Sebelum memasuki rincian bahasan tentang upaya memahami pesan-pesan ayat, terlebih dahulu penulis ingin menggarisbawahi satu hal yang sangat esensial menyangkut upaya memahami pesan-pesan Allah dalam Al-Qur'an, yakni tentang pola interaksi dengan Al-Qur'an.
Interaksi mengandung makna hubungan timbal balik. Interaksi dengan Al-Qur'an adalah hubungan timbal balik antara manusia dengan Al-Qur'an dan antara Al-Qur'an dengan manusia. Masing-masing melakukan aksi dan disambut dengan reaksi oleh mitra interaksinya.
Pada hakikatnya interaksi itu bermula dari Allah dengan hadirnya Al-Qur'an di tengah masyarakat. Dia hadir mengajak mereka menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Enam ribu lebih ayat dan dalam kurun 22 tahun lebih silih berganti lagi dengan berbagai ragam ayat turun. Al-Qur'an mengajak manusia berinteraksi merenungkan ajakannya. Nah, di sini manusia diharapkan menyambut ajakan itu.
Dalam konteks interaksi manusia dengan Al-Qur'an, yang pertama dituntut adalah keikhlasan, dalam arti kejernihan motivasi untuk memahami maksud firman-firman Allah, karena niat adalah jiwa dan pendorong utama segala aktivitas sehingga dengan ketulusan itu akan lahir kesungguhan untuk mempelajarinya.
Sejak lembaran awal dari mushaf Al-Qur'an ditemukan pernyataan-Nya bahwa kitab Al-Qur'an itu “la raiba fihi” yang maknanya di samping “Tidak ada keraguan menyangkut kandungannya” juga berarti “Tidak ada kewajaran terhadapnya untuk diragukan,” atau “janganlah ragu terhadapnya”. Larangan ragu di sini adalah keraguan yang lahir dari kecurigaan dan sikap subjektif. Memang, ragu ada yang lahir karena bukti-bukti yang memuaskan belum menyentuh pikiran atau hati; ini tidak terlarang. Nabi Ibrahim as. pun pernah bertanya tentang bagaimana Allah menghidupkan yang mati karena hati beliau ketika itu belum mantap. Allah lalu menunjukkan kepadanya hal-hal yang mengikis “keraguannya” (Baca: surah al-Baqarah 2:260). Keraguan semacam ini mendorong yang mengalaminya untuk membahas dan mencari kebenaran guna menemukannya. Sedang ragu yang kedua adalah yang disertai kecurigaan dan buruk sangka. Ini biasanya mendorong yang mengalaminya untuk mencari-cari dalih guna mendukung buruk sangkanya. Inilah yang dikecam Al-Qur'an, antara lain seperti dilukiskan oleh surah al-Muddatstsir 73:18-24.
Yang berinteraksi dengan Al-Qur'an dituntut untuk berusaha mengenalnya dengan tulus dan kalau ada keraguan yang hinggap di dalam hatinya, maka hendaklah ia berusaha untuk menemukan kebenarannya. Al-Qur'an menampilkan sekian banyak bukti untuk menampik keraguan siapa pun melalui apa yang diistilahkan dengan mukjizat Al-Qur'an.
Jika seseorang ingin mendapatkan petunjuk dan keterangan yang lebih banyak lagi serta diantar mencapai keyakinan yang mantap, maka ia harus hidup dalam lingkungan Al-Qur'an sehingga merasakan bahwa Al-Qur'an berdialog, bahkan bersahabat dengannya. Dalam konteks ini sementara pakar berkata, “Jika Anda ingin berbicara dengan Allah maka berdoalah. Jika Anda ingin Allah ber“bicara” dengan Anda maka bacalah Al-Qur'an.” Bersahabatlah dengan Al-Qur'an. Sahabat akan menyampaikan kepada sesama sahabat rahasia-rahasia yang tidak disampaikan kepada siapa yang sekadar kenal dengannya. Yakinlah bahwa jika Anda bersahabat dengannya dan bermohon kepada Allah, pasti yang Anda peroleh lebih banyak dari usaha Anda. Itu serupa dengan seorang anak yang meminta permen. Jika dia mengambil sendiri tanpa bantuan orang dewasa maka yang dapat diambilnya hanya sekadar sebanyak kemampuan kedua telapak tangannya yang kecil. Tetapi, jika orang dewasa yang memberinya, si anak akan memperoleh jauh lebih banyak. Yang penting ketika itu adalah sang anak menunjukkan minatnya memperoleh permen dan berusaha sebisanya untuk mendapatkannya.
Nabi Ibrahim as. begitu dekat kepada Allah sehingga beliau digelari dengan Khalilullah atau teman yang masuk ke relung terdalam hatinya persahabatan dengan Allah (an-Nisa 4:125). Karena itu, Allah menunjukkan kepadanya malakut as-samawat wa al-Ardh (al-Anam 6:75). Kata malakut dipahami antara lain sebagai alam gaib dan rahasia-rahasia jiwa atau kekuasaan Allah yang demikian besar di langit dan di bumi.
Selanjutnya, yang dituntut dari yang berinteraksi dengan Al-Qur'an adalah sikap rendah hati. Tidak merasa diri tahu segalanya, apalagi angkuh dan merasa semuanya dapat dijangkau oleh nalarnya atau apa yang dijangkaunya adalah karena usahanya sendiri. Para malaikat pun menegaskan, “Maha Suci Engkau! Tiada pengetahuan bagi kami kecuali apa yang Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (al-Baqarah 2:32). Karena itu, jangan paksakan kehendak Anda dan tergesa-gesa ingin tahu dalam menetapkan makna ayat. Jangan menetapkan makna dengan perkiraan tanpa dasar. Ketahuilah bahwa “Sesungguhnya dugaan yang tidak berdasar tidak dapat mengantar kepada kebenaran” (Baca surah an-Najm 53:28).
Camkanlah kisah Nabi Musa as. bersama Hamba Allah yang saleh, yang konon bernama Khidir. Nabi Musa as. diperintahkan Allah belajar kepadanya ketika beliau menduga bahwa beliau adalah “orang yang paling tahu” karena beliau seorang Nabi yang “berbicara” dengan Allah. Dalam QS. al-Kahf 18:66-82, sang guru — Khidir — berpagi-pagi menegaskan bahwa Musa tidak mampu mengikutinya karena dia tidak sabar. Tetapi karena Nabi Musa mendesak maka sang guru berkata: “Kalau engkau mengikuti aku, janganlah bertanya kepadaku tentang sesuatu (yang sulit engkau cerna) sampai aku menjelaskannya kepadamu” (al-Kahf 18:70).
Begitulah antara lain semestinya sikap manusia yang berinteraksi dengan Al-Qur'an. Sekali lagi, jangan memaksakan pendapat Anda atau bahkan memaksakan diri untuk menyingkap dalam waktu singkat kandungan ayat yang Anda pelajari. “Ber-tawaqquf-lah” yakni hentikan sementara penelitian setelah sekian lama Anda meneliti dan belum juga menemukan jawabannya. Hentikanlah, sambil mengharap kiranya satu ketika Anda atau orang lain menemukan apa yang selama ini belum Anda temukan. Allah telah berjanji bahwa satu ketika Dia menunjukkan kebenaran ayat-ayat-Nya sampai mereka (yang ragu/belum tahu) akan mengetahui bahwa memang Al-Qur'an adalah haq (Baca QS. Fushshilat 41:53).
Di pihak lain, Allah SWT menyambut baik siapa pun yang melangkahkan kaki dan meluruskan niat untuk memahami Al-Qur'an. Berpagi-pagi dan berulang-ulang ditegaskan-Nya sambil bersumpah:
Sungguh Kami telah mempermudah Al-Qur'an untuk menjadi pengajaran/peringatan. Maka, adakah yang ingin mengingat/ mengambil pelajaran? (al-Qamar 54:15,17, 22,32,40).
Allah juga berjanji untuk menambah petunjuk-Nya bagi mereka yang telah memperoleh petunjuk. Ini berarti bahwa makna-makna baru yang belum diketahui oleh seseorang sebelumnya dapat diraihnya berkat bantuan Allah SWT. Itu agaknya yang menjadi sebab mengapa dalam wahyu pertama perintah Iqra disebut dua kali. Yang pertama merupakan syarat yang harus dipenuhi dalam konteks membaca dan yang kedua dalam konteks menjelaskan ke-Maha Murah-an/limpahan karunia Allah melalui penegasan sifat-Nya al-Akram. Satu kata yang tidak ditemukan padanan patron (wazn) superlatif itu kecuali dalam konteks perintah membaca pada wahyu pertama itu. Di sisi lain, pengajaran disebut-Nya dua kali, sekali dengan menyebut sarananya yakni pena/hasil tulisan melalui kalimat al-ladzi ‘allama bi al-Qalam dan yang kedua tanpa menyebut sarana, tetapi langsung menunjuk penganugerah ilmu, yakni Allah SWT dengan firman-Nya 'Allama al-insana ma lam ya'lam.
Nah, setelah dipaparkan secara singkat pola interaksi di atas maka kini baiklah digarisbawahi salah satu ciri Al-Qur'an yang dijelaskan dalam konteks atau dari sisi kemampuan manusia memahaminya, atau katakanlah kesungguhan usaha yang harus dilakukannya, yaitu firman-Nya:
Dialah yang menurunkan al-Kitab (Al-Qur'an) kepadamu. Di antara (ayat-ayat)-nya ada yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al-Qur'an, dan yang lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya ada kecenderungan kepada kesesatan, maka mereka mengikuti dengan sungguh-sungguh sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat itu untuk menimbulkan fitnah/kekacauan dan untuk mencari-cari dengan sungguh-sungguh takwilnya (yang sesuai dengan kesesatan mereka), padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman dengannya semua dari sisi Tuhan kami" Dan tidak dapat mengambil pelajaran (darinya) melainkan ulul albab (Ali Imran 3:7).
Terlepas dari perbedaan pendapat ulama tentang apa yang dimaksud dengan muhkam yang dari segi bahasa berarti jelas maknanya dan mutasyabih yakni yang samar, ayat di atas mengandung pesan bagi setiap yang berusaha memahami Al-Qur'an agar berhati-hati dan mempersiapkan diri dalam menarik pesan-pesan-Nya. Ini karena Al-Qur'an tidak menjelaskan apa yang mutasyabih dan di mana tempatnya (ayat-ayat yang mana), sehingga secara teoretis bisa saja apa yang Anda duga muhkam itu adalah mutasyabih atau sebaliknya, sebagaimana yang tidak jarang terjadi di kalangan ulama sendiri.
Memang harus diakui bahwa untuk mencapai tahap yang meyakinkan tentang kebenaran penafsiran ayat bukanlah satu hal yang mudah, bahkan ulama mengakui bahwa sedikit sekali yang sifatnya pasti/meyakinkan dalam penafsiran ayat-ayat Al-Qur'an. Bacalah uraian yang akan datang dalam buku ini menyangkut qath‘i dan zhanniy.
Selanjutnya, dalam konteks pemahaman Al-Qur'an, jangan menduga bahwa karena kebanyakan ayat-ayat Al-Qur'an bersifat muhkam (jelas maknanya), atau apa yang diistilahkan oleh Al-Qur'an Umm al-Kitab, bahwa dengan demikian, kandungannya dapat Anda tangkap tanpa berpikir, atau tanpa menggunakan perangkat yang dibutuhkan! Jangan menduga jika jalan terbentang luas, lalu Anda dapat berjalan seenaknya tanpa memperhatikan kiri, kanan, muka, dan belakang. Sedekat apa pun jarak antara sesuatu dengan Anda, Anda tidak dapat menjangkaunya tanpa usaha atau gerak, lebih-lebih jika Anda tidak mengetahui bagaimana cara meraihnya, atau mana jalan yang harus ditempuh.
Nah, jalan itulah yang diupayakan oleh pakar-pakar Ilmu Al-Qur'an untuk dibentangkan dan Anda dipersilakan melangkah menuju ke sana.
Jangan juga menduga bahwa karena Allah telah bersumpah “mempermudah Al-Qur'an untuk menjadi pelajaran” (al-Qamar 54:17, dan lain-lain), lalu Anda tidak perlu bersungguh-sungguh mempelajarinya. Memang, kemudahan yang dijanjikan itu bukan berarti tanpa kesungguhan usaha atau tanpa kebutuhan kepada ilmu-ilmu tafsir. Ini serupa dengan ucapan seseorang menyangkut buku-buku ilmiah yang dihidangkan dengan bahasa populer. “Buku ini mudah” dalam arti ia dapat dimengerti asal mau membacanya dengan tekun dan memiliki latar belakang memadai tentang objek yang dihidangkan dalam buku itu. Bahasa Al-Qur-an mudah, bukan seperti bahasa para dukun atau penyihir dan paranormal yang sering kali mengucapkan kalimat-kalimat asing tanpa jelas maknanya. Bahasa Al-Qur'an dan sajiannya bukan seperti sementara filosof yang sengaja menyulit-nyulitkan bahasanya agar terkesan oleh masyarakat umum bahwa mereka adalah orang-orang khusus yang memiliki kedudukan melebihi kedudukan orang awam. Al-Qur'an tidak demikian! Allah melukiskan firman-fiman-Nya itu sebagai “Dengan bahasa Arab yang jelas” (a.l. surah asy-Syu‘ara’ 26:195).
Karena itulah maka seseorang tidak dapat hanya mengandalkan pengetahuan terbatas atau sekadar melihat terjemahan ayat-ayat. Dia memerlukan seperangkat pengetahuan menyangkut beberapa disiplin ilmu. Ulama-ulama besar yang memiliki perangkat keilmuan itu sekalipun berkesimpulan bahwa pada umumnya hasil-hasil penafsiran/ijtihad mereka adalah zhanniy atau dugaan yang “kuat”. Memang, penafsiran yang sifatnya dugaan dalam bidang hukum ditoleransi, berbeda dalam bidang akidah yang harus bersifat qath‘i atau pasti. Hanya saja kata dugaan di sini tidak serupa dengan keraguan atau syak. Zhan atau dugaan adalah kemungkinan yang lebih besar, karena memiliki indikator-indikator pendukung yang amat memadai kekuatannya.
Selanjutnya perlu juga disadari bahwa pemahaman tentang makna susunan kalimat bagi yang mendengar/membacanya adalah relatif. Yang dapat memastikan apa yang dimaksud oleh seseorang yang berkata: "Saya belum makan" hanyalah pengucapnya sendiri. Pemahamannya itu dinamai dilalah haqiqiyah.[1] Adapun pemahaman Anda atau siapa pun maka secara umum dapat dinilai sifatnya relatif, yakni tidak pasti dan karena itu ia dinamai dilalah nisbiyah. Kalau dalam ucapan manusia demikian itu halnya, maka tentu lebih-lebih lagi firman-firman Allah. Tetapi jangan berkata “karena penafsiran adalah nisbi maka penafsiran siapa saja adalah benar dan dapat diterima”, seperti dugaan sementara orang yang menganut teori hermeneutika. Sebab, kenisbian pun harus memiliki dasar dan patokan-patokan. Kecantikan adalah nisbi, tetapi jangan menunjuk seorang wanita yang gemuk, buta sebelah, lagi sumbing, lalu berkata: “Ini Ratu Kecantikan se-jagad”, dengan berdalih kecantikan adalah nisbi.
Perlu juga digarisbawahi bahwa memahami kata demi kata dalam satu susunan tidak otomatis menjadikan seseorang memahami dengan baik keseluruhan susunan itu. Ini, antara lain, karena bisa jadi ada satu kata yang secara isolatif atau berdiri sendiri telah dipahami maknanya, tetapi begitu dia terangkai dengan kata lain, maknanya berubah. Sebagai contoh, jika Anda menemukan rangkaian kata rumah dan tangga. Maka, Anda keliru jika mendengar ungkapan bahwa: “Si A membangun rumah tangga”, lalu Anda memahaminya bahwa dia sedang mendirikan bangunan bertingkat untuk dihuni dan tangga untuk menjadi alat menuju ke atas.
Dalam Al-Qur'an ditemukan kata raib, yang secara umum diartikan ragu. Tetapi bila kata ini dirangkaikan dengan kata manun yang secara berdiri sendiri antara lain bermakna kematian, maka tidaklah benar jika raib al-manun yang ditemukan dalam surah ath-Thur 52:30 diartikan keraguan tentang kematian, karena gabungan kedua kata tersebut pada hakikatnya berarti peristiwa-peristiwa yang terjadi dan mengakibatkan keresahan/kecelakaan. Itu sebabnya dalam konteks kaidah tafsir, az-Zarkasyi dalam al-Burhan menegaskan bahwa “Semua kata raib dalam Al-Qur'an berarti ragu, kecuali yang terangkai dengan kata al-manun.
Kekeliruan juga dapat terjadi, kendati seseorang telah mengetahui semua makna kosakata satu susunan/ayat, tetapi tidak memperhatikan bentuk susunan kata-katanya, karena didahulukannya penyebutan sesuatu, objek atau subjek, berbeda kandungan pesannya dengan menempatkannya di belakang. Kalimat yang tersusun dalam bentuk jumlah ismiyyah berbeda penekanan maknanya dengan kalimat yang berbentuk jumlah fi‘liyyah.
Tidak mengetahui konteks ucapan juga merupakan salah sebab kekeliruan. Jika saya berkata, “Saya belum makan”, ucapan ini bisa dipahami dalam berbagai makna, antara lain: “Saya masih kenyang”, “Saya lapar”, “Jangan habiskan makanan yang ada”. Di sini konteks akan sangat diperlukan dan sangat membantu dalam menetapkan makna.
Imam Abu Ishaq asy-Syathibi (w. 1388 M) menulis, “Tidak dibenarkan seseorang hanya memperhatikan bagian dari satu pembicaraan kecuali pada saat ia bermaksud untuk memahami arti lahiriah dari satu kesatuan kata menurut pengertian kebahasaan (etimologi), bukan menurut maksud pembicaranya. Tetapi ia harus memperhatikan seluruh pembicaraan.” Pakar hukum itu juga mengingatkan bahwa “Makna yang dikandung oleh teks dapat berbeda akibat perbedaan kondisi waktu dan kejadian-kejadian. Karena itu, pesannya, janganlah mengarahkan pandangan hanya pada awal pembicaraan tanpa melihat akhirnya, atau akhirnya saja tanpa awalnya, karena persoalan—kendati beraneka ragam kalimat-kalimatnya—saling kait berkait. Ia adalah satu kesatuan, paling tidak dalam konteks Al-Qur'an adalah satu kesatuan surah.”
Konteks dalam bahasan Ilmu-Ilmu Al-Qur'an mencakup apa yang diistilahkan dengan Asbab an-Nuzul dan munasabah baik dalam arti hubungan antara ayat dengan ayat sesudahnya, maupun hubungan antar satu ayat dengan ayat yang lain di tempat yang terpisah. Di samping itu, konteks juga dapat berarti siyaq, yakni situasi dan kondisi pembicaraan, baik menyangkut pembicara, mitra bicara, atau hal-hal lain, sebagaimana akan diuraikan nanti. Alhasil, ada sekian banyak yang harus menjadi perhatian mufasir sebelum menyimpulkan makna yang dikandung oleh satu susunan.
Kembali ke ayat di atas, penulis ingin mengajak semua pihak yang berkecimpung dalam studi Al-Qur'an untuk mencamkan penggalan akhir firman-Nya itu, yakni:
Adapun orang-orang yang dalam hatinya ada kecenderungan kepada kesesatan, maka mereka mengikuti dengan sungguh-sungguh sebagian ayat-ayat Mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah/kekacauan dan untuk mencari-cari dengan sungguh-sungguh takwilnya (yang sesuai dengan kesesatan mereka) (Ali Imran 3:7).
Tujuan mereka mencari-cari dengan sungguh-sungguh takwilnya mengandung isyarat bahwa mereka hanyalah mencari-cari, dan bahwa itu mereka lakukan bukan atas dasar pengetahuan atau kemampuan.[2]
Sebaliknya, pujian diberikan kepada ar-Rasikhun fi al-‘Ilm atau orang yang pengetahuannya dalam lagi mantap. Mereka berkata:
Kami beriman dengannya. Kesemuanya bersumber dari sisi Tuhan kami,” yakni Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Akhir ayat tersebut menegaskan bahwa:
Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran (darinya) melainkan Ulul Albab.
Ulul Albab adalah orang-orang yang memiliki akal yang murni, yang tidak diselubungi oleh kabut ide, yang dapat mengakibatkan kerancuan dalam berpikir dan juga mereka memiliki iman yang mantap dan akhlak yang luhur. Karena jika seseorang memperturutkan akalnya semata-mata, apalagi akal yang dipenuhi oleh kabut-kabut ide, maka subjektivitasnya muncul dan rayuan negatif pun hadir.
Agaknya itulah sebabnya, maka ayat yang dibicarakan ini, disusul dengan menjelaskan doa para Ulul Albab itu:
Mereka berdoa, "Tuhan kami! Janganlah biarkan hati kami menyimpang dari kebenaran setelah Engkau tunjuki kami. Anugerahilah kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya hanya Engkaulah Maha Pemberi anugerah (Ali Imran 3:8).
Yang terakhir yang penulis ingin garis bawahi adalah firman-Nya yang menyatakan:
Akan Ku-palingkan dari (menangkap esensi ayat-ayat-Ku) mereka yang bersifat angkuh di permukaan bumi tanpa alasan yang dibenarkan (al-A‘raf 7:146).
Karena itu, jangan pernah angkuh, sehingga enggan belajar dan belajar dari apa dan siapa pun. Jangan juga hanya mengandalkan akal/kemampuan Anda semata dan sendiri. Yakinilah kebenaran ucapan para malaikat yang diabadikan Al-Qur'an bahwa:
Maha Suci Engkau, Ya Allah, kami tidak memiliki pengetahuan kecuali apa yang Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (al-Baqarah 2:32).
Mohonlah kepada-Nya kiranya Dia yang menganugerahkan Anda pemahaman. Sahabat Nabi Ibnu Abbas ra. dinilai menjadi tokoh yang amat terkemuka dalam bidang Al-Qur'an, karena didoakan oleh Nabi saw;
Ya Allah, anugerahilah dia pemahaman dalam agama dan ajarlah dia penafsiran (Al-Qur'an)
(Dikutip dari "Kaidah Tafsir" oleh M. Quraish Shihab. Penerbit Lentera Hati. 2019)
Photo credit: Adli Wahid