yang melaksanakan ibadah malam ini, qawlan tsaqila dapat berarti perkataan yang mengandung hikmah dan kebenaran, yang bersumber dari firasat yang tajam serta ucap yang menggugah hati yang mendengarnya
- Dimudahkan mencapai kondisi khusyu' di dalam sholat (6)
- Dimudahkan hati tersentuh oleh bacaan Al-Qur'an (6)
- Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak)
- Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan sungguh-sungguh dan penuh ketekunan
- (Dialah) Tuhan masyrik dan maghrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung
Ayat selanjutnya, Allah SWT kembali menekankan bahwa ibadah pada sebagian malam di atas adalah bentuk keringanan (rukhsah) kepada manusia yang terbatas waktu dan fisiknya karena tidak dapat khusyu' mengingat Allah (dzikir dan sholat) pada siang hari karena kesibukannya.
Walaupun manusia penuh keterbatasan, namun Allah SWT tetap memerintahkan kita untuk:
- Melaksanakan ibadah dengan sungguh-sungguh dan penuh ketekunan - terutama di malam hari (8).
- Memurnikan ketauhidan, hanya menyembah semata kepada Allah SWT, Tuhan yang menguasai seluruh penjuru bumi dan langit (9)
- Menghadirkan Allah SWT setiap saat sebagai Dzat Yang Maha Melindungi kita dari segala bahaya dan keburukan (9)
Kita disunnahkan bangun malam untuk beribadah - yakni melaksanakan sholat yang sungguh-sungguh dan penuh ketekunan serta membaca Al-Qur'an secara tartil (jelas dan perlahan), sebagai penyempurna ibadah sholat dan dzikir kita pada siang hari yang tidak bisa dilakukan dengan tenang dan khusyu' karena waktu yang terbatas dan pikiran yang dipenuhi berbagai urusan dan kesibukan pekerjaan.
Dari rangkaian ayat 7-9 ini secara implisit Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk tidak menjadi ahli ibadah yang meninggalkan keduniawian (mutabattil), melainkan menjaga keseimbangan dengan menyelesaikan tugas-tugas dan urusan untuk memenuhi kebutuhan duniawi pada siang hari, dan beribadah dengan tekun dan sungguh-sungguh pada malam hari - keseimbangan melaksanakan perintah pada dua ayat berikut:
Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan sungguh-sungguh dan penuh ketekunan (8)
dan
Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain) (Al-Insyirah 94:7)
Sebagai penutup, dapat disimpulkan di dalam ayat 1-9 ini kita disunnahkan bangun malam untuk beribadah - dalam bentuk sholat yang khusyu' dan membaca Al-Qur'an secara tartil (jelas dan perlahan), sebagai penyempurna ibadah sholat dan dzikir kita pada siang hari yang terburu-buru karena waktu yang terbatas dan banyaknya urusan yang harus diselesaikan. Hal ini senada dengan pesan arif Ibnu ‘Atha illah as-Sakandary di dalam kitab Al-Hikam:
Jangan tinggalkan berdzikir sebab kelalaianmu saat berdzikir. Semoga Allah berkenan mengangkat derajatmu dari dzikir yang penuh dengan kelalaian menuju dzikir yang penuh kesadaran. Dan dari dzikir yang penuh kesadaran menuju dzikir yang disemangati oleh kehadiran-Nya menuju dzikir yang meniadakan segala sesuatu selain-Nya. Dan yang demikian itu bagi Allah bukanlah merupakan sesuatu yang sulit.
Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Referensi tafsir klik di sini.
Photo credit: Adil Riyami
Diselesaikan pada 20200821