Kedurhakaan Iblis

Kedurhakaan Iblis

Kedurhakaan pertama yang dikisahkan oleh Al-Qur'an adalah kedurhakaan iblis, dan rayuan pertama yang ditujukan kepada manusia guna mendurhakai Allah SWT adalah yang dilakukan oleh iblis.

Iblis enggan sujud kepada Adam, padahal ia termasuk yang diperintah Allah untuk sujud. Sujud kepada Adam bukan berarti menyembahnya, tetapi sujud penghormatan atas kelebihan yang dianugerahkan Allah kepada manusia pertama itu:

Sesungguhnya, Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat "Bersujudlah kamu kepada Adam," mereka pun bersujud tetapi iblis (enggan bersujud). Dia tidak termasuk mereka yang bersujud (Al-A'raf 7:11)

Allah Yang Maha Mengetahui "bertanya" kepada iblis:

"Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) saat Aku menyuruhmu?" Ia menjawab, "Aku lebih baik daripadanya; Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah" (Al-A'raf 7:12)

Kita berhenti sejenak mendengar pendapat ulama tentang "pertanyaan" Allah dan jawaban iblis di atas. Pertama, mengapa iblis sedemikian berani menolak perintah Allah ini? Bukankah ia mengaku, sebagaimana ia tegaskan dan dibenarkan oleh Al-Qur'an bahwa

Sesungguhnya, aku takut kepada Allah dan Allah sangat pedih siksaNya (Al-Anfal 8:48)

Kalau demikian, apa yang menjadikan ketakutannya itu sirna, sampai-sampai bukan saja menolak sujud, tetapi tetap bertekad dan membangkang? Bahkan, ia dan anak cucunya bersikeras untuk terus-menerus durhaka kepada Allah. Apakah ia meremehkan siksa Allah?

Jelas tidak! Bukankah ia sendiri telah mengakui, "Allah sangat pedih siksaNya" (Al-Anfal 8:48).

Agaknya, yang menjadikan iblis demikian berani adalah keangkuhannya. Seorang yang angkuh akan terdorong untuk melakukan dosa pada saat ia diminta melakukan kebaikan. Ada saja makhluk yang nekat, walau telah mengetahui bahaya yang menantinya. Kenekatan itu dilahirkan oleh keangkuhan.

Apabila dikatakan kepadanya, "Bertakwalah kepada Allah!" Bangkitlah keangkuhannya yang menyebabkan ia berbuat dosa. Maka, cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh, neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya (Al-Baqarah 2:206)

Jadi, iblis memilih berbuat dosa dan menolak sujud kepada Adam karena kesombongannya, walaupun sebenarnya ia mengenal dan takut kepada Tuhan. Selanjutnya, ia melawan dan melawan walaupun ia sadar bahwa ia akan celaka, juga karena kesombongannya. Iblis yang jiwanya dipenuhi oleh keangkuhan itu lupa diri ketika membangkang dan lupa diri pula ketika bersikeras dalam kedurhakaan. Ia tidak peduli apa pun yang terjadi. Kalau ia harus celaka, biarlah ia celaka, dan akan sangat puas hatinya kalau kecelakaan yang sama menimpa pula musuhnya. Itulah logika iblis dan setan, dan dari sini dapat dipahami mengapa ia terus-menerus berusaha untuk menjerumuskan manusia.

Selanjutnya, iblis menolak perintah sujud dengan menggunakan nalarnya untuk membangkang perintah Allah SWT. Di sana, ia menilai Allah keliru dengan perintahNya itu. Sesungguhnya, iblis telah menempuh jalan yang sesat karena nalar tidak dapat digunakan untuk mengubah atau membatalkan perintah Allah yang jelas lagi terperinci:

Allah mengetahui dan kamu tidak mengetahui (Al-Baqarah 2:216)

Di sisi lain, iblis menolak sujud bukan dengan alasan bahwa sujud kepada Adam adalah syirik, seperti dugaan sementara orang yang sangat dangkal pemahamannya. Keengganan sujud lahir dari keangkuhan yang menjadikannya menduga bahwa ia lebih baik daripada Adam:

"Aku lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah."

Demikian jawabannya ketika ditanya mengapa ia tidak sujud.

"Apakah pantas saya sujud kepada apa yang Engkau ciptakan dari tanah?" (Al-Isra' 17:61).

Begitu dilukiskan jawabannya yang lain. Alhasil, dalam logika iblis, tidak wajar yang lebih baik unsur kejadiannya bersujud kepada yang lebih rendah unsur kejadiannya. Dugaan iblis bahwa ia lebih mulia atau lebih baik daripada Adam, karena ia diciptakan dari api, sedangkan Adam dari tanah, sekali-kali tidak benar. Banyak uraian — dari kacamata nalar manusia — yang membuktikan kekeliruan tersebut, antara lain:

  1. Api sifatnya membakar dan memusnahkan, berbeda dengan tanah yang sifatnya mengembangkan dan menjadi sumber rezeki;
  2. Api sifatnya berkobar, tidak mantap, sangat mudah diombang-ambingkan oleh angin, berbeda dengan tanah yang sifatnya mantap, tidak berubah lagi tenang;
  3. Tanah dibutuhkan oleh manusia dan binatang, sedangkan api tidak dibutuhkan oleh binatang bahkan manusia pun dapat hidup sekian lama tanpa api;
  4. Api, walaupun ada manfaatnya, bahayanya pun tidak kecil. Bahayanya hanya dapat diatasi dengan mengurangi atau memadamkannya. Berbeda dengan tanah. Kegunaannya terdapat pada dirinya dan tanpa bahaya, bahkan semakin digali semakin tampak manfaat dan gunanya;
  5. Api dapat padam oleh tanah, sedangkan tanah tidak binasa oleh api. Api berfungsi sebagai pembantu. Bila dibutuhkan, ia dipanggil/ dinyalakan dan bila tidak, ia diusir/dipadamkan;
  6. Di dalam dan pada tanah terdapat sekian banyak hal yang bermanfaat, seperti barang tambang, sungai, mata air, pemandangan indah, dan sebagainya. Tidak demikian dengan api;
  7. Allah banyak menyebut tanah dalam kitab suciNya dalam konteks yang positif, sedangkan api tidak banyak disebut, dan kalau pun disebut, umumnya dalam konteks negatif.

Deretan dalil dan argumentasi tentang kekeliruan logika iblis dapat ditambah atau apa yang dikemukakan di atas dapat juga disanggah oleh putra-putri Adam. Namun demikian, perlu digarisbawahi bahwa, seandainya pun unsur api lebih mulia daripada unsur tanah, keunggulan dan kemuliaan iblis tidak serta-merta terbukti karena keunggulan dan kemuliaan di sisi Allah bukan ditentukan oleh unsur sesuatu, tetapi oleh kedekatan dan pengabdiannya kepada Allah.

Syaikh 'Abdul Halim Mahmud (1910-1978), Syaikh al-Azhar (1973-1978), di dalam bukunya, al-Islam wa al-'Aql (Islam dan Nalar), beliau menyebutkan bahwa iblis dikecam dan dikutuk Allah bukan saja karena ia enggan sujud, melainkan juga karena ia enggan sujud pada saat diperintah:

"Apa yang menghalangimu sujud saat engkau Ku-perintah?" (Al-A'raf 7:12)

Ini — tulis beliau — dipahami dari kata idz yang digunakan Allah ketika bertanya (yang penulis terjemahkan di atas dengan saat). Ia tetap dikecam — lanjutnya — walau seandainya beberapa saat kemudian ia sujud karena ketika itu ia menangguhkan pelaksanaan perintah Allah, padahal ia mampu melaksanakannya saat ia diperintah. Iblis saat diperintah itu tidak langsung menerima, tetapi mempertimbangkan apakah ia laksanakan perintahNya atau tidak. Ia pertimbangkan apakah perintah itu sesuai dengan nalarnya atau tidak, apakah sejalan dengan keinginannya atau tidak. Penundaan itu — walau kemudian dilaksanakan — tidak menunjukkan penyerahan diri secara mutlak kepada Allah, padahal keberagamaan adalah istislam (penyerahan diri secara penuh kepada Allah). Agama atau perintah perintah Allah tidak diturunkan atau ditetapkanNya untuk dipertimbangkan oleh manusia apakah dikerjakan atau dipercaya, yang sesuai dengan nalar atau ditolak. Tidak! Sesungguhnya, agama itu berisi perintah dan laranganNya, ditetapkan untuk dipercaya dan dilaksanakan, sebagaimana yang diperintahkan olehNya, baik dipahami maupun tidak.

Kalau memperhatikan keseluruhan redaksi ayat yang menginformasikan keengganan iblis, ditemukan pula di sana sikap malaikat yang menggambarkan makna ketundukan kepada Allah. Perhatikanlah firmanNya:

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, "Sujudlah kamu kepada Adam maka mereka sujud tetapi iblis enggan dan angkuh" (Al-Baqarah 2:34)

Kata fa yang digunakan ayat tersebut dan yang bermakna maka, mengandung makna kesegeraan dan dengan demikian, ayat tersebut menginformasikan bahwa para malaikat yang diperintah itu bersegera sujud, tidak menunda-nunda untuk berpikir apakah perintah Allah itu mereka laksanakan atau tidak. Demikian sikap keberagamaan yang terpuji.[1]

Bahwa setelah menerima dan melaksanakannya, perintah atau larangan Allah kemudian dibahas, dipelajari, dan dicari hikmah juga rahasianya bukanlah hal yang terlarang. Ketika itu, kalau ditemukan jawaban yang memuaskan, itulah yang diharapkan, tetapi kalau tidak, hamba Allah yang taat harus berucap sami'na wa atha'na/kami mendengar dan memperkenankan perintah (Mu). Oleh sebab itu, kalau pun alasan iblis secara keseluruhan benar menurut pertimbangan nalar, ia tetap dikecam karena keengganan bersujud menjadikannya tidak lagi taat dan patuh kepada Allah Yang Maha Mengetahui.

Kembali kepada persoalan semula. Allah SWT mengusir iblis dan mengutuknya. Allah berfirman:

"Maka, keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya, kamu adalah makhluk yang terkutuk, sesungguhnya kutukanKu tetap atasmu sampai hari Pembalasan" (Sad 38:77-78)

Sejak itu, kebencian iblis kepada Adam dan anak keturunannya semakin menjadi-jadi. Bahkan, tanpa segan — setelah permohonannya diperkenankan Allah agar diberi kesempatan hidup sampai hari Kebangkitan — ia bersumpah:

"Demi kekuasaan/kemuliaanMu, aku akan menyesatkan mereka semiianya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka" (Sad 38:82-83)

Di tempat lain, Al-Qur'an memerinci sumpah iblis ketika itu, yakni:

"Karena Engkau telah menghukum aku tersesat, aku benar-benar akan duduk (menghalang-halangi) mereka dari jalanMu yang lurus, kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)" (Al-A'raf 7:16-17).

Iblis juga berkata:

"Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka" (Al-Hijr 15:39)

Allah SWT menjawabnya:

"Sesungguhnya, hamba-hambaKu tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat" (Al-Hijr 15:42)

Di sini letak kesalahan iblis selanjutnya. Ia tidak seperti Adam yang menyadari kesalahannya dan memohon ampun. Ia durhaka dan membangkang, bahkan bertekad untuk terus menggoda manusia. Allah membiarkan iblis menghadapi hamba-hambaNya:

"Hasutlah siapa yang kamu sanggup (untuk menghadangnya) di antara mereka dengan suaramu (ajakanmu), dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan belaka" (Al-Isra' 17:64)

Dalam salah satu hadits diriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda:

Sesungguhnya, setan berkata kepada Tuhan Yang Maha Mulia, "Demi kemuliaan dan keagunganMu, saya terus-menerus akan menggoda hamba-hambaMu selama nyawa mereka masih dikandung badan mereka." Allah SWT berfirman, "Demi kemuliaan dan keagunganKu, Aku terus-menerus akan mengampuni mereka selama mereka memohon ampun kepadaKu" (HR. Ahmad dan al-Hakim)

Demikian kesimpulan kisah kedurhakaan iblis yang diuraikan Al-Qur'an.

Sementara ulama tafsir membahas kisah di atas, misalnya dengan mempertanyakan apakah dialog yang dikisahkan Al-Qur'an di atas benar-benar terjadi? Atau itu hanya kisah simbolis?

Kisah kejadian manusia, dialog Allah dengan malaikat dan sujud mereka kepada Adam, demikian juga dialogNya dengan jin serta keengganan iblis sujud, semuanya tidak pernah terjadi dalam dunia nyata. Demikian pandangan sekelompok ulama. Pernyataan Allah kepada malaikat tentang rencanaNya menciptakan Adam bermakna kesiapan dunia ini untuk dihuni manusia setelah sekian lama berproses dari penciptaannya. Sujudnya malaikat kepada Adam adalah lambang kemampuan manusia menundukkan atau lebih tepat memanfaatkan hukum-hukum alam untuk kepentingannya, atau lambang kesediaan malaikat memberi bimbingan ke hati manusia dan memeliharanya sesuai perintah Allah. Iblis adalah simbol kejahatan, sedangkan keengganannya sujud merupakan pertanda bahwa kejahatan tidak mungkin akan sirna sama sekali, dan bahwa manusia harus terus-menerus berjuang menghadapi kejahatan. Sekali lagi, iblis, jin, dan malaikat dalam kisah ini, menurut penganut aliran metafora, tidak lain dari simbol-simbol.

Pandangan pihak lain tidak perlu diuraikan karena cukup jelas kiranya setelah uraian-uraian yang lalu. Alhasil, bukan metafora, tapi memang benar-benar pernah terjadi. Kapan dan bagaimana, tidak harus diketahui karena Al-Qur'an tidak menjelaskannya dan tidak banyak pula manfaat mengetahuinya. Bukan hanya kisah ini, hampir seluruh kisah Al-Qur'an tidak menyebut waktu kejadian atau tempatnya. Begitulah ulama yang berhati-hati menanggapi dialog tersebut. Menurut mereka, tanpa harus mengetahui pohon apa yang terlarang didekati atau dicicipi oleh Adam dan Hawa, dapat disimpulkan bahwa kisah tersebut bermaksud menonjolkan dampak dari pelanggaran serta akibat-akibatnya. Salah satu dampaknya adalah adanya kewajiban dan tanggung jawab yang harus mereka penuhi. Sebelum melanggar, mereka hidup tenang di surga dengan sandang, papan, dan pangan yang sangat cukup:

"Sesungguhnya, kamu tidak akan kelaparan di dalamnya (surga) dan tidak akan telanjang, dan sesungguhnya kamu juga tidak akan merasa dahaga dan tidak (juga) akan ditimpa panas matahari" (Thaha 20:118-119).

Tetapi, sejak mereka mencicipi buah pohon tersebut, mereka harus bersusah payah memikul tanggung jawab menutup aurat (kekurangan) serta berhadapan secara langsung dengan musuh yang amat gigih. Tanpa harus mengetahui kapan, di mana, dan bagaimana terjadinya peristiwa tersebut, yang penting adalah menyadari ada musuh yang selalu mengintai guna mengadang manusia berjalan menuju Allah SWT.

Anda juga boleh berkata bahwa melalui peristiwa itu Allah memberi pelajaran yang sangat berharga kepada Adam dan Hawa. Surga atau tempat yang penuh nikmat, apakah dia surga sebenarnya yang akan dihuni kelak oleh mereka yang taat atau tidak, telah ditunjukkan kepada keduanya, bahkan mereka tinggal beberapa saat di sana. Ini agar mereka menciptakan bayang-bayangnya, di dunia tempat mereka melaksanakan tugas kekhalifahan, agar kenikmatan yang mereka rasakan ketika itu mendorong mereka berupaya untuk kembali ke sana. Memperturutkan rayuan setan yang mengakibatkan mereka meninggalkan surga, memberi pengalaman yang sangat berharga, walaupun pahit, bahwa Adam dan anak cucunya dengan tugas mereka di dunia harus lebih berhati-hati agar tidak terjerumus dalam jurang yang sama. Bila itu terjadi, tidak akan ada lagi kesempatan memperbaiki diri. Tempat berakhir adalah surga atau neraka yang kekal. Mereka harus selalu siaga, apalagi dari empat arah setan menanti: depan dan belakang, kiri dan kanan.

Apa makna keempat arah itu dan mengapa hanya empat arah bukan enam? Jawabannya, kata penganut paham kisah simbolik, adalah karena ketika turunnya Al-Qur'an, musuh menghadapi lawannya hanya dari keempat penjuru itu. Belum ada serangan udara, apalagi dari bawah atau kapal selam. Empat pejuru yang dikenal itu, telah mencakup segala yang dapat dilakukan lawan ketika itu. Jika demikian, itu berarti musuh akan menyerang dari segala arah yang memungkinkan, dan tidak ada tempat berlindung.

Atau yang dimaksud dengan arah depan adalah kehidupan dunia. Iblis menggoda melalui gemerlap dunia atau mengelabui mereka sehingga mendustakan tanda-tanda kebesaran Allah yang terbentang di dunia ini. Arah belakang adalah akhirat, di mana iblis melengahkan manusia tentang kehidupan akhirat, bahkan mengantar manusia mengingkarinya. Arah kanan adalah kebaikan. Kebaikan yang dilakukan oleh manusia dikotori iblis dengan riya dan pamrih, sedangkan arah kiri adalah keburukan yang selalu diperindah oleh iblis dan setan sehingga manusia menganggap keburukan yang dilakukannya adalah kebaikan.

Menurut pendapat lain, iblis — lebih-lebih anak cucu dan tentara-tentaranya, yakni para setan — tidak dapat mengganggu dari atas atau dari bawah. Ibn 'Abd al-Barr (w. 1071), sejarawan dan ahli hukum dari Andalusia (sekarang Spanyol dan Portugis) mengemukakan satu riwayat yang menyatakan bahwa ketika Nabi merasa bimbang dengan apa yang dilihatnya di gua Hira', apakah itu malaikat atau setan. Waraqah Ibn Naufal[2] yang dikunjunginya untuk berkonsultasi, bertanya kepada Nabi saw, "Dari arah mana engkau melihatnya?" Nabi saw menjawab, "Dari atas." Waraqah, yang banyak tahu itu, menenangkan Nabi sambil berkata: "Itu bukan dari setan karena setan tidak mampu datang dari arah atas." Mengapa setan tidak mampu datang dari atas dan tidak juga dari arah bawah? Hanya Allah yang mengetahui. Demikian pendapat mereka.

Atau boleh juga Anda berkata, arah atas adalah lambang kehadiran Allah SWT, ke sanalah mata hati memandang ketika berdoa, dan arah bawah adalah simbol kesadaran manusia akan kelemahannya di hadapan Allah. Jika Anda dapat menghadirkan Allah dalam diri dan setiap langkah Anda, serta selalu berhubungan denganNya dan bermohon kepadaNya, yakinlah bahwa Anda terbentengi dari rayuan segala macam setan. Jika Anda menyadari kelemahan Anda di hadapanNya, perisai Anda sungguh kukuh menghadapi segala tantangan. Anda juga boleh berkala bahwa ajaran Allah tidak di kiri dan tidak di kanan, tidak juga di muka dan tidak di belakang.

Keempat arah ini sejak semula hingga kini dinilai buruk atau tidak sempurna. Bukankah hingga kini diperkenalkan istilah ekstrem kiri dan ekstrem kanan, progresif (berpandangan maju ke depan), dan konservatif (yang berpandangan kolot ke belakang). Kesemuanya tidak sejalan dengan ciri yang dikehendaki Allah bagi umat Islam, yakni ummatan wasathan/umat pertengahan. Sebagaimana firman Allah:

Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), ummatan wasathan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu (Al-Baqarah 2:143)

Akhirnya, perlu dicatat bahwa apa yang dialami oleh kakek dan nenek manusia itu bukanlah satu kejatuhan, tetapi hanya perpindahan dari satu keadaan ke keadaan yang lain, yakni dari keadaan santai tanpa tanggung jawab ke keadaan yang membutuhkan kerja keras dan tanggung jawab. Itulah sekelumit kisah iblis yang diangkat dari Al-Qur'an dan As-Sunnah.

(Dikutip dari "Yang Halus dan Tak Terlihat: Setan dalam Al-Qur'an" oleh M. Quraish Shihab. Penerbit Lentera Hati. 2010)

Photo credit: ActionVance


  1. Perintah agama yang berkaitan dengan ibadah ritual harus dilaksanakan sebagaimana apa adanya tanpa membahas "mengapa demikian." Tetapi perintah yang berkaitan dengan muamalah, atau tuntunan Allah yang berkaitan dengan interaksi manusia, atau adat istiadat dan kehidupan duniawi, maka harus dicari latar belakangnya. Ini karena ibadah ritual tidak terjangkau oleh nalar, hakikatnya berbeda dengan hubungan antarmanusia. Hukum yang ditetapkan dalam hal ini berkaitan dengan latar belakang dan 'illat-nya yang dapat berubahubah sesuai situasi dan kondisi suatu masyarakat. ↩︎

  2. Waraqah adalah seorang yang banyak tahu tentang agama-agama pada masa Jahiliyah. Ia adalah anak paman Khadijah, istri Nabi (W. sekitar 611 M). ↩︎