Al-Isra' 17 : 12-21

Al-Isra' 17 : 12-21

Di rangkaian ayat berikut, Allah menerangkan 4 ketetapan - 4 hal yang pasti terjadi atau sudah terjadi dan menjadi sunnatullah. Masing-masing keempat hal ini memiliki derajat kepastian yang sama, disebabkan sudah menjadi ketetapan Allah.

Ketetapan 1: Ayat-Ayat Allah di Alam Semesta

  1. Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.

Ketetapan pertama adalah terciptanya alam semesta serta terjadinya siklus alam seperti pergantian siang dan malam.

Ketetapan 2: Kitab Catatan Amal Manusia

  1. Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka.
  2. Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.

Ketetapan kedua adalah catatan amal pada setiap manusia. Orang Arab menyebut sesuatu yang selalu menyertai sesuatu yang lain, dengan apa yang diletakkan di leher. Diterangkan, catatan amal ini seperti buku catatan yang dikalungkan pada leher setiap manusia kelak di Akhirat, menggambarkan prinsip konsekuensi atau tanggung jawab dari perbuatan, yang baik maupun yang buruk.

Hasan al-Bashri menyebutkan sebuah hadits Qudsi,

Wahai anak Adam, Kami bentangkan untukmu lembaran catatan amal, dan ditunjuk dua malaikat yang mulia untuk selalu menyertainya, satu di sebelah kananmu dan satu lagi di sebelah kirimu. Adapun malaikat yang berada di sebelah kananmu, maka ia mencatat kebaikan-kebaikanmu, sedangkan malaikat yang di sebelah kirimu maka ia mencatat keburukuan-keburukanmu. Lakukanlah apa yang kamu kehendaki, sedikit ataupun banyak, hingga ketika kamu mati maka catatan amal tersebut akan dilipat dan diletakkan di lehermu lalu ia akan bersamamu di dalam kubur, hingga catatan itu dikeluarkan untukmu di hari Kiamat.

Sebagaimana ketetapan yang pertama, ketetapan yang kedua ini adalah pasti terjadi, sesuatu yang sama pasti terjadinya dengan penciptaan alam semesta yang bukti penciptaannya terlihat di sekeliling kita, kemana pun mata memandang.

Ketetapan 3: Balasan Amal - Kebaikan Dibalas dengan Kebaikan, Keburukan Dibalas dengan Keburukan

  1. (1) Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. (2) Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan (3) Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.
  2. (4) Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.

Ketetapan berikutnya adalah balasan amal. Bahwa pasti Allah SWT akan menetapkan balasan amal atas setiap perbuatan manusia, baik atau buruk, besar dan kecil, betapapun kecilnya.

Ada 4 point bahasan mengenai balasan amal ini pada ayat di atas, yang menunjukkan fairness pengadilan manusia di Akhirat:

  1. Bahwa sebenarnya amal perbuatan di dunia tidak lain hanya akan kembali untuk kemaslahatan manusia itu sendiri di Akhirat. Amal baik akan menyelamatkannya, amal buruk akan menjerumuskannya kepada azab neraka.

  2. Bahwa perhitungan amal setiap manusia hanyalah atas amal perbuatan yang dilakukannya. Seseorang tidak akan menanggung amal perbuatan orang lain.

    Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata bahwa ayat 15 ini turun pada saat Walid bin Mughirah (salah seorang petinggi Quraish) berkata, "Kafirlah terhadap Muhammad, biarlah aku yang akan menanggung dosa-dosa kalian". Ayat ini juga bantahan bagi orang-orang yang berkata, "Kami tidak akan disiksa karena apa pun. Seandainya ada hukuman, maka yang akan menanggungnya adalah nenek moyang kami karena kami hanya mengikuti mereka"

    Hal ini ditegaskan juga di dalam firman Allah SWT:

    Katakanlah, "Kamu tidak akan dimintai tanggung jawab atas apa yang kami kerjakan dan kami juga tidak akan dimintai tanggung jawab atas apa yang kamu kerjakan (Saba' 34:25)

    Hukuman berlipat ganda akan dikenakan bagi penyeru kesesatan karena perbuatan mereka itu mempengaruhi orang lain untuk melakukannya, namun, hukuman itu tidak menggugurkan dosa dan hukuman bagi orang-orang yang mengikuti mereka dalam kesesatan.

    (Ucapan mereka) menyebabkan mereka pada hari Kiamat memikul dosa-dosanya sendiri secara sempurna dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, alangkah buruknya (dosa) yang mereka pikul itu (An-Nahl 16:25)

  3. Bahwa manusia menerima hukuman hanya bila kepadanya telah sampai risalah Rasul dan dia secara sadar menolak/mengingkari ajaran rasul tersebut. Hal ini juga disebutkan di dalam beberapa ayat berikut:

    Dan Kami tidak membinasakan sesuatu negeri pun, melainkan sesudah ada baginya orang-orang yang memberi peringatan; untuk menjadi peringatan. Dan Kami sekali-kali tidak berlaku zalim. (Asy Syu’araa’ 26:208-209)

    Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman. (Al Qashash 28:59)

    (Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (An-Nisa' 4:165)

  4. Bahwa balasan amal tersebut dapat terjadi di dunia tanpa menunggu terjadinya hari Kiamat. Disebutkan di ayat 16 di atas bahwa umumnya perilaku zalim dan penolakan terhadap ajaran Rasul dilakukan oleh strata sosial atas, yakni mereka yang mapan (al-Mutraf), padahal sebenarnya mereka lebih pantas dan lebih wajib untuk bersyukur daripada masyarakat lain di bawahnya.

  1. Dan berapa banyaknya kaum sesudah Nuh telah Kami binasakan. Dan cukuplah Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Melihat dosa hamba-hamba-Nya.

Allah SWT kemudian menjelaskan bahwa sudah banyak kaum yang diazab di dunia, negerinya dihancurkan disebabkan ingkarnya mereka terhadap ajaran Rasul. Beberapa yang disebutkan kisahnya di dalam Al-Qur’an, diantaranya kaum Nabi Nuh, Luth, Huud, dan Musa.

Menurut Ibnu Katsir, disebutkannya “kaum sesudah Nuh” pada ayat di atas karena sejak Nabi Adam as, kaum Nuh merupakan umat pertama yang berbuat musyrik dengan menyembah berhala dimana-mana sehingga diutuslah Rasul kepada mereka. Nuh as disebut sebagai Rasul pertama - yang diutus untuk menegakkan risalah Allah dan menentang kezaliman kaumnya.

Ketetapan 4: Usaha Manusia dan Keadilan Allah

  1. Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.
  2. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.
  3. Kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi.

Ketetapan berikutnya adalah keadilan Allah atas usaha yang dilakukan oleh manusia. Bahwasanya, setiap manusia - siapa pun dia, dimana pun dia, baik beriman atau ingkar - pasti akan mendapatkan hasil atas usahanya selama dia melakukannya dengan sungguh-sungguh. Hal ini ditegaskan pula di ayat berikut:

Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. (Huud 11:15)

Namun, bagi mereka yang tidak beriman, tidak meniatkan usahanya tersebut untuk beribadah kepada Allah, maka tidak lain hanya siksa neraka yang akan mereka dapatkan di akhirat karena tidak ada pahala atas usaha dan karya mereka (18). Ini ditegaskan di ayat berikut:

Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat. (Asy-Syuraa 42:20)

Sebaliknya, kalau mereka beriman dan menjadikan usaha-usahanya ditujukan sebagai ibadah kepada Allah, maka mereka akan diberikan dua kebaikan, yakni keberhasilan di dunia (karena kesungguhannya) dan pahala serta balasan surga di akhirat (karena iman dan niat ibadahnya) (19).

  1. Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya.

Allah kemudian menerangkan bahwa setiap manusia memiliki hak rezeki dan keberhasilan dunia yang berbeda-beda - baik dia beriman maupun kafir. Implisit ayat ini menerangkan, bahwa kelapangan rezeki di dunia tidak seharusnya menjadi ukuran keridhaan Allah SWT.

Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan (Az-Zukhruf 43:32)

Dan Dia mengangkat (derajat) sebagian kamu di atas yang lain, untuk mengujimu atas (karunia) yang diberikanNya kepadamu (Al-An'aam 6:165)

Namun, di atas semua itu, ditegaskan (pada akhir ayat 21) bahwa balasan akhirat - yang berlaku selamanya - adalah jauh lebih baik daripada kesuksesan dunia (yang hanya sementara hingga ajal menjemput). Di sini, implisit kita diperintahkan untuk mengejar kebaikan Akhirat yang lebih kekal - namun dengan tidak melupakan kehidupan dunia, sebagaimana diterangkan pada ayat berikut:

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Al-Qasas 28:77)

Demikianlah Allah SWT menjelaskan 4 ketetapan yang masing-masing memiliki tingkat kepastian-terjadinya yang sama, yakni:

  1. Ayat-ayat Allah sebagai bukti penciptaan alam semesta
  2. Kitab catatan amal manusia
  3. Balasan amal baik dan buruk
  4. Balasan atas usaha manusia (kesuksesan/kegagalan)

Dua diantaranya (nomor 1 dan 4) sudah dan masih akan terus berlangsung. Dua lainnya (nomor 2 dan 3) baru tampak jelas setelah tiba hari Kiamat.

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.

Photo credit: Elena Mozhvilo

Diselesaikan pad 20211222