Berikut adalah summary tafsir Kemenag RI atas ayat cahaya berikut:
Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
1. Petunjuk dan Iman
Siapa Allah dalam ayat ini? Allah digambarkan sebagai Sumber Cahaya bagi alam semesta. Tanpa cahaya ini, segalanya gelap, kacau, dan tersesat. Dengan cahaya ini, hidup menjadi teratur, seperti orang yang berjalan membawa senter terang di tengah malam yang gelap; ia tidak akan jatuh ke jurang.
Perumpamaan Lampu yang Terang Sempurna
Allah membuat perumpamaan cahaya-Nya di hati orang beriman seperti sebuah sistem pencahayaan yang sempurna:
- Tempat Lampu (Misykat): Bayangkan sebuah lubang di dinding (ceruk) yang dibuat khusus untuk menaruh lampu. Karena posisinya fokus dan tidak terbuka ke mana-mana, cahayanya menjadi sangat terkumpul dan terang (tidak pudar seperti lampu di tengah ruangan luas).
- Kaca Pelindung: Lampu itu dilindungi kaca yang sebening kristal, sehingga cahayanya stabil, tidak terpengaruh oleh udara luar dan angin
- Bahan Bakar (Minyak Zaitun): Minyaknya berasal dari pohon zaitun terbaik. Pohon ini tumbuh di bukit yang tidak terhalang (bukan di timur saja atau barat saja), sehingga terkena matahari sepanjang hari (pagi sampai sore).
- Kualitas Minyak: Saking murninya minyak ini, ia "hampir menyala" sendiri meskipun belum disentuh api.
Arti Perumpamaan
- Cahaya di atas Cahaya: Minyak yang sudah berkilau, ditambah api yang menyala, ditambah kaca kristal, ditambah pantulan dari ceruk dinding. Ini menggambarkan betapa berlapis-lapis dan hebatnya petunjuk Allah.
- Hati Orang Mukmin: Wadah lampu itu ibarat hati orang beriman. Minyak yang murni ibarat potensi kebaikan ("fitrah") dalam diri manusia. Ketika fitrah yang bersih ini bertemu dengan wahyu/ilmu agama (api), maka terciptalah cahaya iman yang luar biasa.
- Syarat Mendapatkannya: Cahaya ini (ilmu dan hidayah) tidak akan masuk ke hati yang kotor. Seperti kisah Imam Syafi’i, maksiat atau dosa itu "memadamkan" atau menghalangi cahaya ilmu. Orang yang bersih hatinya memiliki firasat yang tajam karena ia melihat dengan "Cahaya Allah".
2. Tafsir Menurut Beberapa Mufasir Lain
Para ulama memiliki sudut pandang yang memperkaya pemahaman kita tentang ayat ini:
A. Tafsir Ibnu Katsir (Tafsir Bil Ma'tsur)
Ibnu Katsir banyak mengutip pendapat sahabat Nabi, terutama Ubay bin Ka'ab r.a. Beliau menjelaskan bahwa perumpamaan lampu tersebut adalah gambaran hati seorang mukmin:
- Misykat (Ceruk): Adalah dada/hati orang mukmin.
- Kaca: Adalah hati yang bersih.
- Minyak Zaitun: Adalah cahaya iman dan Al-Qur'an yang ada di dalamnya. Ibnu Katsir menegaskan bahwa ini adalah perumpamaan bagi orang mukmin yang di dalam dirinya terdapat cahaya fitrah dan cahaya wahyu (Al-Qur'an), sehingga menjadi "Cahaya di atas Cahaya". Sementara orang kafir hidup dalam kegelapan yang berlapis-lapis (dijelaskan di ayat berikutnya).
B. Imam Al-Ghazali (Kitab Misykat al-Anwar)
Imam Al-Ghazali menulis buku khusus membahas ayat ini. Beliau menafsirkan secara filosofis dan tasawuf:
- Cahaya Sejati: Menurut Al-Ghazali, cahaya fisik (matahari/lampu) hanyalah metafora. Cahaya yang sejati adalah Allah, karena Allah-lah yang membuat segala sesuatu menjadi "ada" dan "terlihat" dari ketiadaan.
- Mata Batin: Cahaya Allah ini ditangkap bukan oleh mata kepala, melainkan oleh akal dan mata hati (bashirah). Hanya mata hati yang bersih yang bisa menangkap pantulan cahaya ilahi ini.
C. Quraish Shihab (Tafsir Al-Misbah)
Ulama Indonesia ini menjelaskan fungsi cahaya:
- Cahaya memiliki dua fungsi: Menjadikan dirinya terlihat, dan menjadikan sesuatu yang lain terlihat.
- Allah disebut Cahaya karena Dia-lah Dzat yang paling nyata, dan Dia-lah yang menyebabkan segala sesuatu di alam semesta ini menjadi nyata/eksis. Tanpa Allah, alam semesta ini "gelap" atau tidak ada (fana).
- Beliau menekankan bahwa minyak yang "hampir menyala walau tak disentuh api" menunjukkan betapa dekatnya potensi akal manusia untuk menerima kebenaran, bahkan sebelum wahyu datang. Namun, ketika wahyu datang, potensi itu menjadi sempurna.
Penutup
Ayat ini mengajarkan bahwa Iman adalah gabungan antara hati yang bersih (potensi dari dalam) dan hidayah Allah (petunjuk dari luar/Al-Qur'an). Keduanya harus bertemu untuk menghasilkan "Cahaya di atas Cahaya" yang membimbing hidup seseorang agar tidak tersesat.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا، وَفِي لِسَانِي نُورًا، وَفِي سَمْعِي نُورًا، وَفِي بَصَرِي نُورًا، وَمِنْ فَوْقِي نُورًا، وَمِنْ تَحْتِي نُورًا، وَعَنْ يَمِينِي نُورًا، وَعَنْ شِمَالِي نُورًا، وَمِنْ أَمَامِي نُورًا، وَمِنْ خَلْفِي نُورًا، وَاجْعَلْ فِي نَفْسِي نُورًا، وَأَعْظِمْ لِي نُورًا
Ya Allah, jadikanlah cahaya di dalam hatiku, cahaya di lisanku, cahaya di pendengaranku, cahaya di penglihatanku, cahaya dari atasku, cahaya dari bawahku, cahaya di sebelah kananku, cahaya di sebelah kiriku, cahaya dari depanku, dan cahaya dari belakangku. Dan jadikanlah cahaya di dalam jiwaku, serta perbesarlah cahaya itu bagiku. (HR. Bukhari Muslim)
Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Referensi tafsir klik di sini.
Photo credit: Daily Art