Al Fatihah berarti pembukaan, sebagai permulaan awal kita membaca Al-Qur'an.
Al Fatihah ini disebut khusus di dalam Al-Qur'an sebagai tujuh ayat mulia yang diulang-ulang:
وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِّنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ
Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al-Qur'an yang agung. (15:87)
Tema Utama Al-Qur'an
Al Fatihah juga disebut sebagai summary Al-Qur'an. Karena memberikan list dari tema yang dibahas di Al-Qur'an secara keseluruhannya.
- Mengenai bersyukur & memuji Allah
- Mengenai sifat Allah
- Mengenai hari akhir dan surga neraka
- Mengenai cara manusia beribadah dan bermohon pertolongan
- Mengenai jalan yang lurus dan petunjuk serta bagaimana mencapainya
- Mengenai profil dan cara menjadi sosok ideal, yakni orang yang diberi nikmat
- Mengenai perilaku dan bagaimana mengambil pelajaran dari orang yang dimurkai
- Mengenai perilaku dan bagaimana mengambil pelajaran dari orang yang sesat
Membaca Al-Qur'an
Perlu pula diingat bahwa Allah SWT menyaksikan setiap kali hambaNya membaca Al-Qur'an:
وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِن قُرْآنٍ وَلَا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ وَمَا يَعْزُبُ عَن رَّبِّكَ مِن مِّثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَلَا أَصْغَرَ مِن ذَٰلِكَ وَلَا أَكْبَرَ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ
Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak pula membaca suatu ayat pun dari Al-Qur'an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (10:61)
Membaca Al-Qur'an disebutkan secara khusus dari pekerjaan lain, maknanya Allah SWT memberikan perhatian khusus kepada mereka yang membaca Al-Qur'an, Dia akan mendekatkan diriNya lebih dekat kepada hambaNya yang sedang tekun membaca atau merenungkan makna dari ayat-ayat Al-Qur'an.
Hati yang Menyebut Nama Allah
- Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Ayat pertama dari surah Pembuka, yang bermakna permulaan dari segalanya. Kita memulai segalanya dg asma Allah yang utama. Segala yang ada di alam pun diciptakan Allah dengan sifatNya yang utama, yakni sifat Rahman dan Rahim. Makna ini selaras dengan perintah membaca ayat ini – basmalah – sebelum kita memulai sesuatu pekerjaan yang baik. Implisit, kita menyertakan kehadiran Dzat Yang Maha Pemurah dan Dzat yang Maha Penyayang di dalam segala sesuatu yang dikerjakan.
Bismillah – dengan (menyebut) nama Allah, sebenarnya adalah salah satu cara untuk mensucikan hati. Hati yang suci inilah yang akan menjadi prasyarat kita dalam memahami Al-Qur'an – sebagaimana dijelaskan di dalam rangkaian Surah Al Waqi’ah 56:77-81 di bawah:
إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ
Sesungguhnya Al-Qur'an ini adalah bacaan yang sangat mulia,
فِي كِتَابٍ مَّكْنُونٍ
pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh),
لَّا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ
tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang (hatinya) disucikan.
تَنزِيلٌ مِّن رَّبِّ الْعَالَمِينَ
Diturunkan dari Rabbil ‘alamiin.
أَفَبِهَٰذَا الْحَدِيثِ أَنتُم مُّدْهِنُونَ
Maka apakah kamu menganggap remeh saja Al-Quran ini?
Bila hati sudah dijaga kesuciannya melalui menyebut nama Allah terus menerus maka akan dibukakan hijab (penghalang) di dalam hati dengan Dia, dan dikaruniakan pemahaman / hikmah atas ayat-ayatNya.
Quraish Shihab di dalam Lentera Hati menerangkan dengan singkat mengenai makna Basmalah ini, sebagai berikut:
Mulailah Segala Aktivitas Kita dengan Mengucapkan Basmalah
Mulailah segala aktivitas kita dengan mengucapkan basmalah, yakni Bi lsm Allah Al-Rahman Al-Rahim. Dengan mengucapkan ucapan ini, kita bukan sekadar mengharapkan "berkah", tetapi juga menghayati maknanya, sehingga dapat melahirkan sikap dan karya yang positif.
Kata bi yang diterjemahkan "dengan", oleh para ulama dikaitkan dengan kata memulai, sehingga pengucap basmalah pada hakikatnya berkata, "Dengan (atau demi) Allah saya memulai (pekerjaan ini)." Apabila Anda menjadikan pekerjaan Anda "atas nama" dan "demi" Allah, maka pekerjaan tersebut pasti tidak akan mengakibatkan kerugian pihak lain. Karena ketika itu Anda telah membentengi diri dan pekerjaan Anda dari godaan nafsu serta ambisi pribadi.
Kata bi juga dikaitkan dengan kekuasan dan pertolongan, sehingga si pengucap menyadari bahwa pekerjaan yang dilakukannya terlaksana atas kodrat (kekuasaan) Allah. Ia memohon bantuan-Nya agar pekerjaannya dapat terselesaikan dengan baik dan senpuma. Dengan permohonan itu, di dalam jiwa si pengucap tertanam rasa kelemahan di hadapan Allah SWT. Namun, pada saat yang sama, tertanam pula kekuatan, rasa percaya diri, dan optimisme karena ia merasa menperoleh bantuan dan kekuatan dari Allah sumber segala kekuatan. Apabila suatu pekerjaan di lakukan atas bantuan Allah maka pasti ia sempurna, indah, baik dan benar karena sifat-sifat Allah "berbekas" pada pekerjaan tersebut.
Allah, yang dimohonkan bantuan-Nya itu, memiliki sifat-sifat yang Mahasempurna. Ada dua sifat kesempurnaan yang ditekankan, yaitu Al-Rahman dan Al-Rahim. Al-Rahman adalah curahan rahmat-Nya secara aktual yang diberikan di dunia ini kepada alam raya, termasuk manusia (mukmin maupun kafir). Sedangkan Al-Rahim adalah curahan rahmat-Nya kepada mereka yang beriman yang akan diberikan kelak di akhirat.
Kedua sifat tersebut - yang ditanamkan dan yang diusahakan untuk memenuhi jiwa setiap pengucap basmalah agar seluruh sikap dan perbuatannya diwarnai oleh curahan rahmat dan kasih sayang - bukan hanya ditanamkan pada sesama mukmin atau sesama manusia, tetapi juga pada binatang, tumbuh-tumbuhan, bahkan juga pada makhluk-makhluk tak bernyawa sekalipun.
Ucapkanlah basmalah pada saat Anda mulai menulis, niscaya tulisan dan apa yang Anda tulis akan menjadi indah dan benar. Kasih sayang akan tercurah pada pena dan kertas, sehingga Anda tidak menyia-nyiakannya. Ucapkanlah basmalah pada saat Anda memakai pakaian, berjalan, menyembelih binatang, bekerja, berbaring, dan sebagainya, agar kasih sayang tercurah kepada Anda, dan Anda pun mampu mencurahkannya kepada yang lain.
Salah dan keliru - jika enggan berkata berdosa - orang yang beranggapan bahwa empat tambah empat sama dengan delapan, baik dengan basmalah atau tidak. Salah dan keliru anggapan ini, karena dengan basmalah, paling tidak jumlah tersebut diucapkan dan dipaparkan dengan indah dan baik.
Sementara bila tanpa basmalah tidak mustahil jumlahnya dalam catatan delapan tetapi dalam kenyataan hanya tujuh; yang satu tercecer mungkin ke saku yang enggan mengucapkannya. Mahabenar dan Mahaindah petunjuk Allah serta Rasul-Nya.[]
Rasa Bersyukur kepada Allah
- Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
Ayat pertama (atau ayat kedua menurut sebagian ulama) ini adalah mengenai rasa terima kasih, syukur kepada Allah. Tuhan semesta alam. Tuhan bagi segenap makhluk. Binatang, pepohonan, bintang, planet, matahari, semua mengakui akan adanya Allah sebagai pencipta mereka dan segalanya. Semua sebenarnya mengakui akan ketuhanan Allah dalam bentuk tunduk kepada sunah Allah.
Dijelaskan juga di dalam ayat lain:
وَهُوَ الَّذِي مَدَّ الْأَرْضَ وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْهَارًا وَمِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ جَعَلَ فِيهَا زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Dan Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (13:2)
Semua yang ada di alam, termasuk matahari sekalipun tunduk kepada hukumNya
لَا الشَّمْسُ يَنبَغِي لَهَا أَن تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ
Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya. (36:40)
Ar-Rahman dan Ar-Rahim
- Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
Ini adalah ciri utama Allah dalam menjadi Tuhan bagi semesta alam. Maha Pengasih kepada semua makhluk. Maha Penyayang kepada makhluk pilihanNya. Yakni hambanya yang beriman dan bertakwa.
Apa perbedaan antara Ar Rahman dan Ar Rahim? Menurut Ibnul Qayyim, Ar-Rahman menunjukkan sifat kasih sayang pada Dzat Allah, yakni Allah Dzat yang Maha Mengasihi apa pun, sedangkan Ar-Rahim menunjukkan bahwa sifat kasih sayang-Nya terkait dengan makhluk yang dikasihi-Nya, yakni Allah Sang Pencipta yang teramat besar kasih sayangnya kepada hamba ciptaanNya.
Sehingga seakan-akan nama Ar-Rahman adalah sifat bagi-Nya, sedangkan nama Ar-Rahim mengandung perbuatan-Nya, yakni menunjukkan bahwa Dia memberi kasih sayang kepada makhluk-Nya dengan rahmat-Nya.
Perhatikan penggunaan kedua kata tersebut di dalam ayat-ayat berikut:
هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا
Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. (33:43)
لَّقَد تَّابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِن بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِّنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka (9:117)
Di sini Allah tidak menyebutkan dengan nama Ar-Rahman sama sekali dan menggunakan Ar Rahim pada semua hal yang terkait dengan karunia dan rahmat kepada hambaNya.