Hud 11 : 96-115

Kisah Nabi Musa as dan Nasib Fir’aun

Allah menjelaskan kisah Musa as secara singkat di ayat 96-99. Disebutkan, bahwa Musa as adalah salah satu rasul utusan Allah, yang dikaruniai dengan tanda-tanda kekuasaan Allah SWT yang diperlihatkan kepada Fir’aun dan para pembesarnya, seperti angin topan, wabah belalang, kutu, katak dan darah. Juga disebutkan Musa diberikan mukjizat yang nyata, maksudnya adalah mukjizat yang besar, yang nyata jelas mengalahkan orang-orang yang menentangnya, seperti terbelahnya Laut Merah sehingga menenggelamkan Fir’aun dan tentaranya dan ular yang mengalahkan sihir dari para ahli sihir berilmu paling tinggi di seluruh Mesir sehingga para ahli sihir tersebut spontan bersujud dan beriman kepada Allah SWT dan tetap dalam keimanannya walaupun mereka dipotong tangan dan kaki serta disalib (96).

”…demi, sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kakimu dengan bersilang secara bertimbal balik, kemudian sungguh-sungguh aku akan menyalib kamu semuanya.” (Al A’raaf 7:124)

Ayat 97 menarik karena Allah menekankan sebab dihukumnya para pembesar Fir’aun (sama dengan yang dialami oleh Fir’aun) adalah karena mereka patuh, taat kpd Fir’aun, walaupun hati nurani mereka tahu bahwa kezaliman yang dilakukan Fir’aun seperti menyiksa bangsa Israil dan mengangkat dirinya tuhan adalah salah. Di sini, kembali kita implisit diingatkan Allah, bahwa sikap abai terhadap kezaliman di sekitar kita dapat menjadi sebab kita mendapat siksa Allah SWT.

Kemudian, diceritakan bahwa di hari kiamat kelak, Fir’aun yang akan mendatangi pengikutnya dan menariknya ke dalam neraka (98). Allah SWT menegaskan bahwa Fir’aun dan para pembesarnya mendapatkan siksa bukan hanya di dunia (dalam bentuk penderitaan mereka ketika mengalami berbagai macam wabah hingga ditenggelamkan di Laut Merah), tetapi juga di akhirat (dlm bentuk siksa neraka yang kekal) (99).

Hikmah Kisah Para Rasul

Allah kemudian menutup rangkaian cerita para rasul ini dengan menerangkan beberapa lesson learned sebagai berikut:

  1. Bekas peninggalan kaum mereka sebagai sarana tafakkur.

    Di antara kisah para rasul tersebut ada yang bekas peninggalannya masih tampak hingga sekarang, dan ada yang sudah hilang sama sekali (100) Di ayat lain, kita diperintahkan untuk mengunjungi situs-situs peninggalan tersebut sebagai napak tilas perjalanan para rasul dan mengingatkan kita akan kekuasaan Allah SWT:

    Katakanlah, “Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.” (Al An’aam 6:11)

    Katakanlah, “Berjalanlah kamu (di muka) bumi, lalu perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berdosa. Dan janganlah kamu berduka cita terhadap mereka, dan janganlah (dadamu) merasa sempit terhadap apa yang mereka tipudayakan.” (An Naml 27:69-70)

  2. Bukti Keadilan Allah SWT

    Allah menegaskan, bukanlah Dia yang berlaku tidak fair terhadap hambaNya yang ingkar karena menurunkan azab kepada mereka, melainkan justru turunnya azab tersebut sebagai kepastian akan ancaman-Nya yang telah disampaikan oleh para rasul yang diutus kepada mereka (100). Dan azab Allah tersebut diperuntukkan hanya bagi orang-orang yang berbuat zalim (102).

Dan Kami tidak membinasakan sesuatu negeripun, melainkan sesudah ada baginya orang-orang yang memberi peringatan; untuk menjadi peringatan. Dan Kami sekali-kali tidak berlaku zalim. (Asy Syu’araa’ 26:208-209)

…Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul. (Al Israa’ 17:15)

Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman. (Al Qashash 28:59)

Para rasul ini memberi peringatan serta mengajak kaumnya memohon ampun dan bertaubat. Mereka juga membawa mukjizat sebagai bukti kebenarannya serta menolak mengambil keuntungan duniawi apa pun, seperti finansial, kekuasaan atau ketenaran atas usaha dakwahnya. Mereka berdakwah all-out sampai ada yang terbunuh, atau hingga akhirnya mereka dengan berat hati menyerahkan kaumnya yang kafir kepada Allah karena sudah tidak bisa diubah lagi. Para rasul tersebut ditolak termasuk oleh anak dan istri mereka. Nabi Nuh as bahkan sampai berdakwah ratusan tahun dan hanya berhasil mengajak beriman 13 atau 40 org saja. Di ayat lain, disebutkan juga:

(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (An Nisaa’ 4:165)

Di ayat lain, disebutkan bahwa seluruh umat manusia sudah melakukan perjanjian dengan Allah ketika mereka masih di alam ruh, yakni mengakui adanya Tuhan yang Maha Esa dan yang Maha Mencipta dan berjanji menaatiNya sebagai tanda pengabdian hamba kepada Tuhannya:

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:,“Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”
atau agar kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?” (Al A’raaf 7:172-173)

Perjanjian ini menunjukkan bahwa setiap orang dibekali bibit iman yang sama, yakni hati nurani yang mengakui secara spontan keberadaan Tuhan yang Maha Esa yang Menciptakan dirinya. Siapa pun diberi bekal bibit iman yang sama, walaupun orangtua dan nenek moyangnya termasuk org yang sesat, atau dg kata lain, agar setiap manusia mendapatkan kesempatan yang sama mengenal Tuhannya. Fitrah dlm bentuk bibit iman yang mengakui Tuhan yang Esa (tauhid) ini disinggung juga di ayat lain sebagai berikut:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (Ar Ruum 30:30)

Juga di dalam hadits berikut:

Setiap anak terlahir dlm kondisi fitrah, maka kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi, sebagaimana halnya seekor binatang dilahirkan secara sempurna, maka adakah kalian menemukan kekurangan pada penciptaanNya? (HR Bukhari dan Muslim)

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Aku menciptakan hambaKu dlm keadaan suci dan lurus, lalu datanglah syetan, kemudian dia memalingkan mereka dari agama mereka, dan mengharamkan mereka apa yang telah Aku halalkan” (HR Muslim)

Hikmah kisah para rasul ini kemudian ditutup dengan pernyataan bahwa semua kisah tersebut akan menjadi pelajaran yang menggugah jiwa bagi mereka yang meyakini hari Akhir dan takut akan azab Akhirat, karena kerasnya azab Akhirat yang berlipat-libat daripada azab dunia (103).

Balasan Amal di Akhirat

Allah menerangkan akan kepastian datangnya hari kiamat (104). Di hari itu, semua terdiam, tidak ada yang bicara kecuali atas izinNya.

Yang menguasai di Hari Pembalasan (Al Fatihah 1:4)

Diceritakan pula, manusia ada yang celaka karena catatan amalnya yang nihil / sia-sia, dan ada pula yang berbahagia karena investasi amal kebaikannya di dunia dan bagi sebagian umat yang menerima syafaat oleh Rasulullah SAW (105). Di ayat lain, digambarkan kontras mereka yang celaka dan berbahagia ini sbb:

Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. (Al Furqaan 25:23)

Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya (An Nuur 24:39)

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri (Faathir 35:29-30)

Bagi orang yang celaka akan ditempatkan di dalam neraka (106-107), dan yang berbahagia akan ditempatkan di surga (108). Allah kemudian menegaskan bahwa Dia akan memenuhi azab yang berhak diterima oleh orang-orang kafir secara sempurna, tanpa dikurangi sedikit pun, sesuai dengan dosa yang mereka lakukan (109).

Adab Menghadapi Perselisihan di dalam Agama

Allah mengisahkan perselisihan (khilafiah) di antara kaum Musa (Bani Israil) terhadap tafsiran ayat-ayat Taurat sepeninggal Musa as. Dikatakan, penafsiran tersebut ada yang benar dan ada yang sesat, serta perbedaan-perbedaan tsb membuat mereka gelisah dan ragu-ragu (110). Allah kemudian menenangkan mereka yang dalam keraguan ini dengan menjamin bahwa setiap golongan akan disempurnakan balasan amalnya, walaupun mereka berbeda-beda (111), selama mereka:

  1. Istiqamah terus mencari kebenaran, dan menjalani yang diyakininya paling benar dengan sebaik-baiknya, dengan berpedoman dari ayat-ayat Allah, petunjuk Rasul dan belajar dari orang-orang yang bertaubat (atas semangat/ghirah mereka dlm beribadah dan mencari kebenaran) (112).
  2. Tidak melampaui batas. Menghindari berlebih-lebihan dalam beragama, tetapi juga tidak menganggap enteng ayat-ayat Allah dan petunjuk Rasul (112)
  3. Menjauhi mengikuti pendapat dan pola pikir orang-orang yang sudah jelas zalim dan sesatnya dalam menafsirkan ayat-ayat Allah (113)
  4. Istiqamah dan taat mendirikan sholat dan amal-amal ibadah lain karena amal ibadah tersebut dapat menghapus dosa akibat perselisihan khilafiyah tsb (114)
  5. Bersabar, tidak putus asa dan istiqamah melaksanakan ketaatan karena Allah Maha Mensyukuri, Dia tidak akan menyia-nyiakan amal hambaNya sekecil apa pun; meyakini semua amal pasti mendapatkan balasanNya (115).

Semoga Allah mengampuni kita atas dosa-dosa kita yang lalu.

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.