Teks dan Terjemahan
Ayat 12:
كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ وَأَصْحَابُ الرَّسِّ وَثَمُودُ
“Sebelum mereka, kaum Nuh, penduduk Rass, dan Tsamud telah mendustakan (rasul-rasul).”
Ayat 13:
وَعَادٌ وَفِرْعَوْنُ وَإِخْوَانُ لُوطٍ
“Dan (juga) ‘Ad, Fir’aun, dan kaum Luth.”
Ayat 14:
وَأَصْحَابُ الْأَيْكَةِ وَقَوْمُ تُبَّعٍ ۚ كُلٌّ كَذَّبَ الرُّسُلَ فَحَقَّ وَعِيدِ
“Dan penduduk Aikah serta kaum Tubba’. Semuanya telah mendustakan rasul-rasul, maka berhaklah mereka mendapat ancaman-Ku.”
Mengapa Umat-Umat Ini yang Disebutkan?
1. Representasi Geografis dan Temporal
Al-Razi dalam Mafatih al-Ghayb menjelaskan bahwa sembilan kaum ini dipilih karena mewakili berbagai wilayah dan zaman yang dikenal bangsa Arab:
| Kaum | Wilayah | Relevansi bagi Arab |
|---|---|---|
| Nuh | Mesopotamia | Nenek moyang seluruh manusia pasca-banjir |
| Ashab al-Rass | Arabia/Yamamah | Bekas peninggalannya dikenal Arab |
| Tsamud | Hijr (utara Hijaz) | Reruntuhan Madain Salih sangat terkenal |
| ’Ad | Ahqaf (Yaman selatan) | Legenda kekuatan fisik mereka masyhur |
| Fir’aun | Mesir | Tetangga dekat, kekuasaannya legendaris |
| Kaum Luth | Laut Mati | Bekas negerinya dilalui kafilah dagang |
| Ashab al-Aikah | Madyan | Jalur perdagangan Syam-Hijaz |
| Kaum Tubba’ | Yaman | Raja-raja Himyar, masih segar dalam ingatan Arab |
Ibn Kathir menegaskan: Allah menyebut kaum-kaum yang bekasnya masih dapat disaksikan atau kisahnya masih hidup dalam tradisi lisan Arab, sehingga peringatan ini terasa nyata dan tidak abstrak.
2. Variasi Bentuk Pendustaan dan Azab
Al-Qurtubi dalam Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an mencatat bahwa setiap kaum mewakili pola pendustaan berbeda:
- Kaum Nuh — mendustakan selama 950 tahun dengan kesombongan
- Ashab al-Rass — membunuh nabi mereka dan melemparkannya ke sumur (al-rass = sumur tua)
- Tsamud — menyembelih mukjizat (unta Nabi Salih)
- ’Ad — menyombongkan kekuatan fisik
- Fir’aun — mengklaim ketuhanan
- Kaum Luth — melakukan kerusakan moral ekstrem
- Ashab al-Aikah — kecurangan dalam perdagangan
- Kaum Tubba’ — meski rajanya beriman, kaumnya mendustakan
Keistimewaan Masing-Masing
Kaum Nuh
Disebut pertama karena merupakan pendustaan massal pertama dalam sejarah manusia. Al-Tabari menyebut ini sebagai umm al-takdzib (induk pendustaan).
Ashab al-Rass
Keistimewaannya adalah kekaburan identitas mereka dalam sejarah—para mufassir berbeda pendapat tentang siapa mereka. Ini mengandung hikmah: bahkan kaum yang namanya hampir terlupakan pun tidak luput dari catatan Allah.
Tsamud
Keistimewaan: bukti fisik azab mereka masih berdiri. Orang Quraisy melewati Madain Salih dalam perjalanan dagang. Allah berfirman di tempat lain: “Dan sungguh, kamu melewati (reruntuhan) mereka di pagi hari dan di malam hari” (QS. Al-Saffat: 137-138).
’Ad
Terkenal dengan kekuatan fisik luar biasa dan bangunan megah. Mereka berkata: “Siapakah yang lebih kuat dari kami?” (QS. Fussilat: 15). Keistimewaan: contoh bahwa kekuatan material tidak melindungi dari azab.
Fir’aun
Satu-satunya individu yang disebut, bukan kaumnya. Al-Razi menjelaskan: kesombongannya begitu personal (“Ana rabbukum al-a’la”) sehingga ia layak disebut sendiri sebagai representasi tirani absolut.
Kaum Luth (Ikhwan Luth)
Disebut ikhwan (saudara-saudara) dengan nada ironis—mereka seharusnya bersaudara dalam kebaikan, tetapi justru bersaudara dalam kemaksiatan.
Ashab al-Aikah
Al-Aikah = hutan lebat. Mereka adalah kaum Nabi Syu’aib. Keistimewaan: contoh kaum yang tampak makmur (hutan subur) tetapi hatinya rusak.
Kaum Tubba’
Paling kontemporer bagi pendengar Quraisy. Raja-raja Tubba’ (Himyar) baru runtuh beberapa generasi sebelum Nabi ﷺ. Keistimewaan: bahkan kerajaan yang baru saja berkuasa pun telah musnah.
Persamaan dan Highlight
Persamaan Fundamental
Al-Tabari merangkum dengan frasa penutup ayat 14:
كُلٌّ كَذَّبَ الرُّسُلَ فَحَقَّ وَعِيدِ
“Semuanya telah mendustakan rasul-rasul, maka berhaklah mereka mendapat ancaman-Ku.”
Persamaan inti:
- Semua mendustakan — meski bentuk pendustaannya berbeda
- Semua mendapat peringatan — tidak ada yang diazab tanpa peringatan
- Semua dibinasakan — tidak ada pengecualian bagi yang mendustakan
- Semua menjadi pelajaran — bekas mereka menjadi ’ibrah
Highlight Utama
Ibn Kathir menekankan bahwa jumlah sembilan bukan kebetulan. Dalam tradisi Arab, sembilan adalah bilangan yang menunjukkan kelengkapan sebelum kesempurnaan sepuluh. Artinya: contoh-contoh ini sudah sangat lengkap sebagai peringatan, tinggal satu langkah lagi menuju kepastian azab jika Quraisy tetap mendustakan.
Mengapa Ayat 14 Dilanjutkan dengan Ayat 15?
Ayat 15:
أَفَعَيِينَا بِالْخَلْقِ الْأَوَّلِ ۚ بَلْ هُمْ فِي لَبْسٍ مِّنْ خَلْقٍ جَدِيدٍ
“Apakah Kami letih dengan penciptaan pertama? (Tidak), tetapi mereka dalam keraguan tentang penciptaan baru (kebangkitan).”
Korelasi Logis Menurut Para Mufassir
Al-Zamakhsyari dalam Al-Kasysyaf menjelaskan perpindahan ini sebagai argumentasi bertingkat:
- Ayat 12-14: Bukti historis — kaum-kaum terdahulu diazab
- Ayat 15: Bukti rasional — jika Allah mampu menciptakan pertama kali, tentu mampu membangkitkan kembali
Perpindahan ini menjawab keberatan implisit kaum musyrikin: “Kaum terdahulu memang binasa, tapi mereka tidak dibangkitkan. Mana bukti ada hari pembalasan?”
Al-Razi memberikan analisis lebih dalam:
Kaum-kaum yang disebut di ayat 12-14 memiliki dua ciri:
- Mendustakan kerasulan (risalah)
- Mendustakan kebangkitan (ma’ad)
Ayat 15 langsung menyerang akar pendustaan kedua: keraguan terhadap kemampuan Allah membangkitkan yang sudah mati.
Struktur Retorika Qurani
Ibn ’Asyur dalam Al-Tahrir wa al-Tanwir mencatat pola ini:
Premis 1: Pendustaan → Kebinasaan (ayat 12-14)
Premis 2: Allah Mahakuasa menciptakan (ayat 15)
Konklusi tersirat: Kebangkitan pasti terjadi untuk pembalasan
Perpindahan dari sejarah ke teologi adalah ciri khas gaya Qurani—tidak membiarkan argumen berhenti di level empiris, tetapi mengangkatnya ke level metafisik.
Hikmah Pedagogis
Al-Qurtubi menambahkan dimensi psikologis: Setelah sembilan contoh kebinasaan, jiwa pendengar sudah cukup tergetar. Saat itulah Allah mengajukan pertanyaan retoris (istifham inkari): “Apakah Kami letih?”
Pertanyaan ini memiliki dua fungsi:
- Menghancurkan keraguan tentang kebangkitan
- Menghibur Nabi ﷺ — seolah berkata: “Jangan khawatir, mereka yang mendustakanmu akan menghadapi hari perhitungan yang pasti.”
Kesimpulan
Pemilihan sembilan kaum dalam ayat 12-14 bukan arbitrer, melainkan seleksi pedagogis yang mempertimbangkan relevansi geografis, keragaman bentuk pendustaan, dan efek psikologis pada pendengar Quraisy. Perpindahan ke ayat 15 adalah langkah argumentatif yang mengangkat peringatan dari level sejarah empiris ke kebenaran teologis, memastikan bahwa ancaman tidak berhenti di kebinasaan duniawi, tetapi berlanjut ke pertanggungjawaban ukhrawi.
Kaum Tubba’: Kajian Tafsir Komprehensif
Identifikasi Historis
Siapakah Tubba’?
Tubba’ (تُبَّع) adalah gelar raja-raja Kerajaan Himyar di Yaman kuno, serupa dengan gelar “Fir’aun” untuk raja Mesir, “Kisra” untuk raja Persia, atau “Qaisar” untuk kaisar Romawi.
Ibn Kathir dalam Al-Bidayah wa al-Nihayah menjelaskan:
التبابعة: ملوك اليمن، وكانوا يُسمَّون بذلك لأن الناس كانوا يتبعونهم
“Al-Tababiah adalah raja-raja Yaman. Mereka dinamai demikian karena manusia mengikuti (yatba’una) mereka.”
Gelar ini diberikan kepada raja yang kekuasaannya meliputi seluruh Yaman dan daerah-daerah taklukannya. Al-Qurtubi menyebutkan bahwa seorang raja Himyar tidak disebut “Tubba’” kecuali jika menguasai Yaman, Hadramaut, Saba’, dan wilayah-wilayah sekitarnya.
Periode Sejarah
Kerajaan Himyar berkuasa sekitar abad ke-2 SM hingga abad ke-6 M. Keruntuhan terakhirnya terjadi sekitar 525 M ketika dikalahkan oleh Aksumite (Ethiopia), hanya sekitar 45 tahun sebelum kelahiran Nabi Muhammad ﷺ. Ini menjadikan kaum Tubba’ sebagai contoh paling kontemporer dalam deretan ayat 12-14.
Tubba’ dalam Al-Qur’an
Kaum Tubba’ disebut dua kali dalam Al-Qur’an:
1. Surah Qaf [50]: 14
وَأَصْحَابُ الْأَيْكَةِ وَقَوْمُ تُبَّعٍ ۚ كُلٌّ كَذَّبَ الرُّسُلَ فَحَقَّ وَعِيدِ
“Dan penduduk Aikah serta kaum Tubba’. Semuanya telah mendustakan rasul-rasul, maka berhaklah mereka mendapat ancaman-Ku.”
2. Surah Al-Dukhan [44]: 37
أَهُمْ خَيْرٌ أَمْ قَوْمُ تُبَّعٍ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۚ أَهْلَكْنَاهُمْ ۖ إِنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ
“Apakah mereka (kaum musyrikin Mekah) lebih baik ataukah kaum Tubba’ dan orang-orang sebelum mereka? Kami telah membinasakan mereka karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berdosa.”
Perbedaan Tubba’ (Raja) dan Kaumnya
Pandangan Ulama Tafsir
Para mufassir membedakan secara tegas antara Tubba’ sebagai individu dan kaumnya:
Al-Tabari meriwayatkan dari Qatadah:
إن تُبَّعًا كان رجلًا صالحًا، وإن قومه كانوا كفارًا
“Sesungguhnya Tubba’ adalah seorang yang saleh, sedangkan kaumnya adalah orang-orang kafir.”
Ibn Kathir mengutip hadits dari berbagai jalur:
عن سهل بن سعد قال: سمعت رسول الله ﷺ يقول: لا تسبوا تُبَّعًا فإنه قد كان أسلم
“Dari Sahl bin Sa’d, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Janganlah kalian mencela Tubba’, karena sesungguhnya ia telah masuk Islam (berserah diri kepada Allah).’” (HR. Ahmad, Al-Hakim)
Hadits serupa juga diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ’anha dan lainnya dengan redaksi yang sedikit berbeda.
Implikasi Penting
Inilah keunikan kaum Tubba’ dibanding kaum-kaum lain dalam deretan ayat 12-14:
| Aspek | Kaum Lain | Kaum Tubba’ |
|---|---|---|
| Nabi/Rasul | Diutus khusus kepada mereka | Tidak disebutkan nabi khusus |
| Pemimpin | Ikut mendustakan | Justru beriman |
| Pendustaan | Menolak nabi yang datang | Menolak ajaran yang dibawa raja mereka |
Siapakah Tubba’ yang Dimaksud?
Para ulama berbeda pendapat tentang Tubba’ mana yang disebut dalam Al-Qur’an. Pendapat terkuat menyebut dua kandidat:
1. As’ad Abu Karib al-Himyari
Ibn Hisyam dalam Al-Sirah dan Al-Tabari dalam Tarikh al-Rusul wa al-Muluk menyebut ia adalah As’ad Abu Karib, raja Himyar yang hidup sekitar abad ke-4 atau ke-5 M.
Kisahnya menurut riwayat:
Ia melakukan ekspedisi militer ke utara dan melewati Yatsrib (Madinah). Dua orang rabbi Yahudi dari Bani Quraizhah menghadapnya dan memperingatkan bahwa kota itu akan menjadi tempat hijrah seorang nabi di akhir zaman. As’ad terkesan dan memeluk agama tauhid (ada yang mengatakan Yahudi, ada yang mengatakan hanifiyyah).
Ia kemudian:
- Membawa dua rabbi tersebut ke Yaman
- Mengajak kaumnya kepada tauhid
- Kaumnya menolak dan tetap menyembah berhala
- Menulis surat untuk Nabi yang akan datang
Al-Tsa’labi dalam Qisas al-Anbiya’ meriwayatkan bahwa As’ad menulis surat yang isinya:
آمنت بك وبما جئت به، وأنا على دينك وسنتك، فإن أدركتك فبها، وإلا فاشفع لي يوم القيامة
“Aku beriman kepadamu dan kepada apa yang engkau bawa. Aku berada di atas agamamu dan sunnahmu. Jika aku menjumpaimu, alhamdulillah. Jika tidak, berilah syafaat untukku di hari Kiamat.”
Surat ini konon disimpan turun-temurun hingga sampai kepada Nabi ﷺ.
2. Tubba’ al-Aqran
Beberapa riwayat menyebut Tubba’ al-Aqran yang hidup lebih awal. Namun pendapat tentang As’ad Abu Karib lebih masyhur.
Mengapa Kaum Tubba’ Disebut?
1. Kedekatan Temporal dengan Quraisy
Al-Razi menjelaskan:
وذكر قوم تبع لأنهم كانوا أقرب إلى قريش في الزمان
“Kaum Tubba’ disebut karena mereka paling dekat dengan Quraisy dalam hal waktu.”
Keruntuhan Himyar terjadi dalam memori hidup generasi Arab saat Al-Qur’an turun. Kakek-nenek mereka menyaksikan kejayaan dan kehancuran kerajaan ini. Ini memberikan efek psikologis yang kuat: jika kerajaan sebesar Himyar bisa hancur, apalagi Quraisy?
2. Kebesaran yang Tidak Menyelamatkan
Ibn ’Asyur mencatat bahwa Himyar adalah simbol keagungan Arab. Mereka membangun bendungan Ma’rib yang legendaris, menguasai jalur perdagangan, dan memiliki peradaban maju. Penyebutan mereka adalah pesan: kemegahan duniawi tidak menjamin keselamatan.
3. Ironi Pemimpin Beriman, Kaum Kafir
Al-Zamakhsyari melihat hikmah khusus: kisah Tubba’ menunjukkan bahwa hidayah adalah urusan individual. Seorang raja yang berkuasa absolut pun tidak mampu memaksa kaumnya beriman. Ini menenangkan hati Nabi ﷺ yang sedih karena kaumnya menolak dakwahnya.
4. Relevansi Geografis
Yaman adalah tetangga selatan Hijaz dengan hubungan dagang dan kultural yang erat. Banyak orang Quraisy pernah berdagang ke Yaman atau bertemu orang Yaman. Reruntuhan peradaban Himyar bukan cerita asing bagi mereka.
Bentuk Azab Kaum Tubba’
Al-Qur’an tidak merinci bentuk azab kaum Tubba’. Namun para mufassir dan sejarawan mencatat beberapa bencana yang menimpa Himyar:
1. Banjir ‘Arim (Jebolnya Bendungan Ma’rib)
Meski ini lebih terkait dengan kaum Saba’, namun Himyar adalah pewaris Saba’ dan turut terdampak. Allah berfirman dalam Surah Saba’ [34]: 16:
فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ
“Tetapi mereka berpaling, maka Kami kirimkan kepada mereka banjir besar.”
2. Perpecahan Internal
Kerajaan Himyar mengalami fragmentasi akibat konflik agama (antara penganut Yahudi, Kristen, dan pagan) dan perebutan kekuasaan.
3. Invasi Asing
Kerajaan Aksum dari Ethiopia menginvasi Yaman pada 525 M, mengakhiri dinasti Himyar secara permanen. Ini terjadi setelah Raja Dzu Nuwas (penganut Yahudi) membantai Kristen Najran dalam peristiwa Ashab al-Ukhdud (QS. Al-Buruj).
Pelajaran dari Kisah Kaum Tubba’
1. Hidayah Bukan Jaminan Keturunan
Raja Tubba’ beriman, tetapi keimanannya tidak otomatis menurun kepada kaumnya. Ini mengingatkan bahwa setiap individu bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.
2. Kekuasaan Tidak Menjamin Dakwah Berhasil
Tubba’ adalah raja absolut, namun tetap tidak mampu membuat kaumnya beriman. Ini menghibur para dai yang merasa gagal: hasil dakwah bukan di tangan manusia.
3. Kemegahan Duniawi Tidak Abadi
Ibn Kathir berkomentar:
أين تبع وقومه؟ أين عزهم وملكهم؟ ذهب ذلك كله وبقي عليهم الوزر والخزي
“Di manakah Tubba’ dan kaumnya? Di mana kemuliaan dan kerajaan mereka? Semua itu telah sirna, dan yang tersisa atas mereka adalah dosa dan kehinaan.”
4. Kebaikan Raja Tidak Menghapus Dosa Kaum
Meski raja mereka saleh, kaum Tubba’ tetap ditimpakan azab. Tidak ada “keselamatan kolektif” tanpa keimanan individual.
Riwayat Menarik: Surat Tubba’ untuk Nabi ﷺ
Al-Tsa’labi dan Ibn Kathir meriwayatkan bahwa ketika surat As’ad Abu Karib sampai dan dibacakan kepada Nabi ﷺ, beliau bersabda:
مرحبًا بالأخ الصالح
“Selamat datang kepada saudara yang saleh.”
Riwayat ini, meski diperselisihkan keshahihannya, menunjukkan bagaimana tradisi Islam memandang Tubba’ secara positif sebagai individu, berbeda dengan kaumnya yang durhaka.
Korelasi dengan Konteks Surah Qaf
Dalam konteks Surah Qaf ayat 12-14, penyebutan kaum Tubba’ di posisi terakhir (sebelum kesimpulan “kullun kadzdzaba al-rusula”) memiliki signifikansi retoris:
- Urutan kronologis terbalik — dari yang paling kuno (Nuh) menuju yang paling baru (Tubba’), semakin mendekatkan ancaman kepada Quraisy
- Klimaks kedekatan — seolah berkata: “Azab bukan cerita kuno, ini baru terjadi kemarin pada tetanggamu sendiri”
- Transisi ke ayat 15 — dari bukti historis terdekat menuju argumen teologis tentang kebangkitan
Kesimpulan
Kaum Tubba’ memiliki keunikan tersendiri dalam deretan kaum-kaum yang binasa: raja mereka beriman sementara rakyatnya kafir, mereka adalah kerajaan Arab terbesar yang baru saja runtuh, dan kisah mereka masih segar dalam ingatan kolektif Quraisy. Penyebutan mereka adalah peringatan paling “dekat” dan “nyata” bagi pendengar pertama Al-Qur’an, sekaligus menunjukkan bahwa kemegahan peradaban tidak menjamin keselamatan dari azab Allah.
Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.
Wallahu a'lam bish-shawab.