Al-Kautsar 108 : 1-3

Al-Kautsar 108 : 1-3

Surah Al-Kautsar termasuk dalam kelompok Makkiyyah. Di dalam surah ini, Allah menerangkan akhlak seorang beriman dalam mensyukuri atas nikmat yang diterimanya serta jaminan Allah terhadap ketetapan nikmat atas hambaNya.

  1. Sesungguhnya Kami telah menganugerahkan (kepada)-mu (Nabi Muhammad saw) al-kautsar (yakni kebajikan yang banyak, termasuk sungai yang dijanjikan Allah SWT)

Ayat pertama, menjelaskan nikmat Allah yang sangat banyak terhadap setiap manusia. Dalam setiap hembusan nafas, detak jantung, langkah kaki dan kedipan mata, tidak henti-hentinya Allah SWT menurunkan nikmatNya kepada manusia, yang saking banyaknya sehingga tidak akan dapat dihitung:

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (An-Nahl 16:18)

Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (Ibrahim 14:34)

Adab dalam Menerima Nikmat

Terkait dengan syukur dan nikmat ini, Allah SWT menjelaskan dengan lebih sistematis pada ayat berikut:

Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (Al-Baqarah 2:151-152)

Pertama, salah satu nikmat Allah SWT kepada manusia adalah diutusnya Rasul yang membawa kitab suci dan mengajarkannya kepada manusia.

Kedua, adab atau akhlak kita sebagai makhluk ketika menerima nikmat adalah sebagai berikut:

  1. Mengingat Allah, mengembalikan semua terima kasih dan syukur kita kepada Allah SWT sebagai prime causal dari berbagai nikmat yang sampai kepada diri kita
  2. Bersyukur kepada Allah dan tidak mengingkari keberadaan nikmat tersebut sebagai sesuatu yang hanya dianggap sebagai kebetulan atau mekanisme alam semata

Kedua akhlak atau adab di atas inilah yang disebutkan pada pada ayat 2:

  1. Maka sholatlah demi Tuhan Pemelihara kamu dan sembelihlah/qurban (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah)

Mendirikan sholat adalah bentuk amal yang spesifik dari mengingat Allah. Dirikanlah sholat dengan hati yang ikhlas mengharap ridho Allah.

Sedangkan berkurban adalah juga amal yang khusus untuk bersyukur kepada Allah. Sembelihlah hewan qurban karena Allah dan dengan menyebut nama Allah yang tiada sekutu bagiNya.

Mengenai perintah qurban ini, disebutkan juga memiliki tujuan tambahan, sebagaimana diterangkan pada ayat berikut:

Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi'ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur. Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (Al-Hajj 22:36-37)

Qurban pada ayat di atas memiliki beberapa tujuan:

  1. Syi'ar atau dakwah Islam. Mengagungkan Allah atas hidayahNya kepada kaum beriman
  2. Mendekatkan diri kepada Allah ketika menyebut nama Allah saat menyembelih qurban
  3. Berbagi dengan sesama
  4. Bersyukur kepada Allah atas nikmatNya, yang juga dinyatakan dalam hadits berikut:
    Barangsiapa yang memperoleh suatu kelapangan, tetapi dia tidak berkurban, janganlah ia menghampiri tempat shalat kami. (HR.Ahmad dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah).
  5. Ujian keikhlasan dalam melaksanakan ibadah, sebagaimana disebutkan juga di dalam hadits berikut:
    Tidak ada amalan anak cucu Adam pada hari raya qurban yang lebih disukai Allah melebihi dari mengucurkan darah (menyembelih hewan qurban). Sesungguhnya pada hari kiamat nanti hewan-hewan tersebut akan datang lengkap dengan tanduk-tanduknya, kuku-kukunya, dan bulu- bulunya. Sesungguhnya darahnya akan sampai kepada Allah – sebagai qurban – di manapun hewan itu disembelih sebelum darahnya sampai ke tanah, maka ikhlaskanlah menyembelihnya. (HR. Ibn Majah dan Tirmidzi)

Ketetapan Karunia Allah kepada Orang Beriman

  1. Sesungguhnya pembencimulah yang terputus (dari keturunan dan dari kebajikan)

Ayat terakhir ini menegaskan kepada kita, bahwa tidaklah mampu para penentang Allah dan RasulNya menahan nikmat yang telah ditetapkan Allah kepada orang beriman. Melainkan justru merekalah yang akan semakin jauh dan terputus dari ridha dan keberkahan Allah disebabkan kemungkaran mereka atas seruan Nabi saw. Kekuasaan Allah yang mutlak ini ditegaskan di ayat berikut:

Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Fatir 35:2)

Catatan Tambahan

Sebagian besar Mufasir klasik menafsirkan surah ini sebagai gambaran limpahan karunia Allah terhadap Nabi saw (termasuk telaga Al-Kautsar yang dianugerahi Allah kepada Nabi saw pada hari Kiamat) (1), dan perintah Allah kepada beliau untuk melaksanakan sholat dan qurban sebagai tanda syukur atas nikmat yang diterima (2). Ayat (3) adalah jawaban Allah atas hinaan Ashi bin Wa'il, salah seorang kafir Mekkah kepada Nabi saw, "Terputuslah Muhammad (dari rahmat/keturunan)" setelah meninggalnya putra Nabi saw, Qasim.

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.

Photo credit: Ulvi Safari

Diselesaikan pada 20100208