Al-Insan 76 : 1-22

Al-Insan 76 : 1-22

Surah ini termasuk kelompok Madaniyyah walaupun di dalamnya banyak membahas mengenai keadaan akhirat yang menjadi ciri surah Makiyyah. Dinamakan Al-Insan (manusia) karena dimulai dengan penjelasan mengenai perjalanan kehidupan manusia.

Perjalanan Kehidupan Manusia

Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? (1), Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat (2), Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir (3), Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu dan neraka yang menyala-nyala (4), Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur (5), (yaitu) mata air (dalam surga) yang daripadanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya (6)

Allah SWT menjelaskan perjalanan kehidupan manusia sebagai berikut:

  1. Berawal dari penciptaan Adam sebagai manusia pertama yang diciptakan Allah SWT, dari tiada menjadi ada (1)

  2. Kemudian anak keturunan Adam berkembang melalui reproduksi, yang diawali dari bercampurnya sperma dengan sel telur membentuk zigot yang berbentuk seperti segumpal darah ('alaq) yang melekat pada dinding rahim (2)

  3. Zigot kemudian berkembang hingga menjadi bayi, kemudian dilahirkan dan menjadi manusia dewasa yang dibekali kemampuan memahami, belajar dan memilih melalui indera pendengaran dan penglihatan. Dengan demikian dia mampu mendengarkan ayat, merenungkan dalil-dalil alam dan memikirkan bukti-bukti semesta yang menunjukkan Sang Pencipta Yang Maha Esa (2)

  4. Hingga tiba saatnya manusia tersebut mendengar dan melihat seruan kebenaran, seruan yang dibawa oleh para Rasul kepada jalan yang lurus. Maka sebagian dari manusia ada yang memilih jalan taat karena bersyukur mendapatkan hidayah, dan ada pula sebagian yang memilih mengingkarinya (3). Di ayat lain juga disebutkan:

    Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (yakni kebaikan dan keburukan) (Al-Balad 90:10)

  5. Bagi manusia yang tetap ingkar hingga akhir hidupnya maka kehidupannya akan berakhir di dalam neraka yang menyala-nyala dimana mereka dibelenggu dengan rantai (4). Dalam redaksi yang mirip disebutkan pada ayat berikut:

    ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret, ke dalam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar dalam api (Al-Mu’min 40:71-72)

  6. Sedangkan bagi manusia yang berbuat baik dan mengikuti risalah Tuhan akan mendapat balasan surga yang penuh kenikmatan (5-6)

Akhlak Mulia Penghuni Surga

Ayat selanjutnya menjelaskan beberapa akhlak terpuji yang menjadi sebab mereka menjadi ahli surga, sebagai berikut:

Mereka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana (7), Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan (8), Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih (9), Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan (10)

  1. Mereka menepati janji bila bernadzar (berjanji melakukan sesuatu yang baik) kepada Allah (7)

  2. Mereka sangat concern dengan peristiwa hari Kiamat yang sangat dahsyat, yang saat itu tidak ada yang bisa menolong karena setiap orang sudah sibuk menyelamatkan dirinya (7)

  3. Mereka bersikap pemurah terhadap sesama; memberikan makanan (termasuk harta/barang lain) yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan tawanan (atau orang yang hidup/bekerja di bawah kekuasaan mereka) (8). Hal yang sama juga disebutkan di ayat berikut:

    Dan memberikan harta yang dicintainya (Al-Baqarah 2:177)

    Kamu tidak akan memperoleh kebajikan sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai (Ali Imran 3:92)

  4. Mereka menjaga keikhlasan dalam memberi sesuatu demi mengharapkan keridhaan Allah semata, sama sekali tidak mengharapkan balasan dan juga tidak berharap ucapan syukur dan terima kasih (9). Di ayat lain disebutkan pula, untuk benar-benar menjaga perasaan mereka yang menerima pemberian dengan tidak menyebut-nyebut pemberian kita:

    Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (Al-Baqarah 2:264)

    Mereka sangat khawatir amal-amal mereka terhapus karena sikap riya, sehingga timbangan amal mereka tidak mencukupi untuk bekal masuk ke dalam surga (10)

Balasan Surga bagi Hamba yang Beriman dan Berakhlak Mulia

Adapun bagi orang-orang beriman yang menjaga akhlak mulia seperti yang disebutkan pada ayat 7-10 di atas diterangkan pada ayat selanjutnya:

Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu (hari Akhir), dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati (11), Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera (12), di dalamnya mereka duduk bertelakan di atas dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang bersangatan (13), Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya (14), Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana kaca (15), (yaitu) kaca-kaca (yang terbuat) dari perak yang telah diukur mereka dengan sebaik-baiknya (16), Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe (17), (Yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil (18), Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan (19), Dan apabila kamu melihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar (20), Mereka memakai pakaian sutera halus yang hijau dan sutera tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak, dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih (21)

Di ayat selanjutnya, sebagai penutup bahasan, ditegaskan kembali bahwa surga dengan segala kenikmatannya tidak lain adalah balasan atas keikhlasan mereka dalam beramal:

Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan) (22)

Hal senada juga disebutkan di ayat berikut:

(Kepada mereka dikatakan), “Makan dan minumlah dengan nikmat karena amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu” (Al-Haqqah 69:24)

Mengenai ayat 22 ini, diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa ada seorang laki-laki dari Habsyah (berkulit hitam) berkata kepada Nabi saw, "Wahai Rasulullah, engkau mempunyai kelebihan dari kami dengan bentuk fisik, warna kulit dan kenabian. Bagaimana pendapat engkau jika aku beriman dengan apa yang engkau beriman kepadanya, dan beramal dengan apa yang engkau mengamalkannya. Apakah aku akan berada bersama engkau di dalam surga?"
Rasulullah saw menjawab, "Ya, demi Dzat yang jiwaku di tanganNya. Sesungguhnya akan terlihat putihnya hitam di dalam surga dan cahayanya dari jarak perjalanan seribu tahun."
Laki-laki Habsyah tadi bertanya kembali, "Wahai Rasulullah, apakah kedua mataku dapat melihat apa yang dilihat oleh kedua mata engkau di dalam surga?" Rasulullah saw menjawab, "Ya" Seketika itu juga, laki-laki Habsyah itu menangis hingga meninggal dunia.

Ibnu Umar berkata, "Sungguh aku melihat Rasulullah saw menurunkan jasadnya ke dalam kubur sambil berucap, "Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)" (ayat 22).

Kami pun bertanya "Wahai Rasulullah, apa maksudnya?" Beliau menjawab, "Demi Dzat yang jiwaku di tanganNya, sungguh dia telah dihentikan Allah. Kemudian Allah berfirman, Wahai hambaKu, sungguh Aku akan memutihkan wajahmu dan Aku akan menyiapkan untukmu surga yang mana saja yang kamu kehendaki. Maka itu adalah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal." (HR Ath-Thabrani)

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.

Photo credit: Joshua Earle

Diselesaikan pada 20200823