Sharif Hasan Al-Banna[1] menerangkan interaksi dengan Al-Qur'an haruslah dinamis sehingga menyertakan jiwa di dalamnya sangatlah penting. Hal ini mensyaratkan bahwa pendekatan kita harus dibangun pada kesadaran berikut:
- Ketulusan. Meluruskan niat benar-benar semata untuk memahami pesan Allah melalui ayat-ayat Al-Qur'an yang sedang kita hadapi
- Di hadapan Allah. Merasakan akan kehadiran Allah, yang menyaksikan kita saat ini sedang membaca dan merenungkan ayat-ayat kitab Nya
- Mendengar dari Allah. Meraba perasaan, hati dan jiwa, akan bisikan halus petunjuk mengenai maksud kandungan suatu ayat. Bisikan halus tersebut haruslah bersifat obyektif, tidak diiringi oleh nafsu, tidak terpengaruh oleh keinginan, rasa ego (malu, marah, bangga, ingin dipandang baik, pintar, alim, dan lain sebagainya).
- Perintah langsung dari Allah. Ketika tiba pada ayat yang berupa perintah, maka sadarilah bahwa itu adalah perintah langsung dari Allah kepada kita, bahwa kewajiban taat atas perintah tersebut (bila kondisinya memang valid) sudah dikenakan, sudah efektif atas diri kita pribadi.
- Setiap kata adalah untukmu. Perhatikan setiap kata, perubahan bahasa, terminologi, kata sambung, awalan kata, bentuk jama' atau singular, bentuk masa kini, masa depan atau masa lampau. Apa dan mengapa kata tersebut dan bentukannya dipilihkan pada ayat yang sedang kita baca. Sadari, bahwa tidak ada yang kebetulan, bahwa setiap kata yang sedang kita baca adalah diperuntukkan untuk kita, untuk kita renungkan, kita cari maknanya, kita cari cara mengamalkannya, dan kita refleksikan terhadap kehidupan dan suasana jiwa kita saat itu.
- Percakapan dengan Allah. Membaca dan merenungkan makna ayat-ayat Allah, tidak lain adalah salah satu cara kita berkomunikasi dengan Allah, atau cara Allah menyampaikan pesan-Nya kepada kita. Setiap ayat yang kita baca, adalah kata-kata terindah dari Dzat yang Maha Mulia, Dzat yang Maha Mencipta - Al-Khaliq, kepada hamba-Nya, sang makhluk yang sedang duduk menatap firman-Nya. Jangan segan untuk melepas pikiran dan jiwa, untuk bertanya kepada Dzat yang Memiliki Firman, apa makna, apa perlambang, dan mengapa ayat tersebut.
- Memahami Al-Qur'an sebagai kenyataan hidup. Ayat Al-Qur'an tidaklah ayat yang datang dari langit tanpa konteks dan manfaat bagi kita yang menerimanya. Al-Qur'an berisi guidance, petunjuk, jalan penerang dan penenang bagi yang membacanya dengan hati yang tulus dan lurus. Al-Qur'an bukanlah kitab yang maknanya dari langit, mengawang-awang di angkasa, tinggal di menara gading. Melainkan, Al-Qur'an menerangkan berbagai hal yang kita sudah, sedang dan akan alami. Al-Qur'an tidak berbicara mengenai cerita fiksi, melainkan Al-Qur'an berbicara mengenai kenyataan. Kisah orang terdahulu adalah kisah yang benar terjadi. Peringatan akan peristiwa alam dan gejolak hati manusia adalah sesuatu yang faktual terjadi sebagai bagian dari proses alam semesta. Berita mengenai masa depan, kiamat, surga, dan neraka adalah sesuatu yang pasti terjadi, sama pastinya dengan kedatangan kematian atas setiap makhluk.
- Memahami Al-Qur'an adalah pesan untukmu. Maka semua makna yang diperoleh di dalam mengolah ayat, tidak lain, adalah pesan untuk kita pribadi. Yang utama dan pertama. Kemudian, barulah pesan untuk orang lain. Tidak mengamalkannya, menganggap remeh adalah bentuk kebohongan diri kita kepada Sang Pemilik Firman, Allah Rabbul 'Alamin. Menyampaikannya hanya diperbolehkan setelah kita mengamalkannya.
- Membawa ajaran Al-Qur'an dalam setiap kegiatan kita dan membuat diri kita menjadi Al-Qur'an. Sepenggal ayat dengan kandungannya haruslah menjadi proyek singkat amal kita - untuk menjadikannya sebagai kebiasaan, dan terus kita latih agar dilaksanakan sesempurna mungkin dan dengan hati yang seikhlas mungkin. Semakin lama, semakin banyak ayat yang kita ingat dan kita pahami. Semakin lama jiwa kita pun semakin kaya dengan prinsip-prinsip Al-Qur'an dan bagaimana paradigma Al-Qur'an atas berbagai hal sisi kehidupan. Maka tanpa terasa, diri kita tampak menjadi Al-Qur'an, kamus Al-Qur'an berjalan.
- Menilai dan menghayati etika Al-Qur'an, norma-norma dan prinsip-prinsipnya. Kandungan terpenting Al-Qur'an, yakni etika, norma (apa yang baik, apa yang buruk) serta prinsip dan paradigma Al-Qur'an atas berbagai hal haruslah benar-benar kita hayati. Bila perlu, dikaji dengan membandingkannya dengan etika, norma, prinsip dari sumber lain selain Al-Qur'an. Dengan demikian, tercapailah tujuan utama diturunkannya Al-Qur'an, yakni sebagai referensi utama, main guidance, panduan kode etik dan norma serta referensi prinsip utama dalam mengarungi kehidupan.
- Menghidupkan Al-Qur'an - paradigma manusia. Makna ayat-ayat Al-Qur'an haruslah dihidupkan, dibuat membumi, dapat dipraktikkan dan diterima oleh akal sehat dan rasa kemanusiaan-keadilan oleh masyarakat umum. Tugas masing-masing diri yang menelaah makna Al-Qur'an untuk menjaga kemuliaan Al-Qur'an, agar jangan terjadi bias atas makna-makna mulianya. Agar tidak terjadi penunggangan ayat demi tujuan dan kepentingan tertentu.
Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Qur'an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (Yunus 10:61)
Photo credit: Syed Aoun Abbas
Al-Banna, S. H. (2013). Journey Through the Quran. London: Bristish Academy Of Quranic Studies. ↩︎