At Taubah 9:123 - Yunus 10:6

Beberapa Kaidah Jihad Perang

  1. Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.

Ayat 123 menerangkan beberapa kaidah bila jihad perang sudah diwajibkan (syarat-syaratnya sudah terpenuhi):

  1. Diutamakan untuk memulainya dari lingkungan terdekat
  2. Bersikap keras terhadap musuh, tidak toleran, sehingga mereka gentar terhadap sikap tegas dari kita

Hal yang sama diperintahkan Allah di ayat lain:

Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah jahannam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya. (At Taubah 9:73)

Sikap Orang Munafik terhadap Ayat Allah

  1. Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, "Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surat ini?" Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira.
  2. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.
  3. Dan tidaklah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?
  4. Dan apabila diturunkan satu surat, sebagian mereka memandang kepada yang lain (sambil berkata), "Adakah seorang dari (orang-orang muslimin) yang melihat kamu?" Sesudah itu mereka pun pergi. Allah telah memalingkan hati mereka disebabkan mereka adalah kaum yang tidak mengerti.

Ayat 124-127 menerangkan perbandingan sikap orang Munafik dan orang beriman bila mereka mendengar ayat-ayat Allah secara umum, dan juga khususnya ayat-ayat yang memerintahkan melaksanakan jihad perang.

Bagi kaum mukmin, turunnya ayat-ayat Allah menjadikan keimanan dan keyakinan mereka akan bertambah kuat dan mendorong mereka untuk mengamalkannya. Mereka merasa gembira dengan diturunkannya ayat-ayat tsb karena dengannya membersihkan jiwa mereka, menjelaskan keraguan mereka, dan menambah amal-amal mereka yang membawa kepada keselamatan dunia dan akhirat. Condongnya hati orang beriman ketika mendengar ayat-ayat Allah ini dijelaskan di ayat lain berikut:

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpin pun. (Az Zumar 39:23)

Sedangkan orang yang di dalam jiwa mereka ada keraguan, kekafiran dan kemunafikan (kebohongan), turunnya ayat-ayat Allah akan menambah kekafiran dan kemunafikan yang telah ada pada diri mereka. Semakin sering mereka mendengar ayat-ayat Allah, semakin bertambah sikap ingkar (membohongi diri sendiri) dan menantang terhadap segala yang disebutkan di dalam ayat-ayat tsb.

Di ayat lain disebutkan juga, bahwa bagi orang Munafik ini, ayat-ayat Allah seperti sesuatu yang jauh yang bukan ditujukan bagi mereka:

Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (Al Israa’ 17:82)

…Katakanlah, “Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh.” (Fushshilat 41:44)

Penutup Perintah Jihad Perang

Allah menutup rangkaian perintah dan hukum Jihad Perang di dalam surah At Taubah ini dengan dua ayat untuk menggembirakan kita – orang beriman:

  1. Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.

Implisit Allah berpesan kepada kita, orang beriman bahwa ketaatan dan tingginya tingkat kesulitan kita dalam memenuhi perintah jihad perang adalah semata karena perintah Allah melalui RasulNya, yang sangat menginginkan keselamatan bagi kita dan amat besar kasih sayangnya kepada kita…

  1. Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah, "Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung".

Di ayat selanjutnya, kita diperintahkan untuk tetap istiqamah selama melaksanakan perintah jihad perang ini. Pasti akan banyak orang-orang yang hatinya terkena sakit munafik, yang menentang, ragu, mencemoohkan kita – bahkan dari orang-orang terdekat sekali pun. Kita diminta untuk memperbanyak dzikir berikut agar tetap istiqamah, teguh hati, tidak goyah dan ragu dalam melaksanakan jihad perang yang tidak mudah ini:

حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

Sebagai tambahan, dzikir di atas disunnahkan rutin dibaca pagi dan sore sesuai hadits berikut:

Barangsiapa yang membaca “hasbiyallah… ‘arsyil a’zhiim” 7 kali di waktu pagi dan sore, Allah mencukupkan apa yang dirisaukannya, baik dia membacanya dengan kesungguhan atau pun tidak (HR Abu Dawud)

Surah Yunus

Surah Yunus terdiri dari 109 ayat, dan termasuk surah Makkiyah, kecuali ayat 40, 94 dan 95.

  1. Alif laam raa. Inilah ayat-ayat Al-Qur'an yang mengandung hikmah.

Allah menyatakan bahwa Al-Qur'an adalah kitab yang mengandung hikmah, yakni berisi petunjuk bagi orang beriman untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat (1).

  1. Patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka, "Berilah peringatan kepada manusia dan gembirakanlah orang-orang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan mereka". Orang-orang kafir berkata, "Sesungguhnya orang ini (Muhammad) benar-benar adalah tukang sihir yang nyata".
  2. Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa'at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?

Kemudian, Allah menjawab keraguan bangsa Arab waktu itu, mengapa harus Muhammad SAW yang dipilih Allah sbg Rasul, dan bukan tokoh-tokoh yang terpandang di kalangan masyarakat Arab. Keraguan mereka ini dijawab Allah dengan menerangkan bahwa apa yang dialami oleh Muhammad SAW adalah sama dengan yang dialami oleh para rasul lain sebelum beliau (2):

  1. Sama-sama dipilih tidak berdasarkan kedudukan atau kekayaan mereka. Pemilihannya adalah murni ditentukan oleh Allah

  2. Sama-sama membawa dua misi utama:

    • Memberi peringatan kpd manusia, pahala-dosa, surga-neraka
    • Membawa berita gembira kpd manusia, bhw mereka dpt menjadi orang beriman yang mulia di sisi Allah, serta ditunjukkan cara2 mencapai iman tsb

    Dua misi Rasul ini disebutkan di banyak ayat, seperti:

    …Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman. (Al A’raaf 7:188)

    Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. (Saba’ 34:28)

    (Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (An Nisaa 4:165)

  3. Sama-sama dicap sebagai tukang sihir karena membawa mukjizat yang selalu mengalahkan hujjah (dalam bentuk argumentasi dan bukti nyata) dari kaum kafir (2). Seperti halnya Musa:

    Pemuka-pemuka kaum Fir’aun berkata, “Sesungguhnya Musa ini adalah ahli sihir yang pandai (Al A’raaf 7:109)

  4. Sama-sama mengajarkan tauhid, adanya Allah – Tuhan yang menciptakan alam semesta dan mengatur segala urusan di dalamnya. Dialah Tuhan yang Maha Esa, satu-satunya yang menurunkan rahmat dan pertolongan, serta satu-satunya Tuhan yang disembah (3), seperti halnya rasul-rasul lain sebelum Muhammad SAW:

    Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. (Al Baqarah 2:133)

Kebesaran Allah dalam Menjaga Siklus Proses Alam Semesta

Ayat selanjutnya menerangkan kebesaran Allah dalam menjaga berlangsungnya siklus kehidupan dan pergerakan benda2 di alam semesta ini:

  1. Hanya kepada-Nya-lah kamu semuanya akan kembali; sebagai janji yang benar daripada Allah, sesungguhnya Allah menciptakan makhluk pada permulaannya kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali (sesudah berbangkit), agar Dia memberi pembalasan kepada orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan amal saleh dengan adil. Dan untuk orang-orang kafir disediakan minuman air yang panas dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka.
  1. Siklus penciptaan manusia -> kelahiran -> kematian -> hari akhir -> manusia dibangkitkan kembali. Dijelaskan pula, bahwa tujuan adanya hari akhir dan dibangkitkannya manusia saat itu adalah agar setiap makhluk menerima balasan atas amalnya dengan adil. Masuk surga dan neraka sesuai timbangan amal mereka (4).
  1. Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.
  1. Siklus peredaran matahari dan bulan (5), sehingga dimanfaatkan sebagai perhitungan tahun dan bulan oleh manusia, sebagaimana diterangkan juga di ayat lain:

Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari karunia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas. (Al Israa’ 17:12)

Kemudian dijelaskan pula, bahwa ini semua diatur dengan "haq", dengan sempurna dan terukur – yang mana akan tampak kesempurnaan proses ini oleh orang2 yang berilmu (mendalami ilmu science). Mereka yang berilmu inilah yang dimaksud di ayat berikut:

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi… (Ali Imran 3:190-191)

Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. (Al-Hijr 15:19)

  1. Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa.
  1. Siklus siang dan malam, yang seharusnya menjadi bahan tafakkur agar kita menjadi org bertakwa, takut kpd Allah. Di ayat lain, kita diperintahkan untuk mensyukuri datangnya malam dan siang ini, bahkan disebutkan siklus ini bisa berjalan teratur semata krn Allah sengaja menurunkan rahmatNya kpd kita (6):

Katakanlah, “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?”
Katakanlah, “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”
Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya. (Al Qashash 28:71-73)

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.