"Berkenaan dengan menafsirkan Al-Qur'an dengan pikiran tanpa dalil, dan bahaya yang mengintai pelakunya."
Rasulullah Saw. pernah bersabda,
Siapa saja yang menakwilkan Al-Qur'an dengan akalnya sendiri, maka sesungguhnya ia tengah menyiapkan tempat duduknya dari api neraka
Para ulama yang menakwilkannya berdasarkan makna lahiriah menyalahkan mereka yang ahli tasawuf karena telah melakukan penakwilan terhadap Al-Qur'an. Mereka menuduh, bahwa para ahli tasawuf tidak melengkapi diri dengan hadis sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra. dan para sahabat lain yang isinya senada.
Sebenarnya, pengertian hakiki dari hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra. tersebut adalah, bahwa ayat-ayat Al-Qur'an harus dipahami dan ditakwilkan sesuai dengan ucapan maupun perbuatan Nabi Saw., bukan dengan pendapat si penakwil sendiri. Perbedaan muncul ketika diyakini bahwa tidak ada takwil lain Al-Qur'an kecuali berkaitan dengan tafsir lahiriah, yaitu berdasarkan Al-Qur'an dan hadis-hadis Nabi Saw. semata. Jika dilihat dari segi lahiriah, yaitu keterbatasan manusia, maka pendapat mereka barangkali benar. Akan tetapi, secara batiniah hal itu belum cukup. Sebab, Al-Qur'an memiliki makna lahir yang luas, sekaligus makna batin yang juga mendalam.
Sayyidina Ali ra. pernah mengatakan,
Allah Swt. telah memberikan pemahaman lahir maupun batin tentang Al-Qur'an kepada hamba-Nya yang dikehendaki.
Apabila penafsiran Al-Qur'an itu hanya sebatas yang terbaca dan terdengar saja, tanpa ada tafsir dari para ahli hikmah masa awal, maka apakah arti dari pemahaman yang dimaksud?
Rasulullah Saw. juga pernah bersabda:
Sesungguhnya Al-Qur'an itu mempunyai makna lahiriah (terbuka), dan sekaligus batiniah (tersembunyi), mempunyai batas serta permulaan
Sayyidina Ali ra. juga pernah mengatakan:
Jika boleh aku analogikan, maka makna atau tafsir dari surah Al-Fatihah saja tidak akan sanggup dibebankan kepada tujuh puluh (70) ekor onta untuk dipikul secara bersama-sama.
Apakah makna perkataan Ali tersebut? Bukankah surah Al-Fatihah hanya terdiri dari tujuh ayat saja? Abu al-Darda' ra. juga pernah mengatakan:
Tidak ada seorang pun yang bisa memahami Al-Qur'an sebelum ia menerimanya dalam beberapa pengertian.
Sebagian ulama yang lain mengatakan:
Setiap ayat dari Al-Qur'an memiliki sekitar enam puluh ribu (60.000) makna yang bisa diuraikan secara lebih luas dan mendalam.
Dan sebagian ulama lainnya mengatakan:
Setiap ayat dari Al-Qur'an mengandung tujuh puluh tujuh ribu dua ratus (77.200) ilmu. Sebab, setiap perkataan memiliki makna lahiriah dan batiniah, serta mempunyai makna yang biasa, yang lebih baik dan yang paling baik.
Suatu ketika Rasulullah Saw. mengulang-ulang bacaan Bismillahirrahmdnirrahim sampai dua puluh (20) kali. Rasulullah melakukan hal ini semata-mata untuk menghayati pengertian batiniahnya. Apabila pemahaman hanya dibatasi pada tafsiran lahiriahnya semata, maka sungguh sangat mudah, apalagi bagi Nabi Saw. Sebab, Al-Qur'an pertama kali diturunkan adalah kepada beliau.
Ibnu Mas'ud ra. pernah mengatakan:
Siapa saja yang mengharapkan diri memperoleh pengetahuan dari orang-orang terdahulu dan yang akan datang, maka hendaklah ia memahami makna lahiriah maupun batiniah dari Al-Qur'an.
Jadi, memahami Al-Qur'an mustahil hanya dengan tafsiran lahiriahnya semata. Sebab, dalam memahami Al-Qur'an diperlukan makna batiniah yang merupakan hakikat dari Kalamullah. Sebagaimana Rasulullah Saw. pernah bersabda:
Bacalah Al-Qur'an dan temukanlah hal-hal yang rahasia (tersembunyi) darinya.[1]
Rasulullah Saw. juga pernah berpesan kepada Ali ra.:
Demi Allah yang mengutusku sebagai Rasul dengan hak-Nya, sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, karena keyakinan agama dan kumpulan jama'ah mereka. Semuanya dalam keadaan sesat dan menyesatkan, sehingga mereka semua masuk ke dalam neraka. Kecuali hanya satu golongan saja dari mereka yang selamat dari fitnah kehidupan. Apabila masa itu telah terjadi, maka berpegang teguhlah engkau kepada Kitabullah, karena Al-Qur'an berisi berita (kisah) kaum-kaum terdahulu dan kaum-kaum sesudah engkau. Dan kaum-kaum yang mengingkari Al-Qur'an, sungguh Allah telah membinasakan mereka. Siapa saja yang mencari ilmu selain Al-Qu'an, maka Allah akan menyesatkannya. Sebab, Al-Qur'an adalah tali Allah yang terkokoh, cahaya Allah yang terang-benderang dan obat penawar dari sisi Allah yang sangat manjur. Jika seseorang berpegang teguh kepadanya, maka Allah akan senantiasa melindunginya. Jika seorang hamba mengikutinya (Al-Qur'an), ia akan memberikan keselamatan. Tiada habis-habisnya mukjizat Al-Qur'an, dan tidak menjadikan suatu kelemahan karena banyak pengulangan dalam memahami ayat-ayatnya.
Pada saat Rasulullah Saw. menceritakan tentang perpecahan umat Islam menjadi banyak golongan kepada Hudzaifah, maka Hudzaifah bertanya,
Ya Rasulullah, apabila aku berada dalam masa itu, apa yang seharusnya aku lakukan?"
Rasulullah Saw. pun kemudian menjawab:
Pelajarilah Kitabullah, dan amalkanlah. Sebab, itulah yang akan menyelamatkan engkau.
Sayyidina Ali ra. juga pernah mengatakan:
Siapa saja yang memahami Al-Qur'an, maka sekaligus ia mendapatkan seluruh pengetahuan.
Ini menunjukkan, bahwa semua pengetahuan sudah terkandung di dalam Al-Qur'an. Sebagaimana Allah 'Azza wa Jalla berfirman.
Dan siapa saja yang dianugerahi Al-Hikmah, ia benar-benar telah dikaruniai anugerah yang banyak (QS Al-Baqarah [2]: 269).
Ibnu Abbas ra. menjelaskan, bahwa yang dimaksud dengan kata Al-Hikmah dalam ayat itu adalah pemahaman Al-Qur'an. Sebagaimana Allah Swt. berfirman,
Maka Kami telah memberikan pemahaman kepada Sulaiman tentang hukum yang lebih tepat, dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan kebijakan dan ilmu (QS Al-Anbiya' [21]: 79).
Apa yang telah dianugerahkan kepada Nabi Sulaiman as. dalam ayat ini adalah kebijakan dan ilmu. Akan tetapi, yang lebih khusus lagi adalah, Allah Swt. telah memberikan kepada Nabi Sulaiman as. pemahaman yang mendalam, dan ini dianugerahkan kepada beliau sebelum ilmu dan kebijakan. Jadi, pemahaman nilainya lebih tinggi dan lebih utama dibandingkan dengan kebijakan serta ilmu. Banyak sekali hadis Nabi Saw. mengenai makna lahiriah Al-Qur'an.
Salah satunya adalah, sabda Rasulullah Saw. yang mengatakan:
Siapa saja yang menafsirkan Al-Qur'an dengan akal atau pendapatnya sendiri, maka ia tengah menyiapkan tempat duduknya dari api neraka.
Setelah itu. Nabi Saw. pun melarang melakukannya.
Sayyidina Abu Bakar ra. juga pernah mengatakan:
Jika aku menafsirkan Al-Qur'an dengan pikiranku sendiri, maka bumi mana yang akan melindungiku, dan langit mana yang akan menaungiku?
Larangan menafsirkan Al-Qur'an dengan pendapat sendiri ini mempunyai dua pengertian. Yang pertama adalah, agar para mufassir selalu membatasi diri pada tafsir dan hadis Nabi Saw. yang shahih saja, dan tidak boleh mencari-cari makna yang baru, serta menghadirkan pendapat yang pernah ada, atau menggunakan pandangan hawa nafsunya sendiri. Yang kedua adalah, berbeda dari yang pertama. Apabila maksudnya adalah, bahwa seseorang (seorang mufassir) tidak dapat menafsirkan Al-Qur'an kecuali berdasarkan standar-standar tafsir, maka hal itu dinyatakan batal karena alasan-alasan yang diberikan berikut ini.
-
Syarat utama penakwilan Al-Qur'an adalah, bahwa ia harus bersandar pada penakwilan Nabi Saw.. Jika takwil Nabi Saw. tidak ditemukan, maka diperkenankan memasukkan pendapat sendiri tanpa ada kepentingan pribadi di dalamnya. Misalnya, tafsir-tafsir Ibnu Abbas dan Ibnu Mas'ud ra. yang memasukkan pendapat mereka sendiri. Dan boleh dikatakan bahwa bahwa itu adalah penafsiran dengan buah pikiran, karena mereka tidak mendengarnya dari Rasulullah saw. Demikian juga dengan para sahabat lain.
-
Ada perbedaan pendapat di antara para sahabat Nabi Saw. dan para mufassir mengenai beberapa ayat Al-Qur'an yang sulit dipersatukan. Setiap orang dilarang menakwilkannya atas dasar pendapat sendiri jika sebelumnya pernah mendengar penjelasannya dari Nabi Saw.. Perbedaan ini terjadi karena tidak semua sahabat mendengar langsung dari Nabi Saw.. Apabila mereka mengatakan sesuatu setelah mendengarnya dari Nabi, maka pendapat mereka sendiri layak untuk dikesampingkan.
Sudah cukup diketahui, bahwa para penakwil menggali banyak makna dengan menerapkan akal mereka. Bahkan mereka mempunyai tujuh takwil huruf-huruf muqatha'ah pada permulaan beberapa surah Al-Quran; seperti alif lam ra, dan sejenisnya. Oleh karena itu, dapatkah itu dikatakan, bahwa mereka menakwilkan Al-Qur'an dengan mendengarkan segala sesuatu dari Nabi Saw.?
-
Kita diperbolehkan memasukkan pendapat sendiri, sebagaimana tersirat dari kisah mengenai Rasulullah Saw. yang berdo'a untuk Ibnu Abbas ra. melalui ucapan beliau.
Ya Allah, berilah ia (Ibnu Abbas) pengetahuan yang mendalam tentang agama, dan ajarilah ia tentang takwil.
Kalau ilmu yang letaknya di dalam qalbu terdapat pada apa yang dibaca dan didengar, lalu apa arti do'a Nabi Saw. untuk Ibnu Abbas ra.?
-
Bahwasanya orang-orang yang menemukan makna ayat-ayat Al-Qur'an dengan akal mereka, tentu akan memahami rahasia Al-Qur'an dalam ayat ini, untuk menemukan makna dengan menggunakan akal oleh orang-orang berilmu, seperti yang telah dibahas sebelum ini. Firman Allah Swt. dimaksud adalah.
Tentu orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya akan dapat mengetahuinya dari mereka itu, (QS Al-Nisa' [4]: 83).
Oleh karena itu harus kita maklumi, menemukan makna ayat-ayat Al-Qur'an berbeda dengan mendengar dari hadis dan atsar sahabat. Hadis berkenaan dengan penakwilan Al-Qur'an bertentangan dengan ini. Jadi, tampak bahwa semua itu tidak dibenarkan untuk memaksakan syarat tafsir semata-mata dalam semua penakwilan, dan diperbolehkan mencari makna Al-Qur'an menurut batas-batas kecerdasan serta pemahaman akal seseorang.
Akan tetapi, ada dua alasan pelarangan menakwilan Al-Qur'an dengan menggunakan pikiran semata:
-
Bahwa seseorang menggunakan pendapat individualnya sendiri berkenaan dengan setiap masalah, yang ia condong ke sana.
-
Ia juga menakwilkan Al-Qur'an sesuai dengan keinginan dan kemauan diri sendiri. Untuk itu ia berpikir, bahwa penakwilannya benar dan sah. Ia mengutip ayat-ayat Al-Qur'an untuk mendukung pendapatnya semata. Jadi, ia mencela musuhnya, padahal ia tahu bahwa itu bukanlah hakikat makna yang dimaksud. Ini adalah penakwilan yang didasarkan pada pendapat yang sesat dan sangat menyesatkan. Sebagaimana pada sabda Rasulullah Saw.:
Bersahurlah, karena sesugguhnya dalam sahur itu terdapat berkah.
Para ahli bid'ah menafsirkan kata 'makan sahur' dengan 'berdzikir'. Padahal mereka mengetahui bahwa yang dimaksudkan dengan kata 'bersahur' dalam hadis itu adalah makan pada waktu sahur. Simak pula, bagaimana mereka mengacaukan ayat Al-Qur'an:
Pergilah kepada Fir'aun, sebab sesungguhnya ia telah melampaui batas," (QS Thaha [20]: 24).
Mereka menakwilkan kata Fir'aun dengan qalbu manusia lainnya. Hal seperti yang terkadang dilakukan oleh sebagian pendakwah untuk menjadika ceramahnya bagus dan menarik perhatian pendengar - yang mana hal ini dilarang.
-
-
Menemukan makna ayat-ayat Al-Qur'an yang tidak begitu jelas dan ringkas, atau dibuang tanpa mengaitkan dengan hadis Nabi Saw. serta tafsiran ayat-ayat lainnya. Orang yang tidak cukup pemahamannya pada makna lahiriah dan mencoba menafsirkan makna ayat-ayat Al-Qur'an hanya dengan akal serta nafsunya sendiri, maka ia akan banyak melakukan kesalahan. Mereka tergolong dalam kelompok orang yang menakwilkan Al-Qur'an menurut pendapat dan pikiran sendiri semata. Ketahuilah, bahwa pertama-tama penakwilan yang dilakukan membutuhkan hadis Nabi Saw. dan juga tafsir ayat-ayat lain bagi makna-makna lahiriahnya, agar terbebas dari kesalahan. Dan, setelah itu beranjak kepada pengembangan makna yang didasarkan pada ilmu yang lahir dari akal maupun qalbu yang bersih.
Orang yang mengatakan, bahwa ia telah menguasai rahasia (makna batiniah) Al-Qur'an tanpa terlebih dahulu menjadi ahli tentang makna lahiriah laksana orang yang berkata bahwa dirinya memasuki rumah sebelum membuka pintunya. Atau, orang yang berkata bahwa dirinya telah mengetahui seluk-beluk bangsa Turki, padahal tidak mengerti bahasa Turki sepatah kata pun. Hal seperti itu sungguh sangat mustahil terjadi. Mempelajari makna lahiriah dari Al-Qur'an seperti mempelajari bahasa, dimana ia merupakan kunci pembuka untuk memahami makna-makna batiniah yang dikandungnya.
Sebagai contoh, kita sajikan penakwilan lahiriah dan batiniah dari firman Allah Swt. berikut ini:
Dan telah Kami berikan kepada kaum Tsamud unta betina itu sebagai mukjizat yang dapat melihat, lalu mereka menzhalimi unta betina itu/' (QS Al-Isra' [17]: 59).
Dalam penjelasan ayat ini, unta betina bisa melihat. Akan tetapi, maksud sesungguhnya adalah, bahwa unta betina itu adalah suatu ayat atau tanda dari kekuasaan Allah Swt. yang tampak jelas terlihat. Orang yang melihat makna lahiriahnya saja akan menyangka, bahwa unta betina itu yang melihat (tidak buta). Kemudian makna kata 'menzhalimi' secara lahiriah adalah 'membunuh', dan maksud sebenarnya adalah mengingkari kekuasaan Allah Swt.
Sebagaimana Allah Swt. berfirman,
Dan telah diresapkan ke dalam qalbu mereka itu terhadap anak lembu, karena kekafirannya/' (QS Al-Baqarah [2]: 93).
Maksud sebenarnya dari ayat ini adalah, kecintaan mereka terhadap anak lembu, hingga mereka bersedia menyembahnya. Bagi orang yang hanya mengartikan kata-katanya saja secara lahiriah sudah tentu tidak akan tahu maksud yang sebenarnya.
Juga pada firman Allah Swt:
Kalau hal itu terjadi, tentulah akan Kami rasakan kepada engkau berlipat-ganda kehidupan dan berlipat-ganda kematian," (QS Al-Isra' [17]: 75).
Dalam ayat ini, kata siksaan atau adzab tidak ada, padahal yang dimaksud berlipat-ganda di sini adalah siksaan (adzab) yang berlipat-ganda di dunia dan di akhirat kelak.
Juga pada firman Allah Swt:
Dan tanyalah kepada negeri tempat kami berada di sana, serta kafilah yang kami datang bersamanya," (QS Yusuf [12]: 82).
Dalam ayat ini, kata 'penduduk' tidak disebutkan, padahal yang dimaksud adalah 'bertanyalah kepada penduduk negeri'.
Juga pada firman Allah Swt. yang lain,
Beratlah ia di langit dan di bumi (QS Al-A'raf [7]: 187).
Maksud ayat ini adalah, bahwa Hari Kiamat itu sangat tersembunyi (tidak diketahui) dan sangat dirahasiakan, atau semua makhluk yang berada di langit maupun bumi tidak ada yang mengetahui kapan persisnya. Jadi, kata 'berat' di sini maksudnya adalah tersembunyi dan tidak diketahui oleh siapa pun.
Juga pada firman Allah Swt.:
Kalian mengganti rezeki dengan mendustakan (QS Al-Waqi'ah [56]: 82).
Yang dimaksudkan di sini adalah, bahwa kita banyak mengkufuri atau tidak mensyukuri nikmat (rezeki) yang Allah Swt. berikan.
Juga pada firman Allah Swt.:
Sesungguhnya Kami (Allah) telah menurunkan pada malam kemuliaan (Lailatul Qadr)," (QS Al-Qadr [97]: 1).
Yang dimaksud dengan kata 'menurunkan' pada ayat ini adalah menurunkan Al-Qur'an.
Juga pada firman Allah Swt.:
Sehinggga ia tersembunyi dengan tabir (malam) (QS Shad [38]: 32).
Maksud dari kata 'tersembunyi' dengan tabir pada ayat ini adalah 'matahari'.
Juga pada firman Allah 'Azza wa Jalla:
Salamun 'ala ilydsin (QS Ash-Shaffat [37]: 130).
Dalam ayat ini, kata yang terakhir maksudnya adalah Nabi Ilyas as. "Keselamatan bagi Ilyas."
Berkaitan dengan kata al-qarin, yaitu teman atau sesuatu yang menyertai, terdapat beberapa pengertian. Seperti pada firman Allah Swt.:
Dan yang menyertai ia berkata, "Inilah catatan amalnya yang tersedia di sisiku." Maka lemparkanlah oleh kalian berdua ke dalam neraka semua orang yang kafir (QS Qaf [50]: 23-24).
Yang dimaksudkan dengan al-qarin dalam kedua ayat tadi adalah 'malaikat'.
Juga pada firman Allah Swt. yang lain:
Yang menyertai ia berkata, "Ya Rabb kami, aku tidak menyesatkannya, akan tetapi ia sendiri yang berada dalam kesesatan yang jauh itu" (QS Qaf [50]" 27).
Pengertian al-qarin dalam ayat ini adalah 'setan'.
Kemudian tentang kata umat (al-ummah), yang juga memiliki beberapa pengertian dalam Al-Qur'an. Umat berarti sekumpulan atau sekelompok orang, sebagaimana terdapat pada firman Allah Swt.:
Ia menjumpai di sana sekumpulan orang (ummatan) yang sedang memberikan minum kepada ternaknya," (QS Al-Qashash [28]: 23).
Umat dengan arti "para pengikut Nabi Saw.", sebagaimana perkataan, "Kami ini pengikut Nabi Muhammad Saw."
Umat dalam arti "pemilik segala sifat yang baik", seperti dalam firman Allah Swt.:
Sesungguhnya Ibrahim adalah ummatan yang dapat dijadikan teladan, dan sangat patuh kepada Allah," (QS Al-Nahl [16]: 120).
Umat yang berarti "agama", seperti pada firman Allah Swt.:
Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama (ummatan) (QS.A1-Zukhruf [43]: 22).
Umat dalam arti "waktu" atau "masa", sebagaimana terdapat dalam firman-Nya Swt.:
Jika kami undurkan adzab (siksaan) bagi mereka sampai waktu yang ditentukan (ummatimma'dudah)," (QS Hud [11]: 8).
Dan ada beberapa pengertian lainnya.
Demikian pula dengan makna kata ruh yang mempunyai sejumlah makna, yang tidak mungkin untuk dijelaskan di sini. Adapun penafsiran ayat-ayat Al-Qur'an, sebagiannya ada yang menjelaskan satu ayat dengan ayat yang lainnya. Misalnya, pada firman Allah Swt.:
Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an (QS Al-Baqarah [2]: 185).
Ayat ini tidak menjelaskan, apakah diturunkannya itu pada malam atau siang hari? Maka untuk mengetahuinya, ada firman Allah Swt. lainnya yang menjelaskan, yaitu:
Sesungguhnya Kami turunkan Al-Qur'an itu pada malam yang diberkahi (QS Al-Dukhkhan [44]: 3).
Kemudian untuk lebih jelas lagi, mari kita simak firman Allah Swt.:
Sesungguhnya Kami turunkan Al-Qur'an itu pada malam kemuliaan (Lailatul Qadar) (QS al-Qadr [97]: 1).
-
Menjelaskan subjek yang sama secara bertahap atau berangsur-angsur. Sebagaimana Allah Swt. berfirman:
Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, (QS Al-Baqarah [2]: 185).
Ayat ini tidak menjelaskan kapan saat Al-Qur'an diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw., apakah malam ataukah siang hari. Menjadi jelas setelah kita memahami makna firman Allah Swt.:
Sesungguhnya Kami turunkan Al-Qur'an itu pada malam yang diberkahi (QS Al-Dukhkhan [44]: 3).
Ayat ini menjelaskan kepada kita, bahwa Al-Qur'an itu pertama kali diturunkan pada malam hari di bulan Ramadhan. Akan tetapi, belum jelas malam apa. Kemudian, terdapat firman Allah Swt. yang menjelaskan:
Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur'an pada malam kemuliaan (Lailatul Qadar), (QS Al-Qadr [97]: 1).
Selanjutnya, untuk menemukan makna dan pengertian batiniah dari suatu ayat Al-Qur'an, penafsiran saja belumlah mencukupi. Sebab, harus juga menyertakan hadis Rasulullah Saw., atsar, dan riwayat para sahabat Nabi Saw. yang terpercaya, serta tafsiran para ahli.
Contohnya adalah, apa makna batiniah dari ayat:
Bukan engkau yang memanah ketika engkau memanah, akan tetapi Allah-lah yang memanah (QS Al-Anfal [8]: 17).
Makna lahir ayat itu sudah cukup jelas dari bunyi kalimatnya. Akan tetapi, hakikat pengertiannya sangatlah rahasia. Sebab, di dalam ayat itu terdapat orang yang memanah, akan tetapi dinyatakan tidak memanah secara hakiki. Dan jelas, bahwa secara lahiriah maknanya akan berlawanan. Oleh karena itu, dibutuhkan sekali pengetahuan mendalam dan ketajaman pemahaman mengenai alasan atau hal-hal yang berkenaan dengan memanah serta tidak memanah. Alasan mengapa dikatakan bahwa "bukan engkau yang memanah, akan tetapi Allah-lah yang memanah" terdapat pada penjelasan firman Allah Swt.:
Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan tangan-tangan (QS Al-Taubah [9]: 14).
Jadi, pengertian batiniah ayat ini berada dalam samudera lautan Ilmu mukasyafah (pengetahuan spiritual) yang tidak mungkin dapat terungkap melalui penafsiran lahiriah semata.
Ketahuilah, bahwa segala perbuatan manusia pada awalnya terikat erat dengan kekuatan dan usahanya. Sedangkan kekuatan manusia itu bergantung pada kekuatan serta kekuasaan Allah Swt. Sebenarnya, setiap ayat dari Al-Qur'an itu memiliki hakikat masing-masing. Dan, hakikat itu terbuka serta terang-benderang terlihat bagi orang-orang yang ilmunya mendalam, juga bagi orang-orang yang qalbunya suci dari kekotoran pikiran maupun gagasan yang menyesatkan. Oleh karena itu, penafsiran lahiriah saja sungguh tidak cukup untuk memahami makna batiniah ayat-ayat Al-Qur'an. Pengertian batiniah tidaklah bertentangan dengan penafsiran lahiriah. Justru makna batiniah yang diperoleh dari pemahaman batiniah (mukasyafah) mampu menyempurnakan makna lahiriah yang didapatkan dari penafsiran lahiriah. Hanya Allah 'Azza wa Jalla Yang Maha Mengetahui segalanya.
Alhamdulillah, telah selesai bahasan mengenai rahasia di seputar adab membaca Al-Qur'an dengan pertolongan Allah Swt. Salawat dan salam kepada Nabi Muhammad Saw.
(Dikutip dari "Ihya' 'Ulumiddin" oleh al-Imam al-Ghazali. Jilid 2. Republika Penerbit. 2011)
Photo credit: Faseeh Fawaz
Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Abi Syaibah dalam. Juga oleh Imam Abu Ya’la al-Mushili. Juga oleh Imam al-Baihaqi dalam al-Syu’ab dari hadis Abi Hurairah, dengan sanad yang lemah (dhaif). ↩︎