Hud 11 : 1-11

Hud 11 : 1-11

Al-Qur’an dan Rasul - “Kewajiban” Tuhan

Di awal surah ini, Allah menyebutkan kitab (yakni Al-Qur’an) dan Rasul sebagai salah satu cara Allah dalam membimbing manusia kepada jalan keselamatan, sebagaimana juga Allah yang Maha Memelihara alam semesta setelah diciptakan.

  1. Alif Laam Raa. (Inilah) kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Mahabijaksana, Mahateliti

Di sini disebutkan beberapa karakteristik Al-Qur’an, sebagai berikut:

  1. Ayat-ayatnya tersusun rapi, terstruktur dan sistematis dengan pola tertentu, tidak ada cacat di dalamnya, baik dari segi lafal maupun makna
  2. Kandungannya dijelaskan secara terperinci, maksudnya mengandung semua pokok-pokok yang diperlukan manusia (dalam bentuk prinsip, hukum dan ketetapan)
  3. Diturunkan dari sisi Allah yang Maha Bijaksana dan Maha Teliti. Maha Bijaksana implisit berarti Allah SWT mengatur sedemikian rupa hingga Al-Qur’an mengandung hal-hal yang pokok hingga level detail yang dibutuhkan oleh manusia.[1] Maha Teliti implisit bermakna bahwa Allah SWT mengatur susunan ayat-ayat Al-Qur’an dengan sistematika tertentu dan dengan maksud tertentu
  1. agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira dari-Nya untukmu.

Ayat selanjutnya menerangkan, tujuan utama diturunkannya Al-Qur’an adalah menegakkan ajaran tauhid, agar manusia tidak tersesat dalam kemusyrikan. Ayat ini juga menerangkan sosok Rasul - yang bertindak sebagai pembawa kitab suci dan menerangkannya kepada umatnya dalam bahasa dan akhlak perilaku yang dimengerti dan dapat dicontoh oleh umatnya. Dijelaskan bahwa rasul memiliki 2 tugas pokok:

  1. Menyampaikan peringatan kepada umatnya bila mereka ingkar kepada risalah Allah
  2. Menyampaikan berita gembira kepada umatnya yang taat dan beriman, bahwa amal mereka akan dibalas berlipat ganda di akhirat, dan bahwa bila iman dan takwa adalah jalan keselamatan mereka di dunia dan akhirat.

Diturunkannya kitab petunjuk (Al-Qur’an) dan diutusnya Rasul merupakan wujud kasih sayangNya yang telah ditetapkan Allah atas diriNya - disamping sebagai tanda keadilanNya (fairness) dalam menetapkan pahala dan dosa nanti di akhirat, sebagaimana diterangkan di ayat berikut:

Katakanlah, “Milik siapakah apa yang ada di langit dan di bumi?” Katakanlah, “Milik Allah.” Dia telah menetapkan (sifat) kasih sayang pada diri-Nya. Sungguh, Dia akan mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak diragukan lagi. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka tidak beriman (Al-An’am 6:12)

Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. (Al Isra’ 17:15)

(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (An-Nisa' 4:165)

Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan. (Faathir 35:24)

Istighfar dan Taubat - Kewajiban Manusia

  1. Dan hendaklah kamu memohon ampunan kepada Tuhanmu dan bertaubat kepadaNya, niscaya Dia akan memberikan kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan. Dia akan memberikan karuniaNya kepada setiap orang yang berbuat baik. Jika kamu berpaling, maka aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang besar (kiamat).

Bila di ayat 1-2 sebelumnya diterangkan “kewajiban” Allah menurunkan kitab suci dan mengutus rasulNya sebagai perwujudan kasih sayang dan keadilanNya, maka ayat 3 menerangkan kewajiban manusia kepada Allah, yakni:

  1. Memohon ampunan (istighfar) atas dosa yang dilakukan
  2. Melakukan taubat, yakni meninggalkan perbuatan dosa tersebut, menyesal terhadap perbuatan dosa yang dulu dikerjakan serta bertekad tidak lagi kembali melakukannya

Di ayat lain dijelaskan, bahwa Allah pasti mengampuni setiap dosa hambaNya bila sang hamba memohon ampun dan bertaubat - sebagai wujud kasih sayangNya kepada hambaNya:

…Tuhanmu telah menetapkan sifat kasih sayang pada diri-Nya, (yaitu) barang siapa berbuat kejahatan di antara kamu karena kejahilan, kemudian bertaubat setelah itu dan memperbaiki diri, maka Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Al-An’am 6:54)

Katakanlah, "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Az-Zumar 39:53)

Atau di dalam satu hadits Qudsi, disebutkan pula Allah SWT berfirman,

Wahai anak Adam, selagi kamu minta dan berharap kepadaKu, maka Aku akan mengampuni bagimu segala yang telah berlalu dari dosamu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, kemudian kamu meminta ampun kepadaKu, niscaya Aku ampuni kamu, dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, jika kamu datang kepadaKu dengan kesalahan (dosa) sepenuh bumi, kemudian kamu mendatangiKu dengan tidak menyekutukanKu dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan ampunan sepenuh bumi pula. (Shahih Al-Jami’ 5/584)

  1. Kepada Allah-lah kamu kembali, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

Ayat selanjutnya menegaskan bahwa manusia sebenarnya tidak punya jalan lain, selain taat tunduk kepada ketentuanNya. Manusia dapat memilih jalan mana yang diambil, tetapi konsekuensi dari pilihannya pasti akan mengikuti ketetapan sunatullah. Tidak ada ketentuan lain selain dari hukum-hukum alam yang telah ditetapkan Allah SWT, karena tidak ada tempat kembali lain dari manusia dan seluruh makhluk yang pernah dan akan ada di penjuru langit dan bumi, selain hanya kembali kepada Allah, Dzat yang kekuasaanNya meliputi segala sesuatu. Hal ini dijelaskan juga pada ayat berikut:

Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari. (Ar-Ra'd 13:15)

  1. Ingatlah, sesungguhnya (orang munafik itu) memalingkan dada mereka untuk menyembunyikan diri darinya Muhammad. Ingatlah, ketika mereka menyelimuti dirinya dengan kain, Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka lahirkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.

Allah SWT kemudian menjelaskan, bahkan terhadap orang munafik yang dari luar tampak bersahabat dan beribadah bersama-sama dengan orang beriman, Allah tetap mengetahui apa yang disembunyikan di dalam hati mereka. Hal ini diterangkan juga pada ayat berikut:

(Luqman berkata), "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (Luqman 31:16)

Beragam Kekuasaan Allah SWT

1. Memelihara Alam Semesta

Selanjutnya Allah menerangkan karunia dan kekuasaanNya yang maha luas dalam memelihara alam semesta yakni menjamin rezeki atas seluruh makhlukNya.

  1. Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).

Allah menanggung semua rezeki bagi semua makhluk, dan itu telah diwajibkan atas diriNya, dengan kalimat ’alaa’ yang mempunyai makna wajib dalam bentuk karunia dan rahmat dariNya. Namun demikian perlu diingat bahwa Allah memberikan rezeki kepada makhluk melalui hukum sebab-akibat dan ilham atau insting kepada makhlukNya untuk mendapatkan rezeki tersebut, sebagaimana diterangkan di beberapa ayat berikut:

(Musa berkata) "Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk. (Thaha 20:50)

Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan. (Al-An’am 6:38)

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz) (Al-An’am 6:59)

2. Menciptakan Alam Semesta dan Membangkitkan Manusia

  1. Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan Arsy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya. Jika engkau berkata (kepada penduduk Mekah), “Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan setelah mati,” niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata, “Ini hanyalah sihir yang nyata.”

Ayat berikutnya, diterangkan kekuasaan Allah dalam penciptaan langit, bumi dan ‘Arasy. Dijelaskan bahwa ‘Arasy dan air diciptakan lebih dahulu, baru kemudian langit dan bumi dalam 6 masa/tahap. Penciptaan langit dan bumi ini disebutkan juga pada ayat lain:

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi itu dahulu menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air. Maka mengapa mereka tidak beriman? (Al-Anbiya’ 21:30)

Kemudian di paruh kedua ayat 7 di atas, disebutkan juga kekuasaan Allah dalam membangkitkan manusia setelah mati. Hal ini sulit dipercaya oleh kaum kafir saat itu, namun Allah membantah argumen mereka di ayat berikut:

Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang: laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati? (Al-Qiyamah 75:37-40)

Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur). (Az Zukhruf 43:11)

Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan menghidupkan bumi sesudah matinya. Dan seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur). (Ar-Rum 30:19)

Hari Kebangkitan ini pasti adanya, karena hidup manusia di dunia adalah ujian, dimana ujian tersebut haruslah ada hasilnya. Pengadilan di Hari Kebangkitan inilah yang akan menentukan nilai ujian manusia selama di dunia.

Catatan:
Ayat mengenai penciptaan alam semesta ini termasuk ayat yang samar / mutasyabihat. Tidak ada keterangan yang cukup meyakinkan, apa yang dimaksud dengan 6 masa. Apakah 6 hari atau 6 tahap atau ada makna lainnya? Juga tidak diterangkan dengan jelas bagaimana ‘Arasy berada di atas air. Seperti apa bentuk 'Arasy? Apakah air yang disebutkan adalah air seperti di dunia atau hanya kiasan unsur yang memiliki kemiripan sifat dengan air di dunia? Kita cukup mengimaninya karena keilmuan manusia yang sangat terbatas, sebagaimana diperintahkan Allah di ayat berikut:

Dialah yang menurunkan Kitab (Al Qur’an) kepadamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat - itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan mencari-cari takwilnya, padahal yang mengetahui takwilnya hanyalah Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, “Kami beriman kepadanya. Semua dari sisi Tuhan kami.” Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran selain orang yang berakal. (Ali ‘Imran 3:7)

Sifat Buruk Manusia

  1. Dan sungguh, jika kami tangguhkan azab terhadap mereka sampai waktu yang ditentukan, niscaya mereka akan berkata, “Apakah yang menghalanginya?” Ketahuilah, ketika azab itu datang kepada mereka, tidaklah dapat dielakkan oleh mereka. Mereka diliputi oleh azab yang dahulu mereka memperolok-olokkannya.
  2. Dan jika Kami berikan rahmat Kami kepada manusia, kemudian rahmat itu Kami cabut kembali, pastilah dia menjadi putus asa dan tidak berterima kasih.
  3. Dan jika Kami berikan kebahagiaan kepadanya setelah ditimpa bencana, niscaya dia akan berkata, “Telah hilang bencana itu dariku.” Sesungguhnya dia (merasa) sangat gembira dan bangga,

Ayat selanjutnya menerangkan beberapa sifat buruk manusia sebagai berikut:

  • Tidak sabar dan menganggap enteng azab Allah. Padahal bila sudah waktunya datang, mereka tidak akan mampu menunda / menghindarinya (8). Hal ini juga diterangkan di ayat lain:

    sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi, tidak ada sesuatu pun yang dapat menolaknya (Ath-Thur 52:7-8)

  • Tidak sabar ketika mendapat nikmat, cepat putus asa dan lupa bersyukur bila nikmat tersebut kembali hilang. Padahal tidak ada nikmat yang kekal selama masih hidup di dunia (9). Di ayat lain disebutkan, berputus-asa dari rahmat Allah adalah salah satu ciri kekafiran:

    …dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang kafir. (Yusuf 12:87)

  • Tidak sabar ketika selamat lolos dari bencana, gembira dan bangga, merasa bahwa dirinya lolos dari bencana tidak lain karena kedudukan, kecerdasan, kerja keras, keberuntungan, ketakwaan ataupun amalnya. Padahal tidak ada yang namanya kebetulan, tidak ada sesuatu pun dapat terjadi kecuali dengan izin Allah, sebagaimana dijelaskan di ayat berikut:

    Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput darimu, dan tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikan- Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri. (Al-Hadid 57:22-23)

  1. kecuali orang-orang yang sabar dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka itu memperoleh ampunan dan pahala yang besar.

Terakhir, di ayat 11 diterangkan, bahwa manusia akan terhindar dari sifat-sifat buruk di atas bila manusia mampu menjaga dua hal berikut:

  1. Menjaga sikap sabar dan tabah dalam menghadapi kesempitan
  2. Menjaga fokus untuk mengerjakan amal saleh sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya. Tidak lengah ketika diberi kelapangan.

Kesempitan atau musibah sebenarnya suatu keniscayaan dalam kehidupan. Bahkan bagi orang beriman pun tetap mengalaminya, dalam bentuk ujian, sebagaimana diterangkan pada ayat berikut:

Dan Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar (Al-Baqarah 2:155)

Namun demikian, seorang beriman akan tetap mengambil kebaikan dari siklus naik-turunnya kehidupan, kelapangan dan kesempitan tersebut. Nabi saw bersabda,

Demi jiwaku yang ada di tanganNya, Allah tidak akan menetapkan ketentuan-Nya bagi seorang Mukmin kecuali demi kebaikan untuknya: apabila dia merasakan kesenangan dia bersyukur dan itu baik baginya, apabila dia terkena musibah bencana maka dia bersabar dan itu baik baginya, dan tidak ada yang dapat melakukannya kecuali orang yang beriman. (HR Bukhari dan Muslim)

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.

Photo credit: Benjamin Voros

Diselesaikan pada 20220717


  1. Sebagai contoh, kisah ashabul kahfi, Al-Qur’an tidak menerangkan secara pasti berapa jumlah persisnya pemuda al-kahfi ini karena informasi detail tersebut tidak diperlukan untuk memahami pokok pelajaran dari kisah Ashabul Kahfi. Hal lain, seperti ibadah sholat, tidak diterangkan secara detail di dalam Al-Qur’an karena Allah lebih menekankan pada manfaat dan pentingnya sholat, sedangkan cara melakukannya dijelaskan oleh Nabi saw ↩︎