Kelemahan Manusia

Kelemahan Manusia

Kelemahan manusia merupakan lahan yang sangat subur bagi setan untuk mencapai tujuannya. Jika sarana yang digunakannya menemukan lahan tersebut, tidak diragukan lagi setan akan berhasil. Memang, manusia dipuji Allah dalam berbagai ayat, misalnya, bahwa mereka diciptakan dalam bentuk fisik dan psikis yang sempurna. Malaikat diperintahkan sujud kepada manusia karena potensi positif yang dimilikinya. Tetapi, pada saat yang sama, manusia juga dikecam Allah karena memiliki berbagai kelemahan, seperti angkuh, tergesa-gesa, banyak membantah, suka berkeluh-kesah, melampaui batas bila merasa memiliki kelebihan, dan masih banyak selain itu. Berbagai kelemahan tersebut dipergunakan setan untuk mencapai berbagai tujuannya.

Berikut akan diuraikan beberapa di antara kelemahan manusia.

1. Ghurur/Congkak

Manusia sering kali tertipu oleh dirinya sendiri. Kondisi dan situasi yang dialaminya sering kali mengantar mereka menduga berbagai dugaan positif atau negatif, padahal dugaan tersebut bukan pada tempatnya. Gemerlap duniawi, baik berupa harta, anak, maupun tingginya kedudukan adalah berbagai faktor yang mengakibatkan ghurur. Karena itu, al-Qur'an mengingatkan:

Janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdaya kamu, dan janganlah sekali-kali setan memperdaya kamu (Luqman 31:33)

Al-Qur'an menguraikan sekian banyak kisah orang bahkan kelompok yang ditimpa kelemahan ini. Abu Jahl — yang merasa dirinya mampu — menyatakan, "Apakah Muhammad tidak mengetahui bahwa tidak seorang pun yang lebih banyak pendukungnya daripada saya?” Sikap Abu Jahl inilah yang didorong setan untuk mengobarkan Perang Badar.[1] Di dalam al-Our'an, tertulis tentang dia dan kelompoknya yang mendengar bisikan setan dengan berkata,

Tidak ada satu pun yang dapat mengalahkan kamu hari ini dan sesungguhnya saya adalah pelindungmu (al-Anfal 8:48)

Tidak disadari pula bahwa bisikan setan seperti itu menimpa sebagian sahabat Nabi pada saat Perang Hunain.[2] Ketika itu, mereka yang ditimpa oleh ghurur berkata, “Hari ini kita tidak akan kalah karena jumlah kita banyak.” Ini jelas merupakan bisikan setan karena kekalahan atau kemenangan bukan ditentukan oleh jumlah personel, tetapi ditentukan oleh Allah swt. dengan menyatakan:

Sesungguhnya, Allah telah menolong kamu (hai para mukmin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun. Bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai (at-Taubah 9: 25)

Manusia hendaknya membersihkan jiwa dari sifat ini. Allah berfirman dalam bentuk pertanyaan yang mengandung kecaman serta larangan:

Hai manusia, apakah yang telah memperdaya kamu (berbuat durhaka/congkak) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah?” (al-Infithar 82:6).

2. Iri Hati

Iri hati merupakan salah satu kelemahan manusia. Ini merupakan pintu masuk setan yang amat lapang, serta lahan yang amat subur baginya. Pembunuhan pertama yang terjadi antara anak-anak Adam justru disebabkan oleh kelemahan ini:

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima oleh salah seorang dari mereka (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia (Qdbil) berkata, "Aku pasti membunuhmu!" Berkata Habil, "Sesungguhnya, Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa" (al-Ma’idah 5:27)

Penderitaan Nabi Yusuf as. yang dilukiskan dalam al-Qur’an juga bersumber dari iri hati saudara-saudaranya:

Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah yang tidak dikenal. Begitulah bisikan nafsu mereka dikukuhkan oleh setan sehingga Yusuf as. dijerumuskan ke dalam sebuah sumur tua (Yusuf 12:9-10)

Ibn al-Jauzi dalam bukunya, Tablis Iblis, mengemukakan satu riwayat yang agaknya merupakan kisah simbolis. Ketika Nabi Nuh as. berada di atas perahu saat terjadinya banjir besar, beliau melihat seorang tua yang tidak dikenal atau tidak pernah dilihat sebelumnya. Ketika Nuh as. bertanya siapa dia, orang itu menjawab, “Saya Iblis.” “Mengapa engkau menumpang bersama kami?” Dia menjawab, “Agar aku menarik hati putra putri Adam sehingga hati mereka bersamaku dan badan mereka bersama engkau.” Nabi Nuh kembali bertanya, “Apakah yang dilakukan putra putri Adam sehingga engkau mampu menguasai mereka?” Iblis menjawab, “Ada lima hal. Akan kuberitahu padamu tiga dan dua kurahasiakan.” Nabi Nuh mendapat wahyu untuk mengabaikan yang tiga dan bertanya tentang dua yang tersisa. Maka, Iblis berkata, “Yang dua adalah iri hati dan tamak.” Demikian, iri hati merupakan salah satu lahan subur bagi setan karena itu, sebagaimana Allah mengajarkan, manusia memohon perlindungan-Nya dari gangguan setan, jin, dan manusia. Dia juga menganjurkan hal yang sama dari gangguan mereka yang iri hati (al-Falaq 113: 5).

3. Tamak

Keinginan yang menggebu untuk memperoleh sesuatu yang tidak wajar atau secara tidak wajar adalah ketamakan. Ukurlah kemampuan Anda, kemudian berkeinginan dan berusahalah meraihnya. Ketahuilah batasan kemampuan Anda, dan jangan melampaui batas itu. Terimalah apa yang dianugerahkan Allah dan syukurilah anugerah itu. Demikianlah sekelumit nasihat orang arif kepada yang memiliki kecenderungan tamak.

Harus diakui bahwa keinginan menggebu meraih sesuatu yang disukai merupakan sifat manusia. Nabi Muhammad saw. pun demikian. Beliau ingin agar seluruh manusia beriman, sampai-sampai Allah “kasihan” kepadanya.

Engkau akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman terhadap keterangan ini (al-Kahf 18:6)

Kata la'allaka yang digunakan ayat di atas mengandung makna belas kasih dan tidak tepat diartikan boleh jadi atau mudah-mudahan. Bagi Allah, tidak ada sesuatu yang boleh jadi, apalagi mudah-mudahan. Keinginan Rasul saw. yang sedemikian menggebu mengundang banyak ayat al-Qur’an mengingatkan beliau hanya bertugas untuk menyampaikan ajaran, bukan menjadikan mereka beriman:

Engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada siapa yang engkau cintai, tetapi Allah yang memberi petunjuk siapa yang dikehendaki-Nya (al-Qashash 28: 56)

Nabi Musa as., boleh jadi, terdorong oleh cintanya yang menggebu kepada Allah, atau keinginannya untuk mengenal Allah lebih dekat, kemudian bermohon agar dapat melihat Allah:

Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke gunung itu, maka jika ia tetap di tempatnya (seperti sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka, setelah Musa sadar kembali, dia berkata, "Mahasuci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman" (al-A'raf 7:143).

Selanjutnya, Allah menuntut Nabi Musa as. agar mensyukuri nikmat-Nya.

Hai Musa, sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dari manusia yang lain untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur (al-A'raf 7:144).

Keinginan nafsu yang melampaui batas merupakan pintu masuk setan ke hati Adam dan Hawa. Camkan kembali kisah mereka! Bukankah keinginan mereka untuk kekal di surga dimanfaatkan oleh setan dengan membisikkan:

Maukah engkau kutunjukkan pohon kekekalan dan kerajaan yang tidak punah? (Thaha 20:120).

Adam teperdaya dan lupa. Sejak semula, Allah telah menetapkan bahwa manusia ditugaskan untuk menjadi khalifah di bumi, bukan hidup kekal tanpa melalui kehidupan duniawi. Tetapi, demikianlah setan menjadikan Adam lupa diri akibat keinginan yang melampaui batas itu:

Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat (Thaha 20:115)

4. Keangkuhan

Keangkuhan adalah keengganan untuk menerima kebenaran setelah mengetahuinya serta menutup mata menyangkut hak orang lain. Jiwa manusia diliputi oleh sifat ini, pada saat ia merasa memiliki kelebihan.

Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas karena dia melihat dirinya serbacukup (al-‘Alaq 93:6-7).

Keangkuhan yang paling besar adalah tidak menerima kebenaran mutlak La Ilaha illa Allah. Al-Qur’an melukiskan sebagian kaum musyrik dengan firman-Nya:

Sesungguhnya apabila dikatakan kepada mereka dahulu, "La Ilaha illa Allah/Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah" mereka menyombongkan diri (ash-Shaffat 37:35)

Dengan redaksi berbeda, al-Qur'an menyatakan:

Apabila dikatakan kepadanya, "Bertakwalah kepada Allah! Bangkitlah kesombongan yang menyebabkan ia berbuat dosa. Maka, cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya (al-Baqarah 2:206)

Mereka itulah yang telah dikuasai setan. Setan memang sering kali memasang jeratannya di sini. Ia membisikkan kepada manusia suatu sikap atau tindakan tidak terpuji, katakanlah marah atau memaki, dengan alasan orang yang dimarahi atau dimaki tidak menghargai kedudukannya yang tinggi yang diciptakan oleh sifat keangkuhan.

5. Pertengkaran

Keinginan yang menggebu untuk meyakinkan pihak lain sering kali mengantar kepada pertengkaran. Manusia yang lemah cenderung memiliki sifat demikian:

Manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah (al-Kahf 18:58).

Di tempat lain, Allah berfirman:

Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap setan yang sangat jahat. Yang telah ditetapkan terhadap setan itu adalah barang siapa yang berkawan dengan dia, tentu dia akan menyesat-kannya dan membawanya ke azab neraka” (al-Hajj 22:3-4.

Demikian sifat manusia yang lemah, dan itu pula sarana setan mencapai tujuannya. Salah satu tujuan setan, sebagaimana ditegaskan al-Qur’an, adalah:

Menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu. Ini dicapainya antara lain melalui pertengkaran yang disuburkan oleh minuman keras dan perjudian” (al-Ma’idah 5:91)

Al-Qur’an tidak melarang diskusi walaupun sampai terjadi perbedaan pendapat mengenai agama. Yang dilarang adalah diskusi yang mengantar kepada pertengkaran. Karena itu, Allah berpesan:

Janganlah kamu berdebat dengan Ahl al-Kitab (orang Yahudi dan Nasrani), melainkan dengan cara yang paling baik (al-Ankabut 29:46)

Sekali lagi, Allah melarang diskusi tanpa disertai oleh pijakan yang kuat, ilmu pengetahuan, atau petunjuk Ilahi:

Di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya, dengan memalingkan lambungnya untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah (al-Hajj 22:8-9)

6. Amarah

Luapan hati akibat sesuatu yang tidak berkenan mengundang lahirnya amarah. Itu adalah api di dalam dada manusia. Kobarannya akan menjadi-jadi jika ada yang meniupnya, lebih-lebih kalau menyirami dengan bensin. Imam Ghazali melukiskan amarah bagai darah yang mendidih di dalam dada dan menghasilkan “asap” hitam yang menyembur ke otak serta menguasai pusat pikiran manusia. Bahkan, boleh jadi, memengaruhi jasmani sehingga menutup mata dan menghitamkan pandangan. Manusia yang mengalami hal tersebut akan terlihat gemetar, air mukanya berubah, ucapannya tidak teratur, dan gerak-geriknya tidak menentu. Akalnya ketika itu bagaikan gua yang terbakar. Api amarah yang tidak terkendali ini dapat membakar hati sehingga yang bersangkutan dapat meninggal dunia. Al-Qur’an menyatakan kepada musuh-musuh Islam:

Matilah kalian disebabkan oleh kemarahan kalian (Ali Tmran 3:119)

Ada amarah yang dibenarkan agama, yaitu yang bertujuan untuk meluruskan kesalahan dan mencegah yang mungkar. Ini — jika terkendali dan berada pada tempatnya — merupakan sesuatu yang dibenarkan. Tetapi, ada juga yang sebaliknya, dan inilah yang dinantikan setan. Setan paling mampu menguasai manusia pada saat amarahnya. Saat itu, ia menciptakan situasi yang menjadikan manusia tidak menyadari ucapan dan perbuatannya sampai-sampai seseorang dapat mencampakkan sesuatu yang “berharga” dari genggaman tangannya. Dengarkan apa yang dikisahkan al-Qur’an tentang Nabi Musa as. yang jiwanya dikuasai oleh amarah, walaupun amarahnya ketika itu disebabkan oleh kedurhakaan kaumnya dan ketidaktegasan atau kelemahlembutan Nabi Harun as. yang membantunya dalam dakwah:

Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati, berkatalah dia, "Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu?" Musa pun melemparkan luh-luh (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun), sambil menarik ke arahnya. Harun berkata, "Hai, anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim” (al-A'raf 7:150)

Nabi Yunus as. pun demikian. Al-Qur'an menceritakan amarahnya terhadap sekelompok Bani Isra’il yang enggan taat sehingga dia meninggalkan tugas menuju ke laut:

Dia menduga bahwa Kami tidak akan memberi sanksi atas amarahnya (al-Anbiya' 13:87)

Nabi Muhammad saw. diingatkan oleh Allah:

Janganlah engkau menjadi seperti (Nabi Yunus) yang ditelan oleh ikan besar (al-Qalam 68:47)

Itulah sanksi yang diterima Nabi Yunus karena meninggalkan tugas dakwah atas dorongan amarah. Dampak buruk amarah mengantar Nabi saw. berpesan kepada seorang yang datang meminta nasihatnya. Sabda beliau: “Jangan marah!” (HR. Bukhari melalui Abu Hurairah).

Jika seseorang merasa ada sesuatu yang mengajaknya untuk marah, al-Qur'an dan sunnah mengajarkan agar memohon perlindungan Allah dari setan karena setanlah yang mengipasi dan menuangkan bensin untuk menciptakan api di dalam kalbu. Juga dianjurkan untuk diam, bahkan meninggalkan tempat, atau paling tidak jika ia berdiri maka hedaklah ia duduk, dan kalau amarah masih juga mendesak maka sebaiknya ia berbaring. Nab saw. bersabda:

Kalau salah seorang di antara kamu marah sedang ketika itu dia berdiri, hendaklah dia duduk, kalau amarahnya telah reda (maka syukurlah dan kalau belum) hendaklah ia berbaring (HR. Abu Dawud dan Ibn Hibban)

7. Keterbatasan Pengetahuan

Keterbatasan pengetahuan merupakan kelemahan manusia yang lain, sekaligus merupakan pintu masuk setan. Karena itu, setan membisikkan kepada manusia keengganan untuk menuntut ilmu, antara lain dengan menanamkan rasa malu bagi yang bodoh untuk bertanya, bagi yang tua untuk belajar, dan bagi remaja serta orang dewasa dengan mengalihkan mereka kepada kegiatan yang tidak bermanfaat. Bahkan, sering kali setan menanamkan rasa serbatahu, dan membisikkan ke dalam hati manusia bahwa ia tidak perlu belajar karena sebenarnya ia telah mengetahui apa yang akan diajarkan.

Bila setan menemukan seorang jahil, ia antara lain akan menaburkan berbagai keraguan dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak mudah ditampik atau dijawab oleh yang bersangkutan. Jangankan orang kebanyakan, para sahabat Rasul pun tidak luput hatinya dari pertanyaan-pertanyaan demikian.

8. Lupa

Manusia dinamai insan antara lain karena dia memiliki sifat lupa. Sungguh banyak manfaat dari sifat ini. Seandainya kita tidak lupa, akan bertumpuk pengalaman-pengalaman pahit yang dapat menghambat kenyamanan pribadi dan hubungan harmonis antarmanusia. Memang, lupa di samping menjadi faktor positif, dapat juga menjadi negatif bila tidak dimanfaatkan manusia sesuai dengan tuntunan Ilahi sehingga menjadi lahan yang sangat subur bagi setan untuk melakukan aktivitasnya. Pemuda yang menemani Nabi Musa as. dalam perjalanannya menuntut ilmu mengaku bahwa setan yang menjadikan ia lupa. Ucapannya yang diabadikan al-Qur'an adalah:

Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidaklah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali setan; ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekaliff (al-Kahf 18:36)

Karena itu pula, al-Qur’an berpesan kepada Nabi:

Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa. Dan katakanlah, "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini” (al-Kahf 18:24).

Dari sini, dapat dipahami mengapa al-Qur’an berkali-kali mengingatkan manusia agar banyak-banyak berzikir mengingat Allah:

Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama Allah), zikir yang sebanyak-banyaknya” (al-Ahzab 33:41)

Demikianlah salah satu dari puluhan ayat yang semakna. Al-Qur’an menegaskan bahwa salah satu faktor ketergelinciran Adam dan Hawa adalah lupa:

Dan sesungguhnya telah kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat” (Thaha 20:115).

Ayat ini, di samping menjelaskan faktor lupa, juga mengisyaratkan penyebabnya, yaitu “Kami tidak dapati padanya kemauan kuat.” Tekad untuk terus-menerus mengingat permusuhan dan kelihaian setan itulah yang dapat membentengi manusia dari pemanfaatan setan terhadap kelemahan manusia ini.

Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik, (al-Hasyr 59:19)

Kalau ini terjadi maka:

Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan setan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan setan itulah golongan yang merugi (al-Mujadalah 58:19)

Demikian setan pada akhirnya memanfaatkan sifat lupa untuk menundukkan manusia.

9. Ketergesaan

Ketergesaan merupakan salah satu kelemahan manusia yang digarisbawahi al-Qur’an:

Manusia berdoa untuk kejahatan (kebinasaan) sebagaimana ia berdoa untuk kebaikan (al-Isra’ 17:11).

Dan manusia itu bersifat tergesa-gesa. Karena sifat tersebut, ia berdoa sebagaimana dikemukakan ayat di atas. Dalam keadaan marah, sedih, atau ketika ditimpa malapetaka, ada saja manusia yang karena ketidaksabarannya maka ia berdoa untuk kebinasaan dirinya, sebagaimana dalam keadaan normal ia berdoa untuk meraih kebahagiaan.

Ketergesa-gesaan berbeda dengan gerak cepat. Ketergesaan sering kali disebabkan seseorang tidak memikirkan atau kurang memperhitungkan akibat suatu tindakan sehingga hal tersebut bisa mengantar manusia melakukan kewajibannya dengan asal jadi, bahkan mengantar seseorang mengambil jalan pintas yang bertentangan dengan ketentuan dan hukum. Tentu saja, ini bukan berarti bahwa Allah swt. menganjurkan manusia untuk lambat menunda pekerjaan hari ini ke esok hari, tetapi yang dimaksudkan adalah larangan melakukan suatu pekerjaan dengan tergesa-gesa sehingga

tidak memenuhi ketentuan, atau mengambil kesempatan dalam kesempitan. Ada orang yang memelihara anak yatim dan bergegas menghabiskan harta mereka sebelum mereka dewasa karena jika mereka telah dewasa si pemelihara berkewajiban menyerahkan harta itu kepada anak yang tadinya yatim sehingga ia tidak berkesempatan atau berwenang lagi untuk menggunakannya. Ini dilarang Allah:

Janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu). Dan barang siapa miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang p atut,f (an-Nisa' 4:6)

Alangkah banyaknya dosa dan pelanggaran yang dilakukan manusia akibat dari ketergesa-gesaan. Apa yang dikemukakan di atas merupakan salah satu contoh dari upaya setan menipu manusia. Karena itu, Nabi bersabda:

Tidak tergesa-gesa/berpikir matang bersumber dari Allah dan ketergesa-gesaan bersumber dari setan (HR. al-Baihaqi)

Namun, hati-hatilah jangan sampai setan mem-perdaya sehingga menguburkan tekad Anda, atau menggambarkan sikap menunda-nunda sebagai bentuk tawakal (berserah diri) kepada-Nya. Jangan sampai pula ia mencabut dari jiwa Anda sikap kehati-hatian yang melahirkan keengganan bertindak dengan mengandalkan takdir. Menjadi kewajiban setiap yang arif bijaksana untuk selalu merujuk ke “tempat tujuan", menjadikan secara serius sarana dan faktor sebab-akibat segala sesuatu, agar dapat digunakannya mencapai tujuan yang ditetapkan. Para cendekiawan itu tidak terpuji, kecuali karena kemahiran mereka menelaah dan memastikan proses pencapaian sesuatu serta memprediksi akibat dan dampak-dampaknya. Kemahiran inilah yang membedakan peringkat kecendekiawanan yang satu dan lainnya. Kalau baru mengetahui akibat dan dampak sesuatu pada saat terjadinya, ketika itu yang cendekia sama saja dengan yang bodoh. Demikian al-Jahizh (775-867), salah seorang sastrawan Arab terkemuka, memberi nasihat seorang Hakim Agung pada masanya.

Sering kali untuk melangkah Anda membutuhkan keberanian. Tetapi, tahukah Anda apa arti keberanian, kehati-hatian, dan kecerobohan? Al-Jahizh menjelaskannya kepada Hakim Agung yang dinasihatinya itu, seperti yang penulis kutipkan berikut ini: Keberanian bukanlah melakukan sesuatu yang jelas akibatnya, tetapi yang akibatnya belum jelas sehingga boleh jadi mengorbankan jiwa dan harta benda. Karena itu, bila Anda hendak membulatkan tekad, sekali-kali janganlah memberanikan diri, kecuali dalam hal yang Anda harapkan manfaatnya pada masa datang lebih besar daripada apa yang Anda korbankan (masa kini) dan hendaknya harapan itu melebihi kecemasan Anda.

Memang, Anda tidak dinamai pemberani apabila menelusuri jalan yang telah terbentang, tidak juga bila melangkah tak tahu akibat. Yang terakhir ini adalah kecerobohan. Anda berani jika melangkah dengan perhitungan yang teliti, walaupun hasil yang diharapkan belum sepenuhnya pasti. Dan yang pasti adalah bahwa setan menganjurkan agar tergesa-gesa. Demikian. Wallahu a'lam.

Masih banyak kelemahan manusia yang dapat dimanfaatkan setan. Namun, dengan selalu mengingat permusuhannya, semoga kita dapat mengelak dan semoga Allah melindungi kita dari kelemahan-kelemahan itu.

(Dikutip dari "Yang Halus dan Tak Terlihat: Setan dalam Al-Qur'an" oleh M. Quraish Shihab. Penerbit Lentera Hati. 2010)

Photo credit: Steven Su


  1. Sebuah tempat antara Mekkah dan Madinah, di mana terjadi peperangan pertama dalam islam pada tahun ke-2 Hijriyah yang dipimpin langsung oleh Nabi bersama 313 orang pasukan menghadapi lebih dari 1.000 orang kaum musyrik dengan persenjataan lengkap. Peperangan ini dimenangkan secara mutlak oleh kaum Muslim. ↩︎

  2. Sebuah lembah yang terletak antara Mekkah dan Tha'if, di jazirah Arabia. Pada tahun ke-8 H terjadi peperangan di sana antara kaum Muslim di bawah pimpinan Nabi saw. melawan suku-suku Hawzan. ↩︎