Semua pihak selalu ingin menampakkan kekuatan serta menyembunyikan kelemahannya kepada lawan. Show of Force adalah salah satu cara menundukkan musuh. Setan pun demikian. Ia membisikkan ke hati manusia tentang kemampuan dan kekuatannya, tetapi sebenarnya tidak semua apa yang dibisikkannya itu benar. Yang teperdaya akan percaya, dan inilah yang menjadikan sementara orang meminta perlindungan kepada jin, seperti ucapan mereka yang diabadikan oleh al-Qur’an:
Ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesulitan (al-Jinn 72:6)
Kelemahan setan cukup banyak. Sebelum mengungkap kelemahan-kelemahannya, yang penulis pahami dari al-Qur’an dan as-Sunnah, perlu dicatat bahwa, jika setan memunyai kekuatan-kekuatan, manusia pun memunyai kekuatan-kekuatan. Kalau setan mampu masuk ke dalam diri manusia dan menjadi qarin/pendampingnya, malaikat pun ada yang menyertai manusia:
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah (ar-Ra'd 13:11).
Bahkan, Allah menurunkan bala tentara, antara lain berupa malaikat-malaikat guna mengukuhkan manusia:
...Bumi yang luas telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai, lalu Allah menurunkan sakinah kepada Rasul dan kepada orang-orang mukmin, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tidak melihatnya (at-Taubah 9:25-26).
Malaikat turun dalam Perang Badar untuk mengukuhkan hati kaum Muslim, bahkan — menurut sementara ulama — para malaikat terlibat langsung dalam peperangan itu:
(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat, "Sesungguhnya, Aku bersama kamu maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman." Kelak, akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir. Maka, penggallah kepada mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka (al-Anfal 8:12).
Perintah memenggal kepala orang-orang kafir, dalam ayat di atas, dipahami oleh sementara pakar tafsir sebagai perintah kepada para malaikat. Pendapat ini mereka kukuhkan dengan beberapa hadits yang diperselisihkan nilainya. Namun, semua sepakat bahwa Allah menurunkan malaikat paling tidak untuk mengukuhkan hati orang-orang beriman menghadapi lawan-lawan mereka: setan jin dan manusia. Di tempat lain, Allah berfirman:
Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bertakwa dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda (Ali Imran 3:125).
Ayat ini, sebagaimana menjanjikan turunnya para malaikat dalam peperangan Uhud dengan jumlah besar, juga mengemukakan syarat kehadiran bantuan Ilahi itu, yakni bersabar dan bertakwa. Apabila kedua syarat tersebut dipenuhi, setan akan menjauh dan menjauh.
Kini, mari kita membahas kelemahan-kelemahan setan.
1. Keterbatasan
Jangan menduga bahwa setan memiliki kemampuan luar biasa. Jangan menduga bahwa Anda tidak dapat mengalahkannya. Sesungguhnya, tipu daya setan itu adalah lemah, demikian yang disebutkan dalam surah an-Nisa’ 4:76. Ia tidak memiliki kemampuan untuk menguasai Anda, walaupun ia mampu menembus angkasa, mencuri-curi pendengaran, serta memiliki aneka potensi untuk menggoda:
Sesungguhnya, setan tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya (an-Nahl 16: 99)
Berulang-ulang al-Qur’an mengingatkan hal ini, bahkan kelak di hari Kemudian setan akan mengakuinya:
Berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: "Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar dan aku pun telah menjanjikan kepadamu, tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekadar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku. Oleh sebab itu, janganlah kamu mencerca aku, tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya, aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu." Sesungguhnya, orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih” (Ibrahim 14:22).
Tetapi, mengapa ada manusia yang teperdaya? Itu karena ia tidak memiliki kekebalan. Tak ubahnya seperti kuman yang tidak mampu memberi dampak buruk terhadap tubuh manusia kalau ia sehat serta memiliki kekebalan tubuh.
2. Takut
Selanjutnya, harus disadari bahwa setan pun memiliki rasa takut. Betapa dan apa pun yang terjadi, kebenaran selalu kuat dan kebatilan selalu lemah. Itu sebabnya setan melakukan tipu daya, kebohongan, dan menghalalkan segala cara guna mencapai tujuannya. Karena itu, tidaklah wajar manusia merasa takut kepada setan, dalam keadaan apa pun, selama ia menyiapkan diri menghadapinya:
Sesungguhnya, mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik). Karena itu, janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu benar-benar orang yang beriman (Ali Imran 3:175).
Bahkan sebaliknya, setanlah yang takut kepada manusia. Diriwayatkan bahwa Rasul saw. bersabda:
Hai (‘Umar), putra Ibn al-Khaththab, demi Allah yang jiwaku ada dalam genggaman tangan-Nya, setan tidak menemuimu menempuh satu jalan, kecuali ia menempuh jalan selain jalanmu (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan an-Nasa’i).
Hadits-hadits semakna yang menggambarkan ketakutan setan dan jin serta manusia kepada 'Umar Ibn Khaththab ra. ditemukan juga dalam beberapa kitab hadits lain, seperti yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi melalui istri Nabi saw., ‘Aisyah ra., bahwa Nabi saw. bersabda:
Aku melihat setan jin dan manusia telah lari manjauhi ‘Umar.
Pakar hadits, Badruddin Ibn Abdullah asy-Syibli (w. 769 H), meriwayatkan bahwa Mujahid, seorang tabiin, berkata:
Setan lebih takut kepada kalian daripada (ketakutan kalian) terhadapnya. Karena itu, bila mereka mengganggu kalian, jangan takut agar ia tidak menunggangi kalian, tetapi bertahanlah dan dengan demikian ia akan pergi.
Memang, menurut pakar-pakar ilmu jiwa, jika Anda takut kepada sesuatu, ketakutan itu mengundang kehadiran apa yang Anda takuti. Kata ulama: Jika Anda takut kepada Allah, Allah menjadikan segala sesuatu takut kepada Anda, dan bila Anda tak takut pada-Nya, Allah menjadikan Anda takut kepada segala sesuatu.
Mengapa setan takut? Setan mengenal Allah dan kebenaran janji-janji-Nya. Ia mengetahui bahwa Allah membela dan membantu hamba-hamba-Nya yang berlindung kepada-Nya.
3. Khannas (Tersembunyi, Mundur, Kembali)
Al-Qur’an menjelaskan bahwa setan bersifat khannas, seperti terbaca dalam surah an-Nas (114): 4. Kata khannas antara lain berarti mundur, kembali, dan bersembunyi. Sifat ini — menurut Sayyid Quthub — dari satu sisi mengandung makna ketersembunyian sampai ia mendapat kesempatan untuk membisikkan rayuan dan melancarkan serangannya dan, di sisi lain, memberi kesan kelemahannya di hadapan Allah yang siaga menghadapi tipu daya serta menutup pintu-pintu masuk setan ke dalam dadanya. Setan, apabila dihadapi, baik setan jin maupun setan manusia, akan melempem dan mundur serta menghilang sebagaimana perkataan Rasul saw.:
Sesungguhnya, setan bercokol di hati anak cucu Adam. Apabila ia lengah, setan berbisik dan, apabila ia berzikir, setan mundur menjauh.
Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari melalui Ibn Abbas ini, walaupun bersifat mualaq yang berarti dha‘if alias lemah, kandungannya sejalan dengan firman Allah:
Sesungguhnya, orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa bisikan dari setan, mereka ingat kepada Allah maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya (al-A‘raf 7:201).
Melihat kesalahan-kesalahannya berarti menyadarinya dan, pada saat itu, setan tidak mampu mendekat kepadanya. Bukankah tidak ada kemampuan setan menggoda hamba-hamba Allah yang sadar akan kebesaran Allah dan menyadari pula kelemahannya? Karena berzikir dan mengingat Allah, setan menjauh. Maka, amat wajar jika ditemukan banyak sekali ayat al-Qur’an yang mengingatkan perlunya berzikir, baik sebelum maupun saat digoda setan:
Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (al-A‘raf 7:200).
Sebagian dari zikir adalah ayat-ayat al-Qur’an, bahkan sebagian di antaranya di samping yang diajarkan oleh Rasul saw., juga ada yang diajarkan oleh setan, yakni membaca ayat al-Kursi, sebagaimana yang telah diuraikan sebelum ini.
4. Lokasi Godaan
Hal lain yang merupakan kelemahan setan, yang dapat mengantar kegagalan tipu dayanya, adalah lokasi kejahatan atau maksiat. Setan memiliki kemampuan memperkuat jerat-jeratnya bila seseorang menetap pada lokasi godaan. Tetapi, bila ia meninggalkan lokasi tersebut, jerat-jerat itu satu demi satu terlepas sehingga setan terpaksa harus memulai lagi dari awal. Al-Qur’an mengingatkan:
Dan apabila kau melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan ini) ” (al-An'am 6:68).
Karena itu pula, al-Qur’an mengingatkan agar jangan mendekati tempat-tempat kedurhakaan, yang nyata maupun yang tersembunyi. Bahkan, agama mengingatkan agar menciptakan lingkungan yang sehat, bebas dari polusi kedurhakaan.
Kini, setelah menelusuri al-Qur’an dan as-Sunnah serta pandangan beberapa pakar dan agamawan di Timur dan Barat, penulis menyimpulkan bahwa ada makhluk yang dinamai oleh Allah dengan nama jin. Ia pada dasarnya tidak dapat dilihat dengan mata kepala manusia. Jin bermacam-macam dan dapat mengambil berbagai bentuk. Dari segi keberagamaan, ada jin yang taat dan ada pula yang durhaka. Yang durhaka bergelar setan. Tetapi, setan bukan hanya jin. Manusia yang mengajak kepada kedurhakaan pun adalah setan, bahkan semua yang mengakibatkan mudarat atau apa pun yang tercela adalah setan.
Setan merupakan satu kata yang muatannya mengalami perkembangan yang pesat. Muatannya bertambah jika ditinjau dari segi pengertian kebahasaan dan penggunaannya, tetapi berkurang jika dilihat dari segi substansi dan kekuasaannya.
Dari segi substansi, dahulu setan dipercaya sebagai sesuatu yang wujud dengan kekuatan yang sangat besar, bahkan menyamai atau menandingi Tuhan Yang Mahakuasa. Tetapi kini, kekuasaannya telah menciut, bahkan dalam pandangan agama Islam, setan tidak memunyai kekuasaan yang bersumber dari dirinya sedikit pun, kecuali kemampuan yang dianugerahi Allah untuk merayu dan menggoda. Itu pun dapat ditampik oleh manusia. Ini bisa lebih menciut lagi jika dikatakan bahwa pada hakikatnya setan tidak memiliki wujud di alam nyata. Godaan dan rayuan yang dialami manusia tidak lain kecuali bisikan negatif yang terdapat dalam diri manusia sendiri, atau setan adalah penjelmaan bawah sadar manusia dan kompleksitas kejiwaannya.
Walaupun dari segi substansi, demikian itu halnya, dari segi makna dan penggunaan, kata setan bertambah dan berkembang. Ini akibat pemahaman metafora, yang pada gilirannya melahirkan makna-makna, bahkan bentuk-bentuk baru setan: setan imperialisme, setan kediktatoran, setan perang, setan kemiskinan, dan lain-lain yang tidak dikenal pada masa-masa lalu. Bahkan kini, ada agamawan Muslim, pemimpin rohani satu negara Islam, menamai satu negara adidaya dengan nama asy-Syaithan al-Akbar (Setan Terbesar).
Demikian setan, walau wujudnya diragukan oleh sementara orang atau bahasannya dianggap omong kosong, fenomena kehadirannya amat nyata, bahkan hasil-hasil kerjanya berupa kejahatan dan kebobrokan moral dari hari ke hari bertambah, bukan hanya kuantitas, melainkan juga kualitasnya. Karena itu, selama Anda percaya Tuhan, walau tidak percaya adanya setan. Anda wajar memohon perlindungan Allah dari segala macam kejahatan, bahkan dari segala macam keburukan, apapun faktor penyebabnya. Bukankah setan dapat juga dipahami dalam arti penyebab keburukan dan kemudaratan yang dilakukan oleh selain manusia dan jin, bahkan bukankah apa yang tidak menyenangkan dapat dinamai setan? Na‘udzu billah min asy-syaithan ar-rajim (Kami berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk). Semoga dikabulkan.
(Dikutip dari "Yang Halus dan Tak Terlihat: Setan dalam Al-Qur'an" oleh M. Quraish Shihab. Penerbit Lentera Hati. 2010)
Photo credit: Cullan Smith