Yunus 10 : 71-92

Yunus 10 : 71-92

Dakwah Nabi Nuh

  1. Dan bacakanlah kepada mereka berita penting tentang Nuh di waktu dia berkata kepada kaumnya, "Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakal, karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.
  2. Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun dari padamu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya)."
  3. Lalu mereka mendustakan Nuh, maka Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami jadikan mereka itu pemegang kekuasaan dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka perhatikanlah bagaimana kesesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu.
  4. Kemudian sesudah Nuh, Kami utus beberapa rasul kepada kaum mereka (masing-masing), maka rasul-rasul itu datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka tidak hendak beriman karena mereka dahulu telah (biasa) mendustakannya. Demikianlah Kami mengunci mati hati orang-orang yang melampaui batas.

Ayat 71-74 menerangkan perjuangan Nabi Nuh as:

  • Beliau dimusuhi dan diancam dianiaya oleh kaumnya (71)

  • Beliau menegaskan bahwa dakwah yang dilakukan adalah murni semata mengikuti perintah Allah. Tidak mengharapkan balasan materi apa pun dari kaumnya (72). Hal ini merupakan akhlak dari setiap Rasul, yang disebutkan dalam banyak ayat di antaranya:

    Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. (Asy-Syu'ara' 26:109, 127, 145, 164, 180)

  • Namun demikian kaum Nuh tetap ingkar sehingga diturunkan azab berupa banjir besar yang menenggelamkan seluruh kaumnya yang mengingkari dakwahnya (73)

  • Beberapa rasul diutus setelah Nuh kepada berbagai umat, namun kebanyakan mereka ingkar terhadap dakwah yang disampaikan oleh para rasul tersebut (74)

Melalui kisah Nabi Nuh as ini, implisit Allah berpesan, bahwa tugas dakwah tidak mudah. Perlu pengorbanan jiwa raga dan perjuangan yang lama - Al-Qur'an menyebutkan beliau tinggal bersama kaumnya selama 950 tahun, dengan pengikut yang beriman sangat sedikit (menurut riwayat, sekitar 13 atau 40 orang saja):

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim. (Al-'Ankabuut 29:14)

Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. (Huud 11:40)

Seorang pendakwah haruslah bermental kuat, mengabdi sepenuhnya dengan jiwa, raga dan harta. Dia juga harus persistent, tidak mudah putus asa menghadapi penolakan dan berbagai ancaman dari umatnya.

Kisah Nabi Nuh as ini dapat dibaca lebih lengkap pada bahasan Surah Huud 25-49.

Dakwah Nabi Musa dan Harun menghadapi Fir'aun (1)

  1. Kemudian sesudah rasul-rasul itu, Kami utus Musa dan Harun kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya, dengan (membawa) tanda-tanda (mukjizat-mukjizat) Kami, maka mereka menyombongkan diri dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.
  2. Dan tatkala telah datang kepada mereka kebenaran dari sisi Kami, mereka berkata, "Sesungguhnya ini adalah sihir yang nyata."
  3. Musa berkata, "Apakah kamu mengatakan terhadap kebenaran waktu ia datang kepadamu, sihirkah ini, padahal ahli-ahli sihir itu tidaklah mendapat kemenangan?"
  4. Mereka berkata, "Apakah kalian datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya, dan supaya kalian berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi? Kami tidak akan mempercayai kalian berdua."
  5. Fir'aun berkata (kepada pemuka kaumnya), "Datangkanlah kepadaku semua ahli-ahli sihir yang pandai!"
  6. Maka tatkala ahli-ahli sihir itu datang, Musa berkata kepada mereka, "Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan."
  7. Maka setelah mereka lemparkan, Musa berkata, "Apa yang kamu lakukan itu, itulah yang sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan kebatilannya." Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-yang membuat kerusakan.
  8. Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapan-Nya, walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai(nya).
  9. Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa) dalam keadaan takut bahwa Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka. Sesungguhnya Fir'aun itu berbuat sewenang-wenang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas.
  10. Berkata Musa, "Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri."
  11. Lalu mereka berkata, "Kepada Allahlah kami bertawakkal. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zalim,
  12. dan selamatkanlah kami dengan rahmat Engkau dari (tipu daya) orang-orang yang kafir."
  13. Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya, "Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah rumah-rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah olehmu sholat serta gembirakanlah orang-orang yang beriman."
  14. Musa berdoa, "Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia. Ya Tuhan Kami (akibatnya) mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih."
  15. Allah berfirman, "Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui."

Ayat 75-89 mengisahkan perjuangan Nabi Musa dan Harun dalam berdakwah dan menyelamatkan Bani Israil menghadapi kekuasaan besar Fir'aun:

  • Musa dan Harun diutus untuk berdakwah kepada Fir'aun dan jajaran menterinya yang dikenal sombong (75) dan sewenang-wenang kepada Bani Israil (83).

  • Kekuatan Fir'aun saat itu adalah para ahli sihir dan pasukan militernya. Musa dan Harun mengalahkan ahli sihir (76-82). Di ayat lain disebutkan para ahli sihir Fir'aun ini seketika beriman di hadapan Musa setelah sihir mereka dikalahkan oleh mukjizat Musa (tongkat berubah menjadi ular). Mereka tetap beriman walaupun disiksa karena menolak kembali menuhankan Fir'aun:

    Maka mereka (para ahli sihir) kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina. Mereka berkata, "Kami beriman kepada Tuhan semesta alam, (yaitu) Tuhan Musa dan Harun." Fir'aun berkata, "Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu?, sesungguhnya (perbuatan ini) adalah suatu muslihat yang telah kamu rencanakan di dalam kota ini, untuk mengeluarkan penduduknya dari padanya; maka kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu ini); demi, sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kakimu dengan bersilang secara bertimbal balik, kemudian sungguh-sungguh aku akan menyalib kamu semuanya." Ahli-ahli sihir itu menjawab, "Sesungguhnya kepada Tuhanlah kami kembali. Dan kamu tidak menyalahkan kami, melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami." (Mereka berdoa) "Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu)." (Al-A'raf 7: 119-127)

  • Musa dan Harun memperlihatkan berbagai mukjizat yang sangat kuat namun Fir'aun dan para pemukanya tetap bersikeras menolak, membangkang dan mengingkarinya. Hanya kalangan bawah yang beriman kepada Musa (83).

  • Di tengah tekanan Fir'aun ini, Allah memerintahkan Bani Israil untuk mendirikan sholat. Mereka membeli beberapa rumah untuk dijadikan tempat ibadah (agar tidak diketahui pasukan Fir'aun), sekaligus juga sebagai tempat tinggal (87).

  • Musa pun berdoa untuk kecelakaan Fir'aun dan para pemukanya (88). Doa Musa ini diperkenankan oleh Allah SWT (89):

    "Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan Kami (akibatnya) mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih" (88)

    Menurut Ath-Thabari, Fir'aun tinggal setelah doa Musa ini selama 4 tahun, sedangkan menurut Muhammad bin Ka'ab dan Ali bin al-Husain berpendapat hanya 40 hari. Ibnu Katsir berpendapat, doa ini adalah bentuk kemarahan Musa demi Allah dan agamaNya atas Fir'aun dan para pemukanya, dimana dia tahu bahwa tak ada satu kebaikan apa pun pada mereka dan tidak datang sedikit pun dari mereka, sebagaimana Nuh pernah berdoa di ayat lain:

    Dan Nuh berdoa, "Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir. (Nuh 71:26-27)

Dakwah Nabi Musa dan Harun menghadapi Fir'aun (2)

  1. Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia, "Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)".
  2. Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.
  3. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.
  • Akhirnya Fir'aun beserta jajaran menteri dan pasukannya ditenggelamkan Allah di laut merah.

  • Di saat menjelang ajalnya, Fir'aun menyatakan syahadat namun pengakuan keimanan ini tidak diterima karena sudah terlambat (90). Hal ini juga dijelaskan pada ayat lain:

    Maka tatkala mereka melihat azab Kami, mereka berkata, "Kami beriman hanya kepada Allah saja, dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah." Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa Kami. Itulah sunnah Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. Dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir. (Al-Mu'min 40:84-85)

    Peristiwa diselamatkannya Musa dari Fir'aun dan tentaranya ini terjadi pada hari Asyuraa (tanggal 10) bulan Muharram, sesuai hadits Nabi saw berikut:

    Ketika Nabi saw datang di Madinah, orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya, "Apa hari yang kalian berpuasa ini? Mereka menjawab, "Ini adalah hari dimana Musa diselamatkan dari Fir'aun." Maka Nabi saw pun bersabda kepada para sahabat beliau, "Kalian lebih berhak pada Musa daripada mereka, maka berpuasalah." (HR Bukhari)

  • Allah menyelamatkan jasad Fir'aun sebagai pelajaran bagi umat yang datang kemudian (92).

Dari dakwah Nabi Musa dan Harun menghadapi Fir'aun ini, tampak jelas betapa luasnya bidang dakwah dan skalanya yang sangat masif. Tidak hanya menegakkan kalimat Tauhid tetapi juga membebaskan bangsa Bani Israil dari kezaliman raja yang luas kekuasaannya dan sombong. Menegakkan kalimat Tauhid sama pentingnya dengan menegakkan kebenaran, melawan kezaliman dan menjaga kemuliaan fitrah manusia sebagai makhluk Tuhan yang bebas dari penindasan.

Kisah Musa-Harun menghadapi Fir'aun ini dapat dibaca lebih lengkap di kajian Surah Al-A'raf 96-122, 123-137; dan Thaha 9-48, Thaha 49-76.

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.

Photo credit: The New York Public Library

Diselesaikan pada 20210823