Hud 11 : 61-83

Kisah Nabi Shalih as

Kaum Tsamud juga merupakan salah satu kabilah Arab. Mereka tinggal di daerah yang sekarang dikenal sebagai Fajjun-Naqah di antara Hijaz dan Syam. Mereka diberi kelebihan membangun rumah seperti istana yang dengan memahat gunung.

Tahap 1: Rasul menyerukan risalah Tauhid

Ayat 61 menceritakan Nabi Shalih yang mendakwahkan ajaran tauhid kepada kaumnya, dan mengajak mereka bertaubat atas dosa musyrik mereka. Di ayat lain disebutkan,

Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shalih. Ia berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya…” (Al A’raaf 7:73)

Tahap 2: Rasul ditentang oleh kaumnya

Tampaknya Nabi Shalih as adalah dari kalangan terpandang, sehingga kaumnya menolak secara halus dengan mengatakan, “Hai Shalih, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah salah seorang yang kami harapkan… Kami sangat ragu dan risau atas ajaran yang kamu dakwahkan ini.” (62).

Kaum Tsamud pun kemudian meminta Nabi Shalih bukti mukjizat kepada kaumnya (63), yakni dalam bentuk unta betina, yang air susunya tidak pernah habis. Tetapi diperingatkan agar tidak mengganggu, dan membiarkan unta tersebut, sebagai cobaan ketaatan dan kepercayaan kaumnya kepada Nabi Shalih as (64). Di ayat lain disebutkan,

Kamu tidak lain melainkan seorang manusia seperti kami; maka datangkanlah sesuatu mukjizat, jika kamu memang termasuk orang-orang yang benar.” (Asy Syu’araa’ 26:154)

…Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih.” (Al A’raaf 7:73)

Sesungguhnya Kami akan mengirimkan unta betina sebagai cobaan bagi mereka, maka tunggulah (tindakan) mereka dan bersabarlah. Dan beritakanlah kepada mereka bahwa sesungguhnya air itu terbagi antara mereka (dengan unta betina itu); tiap-tiap giliran minum dihadiri (oleh yang punya giliran). Maka mereka memanggil kawannya, lalu kawannya menangkap (unta itu) dan membunuhnya. (Al Qamar 54:27-29)

Tahap 3: Rasul ditantang untuk segera menurunkan siksa sebagai bukti kebenaran kerasulan mereka

Akhirnya mereka, bukan hanya mengganggu, tetapi sengaja membunuh unta tersebut karena kesombongan mereka yang tidak takut akan datangnya azab seperti yang disampaikan oleh Nabi Shalih as, sebagaimana digambarkan di ayat lain,

Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. Dan mereka berkata, “Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah).” (Al A’raaf 7:77)

Dia berkata, “Hai kaumku mengapa kamu minta disegerakan keburukan sebelum (kamu minta) kebaikan? Hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat.” (An Naml 27:46)

Tahap 4: Rasul menyerahkan urusan mereka yang masih ingkar kepada Allah

Kemudian diceritakan bagaimana Nabi Shalih as hopeless terhadap kaumnya yang malah makin menjadi-jadi dengan sengaja membunuh unta betina tersebut. Akhirnya mereka diberikan tenggat waktu 3 hari sebelum datangnya azab Allah:

Mereka membunuh unta itu, maka berkata Shaleh, “Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari, itu adalah janji yang tidak dapat didustakan.” (65)

Tahap 5: Diturunkan azab yang membinasakan mereka yang ingkar kpd Allah

Akhirnya datanglah azab Allah yang memusnahkan kaum Tsamud yang ingkar tersebut dan Allah menyelamatkan orang beriman yang mengikuti Nabi Shalih as (66). Digambarkan mereka bergelimpangan meninggal seketika hingga mengering jasadnya karena petir yang menyambar mereka – diikuti oleh suara guntur yang sangat keras (67).

Alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Kami kirimkan atas mereka satu suara yang keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti batang-batang kering yang lapuk. (Al Qamar 54:30-31)

Di ayat lain disebutkan, bukan hanya petir dan suara keras, tetapi juga gempa yang menjadikan daerah tersebut seperti daerah yang belum pernah dihuni manusia (68-69).

Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka. (Al A’raaf 7:78)

Malaikat Bertamu kepada Ibrahim as

Allah mengisahkan kunjungan beberapa malaikat, bertamu ke rumah Ibrahim as dan istrinya Siti Sarah (69). Para malaikat itu singgah dengan 2 tujuan:

  1. Menyampaikan berita gembira, akan kelahiran Ishaq, bahkan diberitakan juga, dari Ishaq akan lahir cucu beliau, Ya’qub, yang keduanya akan menjadi hamba-hamba Allah yang saleh (71). Siti Sarah terkejut dan heran mendengar berita ini (72). Di ayat lain, digambarkan terkejutnya Ibrahim as dan Siti Sarah mendengar berita ini:

    Berkata Ibrahim, “Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku telah lanjut, maka dengan cara bagaimanakah (terlaksananya) berita gembira yang kamu kabarkan ini?” (Al Hijr 15:54)

    Kemudian isterinya datang memekik lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata, “(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul.” (Adz Dzaariyaat 51:29)

    Diceritakan, akhirnya para malaikat menjelaskan, bahwa tidak ada yang mustahil di sisi Allah, dan sesungguhnya Allah Maha Terpuji (dari berjanji bohong) dan Maha Pemurah (menurunkan nikmat kepada hambaNya yang saleh) (73).

  2. Menyampaikan rencana para malaikat tersebut ke kaum Luth sebagai persiapan turunnya azab Allah. Luth masih kerabat Nabi Ibrahim as. Luth mengikuti risalah Nabi Ibrahim sbgmn disebutkan di ayat berikut:

    Maka Luth membenarkan (kenabian) nya (Ibrahim)… (Al ‘Ankabuut 29:26)

    Ibrahim as yang dikenal dengan sifat santun dan penyayangnya, mencoba menego perintah Allah kepada para malaikat tersebut, agar membatalkan eksekusi azab terhadpa kaum Luth, hingga akhirnya para malaikat mengingatkan Ibrahim bahwa turunnya siksa bagi kaum Luth sudah menjadi ketetapan Allah SWT (75-76).

    Sifat penyantun dan penyayang Ibrahim as ini disebutkan di ayat lain, yang menggambarkan beratnya Ibrahim as ketika dilarang Allah untuk mendoakan bapaknya yang musyrik,

    Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. (At Taubah 9:114)

Turunnya Azab atas Kaum Luth

Menurut riwayat, Luth as awalnya mengikuti perjalanan bersama Nabi Ibrahim as, hingga akhirnya beliau menetap di Sodom, yang terletak di timur Yordania. Kaum Luth menempati kota-kota di sekitar kota Sodom. Nabi Luth diutus kepada kaumnya untuk menyampaikan ajaran Tauhid dan agar mereka meninggalkan dari perbuatan dosa homoseksual. Mereka bukan hanya tertarik kepada sesama laki-laki di antara kaumnya, tetapi juga memaksa laki-laki asing untuk mengikuti perbuatan mereka serta menantang datangnya azab Allah sbgmn dijelaskan di ayat berikut:

Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu? Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan, “Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” (Al ‘Ankabuut 29:29)

Melanjutkan ayat sebelumnya, akhirnya para malaikat tersebut meninggalkan rumah Ibrahim as menuju ke negeri Sodom. Mereka menyerupai pemuda yang tampan. Diceritakan, Luth as sangat takut ketika para malaikat tersebut bertamu ke rumahnya (77). Kaum Luth pun segera mendatangi rumah Luth, meminta agar beliau mau menyerahkan para malaikat tersebut kepada mereka (78). Nabi Luth as menolak permintaan mereka, dan mengingatkan mereka agar menikahi para perempuan di kalangan kaum Luth sebagai perbuatan yang lebih suci dan diridhai Allah SWT (78-80).

Para malaikat tersebut akhirnya menenangkan Luth as dan menyampaikan musibah besar akan datang menimpa kaum Luth di waktu subuh, serta meminta Luth dan pengikutnya untuk segera meninggalkan negeri Sodom. Diceritakan pula, agar Luth tidak mengajak istrinya (81). Menurut tafsir Jalalayn, sebab istrinya tidak dibolehkan ikut adalah karena dia diam-diam menolak dakwah Luth as.

Akhirnya Allah menurunkan azab kepada kaum Luth, dengan membalikkan kota tersebut dan menghujani kaum Sodom dengan batu dari tanah yang terbakar bertubi-tubi hingga tidak ada satu pun dari mereka yang hidup (82). Menurut beberapa mufasir seperti Ibnu Katsir dan Al Maturidi, batu dari tanah tersebut ditandai dengan tulisan berisi nama setiap orang dari kaum Luth yang menjadi target batu tersebut (83).

Di akhir ayat 83, diterangkan, bahwa azab serupa akan dikenakan kepada kaum yang melakukan perbuatan sama dengan perbuatan keji kaum Sodom.

Sebagai tambahan, ada 2 kejadian yang mirip dengan peristiwa Sodom ini:

  1. Penduduk kota Pompeii di bawah pemerintahan Romawi yg mati seketika karena panas akibat meletusnya gunung Vesuvius pada tahun 79 M, serta mengubur seluruh penduduk kota tersebut beberapa kaki, hingga baru ditemukan 1600 tahun kemudian.

  2. Kejadian di Dukuh Lagetang Banjarnegara Jawa Tengah pada 17 April 1955

Na’udzubillah min dzaalik.

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.