Kisah Nabi Nuh as
Dijelaskan di dalam salah satu hadits, Nabi Nuh as adalah rasul pertama yang diutus kepada orang musyrik. Nuh as adalah Nabi yang terkenal sabar dalam berdakwah dan sabar dalam menghadapi penolakan orang-orang terdekatnya (istri dan anaknya) selain juga penolakan kaumnya. Menurut Ibnu Abbas, beliau diangkat rasul pada usia 40 tahun, dan menghabiskan 950 tahun utk berdakwah. Kaum Nuh bernama Bani Rasib, mereka tinggal di wilayah Selatan Irak saat ini. Menurut Ibnu Ishaq, Nabi Nuh as memiliki 4 putra:
- Kan’an, yang durhaka dan meninggal dlm banjir. Menurut Hasan Al Basri, Kan’an adalah anak tiri dari istri Nuh yang durhaka.
- Yafith, yang menurunkan bangsa kulit coklat dan merah
- Sam, yang menurunkan bangsa kulit putih termasuk bangsa Arab, Mesir Kuno dan juga para Nabi dan Rasul
- Ham, yang menurunkan bangsa kulit hitam dan sebagian kulit putih
Allah menjelaskan proses dakwah Nabi Nuh as yang memiliki beberapa tahapan. Tahap-tahap ini adalah umum terjadi juga pada umat-umat setelah umat Nuh as yang ingkar terhadap seruan Allah.
Tahap 1: Rasul menyerukan 2 hal: berita gembira dan peringatan
Nuh as memberikan peringatan agar kaumnya kembali menyembah Allah dan takut akan siksa Allah atas ingkarnya mereka. Memberi peringatan ini adalah salah satu dari 2 misi kerasulan, yakni menyampaikan peringatan dan kabar gembira, sebagaimana disebutkan di banyak ayat lain, seperti:
(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (An Nisaa’ 4:165)
Tahap 2: Rasul ditentang oleh kaumnya
Kaum Nuh kemudian menentang dakwah beliau karena menganggap apa yang disampaikan kebohongan semata karena 3 alasan berikut (27):
-
Nabi Nuh as adalah manusia biasa seperti mereka. Mereka sudah kenal Nuh as sejak lahir dan kecilnya, sama saja seperti anak-anak dan remaja lain.
-
Mereka yang menerima dakwah Nabi Nuh as adalah orang dari kalangan bawah dan bodoh sehingga lekas percaya (tidak kritis). Kaum Nuh mengatakan, kalau pengikut Nuh ini diusir/ditolak maka baru mereka mau menerima dakwah Nuh as. Di ayat lain diterangkan sikap kaum Nuh ini:
Mereka berkata, “Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?” (Asy Syu’ara 26:111)
-
Tidak tampak keistimewaan atau kelebihan Nuh as secara kasat mata dibandingkan tokoh-tokoh pemuka di kalangan kaumnya
Nabi Nuh as kemudian menjawab bantahan kaumnya dengan argumentasi (28-29):
-
Bukankah mungkin saja Allah memuliakan sebagian hambaNya dengan mengangkatnya sebagai Rasul?
-
Bukankah bisa saja Allah menurunkan wahyu kepada hambaNya – yang tidak diketahui oleh orang lain kecuali dirinya sendiri?
-
Bukankah dia (Nuh as) hanya menyampaikan, dan tidak memaksakan kaumnya untuk menerima dakwah beliau?
-
Bukankah mereka melihat, Nuh as tidak meminta upah dan berharap keuntungan materiil dari dakwahnya selama ini? Nuh as menegaskan sudah cukup ridha Allah sbg imbalan atas usahanya. Hal yg sama dikatakan oleh beberapa rasul lain sbb:
Katakanlah (wahai Rasulullah), “Upah apapun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu. Upahku hanyalah dari Allah, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Saba’ 34:47)
Dan kamu (Yusuf as) sekali-kali tidak meminta upah kepada mereka (terhadap seruanmu ini), itu tidak lain hanyalah pengajaran bagi semesta alam. (Yusuf 12:104)
dan aku (Nuh, Hud, Shalih, Luth, Syu’aib) sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. (Asy Syu’araa’ 26:180, 109, 127, 145, 164, 180)
Kemudian diceritakan, Nabi Nuh as menolak permintaan kaumnya untuk mengusir orang-orang bodoh dari kalangan bawah yang sudah menerima dakwahnya (spt yg disebut di atas). Dikatakan Allah akan murka kalau dia mengusir orang yang sudah beriman kepada Allah (29-30).
Nuh as kemudian menegaskan, bahwa dirinya hanya utusan Tuhan dengan segala keterbatasannya sebagai sama-sama hamba Allah (31):
- Dirinya (Nuh as) tidak bisa menjamin rezeki seseorg
- Dirinya tidak tahu mengenai hal-hal yang ghaib (kecuali yang diwahyukan kepadanya saja
- Dirinya adalah seorang manusia biasa yang tetap perlu bekerja, butuh makan, tempat tinggal dan keluarga seperti yang lain; bukan seorang malaikat
- Dirinya tidak bisa memastikan nasib/takdir seseorg
Tahap 3: Rasul ditantang untuk segera menurunkan siksa sebagai bukti kebenaran kerasulan mereka
Kaum Nuh pun menjawab, daripada panjang-lebar berdebat, maka mereka minta Nuh as berdoa agar disegerakan siksa Allah kalau memang Nuh as adalah benar utusan Tuhan yang Maha Kuasa atas segalanya (32-33). Nuh pun menjawab, bahwa siksa tersebut adalah hak prerogatif Allah kapan terjadinya dan kalau datang tidak akan bisa lolos. Alur cerita ini umum terjadi pada kisah para Rasul lainnya dan disebut di banyak ayat, seperti:
Mereka mengatakan, “Bilakah (datangnya) ancaman itu, jika memang kamu orang-orang yang benar?”
Katakanlah, “Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah.” (Yunus 10:48-49)
Tahap 4: Rasul menyerahkan urusan mereka yg masih ingkar kepada Allah
Nabi Nuh kemudian mengatakan kepada kaumnya, tidak ada gunanya lagi dakwahnya kepada mereka, karena mereka sudah mengunci hati untuk menerima dakwah Nuh as (34-35). Selanjutnya Allah memberitahu Nuh as bahwa sudah cukup dia berdakwah, tidak akan bertambah lagi orang yang mau mengikuti Nuh, serta menghibur Nuh agar tidak bersedih (36).
Tahap 5: Diturunkan azab yang membinasakan mereka yg ingkar kpd Allah
Allah kemudian memerintahkan Nuh as untuk membuat kapal sebagai persiapan datangnya banjir yang akan menenggelamkan mereka semua yang ingkar (37). Nuh as pun melaksanakan pembuatan kapal tersebut walaupun dicemoohkan oleh kaumnya (karena daerah kaum Nuh berada di pegunungan (38-39).
Sehingga akhirnya datanglah banjir dan Nuh as diperintahkan menaikkan ke atas kapal (40):
- Berbagai jenis binatang – masing-masing sepasang
- Keluarga Nuh as, kecuali mereka yang ingkar kepada Allah
- Orang-orang beriman, para pengikut Nuh as. Sebagian riwayat, menyebutkan jumlahnya hanya 13 orang atau 40 orang (padahal beliau sudah berdakwah selama 950 tahun)
Kepada orang beriman, Nuh memerintahkan mereka untuk memperbanyak dzikir selama di perjalanan hingga berlabuh setelah banjir surut (41). Digambarkan banjir ini sangat besar, disertai angin kencang dengan gelombang hingga setinggi gunung (42). Akhirnya setelah semua orang yang ingkar terhadap dakwah Nuh as binasa (perhatikan akhir ayat 44), maka Allah memerintahkan bumi untuk menyerap air sehingga surut dan kapal Nuh as berhenti di atas bukit Judi (44).
Di ayat lain, disebutkan kaum Nuh ini seperti sampah yang dihanyutkan banjir padahal mereka tubuhnya besar-besar sbb:
Maka dimusnahkanlah mereka oleh suara yang mengguntur dengan hak dan Kami jadikan mereka (sebagai) sampah banjir maka kebinasaanlah bagi orang-orang yang zalim itu. (Al Mu’minuun 23:41).
Nabi Nuh as dan Anaknya
Diceritakan, bagaimana di saat-saat terakhir, Nuh as masih berusaha mengajak anaknya, Kan’an untuk ikut di dalam kapalnya di tengah-tengah banjir (42), tetapi ajakan ini ditolak oleh anaknya. Menarik di sini, bagaimana perbedaan redaksi dialog Nuh as dengan anaknya (Kan’an) di ayat 43 ini:
Pada saat banjir besar tsb, ketika diajak oleh bapaknya, jawaban Kan’an adalah “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menyelamatkanku dari air bah.” Tampak di sini, paradigma dia masih ingkar terhadap dakwah bapaknya, dan menganggap banjir ini adalah fenomena alam biasa dimana dia bisa lolos dengan usahanya.
Padahal di ayat 33 di atas disebutkan bahwa bila azab Allah sudah turun, maka tidak ada satu pun dari mereka yang ingkar bisa lolos. Ini terlihat dari jawaban Nuh as kepada anaknya, “Tidak ada yang bisa lolos hari ini dari azab Allah (banjir ini) selain karena pertolongan Allah semata.”
Hingga ketika banjir tersebut surut, Nabi Nuh as pun masih berusaha mendoakan anaknya Kan’an, meminta belas kasihan Allah terhadap anaknya, ”Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakin yang seadil-adilnya (45). Menurut Al-Jawzi dan Ath-Thabari, janji Allah ini adalah janji diselamatkannya keluarga Nuh as yang disebut di ayat 40 di atas.
Allah kemudian menegaskan dan menegur Nuh as, ”Hai Nuh, sesungguhnya dia (Kan’an) bukanlah keluargamu yang dijanjikan diselamatkan. Sesungguhnya dia melakukan perbuatan tidak baik, dan janganlah kamu memohon kepadaKu sesuatu yang tidak kamu ketahui” (46).
Akhirnya Nuh as memohon ampun atas kekhilafannya tersebut (47). Allah menerima taubatnya dan memberkahi anak keturunan Nuh as selama mereka beriman. Tetapi bagi mereka yang tidak beriman, akan ditimpakan azab Allah yang keras (48). Di sini, tampak keadilan Allah, bahwa keimanan tidak memandang pertalian darah. Siapa yang beriman akan mendapatkan keberkahan, sedangkan siapa yang ingkar akan menerima azab, siapa pun dia.
Allah menutup kisah Nuh as dengan menjelaskan bahwa beberapa detail dari cerita ini, tidak ada yang tahu, tidak juga tertulis di kitab-kitab sebelumnya sampai diwahyukannya ayat-ayat ini kepada Nabi SAW. Allah kemudian menenangkan Nabi SAW dan kaum beriman, bahwa kesudahan yang baik, akhir yang baik adalah diperuntukkan bagi mereka yang bertakwa, sebagaimana sedikit dari pengikut Nuh as yang diselamatkan dari banjir besar di atas (49).
Cerita banjir Nuh as ini terus dikenang dan disebut di banyak kitab-kitab suci agama samawi seperti Taurat dan Injil untuk menjadi pelajaran, lesson learned bagi bangsa-bangsa setelahnya, sebagaimana disebutkan di ayat berikut:
Dan sesungguhnya telah Kami jadikan kapal itu sebagai pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? (Al Qamar 54:15)
Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Referensi tafsir klik di sini.