Berpegang Teguh kepada Agama Allah dan Bertakwa
- Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.
Melanjutkan kemarin, setelah kita diperintahkan utk berhati-hati dalam bergaul dengan Ahli Kitab (100), Allah memerintahkan kita berpegang teguh pada dua hal berikut agar tidak terpengaruh:
- Al Quran – “ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu”
- Contoh (hadits) rasul dan ulama pewaris para Nabi – “Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu”
Di akhir ayat 101 ditegaskan bahwa siapa yang berpegang teguh pada dua hal di atas maka dia sudah menempuh jalan yang lurus – “sirothol mustaqim”.
Kalau kita perhatikan, “sirothol mustaqim” ini yg persis sama dg doa kita minta ditunjukin jalan yg lurus di Al Fatihah ayat 6. Maka di sini Allah menunjukkan caranya agar kita berjalan di jalan yang lurus.
- Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.
Kemudian Allah memerintahkan untuk menetapi ketakwaan dengan mengusahakannya sesempurna mungkin dengan sungguh-sungguh, dengan kriteria minimum, at least, jangan sampai kita meninggal dalam keadaan tidak beragama Islam.
Mengenai takwa, dijelaskan di ayat lain, bahwa takwa pun harus seimbang, tidak boleh memaksakan diri, sesuai kesanggupan sehingga tidak menelantarkan hak diri (kesehatan, istirahat, kesenangan yang sewajarnya) dan juga hak orang lain (seperti keluarga dan lingkungan):
Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (At-Taghabun 64:16)
- Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.
Kemudian setelah perintah bertakwa secara pribadi (individual), Allah memerintahkan kita juga untuk bertakwa secara berjamaah – “berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah” dan menjaga persatuan. Allah juga mengingatkan bagaimana suku-suku Arab waktu itu yang saling perang sehingga akhirnya dipersatukan melalui Islam.
Amar Ma’ruf Nahi Mungkar
- Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.
Setelah perintah takwa berjamaah, Allah menjelaskan lebih detail mengenai masyarakat Islam, dimana harus ada sebagian dari mereka yang mengingatkan kebaikan dan mengingatkan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar.
Amar ma’ruf nahi mungkar ini adalah kewajiban sesuai hadits nabi:
Barangsiapa di antara kalian yg melihat kemungkaran, ia harus mengubahnya dg tangannya, namun jika tdk mampu dg tangannya, maka dg lisannya, namun jika tdk mampu dg lisannya, maka dg hatinya; dan ini adalah selemah2nya (amal) keimanan. Dan tdk ada setelah itu, sebiji sawi pun dari keimanan (Riwayat Muslim).
Di hadits lain, dijelaskan juga:
Demi Dzat yang jiwaku berada di dalam genggamanNya, sungguh kalian harus memerintahkan kpd yg ma’ruf dan mencegah kemungkaran, atau (jika tidak) maka sungguh Allah akan segera menurunkan siksaan dariNya kpd kalian, kemudian sungguh kalian akan memanjatkan dia kepadaNya, namun Dia tdk memperkenankan doa kalian tersebut (HR Ahmad, Tarmidzi dan Ibnu Majah)
- Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat,
- pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan), "Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu".
- Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya.
Di ayat berikutnya (105-106) Allah mencontohkan ahli kitab yang terpecah menjadi kelompok-kelompok karena mereka mengabaikan perlunya ada orang yg menyeru kebaikan dan pentingnya amar ma’ruf nahi mungkar di dalam umatnya di atas, sebagaimana disebutkan di ayat lain:
Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. (Al Maaidah 5:79)
Ayat 106-107 kemudian menjelaskan bagaimana kondisi ahli kitab (kafir setelah beriman) tersebut di akhirat, dan kontrasnya mereka yang menerima Islam.
Allah tidak Menganiaya HambaNya
- Itulah ayat-ayat Allah. Kami bacakan ayat-ayat itu kepadamu dengan benar; dan tiadalah Allah berkehendak untuk menganiaya hamba-hamba-Nya.
- Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi; dan kepada Allahlah dikembalikan segala urusan.
Allah kemudian menegaskan bahwa kesemua yg di atas itu bukanlah untuk menganiaya hambaNya. Rule of the game nya sudah diberitahu. Siapa yang berbuat baik adalah berbuat baik bagi dirinya. Rasul sudah diutus, kitab suci juga sudah diterangkan oleh Rasul. Jalan menuju keselamatan juga sudah diberitahu. Maka kelak mereka akan kembali kepada Allah untuk dihisab segala amal perbuatannya.
Di ayat lain, dikatakan juga:
Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan. (Huud 11:117)
Umat Terbaik
- Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.
- Mereka sekali-kali tidak akan dapat membuat mudharat kepada kamu, selain dari gangguan-gangguan celaan saja, dan jika mereka berperang dengan kamu, pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah). Kemudian mereka tidak mendapat pertolongan.
- Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.
Di ayat selanjutnya Allah menjanjikan, umat Islam akan menjadi umat terbaik yg pernah ada kalau mereka melaksanakan (110):
- Amar ma’ruf nahi mungkar
- Beriman kepada Allah
Kalau kita sudah melaksanakan 2 hal di atas maka dikatakan, kaum ahli kitab (yg diberi banyak kelebihan) pun tidak bisa mencelakakan kita. Dan kalau pun kita harus berperang, mereka akan lari sebelum mulai perang (111); dan mereka akan mendapat kehinaan dimana pun mereka berada (112).
Sebagai tambahan, Allah menjelaskan mereka yang lari ini bisa selamat kalau mereka:
- Beriman kepada Allah, menerima Islam (tali Allah)
- Amanah dalam menjaga perjanjian dengan semua pihak
Segelintir Ahli Kitab yang Saleh
- Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang).
- Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh.
Ahli Kitab disebutkan tidak semuanya buruk, masih ada segelintir minoritas yang berlaku lurus dan soleh dengan ciri-ciri sbb:
-
taat membaca firman Allah dan sujud, berdoa di malam hari
-
beriman kepada Allah; berpegang pada ajaran Taurat dan Injil yang asli yang tidak menganggap Nabi Isa sebagai anak Tuhan
Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al Quran) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka.
Diantara mereka ada golongan yang pertengahan. (Namun) alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka. (Al Maaidah 5:66) -
Mempercayai kepastian datangnya hari kiamat
-
Melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar
-
Senang dan segera dalam mengerjakan berbagai kebaikan
- Dan apa saja kebajikan yang mereka kerjakan, maka sekali-kali mereka tidak dihalangi (menenerima pahala)nya; dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa.
Mereka ini diterima amalnya oleh Allah. Kemudian disebutkan bahwa Allah Maha Mengetahui hambaNya yang bertakwa; mungkin maksudnya mereka ini sedikit sekali jumlahnya sehingga sulit ditemukan keberadaannya.
Maha Benar Allah dg segala firmanNya.
Wallahu a’lam.
Tambahan mengenai umat Islam seperti kita yang hidup di akhir zaman, Nabi SAW bersabda dalam salah satu hadits yg membuat kita optimis:
“Sesungguhnya di hadapan kalian ada hari-hari, dimana orang yang sabar dalam menetapi agamanya di hari-hari itu bagaikan orang yang menggenggam bara api (nyaris lepas kesabarannya karena tidak kuat). Orang yang melakukan sebuah amal pada hari-hari tersebut, pahalanya sama dengan pahala amal yang sama yang dilakukan oleh 50 orang.” Dikatakan kepada beliau, “50 orang dari mereka?” Beliau berkata, “Bukan, akan tetapi 50 orang dari kalian (50 orang sahabat Nabi)”.
Semoga kita menjadi org yg bisa melakukan amal tsb. Aamiin…