Asy Syu'ara' 26 : 83-191

Asy Syu'ara' 26 : 83-191

Kisah Nabi Ibrahim as (2)

Doa Ibrahim as

Melanjutkan kisah Ibrahim as, Al-Qur'an mendokumentasi 6 permohonan Ibrahim as terkait diri dan keluarganya:

  1. (Ibrahim berdoa), "Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh,
  2. dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian,
  3. dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan,
  4. dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat,
  5. dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan,

Ayat selanjutnya menjelaskan bentuk kehinaan yang menimpa manusia pada hari Kebangkitan yang dikhawatirkan oleh Ibrahim as dalam doanya di atas (88-102):

  1. (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,
  2. kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,
  3. dan (di hari itu) didekatkanlah surga kepada orang-orang yang bertakwa,
  4. dan diperlihatkan dengan jelas neraka Jahim kepada orang-orang yang sesat",
  5. dan dikatakan kepada mereka, "Dimanakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu menyembah(nya)
  6. selain dari Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?"
  7. Maka mereka (sembahan-sembahan itu) dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat,
  8. dan bala tentara iblis semuanya.
  9. Mereka berkata sedang mereka bertengkar di dalam neraka,
  10. demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata,
  11. karena kita mempersamakan kamu dengan Tuhan semesta alam".
  12. Dan tiadalah yang menyesatkan kami kecuali orang-orang yang berdosa.
  13. Maka kami tidak mempunyai pemberi syafa'at seorangpun,
  14. dan tidak pula mempunyai teman yang akrab,
  15. maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia) niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman".
  • Semua orang akan menjadi fakir. Hartanya, anak-anaknya semua tidak ada yang bisa menolong
    Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa. (Al Lail 92:11)
  • Ditunjukkannya surga kepada orang-orang yang bertakwa dan neraka bagi orang-orang yang sesat
  • Mereka para penyembah berhala (tuhan selain Allah) akan ditanya, mengapa berhala/tuhan itu tidak mampu menolong penyembahnya
  • Para penyembah berhala dan berhala yang disembah dimasukkan ke dalam neraka. Ikut juga bersama mereka para tentara Iblis
  • Di neraka mereka menyesali perbuatannya. Pun mereka sadar tidak ada seorang pun yang bisa menolongnya.
  • Mereka berjanji akan beriman kalau saja diberi kesempatan sekali lagi kembali ke dunia. Namun semua sudah menjadi bubur.
  1. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.
  2. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.

Allah kemudian menjelaskan bahwa kisah Ibrahim as dengan kefasihannya dalam dialog dan argumentasi Ketuhanan adalah bukti nyata atas kekuasaan Allah SWT, walaupun hanya sedikit yang benar-benar mengambil pelajaran dan beriman (103).

Menegaskan pertolongan dan campur tangan Allah atas RasulNya, maka kisah Ibrahim as ini ditutup dengan ayat yang identik sama dengan ayat 9 sebelumnya:

Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang (104).

Dialah yang Maha Perkasa melindungi RasulNya, serta menurunkan azabNya bagi umat para penentang Rasul. Namun Dia pula yang Maha Penyayang terhadap hambaNya yang bertaubat.

Kisah Para Rasul

Rangkaian ayat 105-191 menerangkan kisah beberapa orang Rasul, yakni Nuh, Huud, Shalih, Luth dan Syu'aib as. Al-Qur'an menceritakan perjuangan para Rasul ini dalam struktur pembagian ayat-ayat yang sangat sistematis dan konsisten.

Gambaran Sub-Tema di dalam Rangkaian Ayat (105-191)

1. Nabi Nuh as

01-Nuh

2. Nabi Huud as

02-Huud

3. Nabi Shalih as

03-Shalih

4. Nabi Luth as

04-Luth

5. Nabi Syu'aib as

05-Syu-aib

Menarik untuk diperhatikan di dari pola di atas, bahwa pada sub-tema "B Rasul" Al-Qur'an menggunakan kalimat yang hampir seluruhnya identik di dalam bahasan setiap rasulnya (warna hijau):

Ketika saudara mereka berkata kepada mereka, "Mengapa kamu tidak bertakwa?
Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu,
maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.

Demikian pula, setiap rasul menegaskan bahwa mereka tidak akan pernah meminta upah atau mengambil keuntungan ekonomi dari dakwah mereka ini. Cukuplah balasan Allah sebagai imbalannya (warna biru).

"Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam."

Kemudian, di sub-tema "D Azab" selalu diakhiri oleh pernyataan bahwa azab tersebut diturunkan sebagai bukti nyata kekuasaan Allah yang diingkari oleh kaum para Rasul (warna merah):

Sesunguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat bukti-bukti yang nyata. Dan adalah kebanyakan mereka tidak beriman.

Pernyataan ini kemudian ditutup oleh penegasan akan keberadaan Tuhan, yakni Dialah Dzat yang Maha Perkasa (untuk mengalahkan kaum yang mengingkari risalahNya) - sekaligus juga Maha Penyayang (yang mengampuni dosa hambaNya yang bertaubat dan mengutus rasul sebagai penunjuk jalan yang lurus bagi umatnya) (warna kuning):

Dan sesungguhnya Tuhanmu, benar-benar Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.

Penjelasan Detail Setiap Sub-Tema

A. Rasul Kaum

Sub-tema ini menerangkan siapa nama Rasul yang diutus dan ke umat mana dia diutus. Redaksi yang digunakan hampir sama:

Kaum Nuh telah mendustakan para rasul.

B. Rasul

Pertama-tama, para Rasul menanyakan kepada kaumnya, mengapa mereka tidak bertakwa, mengapa mereka membiarkan diri mereka bergelimang dalam kemusyrikan dan kezaliman dan tidak takut dengan konsekuensi azab Allah?

Hal ini dituliskan dengan redaksi yang sama (warna hijau):

Ketika saudara mereka berkata kepada mereka, "Mengapa kalian tidak bertakwa?"

Dari ayat ini kita dapat melihat bahwa para Rasul berasal dari masyarakatnya. Mereka bukanlah orang asing. Mereka bagian dari kaumnya dan turut menyaksikan kezaliman dan kemungkaran yang dilakukan kaumnya. Di ayat lain juga diterangkan,

Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan adalah Tuhanmu Maha Melihat. (Al Furqan 25:20)

Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. (Ibrahim 14:4)

Kemudian para Rasul ini menyatakan diri di depan kaumnya sebagai Rasul yang diutus Tuhan serta meminta kaumnya takut kepada Allah dan mematuhi perintah dan larangan Allah yang disampaikan melalui mereka.

Hal ini juga dituliskan dengan redaksi yang sama (warna hijau):

Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepada kalian, maka bertakwalah kepada Allah dan ikutilah nasehatku.
maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.

Para Rasul ini kemudian menegaskan bahwa mereka tidak akan pernah meminta upah atau mengambil keuntungan ekonomi dari dakwah mereka ini. Cukuplah balasan Allah sebagai imbalannya.

"Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam."

C. Dakwah dan Respon

Sub-tema ini menerangkan isi dakwah para rasul, mengingatkan kaumnya atas nikmat yang sudah dikaruniakan Allah. Juga diterangkan respon penolakan dari kaumnya.

Selain mempersekutukan Allah dan mengabaikan syariat Rasul terdahulu, diterangkan juga berbagai bentuk kezaliman spesifik yang dilakukan oleh umat para Rasul ini.

  1. Umat Nabi Nuh

    1. Mereka berkata, "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?".
    2. Nuh menjawab, "Bagaimana aku mengetahui apa yang telah mereka kerjakan?
    3. Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Tuhanku, kalau kamu menyadari.
    4. Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman.
    5. Aku (ini) tidak lain melainkan pemberi peringatan yang menjelaskan".

    Kaum Nabi Nuh as diceritakan sangat arogan. Mereka menyatakan tidak akan mengikuti dakwah Nabi Nuh as selama orang-orang yang miskin dan status sosialnya rendah juga mengikutinya. Nuh as kemudian membantah dengan menyatakan bahwa tugasnya adalah menyampaikan risalah kepada seluruh umatnya, dan bukan memilah siapa yang diperbolehkan ikut dan yang tidak. Nuh as juga menegaskan bahwa amal setiap orang adalah pertanggungjawaban pribadi masing-masing langsung kepada Allah SWT.

  2. Umat Nabi Huud

    1. Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main,
    2. dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)?
    3. Dan apabila kamu menyiksa, maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis.

    Kaum 'Aad (Nabi Huud as) diceritakan melakukan 3 kezaliman:

    1. Banyak mendirikan bangunan yang kokoh dan tinggi demi kebanggaan dan status sosial; menjadikannya hanya sebagai koleksi dan permainan.
    2. Membangun istana yang megah dan benteng yang kuat seakan-akan mereka hidup selamanya, padahal bangunan tersebut banyak disia-siakan dan tidak ditinggali.
    3. Mereka sering menyiksa kaum yang lebih lemah dengan penuh kesombongan, kejam dan bengis.
  3. Umat Nabi Shalih

    1. Adakah kamu akan dibiarkan tinggal disini (di negeri kamu ini) dengan aman,
    2. di dalam kebun-kebun serta mata air,
    3. dan tanam-tanaman dan pohon-pohon korma yang mayangnya lembut.
    4. Dan kamu pahat sebagian dari gunung-gunung untuk dijadikan rumah-rumah dengan rajin;
    5. maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku;
    6. dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas,
    7. yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan".

    Kaum Tsamud (Nabi Shalih as) dikisahkan melakukan 3 kezaliman:

    1. Tidak mensyukuri nikmat karunia alam yang subur dan menghasilkan berbagai jenis buah-buahan.
    2. Berlomba-lomba membangun rumah dengan memahat gunung sebagai kesenangan dan tanda status sosial
    3. Hidup melampaui batas, mengikuti gaya hidup mewah dan boros yang dilakukan oleh para pembesarnya. Di ayat lain disebutkan, yang dimaksud ini adalah sembilan orang dari kota Tsamud:
      Dan adalah di kota itu (kaum Tsamud) sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan. (An-Naml 27:48)
  4. Umat Nabi Luth

    1. Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia,
    2. dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas".

    Kaum Nabi Luth diceritakan melakukan kezaliman yang belum pernah dilakukan oleh umat manapun sebelumnya, yakni perilaku seksual yang keji, hubungan seks sejenis dengan laki-laki (sodomi). Di ayat lain disebutkan, kaum Nabi Luth ini juga merampok dan memperkosa orang asing yang masuk/singgah ke kota mereka.

    Dan (ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya, "Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun dari umat-umat sebelum kamu. Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu?" Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan, "Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar." (Al Ankabuut 29:28-29)

  5. Umat Nabi Syu'aib

    1. Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan;
    2. dan timbanglah dengan timbangan yang lurus.
    3. Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan;

Penduduk Aikah (Madyan - Nabi Syu'aib as) diterangkan melakukan 3 kezaliman:

  1. Memanipulasi takaran dan timbangan dalam jual beli
  2. Melakukan hal yang merugikan dan mengambil hak orang lain, seperti merampas kepemilikan
  3. Membuat kerusakan seperti menjarah, menyerang, merampok, membunuh dan merusak alam

D. Azab

Sub-tema ini menerangkan azab yang ditimpakan kepada kaum yang mengingkari para Rasul.

Setelah benar-benar tidak ada lagi dari kaumnya yang mau menerima risalah, dan kezaliman kaumnya semakin menjadi-jadi sehingga mereka memburu untuk membunuh para Rasul beserta pengikutnya, Allah SWT akhirnya menurunkan azab kepada mereka dan menyelamatkan orang beriman yang mengikuti para Rasul.

  1. Kepada Kaum Nuh as, Allah menurunkan banjir besar dan menyelamatkan umatnya di dalam bahtera yang besar

    1. Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam kapal yang penuh muatan.
    2. Kemudian sesudah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal.
  2. Kepada Kaum Huud as, mereka dilanda angin dingin yang sangat kencang

    1. Maka mereka mendustakan Hud, lalu Kami binasakan mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.

    Di ayat lain, disebutkan pula:

    Adapun kaum Ad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). Maka kamu tidak melihat seorang pun yang tinggal di antara mereka (Al Haaqqah 69:6-8)

  3. Kepada kaum Shalih as, mereka ditimpa petir yang menyambar dan diikuti oleh suara guntur yang sangat keras serta gempa bumi

    1. maka mereka ditimpa azab. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat bukti yang nyata. Dan adalah kebanyakan mereka tidak beriman.

    Peristiwa ini digambarkan juga pada ayat lain:

    Alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka satu suara yang keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti rumput kering (yang dikumpulkan oleh) yang punya kandang binatang. (Al Qamar 54:30-31)

    Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka. (Al A’raaf 7:78)

  4. Kepada kaum Luth, kota mereka dibalikkan dan dihujani bertubi-tubi oleh batu dari tanah yang terbakar. Sebagian riwayat menerangkan kota ini meninggalkan tanda khusus berupa batu yang bertumpuk-tumpuk; ada juga yang menyebutkan sebuah danau yang airnya hitam dan berbau busuk.

    1. (Luth berdoa), "Ya Tuhanku selamatkanlah aku beserta keluargaku dari (akibat) perbuatan yang mereka kerjakan".
    2. Lalu Kami selamatkan ia beserta keluarganya semua,
    3. kecuali seorang perempuan tua (isterinya), yang termasuk dalam golongan yang tinggal.
    4. Kemudian Kami binasakan yang lain.
    5. Dan Kami hujani mereka dengan hujan (batu) maka amat jeleklah hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu.

    Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tidak akan jauh dari orang-orang yang zalim. (Huud 11:82-83)

  5. Kepada Kaum Syu'aib, Allah menurunkan azab berupa gempa yang menewaskan seluruh penduduknya di dalam rumah-rumah mereka

    1. Kemudian mereka mendustakan Syu'aib, lalu mereka ditimpa azab pada hari mereka dinaungi awan. Sesungguhnya azab itu adalah azab hari yang besar.

    Peristiwa ini digambarkan juga pada ayat lain:

    Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka, (yaitu) orang-orang yang mendustakan Syu'aib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu; orang-orang yang mendustakan Syu'aib mereka itulah orang-orang yang merugi. (Al A'raaf 7:91-92)

Di akhir uraian azab Allah ini, diterangkan bahwa perjalanan para Rasul tersebut adalah bukti nyata kekuasaan Allah, tampak dari awal mereka diangkat menjadi Rasul, kemudian mengumumkan kerasulannya di depan kaumnya, argumentasi ketuhanan dengan kaumnya, mukjizat yang mereka tunjukkan sebagai bukti kerasulannya, hingga turunnya azab yang membinasakan bagi yang tetap ingkar dan diselamatkannya para pengikut Rasul dari azab Allah tersebut.

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.

E. Maha Perkasa dan Maha Penyayang

Sebagai penutup bahasan setiap rasul, sub-tema ini menerangkan penegasan bahwa Allah Maha Perkasa (yang telah menimpakan azab kepada kaum yang menolak risalahNya) - dan juga Maha Penyayang (yang telah mengutus Rasul kepada mereka para umatnya).

Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.

Penutup

Dari paparan di atas tampak jelas bahwa perjalanan para Rasul dalam menjalankan misinya, menyampaikan ketauhidan, memberikan berita gembira dan peringatan melalui tahapan dan proses yang seragam antara satu Rasul dengan lainnya, walaupun para Rasul tersebut berbeda periode kehidupannya, kaumnya dan lokasinya. Inilah komitmen dan janji Allah kepada kita hambaNya untuk membimbing sebagaimana diterangkan pada ayat berikut:

Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Al A'raaf 7:35-36)

Perjalanan para Rasul ini disebutkan pada banyak ayat lain. Kisah dan bahasan yang cukup lengkap dapat dilihat pada ayat-ayat berikut:

Rasul Referensi Ayat
Nuh as Al A'raaf 59, Hud 25
Huud as Al A'raaf 65, Hud 50
Shalih as Al A'raaf 73, Hud 61
Luth as Al A'raaf 80, Hud 77
Syu'aib as Al A'raaf 85, Hud 84

Beberapa hikmah dari kisah para Rasul ini adalah:

  • Rasul adalah manusia biasa. Mereka sangat manusiawi. Memiliki rasa takut dan frustasi. Mereka pun melakukan kesalahan sebelum mereka diangkat sebagai rasul seperti Musa as.
  • Rasul juga mengalami ujian kehidupan. Sama seperti kita. Hanya saja mereka segera diperingatkan bila melakukan kesalahan, spt Yunus as yang dimakan ikan Nuun hingga diselamatkan setelah bertaubat atas kesalahannya.
  • Penolakan dan cemooh bahkan ancaman terhadap para Rasul adalah hal yang lumrah. Pasti terjadi. Bahkan beberapa sampai diancam dibunuh dan diusir dari tempat tinggalnya. Seorang pendakwah pun tidak perlu heran dengan penentangan yang mereka hadapi.
  • Para Rasul tidak berharap, tidak pernah dan tidak akan pernah meng-komersilkan dakwahnya. Harapan mereka hanyalah balasan dari Allah SWT. Mereka memiliki keahlian dan pekerjaan sendiri (yang bukan terkait dakwah) untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pendakwah dan ulama pun harus berakhlak sama karena mereka adalah pewaris para Rasul.
  • Hampir seluruh kezaliman yang dilakukan oleh umat terdahulu ternyata terulang dikerjakan oleh masyarakat kita sekarang. Hanya saja Allah SWT sejak diutusnya Rasulullah tidak lagi menurunkan azabNya segera di dunia, melainkan menundanya sampai nanti di akhirat. Di antaranya, menganggap remeh ketauhidan dan syariat Islam (bahkan sampai Atheis), bermegah-megah dalam membangun rumah dan gedung, bergaya hidup mewah, tidak mensyukuri nikmat alam yang subur, tidak jujur dalam jual-beli, merampas hak orang lain, perilaku seksual dengan sejenis, merampok dan merusak lingkungan, diskriminasi terhadap orang miskin dan bodoh, serta ketaatan membabi-buta terhadap penguasa seperti kepada Fir'aun yang tidak pernah salah dan berkuasa tanpa batas.

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.

Photo credit: @lexmilo