Rahasia Simbol dan Isyarat Kandungan Al-Qur'an

Rahasia Simbol dan Isyarat Kandungan Al-Qur'an

Engkau tentu ingin sekali mengetahui simbol atau isyarat dari benda-benda mulia yang kami pergunakan untuk menyebut ilmu-ilmu yang dikandung Al-Qur'an. Ketahuilah bahwa kibrit atau belerang merah memang unsur yang ada di alam nyata (syahadah). Ia merupakan unsur kimia yang mampu mengubah unsur-unsur yang tak berharga menjadi berharga dan mulia. Ia mampu mengubah batu biasa menjadi batu yaqut, bahkan mengubah tembaga menjadi emas murni. Dengan unsur tersebut, benda-benda dunia yang semula tak guna dan kotor bisa berubah menjadi unsur mulia yang sarat dengan keindahan, mengubah benda yang semula tidak diterima menjadi diterima.

Dengan ilmu yang diibaratkan dengan kibrit merah ini, hati yang semula penuh dengan nafsu-nafsu kehewanan dan kebodohan akan berubah menjadi mutiara berharga yang jernihnya sejernih alam dan ruhani para malaikat. Walhasil, hati yang semula berada di dasar paling bawah naik ke tingkatan tertinggi. Ia layak berada dengan Tuhan seluruh alam dan melihat wajahNya yang mulia kekal selama-lamanya. Layakkah hati yang jernih diibaratkan dengan kibrit atau belerang merah atau tidak?

Renungkanlah dan amatilah dirimu sendiri, lalu luruskan. Tujuannya agar engkau tahu bahwa istilah itu berhak dan lebih pantas menyandang makna tadi.

Ingatlah bahwa benda mulia paling berharga yang terbentuk dari unsur kimia kibrit merah adalah batu yaqut. Dan batu yaqut paling tinggi derajatnya adalah yaqut merah. Oleh karena itu, kami ibaratkan yaqut merah ini dengan makrifat kepada Dzat Allah.

Adapun al-tiryaq al-akbar atau antitoksin merupakan suatu unsur yang tersedia di alam, biasa digunakan untuk mengobati racun-racun mematikan, dan racun itu terlanjur masuk ke dalam perut, meskipun racun-racun tersebut sifatnya hanya mematikan atau membahayakan kehidupan dunia yang fana. Sekarang, renungkanlah bagaimana jika yang membahayakan itu adalah racun-racun bidah, hawa nafsu, dan kesesatan yang menyerang hati. Semua racun itu benar-benar membahayakan terhadap alam suci, alam ruh, dan alam ketenangan untuk selama-lamanya. Dibutuhkan penawar argumen dan dalil untuk mengobati dan menangkal racun-racun tersebut. Bukankah argumen dan dalil itu pantas disebut sebagai penawar racun atau antitoksin tadi?

Adapun minyak misik adzfar adalah minyak misik terbaik yang ada di alam dan biasa digunakan sebagai pewangi atau parfum seseorang. Aromanya semerbak ke mana-mana. Saking wanginya, seandainya seorang ingin menyembunyikannya, ia pasti tidak akan mampu melakukannya. Baunya menyebar ke segala penjuru. Sekarang, perhatikanlah ilmu-ilmu fiqih yang digali dari dalil dan mampu mengharumkan nama pemiliknya ke mana-mana. Andai pemilik ilmu itu ingin menyembunyikan keharuman namanya, tentu tidak akan bisa. Dengan berusaha menyembunyikan, dia malah semakin terkenal dan semakin harum popularitasnya. Bukankah nama misik adzfar yang harumnya semerbak ke mana-mana lebih pantas dipergunakan untak menyebut ilmu fiqih yang digali dari dalil-dalil Al-Quran? Engkau pun tahu bahwa ilmu fiqih dan pengetahuan tentang hukum-hukum syara’ mampu mengharumkan dan mengagungkan nama pemiliknya. Bahkan, aroma wangi yang muncul dari kalbu seorang pemilik ilmu ini terkadang lebih wangi daripada aroma wangi minyak misik adzfar sendiri.

Adapun kayu menyan adalah kayu yang ada di alam dan secara tekstur kurang bagus, namun jika dilemparkan ke dalam api dan terbakar akan mengeluarkan asap tebal dan menyebar. Begitu asapnya sampai di penciuman, baru terasa besar manfaat dan kegunaannya. Ia mampu mengharumkan tempat di sekitarnya dan tempat-tempat yang terlewati asapnya. Jika orang-orang munafik dan musuh-musuh Allah memiliki kayu-kayu penaung yang disandarkan maka kayu-kayu itu tidak ada gunanya. Namun, jika siksaan Allah dan bencana berupa petir, penenggelaman, dan gempa, sampai kayu-kayu tersebut membakar dirinya dan mengeluarkan asap tebal hingga asap itu sampai di penciuman hati, maka barulah terasa besar manfaat kerja keras mengejar surga Firdaus tertinggi, dan bercita-cita berdampingan dengan Allah, berpaling dari kesesatan, kelalaian, dan hawa nafsu. Bukankah nama kayu menyan lebih pantas dipergunakan untuk menyebut kayu-kayu kedok orang munafik dan musuh-musuh Allah?

Cukuplah sampai di sini penjelasan tentang simbol atau istilah yang digunakan untuk menyebut kandungan Al-Qur’an. Sisanya engkau bisa menggalinya sendiri. Pecahkanlah rumus-rumusnya jika engkau mampu, sebab kami yakin, engkau juga ahli melakukannya.

Aku bisa memperdengarkan sebuah seruan andai yang kuseru masih hidup. Namun tiada artinya seruan itu jika yang kuseru sudah tidak hidup.

Dikutip dari Jawahirul Qur'an oleh Abu Hamid al-Ghazali al-Thusi.

Photo by Q.U.I on Unsplash