Allah SWT memberikan pesan khusus kepada kita, hamba-Nya yang berusaha taat beribadah.
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? (1)
Itulah orang yang menghardik anak yatim, (2)
dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. (3)
Dalam bahasa Arab, kadzdzaba artinya memandang sesuatu sebagai sesuatu kebohongan atau tidak benar.
Pada ayat pertama ini, Allah memperingatkan mereka yang menganggap ajaran agama itu sebagai suatu hal yang musykil, penuh kebohongan. Mereka inilah yang dikatakan sebagai mendustakan agama. Menarik di sini ternyata definisi mendustakan agama tidak dikaitkan dengan ibadah ritual seperti sholat, puasa, dll. Tetapi pada akhlak kita kepada orang yang lebih rendah atau lemah, yakni anak yatim dan fakir miskin.
Ini sejalan dengan hadits Nabi, bahwa tidak lah beliau diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak.
Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik. (HR. Bukhari No. 273)
Mereka yang taat menjalankan syariat beragama namun ketaatannya belum membawa perubahan pada perilakunya terhadap orang yang lemah maka dikatakan mereka **belum sepenuhnya menjalankan agamanya, masih baru tampak luar di kulit saja, tetapi sebenarnya masih jauh dari melaksanakan pesan utama dari dari agama.
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (4)
(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya (5)
orang-orang yang berbuat riya (6)
dan enggan menawarkan bantuan-bantuan yang kecil. (7)
Huruf fa' pada awal ayat 4, adalah fa' jawab atau fa' aqibah (akibat), yaitu untuk menjawab permasalahan dalam ayat 1-3 sebelumnya. Di ayat 4 ini, Allah menegaskan kembali bahwa mereka yang abai terhadap anak yatim dan enggan menolong kaum miskin, maka sholat dan ibadahnya tidak akan dapat menyelamatkan mereka dari adzab dunia dan akhirat; yakni selama mereka:
- Bersikap abai, menelantarkan sholat, tidak menganggap sholat sebagai sesuatu yang penting, mengundur-undurnya sampai akhirnya lupa. Atau mengerjakannya hanya sekedar menggugurkan kewajiban.
- Mereka yang menempatkan pandangan orang lebih utama dalam niat mengerjakan amal (riya)
- Mereka yang enggan membantu dan tolong-menolong terhadap sesama (sebagaimana disebutkan juga pada ayat 1-3 sebelumnya)
Kalau kita perhatikan susunan ayat 4-7 di atas, tampak bahwa ternyata ada tiga indikator tidak diterimanya pahala ibadah seseorang, yakni:
- Dua indikator terkait ibadah itu sendiri (lalai dan riya)
- Satu indikator terkait dengan sikap kita (kembali) kepada orang lain dan masyarakat
Sebagai penutup, surah Al-Ma'un ini sebenarnya menjelaskan betapa pentingnya ibadah sosial dalam bentuk sikap perilaku kita kepada sesama yang lemah dan yang membutuhkan pertolongan. Sedemikian pentingnya, bahkan sampai ditegaskan, kalau kita lalai melaksanakan ibadah sosial tersebut, maka akan membatalkan pahala amalan kita, termasuk amal utama sholat.
Jadi, sembari taat beribadah, jangan sampai lupa amal sosial pun harus jalan, agar pahala ibadah kita sempurna dan dihindarkan dari menjadi orang yang mendustakan agama ataupun orang yang merugi di dunia dan akhirat.
Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Referensi tafsir klik di sini.
Diselesaikan pada 20160702