Mawaddah dan Sakinah

Mawaddah dan Sakinah

Mawaddah

Kata mawaddah terambil dari akar kata yang terdiri dari huruf-huruf wauw dan dal berganda (tasydid), yang mengandung arti cinta dan harapan. Pakar tafsir, al-Biqa'i (w. 1480 M), berpendapat, rangkaian huruf tersebut mengandung arti kelapangan dan kekosongan. Ia adalah kelapangan dada dan kekosongan jiwa dari kehendak buruk. Jika demikian, kata ini mengandung makna cinta, tetapi ia cinta yang tulus. Mawaddah adalah cinta yang tampak buahnya dalam sikap dan perlakuan, serupa dengan kepatuhan sebagai hasil rasa kagum kepada seseorang.

Makna kata ini mirip dengan makna kata "rahmat", hanya saja rahmat tertuju kepada yang dirahmati sedang yang dirahmati itu dalam keadaan butuh. Dengan demikian kita dapat berkata bahwa rahmat tertuju kepada yang lemah, sedang mawaddah tidak demikian. Di sisi lain, cinta yang dilukiskan dengan kata "mawaddah", harus terbukti dalam sikap dan tingkah laku, sedang rahmat tidak harus demikian. Selama rasa perih ada di dalam hati terhadap obyek, akibat penderitaan yang dialaminya walau yang dikasihi tidak berhasil menanggulangi atau mengurangi penderitaan obyek tersebut, maka rasa perih itu saja sudah cukup untuk menjadikan pelakunya menyandang sifat pengasih, walau tentunya yang demikian itu dalam batas minimum.

Penulis menemukan kesulitan yang sangat besar untuk menemukan padanan kata mawaddah dalam bahasa Indonesia. Yang penulis mampu lakukan hanya melukiskan dampaknya. Pemilik sifat ini menjadikannya tidak rela jika pasangan atau mitra yang diberinya mawaddah, disentuh oleh sesuatu yang mengeruhkannya, kendati boleh jadi dia memiliki sifat dan kecenderungan kejam. Seorang penjahat yang berdarah dingin sekalipun tapi dipenuhi hatinya oleh mawaddah, bukan saja tidak akan rela pasangan hidupnya disentuh sesuatu yang buruk, dia bahkan bersedia menampung keburukan itu bahkan mengorbankan diri demi kekasihnya. Ini karena seperti makna asal kata mawaddah mengandung arti kelapangan dan kekosongan.

Kalau Anda menginginkan kebaikan dan mengutamakannya untuk orang lain maka Anda telah mencintainya. Tetapi jika Anda menghendaki untuknya kebaikan serta tidak menghendaki untuknya selain itu apa pun yang terjadi maka mawaddah telah menghiasi hati Anda. Mawaddah adalah jalan menuju terabaikannya pengutamaan kenikmatan duniawi, bahkan semua kenikmatan yang tertuju kepadanya mawaddah itu, dan karena itu, maka siapa yang memilikinya, dia tidak pernah akan memutuskan hubungan, apa pun yang terjadi. Dalam surah Ar-Rum 30:21 ditegaskan bahwa:

Di antara tanda kebesaran Allah adalah Dia telah menjadikan antara pasangan suami-istri mawaddah dan rahmah.

Makna "menjadikan" pada ayat di atas adalah memberi potensi untuk mewujudkan mawaddah itu antara suami-istri. Potensi tersebut harus diasah dan diasuh oleh pasangan suami-istri agar dapat mewujud dalam kehidupan rumah tangga mereka. Tanpa upaya mengasah dan mengasuhnya, maka rumah tangga akan berantakan dan perkawinan tidak mencapai sasarannya, yakni sakinah. Demikian. Wallahu a'lam.

Sakinah

Kata sakinah terambil dari akar kata yang terdiri dari huruf-huruf sin, kaf dan nun yang mengandung makna ketenangan. Berbagai bentuk kata yang terdiri dari ketiga huruf tersebut kesemuanya bermuara kepada makna di atas. Rumah dinamai maskan, karena ia adalah tempat untuk meraih ketenangan setelah sebelumnya penghuninya bergerak bahkan boleh jadi mengalami keguncangan di luar rumah. Pisau yang antara lain berfungsi menyembelih binatang dinamai sikkin dari akar kata yang sama dengan sakinah, karena pisau tersebut adalah alat yang menghasilkan ketenangan bagi binatang, setelah sebelumnya ia bergejolak. Manusia, pria dan wanita, memiliki dorongan untuk bertemu dan menyatu dengan lawan jenisnya. Dorongan tersebut telah mewujud sejak kelahiran lalu dari saat ke saat tumbuh berkembang hingga mencapai tahap yang menjadikan mereka resah dan gelisah bila dorongan tersebut tidak terpenuhi. Pemenuhannya antara lain adalah dengan perkawinan. Karena itu dapat dikatakan sebagaimana penegasan QS. Ar-Rum 30:21 bahwa Allah menciptakan pasangan (lelaki dan perempuan) agar mereka meraih sakinah.

Pakar-pakar bahasa menekankan bahwa kata sakinah tidak digunakan kecuali jika sebelumnya ada semacam ketegangan atau ketidaktenangan atau gejolak yang dialami oleh peraih sakinah. Anda baca di atas bagaimana gejolak yang dialami sebelum perkawinan. Tentu saja sakinah tidak hanya berkaitan dengan kehidupan rumah tangga, tetapi dapat menyangkut kehidupan secara keseluruhan. Al-Quran menginformasikan bahwa sakinah antara lain diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad dan Sayyidina Abu Bakar ketika mereka berada dalam gua saat berhijrah ketika kaum musyrik telah berada di mulut gua di mana mereka bersembunyi. Demikian juga saat krisis yang mengguncang hati para sahabat Nabi saat Perjanjian Hudaibiah saat mereka merasa ada butir-butirnya yang mereka nilai merugikan. Tetapi dengan sakinah hati mereka kembali tenang serta menerima dengan legawa apa yang ditetapkan Nabi atas restu Allah.

Sakinah tidak datang begitu saja. Sakinah diturunkan Allah ke dalam kalbu berkat upaya mengedepankan sifat-sifat yang terpuji serta menghiasi diri dengan ketabahan dan takwa. Sakinah tidak sekadar terlihat pada ketenangan lahir yang tecermin pada kecerahan air muka, karena yang ini bisa muncul akibat keluguan, ketidaktahuan atau kebodohan, tetapi ia terlihat pada kecerahan air muka yang disertai dengan kelapangan dada, budi bahasa yang halus, yang dilahirkan oleh ketenangan batin akibat menyatunya pemahaman dan kesucian hati, serta bergabungnya kejelasan pandangan dengan tekad yang kuat. Anda menemukan siapa pun yang telah dihiasi jiwanya oleh sakinah, tidak banyak bicara. Kalau berbicara tidak bersuara keras apalagi berteriak, dan mengutuk, tetapi lemah lembut, jauh dari keributan dan selalu memberi maaf. Sederhana dalam hidup, tetapi sangat teliti dan baik dalam penampilan dan kerjanya, disertai dengan kesungguhan, kebenaran, serta kesetiaan dan moderasi. Kalau sifat-sifat tersebut akan disimpulkan dalam satu kata, maka kata yang terpilih adalah sakinah. Demikian. Wallahu a'lam.

Catatan: Tulisan ini disadur dari buku Kosakata Keagamaan, disusun oleh M. Quraish Shihab. Penerbit Lentera Hati, 2020.

Photo credit: Photos by Lanty