Berikut ini adalah penjelasan Hamka yang mengharukan, dikutip dari Tafsir Al-Azhar[1].
Akhlak Muslim
- Janganlah engkau adakan Tuhan yang lain di samping Allah, niscaya duduklah engkau dalam tercela dan terhina
- Dan telah menentukan Tuhanmu, bahwa jangan engkau sembah kecuali Dia, dan hendaklah kepada kedua ibu-bapak engkau berbuat baik. Jika kiranya salah seorang mereka, atau keduanya telah tua dalam pemeliharaan engkau, maka janganlah engkau berkata uff kepada keduanya, dan janganlah dibentak mereka, dan katakanlah kepada keduanya kata-kata yang mulia
- Dan hamparkanlah kepada keduanya sayap merendahkan diri karena sayang, dan ucapkanlah, "Ya Tuhan! Kasihanilah keduanya sebagaimana keduanya memelihara aku di kala kecil"
Ayat-ayat ini, mulai dari sini menerangkan dasar budi dan kehidupan Muslim. Pokok pertama budi terhadap Allah. Di sinilah pangkalan tempat bertolak.
Di sini pohon budi yang sejati. Yang berjasa kepada kita, yang menganugerahi kita hidup, memberi rezeki. memberikan perlindungan dan akal, tidak ada yang lain, hanya Allah.
Dan telah menentukan Tuhanmu, bahwa jangan engkau sembah kecuali Dia (23)
Pada ayat 22 di atas tujuan hidup dalam dunia ini telah dijelaskan, yaitu mengakui hanya satu Tuhan itu, yaitu Allah. Barangsiapa mempersekutukannya dengan yang lain, akan tercelalah dia dengan terhina. Pengakuan bahwa hanya satu Tuhan, tiada bersyarikat dan bersekutu dengan yang lain, itulah yang dinamai TAUHID RUBUBIYAH. Kemudian datanglah ayat 23 ini, bahwasanya Tuhan Allah itu sendiri yang menentukan, yang memerintah dan memuluskan bahwasanya Dialah yang mesti disembah, dipuji dan dipuja. Dan tidak boleh, dilarang keras menyembah yang selain Dia. Oleh sebab itu maka cara beribadat kepada Allah, Allah itu sendirilah yang menentukan. Maka tidak pulalah sah ibadat kepada Allah yang hanya dikarang-karangkan sendiri. Untuk menunjukkan peribadatan kepada Allah Yang Maha Esa itulah, Dia mengutus Rasul-rasulNya.
Menyembah, beribadat dan memuji kepada Allah Yang Maha Esa itulah yang dinamai TAUHID ULUHIYAH.
Itulah pegangan pertama dalam hidup Muslim.
Dan tidaklah sempurna pengakuan bahwa Allah itu Esa, kalau pengakuan tidak disertai dengan ibadat yaitu pembuktian dari Keimanan. Arti Ibadat itu dalam bahasa Indonesia (Melayu) ialah memperhambakan diri, atau pembuktian dari ketundukan. Mengerjakan segala yang telah dinyatakan baiknya oleh wahyu dan menjauhi segala yang telah dijelaskan buruknya.
Khidmat Kepada Ibu-Bapak
Lanjutan ayat ialah:
Dan hendaklah kepada kedua ibu-bapak, engkau berbuat baik.
Dalam lanjutan ayat ini terang sekali bahwasanya berkhidmat kepada ibu-bapak, menghormati kedua orangtua yang telah menjadi sebab bagi kita dapat hidup di dunia ini ialah kewajiban yang kedua sesudah beribadat kepada Allah[2]. Cobalah fahami dan perhatikan tentang kewajiban berkhidmat dan bersikap baik, berbudi mulia kepada ibu-bapak ini. Karena manusia itu apabila telah berumah tangga sendiri, beristeri dan beranak-pinak, kerapkali tidaklah diperhatikannya lagi dari hal khidmat kepada kedua ibu-bapaknya. Harta benda dan anak keturunan kerapkali menjadi fitnah ujian bagi manusia di dalam perjuangan hidupnya; di sanalah kasih-sayang ayah-bunda kepada anaknya. Namun anak yang telah berdiri sendiri itu kerap terlalai memperhatikan ayah-bundanya. Lalu dalam ayat ini seterusnya Tuhan melanjutkan ketentuan atau perintahnya tentang sikap terhadap kedua ibu-bapak itu.
Jika kiranya salah seorang mereka, atau keduanya telah tua dalam pemeliharaan engkau, maka janganlah engkau berkata uff kepada keduanya (23)
Artinya, jika usia keduanya, atau salah seorang di antara keduanya, ibu dan bapak itu sampai meningkat tua, sehingga tidak kuasa lagi hidup sendiri, sudah sangat bergantung kepada belas-kasihan puteranya, hendaklah sabar berlapang hati memelihara orangtua itu. Bertambah tua, kadang-kadang bertambah dia seperti anak-anak dia minta dibujuk, dia minta belas-kasihan anak. Mungkin ada bawaan orang yang telah tua itu yang membosankan anak, maka janganlah terlanjur dari mulutmu satu kalimat pun yang mengandung rasa bosan atau jengkel memelihara orangtuamu.
Di dalam ayat ini disebut kata UFFIN.
Abu Raja' al-Atharidi mengatakan bahwa arti UFFIN ialah kata-kata yang mengandung kejengkelan dan kebosanan, meskipun tidak keras diucapkan.
Ahli bahasa mengatakan bahwa kalimat UFFIN itu asal artinya ialah daki hitam dalam kuku.
Lalu Mujahid menafsirkan ayat ini. Kata beliau, "Artinya ialah jika engkau lihat salah seorangnya atau keduanya telah berak atau kencing di mana maunya saja, sebagaimana yang engkau lakukan di waktu engkau kecil, janganlah engkau mengeluarkan kata yang mengandung keluhan sedikit pun."
Sebab itu maka kata UFFIN dapatlah diartikan mengandung keluhan jengkel, decas mulut, akh! kerut kening dan sebagainya.
Jelaslah bahwa alamat kecewa dan jengkel yang betapa kecil sekalipun hendaklah dihindari.
Sebab itu tersebutlah di dalam sebuah hadits yang dirawikan dari Ali bin Abu Thalib, sabda Nabi saw:
Kalau Allah mengetahui suatu perbuatan durhaka kepada orangtua perkataan yang lebih bawah lagi dari UFF itu, niscaya itulah yang akan disebutkanNya. Sebab itu berbuatlah orang yang berkhidmat kepada kedua orangtuanya, apa sukanya, namun dia tidak akan masuk ke neraka. Dan berbuatlah orang yang durhaka kepada kedua orangtuanya, apa sukanya pula, namun dia tidaklah akan masuk ke syurga.[3]
Lanjutan ayat:
Dan janganlah dibentak mereka, dan katakanlah kepada keduanya kata-kata yang mulia (23)
Sesudah dilarang mendecaskan mulut, mengeluh mengerutkan kening, walaupun suara tidak kedengaran, dijelaskan lagi, jangan keduanya dibentak, jangan keduanya dihardik, dibelalaki mata. Di sinilah berlaku perumpamaan qiyas-aulawy yang dipakai oleh ahli-ahli Ushul-Fiqh, yakni: Sedangkan mengeluh UFFIN yang tak kedengaran saja, lagi tak boleh, apalagi membentak-bentak, menghardik-hardik.[4]
"Orangtua pehiba hati” - inilah ungkapan orang Minangkabau tentang perasaan orangtua. Disebut juga, "Awak tuo, ati paibo." Kalau awak sudah tua, hati kerapkali hiba-hiba saja.
Bagaimanalah perasaan dari seorangtua kalau anak yang diasuh dibesarkannya, yang bertahun-tahun diasuh dibelainya, agar kelak anak itu menjadi manusia yang berarti, tiba-tiba setelah awak tua, awak dibentak-bentaknya, ke mana dia akan pergi lagi, sedang segala tenaga waktu mudanya telah pindah kepada puteranya. Orangtua pun insaf bahwa usianya telah mendekati liang kubur, mengapalah anaknya tidak sabar menderita pemeliharaan orangtuanya.
Maka tersebutlah pada sebuah hadits Rasulullah saw yang dirawikan oleh Abu Said al-Maqburi dari Abu Hurairah ra:
Hidup sengsara seorang laki-laki, disebut orang aku di dekatnya, namun dia tidak mengucapkan shalawat atasku. Hidup sengsara seorang laki-laki, yang telah tua salah seorang ibu-bapaknya atau sekaligus keduanya, namun pemeliharaannya atas keduanya tidak menyebabkan dia masuk syurga. Hidup sengsara seorang laki-laki, telah masuk bulan Ramadhan (Puasa), kemudian bulan itu pun habis sebelum Allah memberi ampun akan dia.
Berkata al-Qurthubi di dalam Tafsirnya, "Berbahagialah orang yang cepat-cepat mengambil kesempatan berkhidmat kepada kedua ayah-bundanya, sebelum kesempatan itu hilang karena mereka terburu mati. Maka menyesallah dia berlarat-larat bahwa dia belum sempat membalas guna. Maka nistalah orang yang tidak perduli kepada kedua orangtuanya apalagi jika perintah ini telah diketahuinya."
Selanjutnya hendaklah katakan kepada kedua ibu-bapak itu perkataan yang pantas, kata-kata yang mulia, kata-kata yang keluar dari mulut orang yang beradab bersopan santun[5].
Ucapkanlah kata yang baik, yang mulia, yang beradab. Imam 'Atha' sampai mengatakan, "Sekali-kali jangan disebut nama beliau. Panggilkan saja "Ayah-Ibu!" - "Abuya, Ummi" - "Papi-Mami!" Pendeknya segala perkataan yang mengandung rasa cinta kasih. Sehingga tingkat yang mana yang telah dicapai oleh si anak dalam masyarakat, entah dia menjadi Presiden atau Menteri, jadi Duta Besar atau jadi Jenderal, perlihatkanlah di hadapan ayahmu dan ibumu bahwa engkau adalah anaknya.
Rasulullah saw dalam usia sekitar 60 tahun setelah menaklukkan Hunain dan Bani Sa'ad, telah ditemui oleh ibu yang menyusukannya, yang sudah sangat tua, yaitu Halimatus-Sa'diyah. Ketika perempuan tua itu datang, beliau tanggalkan baju jubahnya, beliau suruh beliau duduk di atasnya, lalu beliau sandarkan kepalanya ke dada perempuan itu, dada yang pernah diisapnya air susunya.
Ayat selanjutnya lebih mengharukan lagi:
Dan hamparkanlah kepada keduanya sayap merendahkan diri, karena sayang (24)
Itulah yang telah kita katakan di atas tadi, walaupun engkau sebagai anak, merasa dirimu telah jadi orang besar, jadikanlah dirimu kecil di hadapan ayah-bundamu. Apabila dengan tanda-tanda pangkat dan pakaian kebesaran engkau datang mencium mereka, niscaya airmata keterharuan akan berlinang di pipi mereka tidak dengan disadari. Itu sebabnya maka di dalam ayat ditekankan "Minar-rahmati" karena sayang, karena kasih mesra, yang datang dari lubuk hati yang tulus dan ikhlas.
Kadang-kadang dua orang ibu-bapak, atau tinggal salah seorang hidup di antara anak-anaknya. Kian tahun anak-anak kian dewasa. Lalu ayah-bunda mengawinkannya. Mereka pun pergilah membina rumah-tangga sendiri, satu demi satu. Anak-anak laki-laki telah pergi membawa isterinya. Anak-anak perempuan telah pergi dibawa suaminya. Kian sepilah ayah-bunda atau salah seorang di antara keduanya dalam rumah besar tadi; salah seorang, karena seorang telah terlebih dahulu dipanggil Tuhan ke hadiratNya. Terkhayallah dan terbayang ramai dalam rumah di zaman lampau, sekarang tak dapat diulang lagi. Si tua cuma menunggu harinya pergi buat selamanya. Datanglah kegembiraan itu sebentar apabila anak-anak itu datang beramai-ramai menziarahinya: anak, menantu, cucu-cucu. Dan sepi kembali apabila orang-orang yang dicintainya itu telah pergi.
Oleh sebab itu maka ditekankan perintah oleh Tuhan, "Katakanlah kepada keduanya kata-kata yang mulia", yang membesarkan hatinya, yang menimbulkan kegembiraan kembali pada cahaya mata yang mulai kuyu karena tekanan umur.
Orang akan berkata bahwa tidak pun memakai ayat, rasa kemanusiaan saja pun sudah cukup. Tetapi orang yang beriman beragama mereka bahagia karena Tuhan sendiri yang mengatakan bahwa khidmat kepada kedua ibu-bapak itu pun adalah termasuk ibadat kepada Allah. Termasuk mentaati perintah Allah, sehingga ada akibatnya (efeknya) sampai ke akhirat.
Tersebutlah di dalam sebuah hadits yang dirawikan oleh Imam Ahmad bin Hambal dari sahabat Rasulullah saw Malik bin Rabi'ah as-Saa'idi. Dia berkata:
Sedang kami duduk bersama di sisi Rasulullah saw, tiba-tiba datanglah seorang laki-laki dari kaum Anshar, lalu dia bertanya, "Masih adakah lagi kewajibanku yang wajib aku buktikan kepada kedua orangtuaku setelah beliau-beliau meninggal?" Rasulullah menjawab,
"Memang, masih ada kewajibanmu empat macam: (1) Doakan keduanya, (2) Mohonkan ampun kepada Allah untuk keduanya, (3) Laksanakan pesan-pesan (kebiasaan) keduanya, (4) Muliakan sahabat-sahabat keduanya; Silaturrahim - hubungan kasih-sayang), yang tidak terhubung kepada engkau melainkan dari pihak keduanya. Itulah yang tinggal untuk engkau sebagai bakti kepada keduanya setelah mereka meninggal."
Setelah dalam ayat yang tengah kita tafsirkan diperingatkan bahwa berbuat bakti kepada dua orang ibu-bapak adalah sesudah perintah menyembah Allah, maka di dalam sebuah hadits pula disamakan martabatnya di antara tiga kewajiban sebagai Muslim:
Dari Abdullah bin Mas'ud ra:
Aku bertanya kepada Nabi saw, "Apakah amalan yang paling disukai oleh Allah Ta'ala?" Beliau menjawab, "Sembahyang pada awal waktunya." Aku bertanya pula, "Sesudah itu apa?" Beliau menjawab: "Berbakti kepada kedua ayah dan bunda." Aku bertanya pula, "Sesudah itu apa?" Beliau menjawab: "Berjihad pada jalan Allah (Sabilillah).” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Kemudian terdapat pula sebuah hadits yang dirawikan oleh Bukhari dan Muslim juga, bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw meminta izin hendak turut berjihad (berperang). Lalu beliau bertanya, "Apakah ayah-bundamu masih hidup?" Orang itu menjawab, "Masih.” Maka bersabdalah beliau, "Untuk mereka berdualah supaya engkau berjihad.”
Artinya jaga dan peliharalah kedua orangtua itu baik-baik, tak usah engkau pergi berperang, karena menjaga beliau-beliau sudah juga termasuk jihad.
Kemudian tersebutlah pula sebuah hadits:
Daripada Abi Bakrah Nufai' bin al-Harits ra berkata Rasulullah saw,
”Ketahuilah, aku hendak menerangkan kepadamu dosa besar yang lebih besar-dari segala yang besar."
Sampai tiga kali beliau katakan. Lalu kami bertanya, “Kami ingin tahu, ya Rasul Allah!” Lalu beliau bersabda,
"Mempersekutukan yang lain dengan Allah dan mendurhaka kepada kedua ibu-bapak.”
Ketika itu beliau sedang berbaring-baring lalu beliau duduk dan menyambung kata, "Dan kata-kata dusta dan kesaksian dusta." (Riwayat Bukhari-Muslim)
Di sini dijelaskan bahwa dosa mendurhakai ayah-bunda sama besarnya dengan mempersyarikatkan Allah.
Tersebut pula di sebuah hadits lagi, riwayat Bukhari dan Muslim juga bahwa dosa besarlah seorang memaki-maki ayah-bundanya. Lalu ada yang bertanya, "Adakah orang mencaci-maki ayah-bundanya, Rasul Allah?" Beliau jawab, "Memang ada! Seseorang mencaci ayah orang dan ibu orang. Lalu orang itu membalas, mencaci-maki ayahnya pula dan ibunya pula.”
Lalu datanglah penutup ayat:
Dan ucapkanlah, “Ya Tuhan! Kasihanilah keduanya sebagaimana keduanya memelihara aku di kala kecil." (24)
Nampaklah pada ujung ayat ini, tergambar bagaimana susah payah ibu-bapak mengasuh mendidik anak di waktu anak itu masih kecil; penuh kasih sayang. Yaitu kasih sayang yang tidak mengharapkan balasan jasa. Di dalam Surat al-'Ankabut ayat 8 dijelaskan lagi oleh Tuhan betapa susah ibu, "lemah di atas lemah", artinya kelemahan yang timpa bertimpa, sejak masih mengandung sampai menyusukan dan sampai mengasuh, sampai dewasa. Sari tulang belulangnya yang dia bagikan untuk menyuburkan badan anaknya yang masih lemah itu. Perhatikanlah perempuan yang telah banyak melahirkan anak: giginya lekas rusak, sebab zat kapur dalam dirinya telah dibagikan untuk menyuburkan badan anak.
Sebab itu maka tersebut pulalah di dalam sebuah hadits:
Dari Abu Hurairah ra menceritakan. Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah saw menanyakan, "Ya Rasul Allah! Siapakah manusia yang lebih wajib aku sahabati dengan baik?" Beliau menjawab, "Ibumu!" Orang itu berkata lagi, "Sesudah itu siapa?" Beliau saw menjawab lagi, "Ibumu!" Orang itu bertanya lagi, "Sesudah itu siapa lagi?" Beliau saw menjawab, "Ibumu!" Lalu dia bertanya lagi, "Sesudah itu siapa?" Beliau jawab, "Ayahmu.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Di sini jelaslah bahwa ayah dan bunda dihormati, namun kepada bunda berlipat-ganda tiga kali. Karena selain dari kepayahannya mengandung, menyusukan dan mengasuh, dia adalah ibu! Tegasnya dia adalah perempuan! Perasaannya amat halus dan lekas tersinggung. Inilah yang harus ditanai dan ditating sebagai menanai menating minyak penuh. Bahkan dalam sebuah hadits lagi ada tersebut:
Daripada Mu'awiyah bin Jahimah as-Sullami, bahwa ayah Muawiyah itu, Jahimah pernah datang menghadap Nabi saw lalu berkata, "Ya Rasul Allah! Aku ini hendak turut pergi berperang, sebab itu aku datang kepada engkau bermusyawarah." Lalu berkata Rasul Allah saw, "Apakah ibumu masih ada?" Dia menjawab: "Na'am" (Masih ada). Lalu bersabdalah beliau saw, "Jagalah dia, karena sesungguhnya syurga adalah di bawah telapak kakinya." (Riwayat Imam Ahmad, an-Nasa'i dan Ibnu Majah)
Demikianlah, dan banyak lagi hadits-hadits yang lain, yang memerintahkan kita berlaku khidmat dan bakti kepada kedua ibu-bapak[6]. Dan banyak pula ayat-ayat yang lain di dalam surat-surat yang lain di dalam Al-Qur’an yang menyuruh si anak berkhidmat kepada orangtuanya. Niscaya ayat-ayat itu akan kita tafsirkan pula pada tempo dan tempat kelak.
Maka di ujung ayat tadi diajarkan kepada dia doa untuk kedua orangtua kita, moga-mogalah kiranya Allah mengasihi keduanya sebagai kasih keduanya kepada kita di waktu kita masih kecil[7]. Doa ini kita selalu baca, tatkala ayah-bunda masih hidup, apalagi setelah ayah-bunda meninggal dunia[8]. Karena sama kita maklumi hadits yang terkenal bahwasanya hubungan yang masih ada di antara orang yang telah wafat dengan orang yang masih hidup hanyalah tinggal tiga perkara saja. Pertama sedekah jariyah, yaitu sedekah yang berlama-lama masih diambil orang faedahnya. Kedua ilmu yang memberi manfaat, yang disebarkan oleh yang telah wafat itu di masa hidupnya. Ketiga doa dari anak yang shalih.
- Tuhan kamu lebih tahu apa yang ada di dalam dirimu; jika adalah kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia terhadap orang-orang yang bertaubat adalah sangat memberi ampun.
Selanjutnya Tuhan berfirman:
"Tuhan kamu lebih tahu apa yang ada dalam dirimu." (25)
Said bin Jubair masih saja menghubungkan di antara pangkal ayat 25 ini dengan ayat 24 sebelumnya. Yaitu si anak diwajibkan berkhidmat dan berbakti kepada dua orang ibu-bapak. Tak boleh mengatakan UFF, tak boleh mereka dibentak. Tetapi bukan sedikit pula si anak menekan perasaan, karena si orangtua meskipun sudah dihormati demikian rupa, masih saja bersikap keras, atau ada sikapnya yang sangat tidak disetujui oleh si anak sehingga si anak betul-betul membarut dadanya, menahan hati.
Keadaan benar-benar sudah terbalik. Kalau dahulu ayah-bunda yang mengasuh anak yang masih kecil, yang kencing dalam celana, kemudian datang masanya si anaklah yang kuat sedang ayah atau ibu sudah seperti anak kecil, menangis, merajuk kalau tidak kena di hatinya, lebih-lebih kalau dia pikun, telah habis segala daya akalnya karena tuanya. Dia kembali seperti anak kecil. Lantaran itu timbullah rasa jengkel dalam hati anak. Maka datanglah ayat yang tengah kita tafsirkan, bahwasanya Allah mengetahui rasa mendongkol yang ada dalam hatimu itu.
Lalu datanglah ujung ayat:
Jika adalah kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia terhadap orang-orang yang bertaubat adalah sangat memberi ampun. (25).
Dengan dilengkapi oleh ujung ayat ini teranglah bahwa rasa jengkel yang terasa dalam hati, daripada anak kepada kedua orangtuanya karena perangainya yang sudah keanak-anakan itu diketahui juga oleh Tuhan. Namun perasaan itu diberi ampun oleh Tuhan, dimaafkan, asal saja si anak seorang yang tetap shalih, tetap beribadat kepada Tuhan dan selalu ingat bahwa dalam perjalanan hidupnya ini dia akan kembali kepada Tuhan jua. Itulah yang disebut "Awwaab". Artinya orang yang selalu sadar dan ingat bahwa tujuan hidup ini ialah kembali kepada Tuhan. Maka menyerahlah kepada Tuhan, tawakkallah kepadaNya dan teruskanlah memelihara dan menyelenggarakan ibu-bapak, atau salah seorang dari keduanya dengan tetap mengingat Allah.
Ibnu Abbas mengartikan "Al-Awwaab" itu ialah orang yang selalu teliti menilik kealpaan diri, lalu ingat akan kesalahannya dan segera memohon ampun kepada Allah.
Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Photo credit: Lute
Diselesaikan pada 20210927
Tafsir Al-Azhar Juz 15 oleh Hamka. Singapura: Pustaka National Pte Ltd, 1982 ↩︎
Dalam banyak ayat, Allah menyebutkan perintah berbakti dan berbuat baik kepada orangtua beriringan dengan perintah untuk beribadah kepadaNya. Hal ini karena kedua orangtua merupakan sebab yang tampak (zhahir) bagi keberadaan manusia di dunia dan Allah SWT merupakan sebab hakiki bagi keberadaannya. ↩︎
Di dalam hadits lain, Nabi saw bersabda, "Celakalah dia, celakalah dia, celakalah dia." Rasulullah saw lalu ditanya, "Siapa dia wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Orang yang mendapati orangtuanya - salah satu atau keduanya - telah berusia lanjut, kemudian ia tidak masuk surga." (HR Muslim) ↩︎
Perbedaan antara larangan ta'affuf (mengeluh) dan intihar (membentak) adalah, yang pertama larangan untuk menampakkan kekesalan, baik sedikit maupun banyak. Sedangkan yang kedua adalah larangan menunjukkan pertentangan dalam ucapan dengan membantah atau tidak membenarkan apa yang mereka katakan. Jadi ta'affuf adalah ucapan buruk yang tidak tampak jelas, dan an-nahr adalah bentakan dan sikap yang kasar. ↩︎
Terlihat di sini bahwa Allah SWT menyebutkan lebih dulu larangan dari sesuatu yang menyakitkan kemudian memerintahkan agar mengucapkan kata-kata yang baik dan bagus. Ini karena takhalli (membersihkan diri dari sesuatu yang buruk) lebih didahulukan daripada tahalli (menghiasi diri dengan dengan hal-hal yang baik). Mencegah diri dari hal-hal yang menyakiti adalah lebih baik dan utama daripada mengucapkan kata-kata dan melakukan perbuatan yang baik ↩︎
Rasulullah saw ditanya, "Wahai Rasulullah apakah masih ada kesempatan bagi saya untuk berbakti kepada kedua orangtua saya setelah keduanya meninggal?" Beliau menjawab, "Ya, yaitu dengan empat hal: (1) mendoakan keduanya dan memohonkan ampun, (2) melaksanakan janji, (3) memuliakan teman-teman mereka, (4) menyambung hubungan silaturrahim yang dirimu tidak terhubung dengannya kecuali melalui jalur keduanya. Hal-hal inilah yang masih dapat kamu lakukan untuk berbakti kepada keduanya setelah mereka meninggal dunia." (HR Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah) ↩︎
Kata tarbiyah merupakan asal kata rabbayaniy, artinya tanmiyah (menumbuhkan). Kata ini secara khusus disebutkan agar seorang hamba ingat dengan belas kasih dan kelelahan kedua orangtua dalam mendidiknya maka diharapkan membuatnya semakin mengasihi dan menyayangi keduanya. ↩︎
Apabila kedua orangtua dalam kondisi kafir; sang anak hendaknya berdoa di masa hidupnya agar keduanya mendapatkan hidayah dan memohon kepada Allah agar melimpahkan rahmatNya setelah keduanya beriman. Namun, jika keduanya telah meninggal dunia, Al-Qur'an melarang memohonkan ampun untuk orang-orang musyrik yang telah meninggal dunia, walaupun masih ada hubungan kerabat dengan mereka. Hal ini sebagaimana dipaparkan dalam ayat:
Tidak pantas bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), setelah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam. (At-Taubah 9:113) ↩︎