Ya Sin 36 : 1-12

Ya Sin 36 : 1-12

Surah ini termasuk kelompok Makkiyyah.

Ath-Thabari meriwayatkan dari Ikrimah, Abu Jahal berkata, "Jika aku melihat Muhammad, sungguh aku akan lakukan begini dan begini." Allah SWT pun menurunkan ayat 8-9 dari surah ini. Orang-orang berkata kepada Abu Jahal, "Ini Muhammad." Namun Abu Jahal tidak bisa melihat Rasulullah saw, dan berkata, "Dimana dia, dimana dia?"

  1. Yaa siin

Sebagian besar Mufassir berpendapat bahwa "Ya Sin" artinya "Hai manusia", dimana manusia yang dimaksud di sini adalah Rasulullah saw. Oleh sebab itu, sama seperti awal surah Thaha, keduanya disebut sebagai nama-nama dari Nabi saw.

Rasulullah dan Al-Qur’an

  1. Demi Al-Qur'an yang penuh hikmah,

Surah ini diawali dengan sumpah Ilahi demi Al-Qur'an Al-Hakim, bahwa Nabi Muhammad saw adalah benar-benar seorang Rasul yang diutus oleh Rabb alam semesta. Implisit kita diperintahkan agar berpegang sekuat-kuatnya kepada kitabNya, yakni Al-Qur’an, yang mengandung hikmah, kebenaran dan kebijaksanaan dengan cakupan bahasan luas atas berbagai perkara, hukum serta benang merah di balik berbagai ciptaan Allah di alam semesta yang melingkupi manusia.

  1. Sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul,
  2. (yang berada) di atas jalan yang lurus,

Kemudian Allah menerangkan mengenai rasul (3). Implisit Allah berpesan kepada kita bahwa keyakinan kita atas Muhammad saw adalah rasul utusanNya yang berjalan di jalan yang lurus haruslah sama kuatnya dengan keyakinan kita atas Al-Qur’an adalah kitab yang penuh hikmah dan pelajaran - yang disebut di ayat 2 sebelumnya.

  1. (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang,
  2. Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai.

Ayat 5 & 6 di atas menggambarkan Al-Kitab dan kerasulan adalah satu paket. Mengimaninya harus mengimani keduanya. Menaatinya pun harus menaati keduanya.

  1. Al-Kitab (Al-Qur’an) adalah wahyu yg diturunkan oleh Allah yang Maha Perkasa (yang melindungi dan memenangkan rasulNya atas ancaman orang-orang kafir dari kaumnya) dan Maha Penyayang (yang Maha Penyayang - Ar-Rahiim terhadap hambaNya yang mengikuti rasul, yang mengampuni mereka, memaafkan dan menutupi kesalahan-kesalahan mereka, serta memberi balasan amal yang berlipat pada amal ibadah mereka dan memberi berbagai keringanan / rukhsah atas kelemahan hambaNya) (5).
  2. Rasul adalah hamba yang diutus Allah kepada kaum yang lalai dengan tujuan memberi peringatan (6).

Ayat 6 juga menerangkan bahwa tugas rasul yang pertama, yakni memberi peringatan.

Di dalam beberapa ayat, diterangkan bahwa tugas rasul sebenarnya sama dengan tujuan diturunkannya Al-Qur'an, yakni:

  1. Memberi peringatan bagi orang yang menolak seruan dakwah, akan azab Allah di dunia dan akhirat
  2. Memberi kabar gembira bagi orang yang menaati seruan dakwah, akan balasan pahala di dunia dan akhirat serta ketenangan jiwa dan pertolongan Allah di dalam kehidupan mereka di dunia

A. Dua Tujuan diturunkannya Al-Qur'an

Sesungguhnya Al-Qur'an ini (1) memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan (2) memberi kabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar (Al Isra' 17:9)

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hambaNya Al Kitab (Al-Qur'an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya; sebagai bimbingan yang lurus, untuk (1) memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan (2) memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik (Al Kahfi 18:1-2)

B. Dua Tujuan diutusnya Rasul

Maka sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran itu dengan bahasamu, agar kamu dapat (1) memberi kabar gembira dengan Al Quran itu kepada orang-orang yang bertakwa, dan agar kamu memberi (2) peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang. (Maryam 19:97)

Katakanlah, "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah (1) pemberi peringatan, dan (2) pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman" (Al A'raaf 7:188)

(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul (1) pembawa berita gembira dan (2) pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (An Nisaa’ 4:165)


Ayat 6 ini juga menerangkan salah satu dari dua target dakwah, yakni:

  1. Mereka yang belum pernah diberi peringatan melalui rasul - ini yang disebutkan di ayat 6

  2. Mereka yang sudah pernah diberi peringatan - rasul sudah pernah diutus kepada mereka, seperti pada Bani Israil - ini yang disebutkan di beberapa ayat berikut:

    Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa orang rasul sebelum kamu maka turunlah kepada orang yang mencemoohkan rasul-rasul itu azab yang selalu mereka perolok-olokkan. (Al-Anbiya 21:41)

Selain itu, juga menarik redaksi ayat 6 terkait dengan lalai:

Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai

Dari redaksi ayat ini, implisit Allah menerangkan, bahwa sebenarnya setiap manusia fitrah aslinya pastilah beriman. Namun di dalam perjalanan kehidupannya, bisa jadi ia hanyut dengan berbagai godaan dan kesibukan dunia - ditambah dia tidak menerima peringatan apa pun - sehingga menjadikannya lalai dan lupa kepada Allah. Bila dia terus menerus dalam kelalaian maka hatinya akan menjadi keras dan semakin sulit menerima kebenaran Allah. Inilah yg digambarkan di ayat berikut:

Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (Az Zumar 39:22)

  1. Sesungguhnya telah pasti berlaku Al-Qawl (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, kerena mereka tidak beriman.

Ayat selanjutnya menerangkan bahwa Allah SWT memiliki pengetahuan azali yang mengetahui dan menetapkan akhir kehidupan mereka (kaum kafir), bukan atas keterpaksaan dan ketidakmampuan mengelak, melainkan atas pilihan dan kemauan bebas mereka sendiri yang lebih memilih untuk bersikukuh dan persisten dalam kekafiran.[1] Akan tetapi, Allah SWT tetap memerintahkan kepada Nabi saw untuk menyampaikan dakwah kepada mereka karena tidak ada seorang pun yang tahu apa yang ada di dalam pengetahuan azali Allah SWT (7).

Peringatan Allah

  1. Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah.
  2. Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.

Ayat berikutnya menggambarkan bentuk peringatan tersebut, yakni ancaman adzab neraka sebagai berikut:

  • Belenggu rantai yang diikatkan ke tangan hingga leher sehingga mereka tidak bisa melakukan apa-apa dan kepala mereka menengadah ke atas (8)
  • Ditempatkan di ruangan yang sangat sempit di neraka, digambarkan mereka diapit oleh dinding di depan dan di belakang, dan mata mereka tertutup (9)

Gambaran ancaman adzab di neraka pada ayat 8-9 ini dapat pula ditafsirkan sebagai gambaran suasana batin yang dialami mereka yang tidak beriman ini selama di dunia, yakni:

  • Belenggu rantai urusan dunia sehingga seakan mereka tenggelam di dalam kesibukan dunia yang menghantuinya. Mereka terbelenggu oleh urusan dunia seperti orang di dalam air yang tinggi sampai seleher, sehingga mereka terpaksa mengangkat dagu dan menengadahkan kepala agar tetap bisa bernafas. Mereka rela menghalalkan segalanya, mengorbankan kehormatan, keadilan, kemanusiaan, dll demi agar tercapainya tujuan (8)
  • Digambarkan juga kondisi yang seperti terjepit oleh dinding besar di depan dan di belakang. Maju salah. Mundur salah. Terdesak. Hari demi hari harus terus dijalani, walaupun hati was-was, tidak tenang dan kering. Semakin lama mereka berada di sana semakin buta hatinya dari memahami kebenaran wahyu petunjuk Tuhan, juga semakin kering hatinya dan semakin kesepian jiwanya. Semakin besar kerinduannya akan ketenangan. Semakin gelisah hatinya - jauh di dasar lubuk hatinya (9)
  1. Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman.
  2. Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.

Bagi mereka yang terbelenggu oleh dunia, menghalalkan segalanya, mata, telinga, pikiran dan hati tidak bisa lepas dari kekhawatiran dan harapan mereka di dunia. Sehingga dikatakan, sebenarnya sama saja bagi mereka, disampaikan dakwah atau tidak, diperlihatkan, diperdengarkan ayat atau tidak - tidak akan masuk ke dalam hati dan pikiran karena pikiran dan hati mereka yang sudah penuh dengan urusan dunia. Di beberapa ayat lain, mereka ini sudah dianggap buta dan tuli.

Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti. (Al-Baqarah 2:171)

Perbandingan kedua golongan itu (orang-orang kafir dan orang-orang mukmin), seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat mendengar. Adakah kedua golongan itu sama keadaan dan sifatnya? Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran (daripada perbandingan itu)? (Hud 11:24)

Di ayat lain lagi, dijelaskan bahwa sebenarnya sumber kebutaan dan ketulian ini adalah dari hati yang tidak bisa lepas dari dunia, hati yang menghalalkan segala cara demi mencapai dunia:

maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. (Al-Hajj 22:46)

Allah menegaskan kembali di ayat 11, bahwa petunjuk / kebenaran hanya dapat diterima oleh orang yang mencari, yang membuka hatinya untuk menerima petunjuk, membuka hatinya untuk merasakan rasa Allah, membuka hati untuk mendengar pesan Allah kepada dirinya, merasa takut kepada Allah, menerima koreksi dan peringatan atas diri, perbuatannya dan kehidupannya - walaupun mereka tidak dapat melihat Allah - sebagaimana diterangkan juga di ayat berikut:

Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya Yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar. (Al-Mulk 67:12)

Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta (mata hatinya) dari kesesatannya. Dan kamu tidak dapat memperdengarkan (petunjuk Tuhan) melainkan kepada orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, mereka itulah orang-orang yang berserah diri (kepada Kami). (Ar-Rum 30:53)

Bagi mereka yang menerima seruan Rasul ini, maka Allah SWT memberikan berita gembira kepada mereka, yakni:

  1. Ampunan karena kesalahan, kekhilafan dan keterbatasan mereka
  2. Balasan pahala dan kebaikan yang disempurnakan, juga karena kesalahan dan keterbatasan mereka dalam beramal

Akhir ayat 11 inilah yang menjelaskan tugas rasul kedua dan tujuan kedua penurunan Al Kitab, yakni memberikan kabar gembira.

  1. Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauhul Mahfuzh).

Sebagai penutup dari bahasan Rasul dan Al-Qur’an ini, diterangkan akhir perjalanan bagi mereka yang taat ataupun yang mengingkari seruan Rasul ini:

  • Mereka akan dibangkitkan dari matinya

  • Mereka akan melalui proses hisab / perhitungan atas amal perbuatannya yang dicatat di dalam kitab yang disebut sebagai Lauhul Mahfudz

    Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan. Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis. (Al-Qamar 54:52-53)

Peristiwa ini dan kelanjutannya diterangkan pada ayat 51-64 (akan dibahas terpisah).

  1. Dan ditiuplah sangkalala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka.
  2. Mereka berkata, "Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?". Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul(Nya).
  3. Tidak adalah teriakan itu selain sekali teriakan saja, maka tiba-tiba mereka semua dikumpulkan kepada Kami.
  4. Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan.
  5. Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka).
  6. Mereka dan isteri-isteri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan.
  7. Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta.
  8. (Kepada mereka dikatakan), "Salam", sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.
  9. Dan (dikatakan kepada orang-orang kafir), "Berpisahlah kamu (dari orang-orang mukmin) pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat.
  10. Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu",
  11. dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus.
  12. Sesungguhnya syaitan itu telah menyesatkan sebahagian besar diantaramu, Maka apakah kamu tidak memikirkan?.
  13. Inilah Jahannam yang dahulu kamu diancam (dengannya).
  14. Masuklah ke dalamnya pada hari ini disebabkan kamu dahulu mengingkarinya.

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.

Photo credit: Jawad Jawahir

Diselesaikan pada 20230108


  1. Penulis berpendapat, pengetahuan azali Allah SWT ini dikarenakan Allah SWT berbeda dari makhluk ciptaanNya. Dia berada di luar ruang dan waktu, sehingga bagiNya tidak ada awal dan akhir, tidak ada sebab dan akibat. Dia dapat melihat awal sekaligus juga akhir melalui ilmuNya. Wallahu a'lam ↩︎