Menyambung dari bahasan ayat sebelumnya mengenai perjalanan dakwah Nabi Nuh dan Musa, ayat 96-109 menjelaskan beberapa prinsip berdakwah, diambil dari perjalanan perjuangan dakwah beberapa Nabi.
Prinsip Dakwah 1: Teguh dan Tidak Putus Asa
- Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Tuhanmu, tidaklah akan beriman,
- meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan, hingga mereka menyaksikan azab yang pedih.
Di sini dijelaskan, bahwa ada orang-orang yang walaupun sudah diberi peringatan berkali-kali, tetap menolak dan ingkar. Menghadapi kondisi seperti ini, seorang pendakwah harus sabar dan tetap berdoa memohon pertolongan Allah, sebagaimana dicontohkan oleh doa beberapa Nabi:
Doa Nabi Hud: Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah Tuhanku Tuhanmu. Tidak satupun makhluk bergerak yang bernyawa melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya (menguasainya). Sungguh, Tuhanku di jalan yang lurus (Hud 11:56)
Doa Nabi Luth: Ya Tuhanku selamatkanlah aku dan keluargaku dari yang mereka perbuat (Asy-Syu’ara 26:169)
Doa Nabi Syu'aib: Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Hanya kepada Allah kami bertawakal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak. Engkaulah pemberi keputusan terbaik (Al-A’raf 7:89)
- Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu), beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu.
Namun demikian, ada juga kaum yang awalnya ingkar tetapi di saat-saat terakhir menjelang turunya azab mereka segera bertaubat, sehingga penduduknya beriman seluruhnya. Ini yang terjadi pada kaum Ninawa, umat Nabi Yunus. Di dalam kisah Nabi Yunus ini, Allah menegur beliau karena meninggalkan umatnya disebabkan putus asa atas umatnya, padahal belum turun perintah Allah untuk pergi. Sebagai manusia, tidak ada yang tahu, kapan dan bagaimana seseorang akan menerima hidayah (beriman).
Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, "Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim." (Al-Anbiya' 21:87)
Tugas seorang pendakwah adalah menyampaikan dengan ikhlas, persistent, tidak putus asa, walaupun orang-orang yang didakwahi menolak, mencemoohkan, mengancam dll.
- Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?
- Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.
- Katakanlah, "Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman."
Allah SWT kemudian mengingatkan kita, bahwa hidayah dan iman tidak bisa dipaksakan.
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat ... (Al-Baqarah 2:256)
Hidayah adalah hak prerogatif Allah (99-100), sedangkan tugas Rasul atau pendakwah hanya menyampaikan kebenarannya.
Hal ini ditegaskan Allah dalam beberapa ayat berikut:
Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (Al-Qashash 28:56)
Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan, dan kamu sekali- kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. Maka beri peringatanlah dengan Al Quran orang yang takut dengan ancaman-Ku. (Qaf 50:45)
Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah)... (Asy-Syura 42:48)
Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka. (Al-Gasyiyah 88:21-22)
Di akhir ayat 100, dikatakan, "Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya." Maknanya, bahwa mereka yang ingkar dan menolak kebenaran sebenarnya karena tidak benar-benar menggunakan akalnya. Atau dengan kata lain, hidayah akan lebih dekat bagi mereka yang menggunakan akal, berpikir dengan jernih dan obyektif, yakni dengan merenungkan berbagai fenomena alam (ayat-ayat Qawniyah) dan Al-Qur'an yang disampaikan oleh Rasul (ayat-ayat Qawliyah) (101), sebagaimana diperintahkan Allah pada ayat berikut:
Dan di bumi terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (Az-Zariyat 51:20-21)
- Mereka tidak menunggu-nunggu kecuali (kejadian-kejadian) yang sama dengan kejadian-kejadian (yang menimpa) orang-orang yang telah terdahulu sebelum mereka. Katakanlah, "Maka tunggulah, sesungguhnya aku pun termasuk orang-orang yang menunggu bersama kamu."
- Kemudian Kami selamatkan rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman, demikianlah menjadi kewajiban atas Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.
Pada ayat 102 di atas, digambarkan orang-orang yang bersikukuh tetap ingkar, tidak bergeming dengan ancaman azab yang disampaikan oleh para Rasul. Dicontohkan, sikap rasul terhadap mereka adalah tetap bersabar, tetap tinggal bersama mereka, menunggu ketetapan Allah. Maka di ayat selanjutnya, Allah meneguhkan para rasul, pendakwah dan orang-orang yang beriman, bahwa Dia akan menyelamatkan mereka bila azab tersebut datang.
demikianlah menjadi kewajiban atas Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman. (103)
Prinsip Dakwah 2: Menjadi Teladan, Walk The Talk
- Katakanlah, "Hai manusia, jika kamu masih dalam keragu-raguan tentang agamaku, maka (ketahuilah) aku tidak menyembah yang kamu sembah selain Allah, tetapi aku menyembah Allah yang akan mematikan kamu dan aku telah diperintah supaya termasuk orang-orang yang beriman"
Prinsip kedua yang harus dipegang oleh Pendakwah adalah Walk The Talk. Pendakwah harus menjadi teladan pertama yang mengamalkan apa yang dia dakwahkan. Pada ayat di atas, Nabi saw mencontohkan walk the talk risalah Tauhid yang beliau dakwahkan dengan benar-benar mengamalkannya, beribadah menyembah Allah yang Maha Esa, tidak mencampurkannya dengan sesembahan lain dari kaum Musyrik atau juga mengikuti kaum Yahudi dan Nasrani yang menyekutukan Allah dengan Uzair dan Isa.
Disebutkan di ayat tersebut, bahwa Walk The Talk ini mutlak diperlukan untuk menepis keraguan umat kepada Pendakwah dan kebenaran materi dakwah yang disampaikan.
Prinsip Dakwah 3: Fokus pada Tema Tauhid
Ayat 105 - 107 menjelaskan 3 tema pokok risalah Tauhid. Melanjutkan dari rangkaian ayat sebelumnya, Nabi saw mencontohkan, mengajarkan tema Tauhid ini sebagai materi utama dakwah.
Tema Tauhid 1: Ketaatan dan Keikhlasan dalam beragama
- dan (aku telah diperintah), "Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik.
Beriman dan mengikuti agama Allah (yakni melaksanakan perintah dan menghindari larangannya) dengan hati yang lapang, tulus dan penuh keikhlasan dan prasangka baik serta ditujukan semurni-murninya kepada Allah semata.
Tema Tauhid 2: Merawat Ketauhidan
- Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim."
- Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Menjaga hati untuk tetap bertauhid, menjaga hati tetap berdoa dan berharap hanya kepada Allah, tidak meletakkan harapan atau keberuntungan nasib pada selain Allah. Merawat ketauhidan ini diperlukan agar kita waspada tidak terjerumus harapan mendapat keberuntungan atau menolak bala dari berbagai prediksi, baik yang non-ilmiah seperti primbon hari baik, ramalan shio, zodiak, dan juga prediksi ilmiah para ahli di bidangnya, seperti ahli ekonomi, dokter, dll.
Pendapat para ahli boleh kita terima sebagai masukan, misalnya untuk pengambilan keputusan dalam perusahaan atau pemerintahan. Adapun yang harus dihindari adalah meyakini bahwa nasib kita - keberuntungan (manfaat) dan kemalangan (mudharat) - ditentukan sepenuhnya oleh ramalan / prediksi tersebut. Seperti dokter memberikan obat, kita tidak boleh meyakini bahwa kesembuhan kita pasti karena meminum obat tersebut. Juga, bila ahli ekonomi memprediksi akan terjadi resesi, kita pun tidak boleh meyakini bahwa nasib dan kehidupan kita pasti terpuruk secara ekonomi. Apa yang mereka prediksi bisa jadi benar secara keilmuan di atas kertas; dan kita memang diwajibkan menggunakan akal rasio untuk melakukan perencanaan untuk menghindari serta mitigasi bila prediksi tersebut terjadi. Menggunakan akal rasio ini merupakan perintah Allah karena akal rasio diperlukan untuk memahami hukum kausalitas dan hukum alam - yang merupakan bagian dari tadabbur atas kebesaran kekuasaan Allah.
Namun, kita harus meyakini, bahwa bagaimana kejadian tersebut mempengaruhi nasib masing-masing dari kita, adalah sepenuhnya ditentukan oleh Allah SWT. Meyakini sepenuhnya, bahwa dalam segala hal, Allah lah yang menjadi prime cause atau penentu utama terjadi/tidak terjadinya sesuatu. Inilah yang dimaksud ayat 107 di atas:
Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya.
Ayat 107 ini pun ditutup dengan pernyataan:
Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Maknanya, bahwa sifat Maha Pengampun dan Penyayang lah yang mendominasi Allah dalam menentukan terjadi / tidak terjadinya sesuatu. Dia Maha Mengetahui siapa hambaNya yang membutuhkan pertolongan dan yang pantas menerima rahmatNya. Implisit pula ayat ini mengandung pesan, kita diminta untuk menjaga prasangka baik kepada seluruh ketetapanNya, baik itu yang bersifat manfaat maupun mudharat, sebagaimana hal ini disebutkan juga dalam ayat dan hadits qudsi berikut:
... Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al-Baqarah 2:216)
... Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (An-Nisa' 4:19)
Allah Ta’ala berfirman, "Aku tergantung persangkaan hamba kepadaKu. Aku bersamanya kalau dia mengingatKu. Kalau dia mengingatku pada dirinya, maka Aku mengingatnya pada diriKu. Kalau dia mengingatKu di keramaian, maka Aku akan mengingatnya di keramaian yang lebih baik dari mereka. Kalau dia mendekat sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Kalau dia mendekat kepada diriKu sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Kalau dia mendatangiKu dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (HR bukhari No. 7405 dan Muslim No. 2675)
Prinsip Dakwah 4: Hidayah akan menyelamatkan. Kesesatan akan mencelakakan.
- Katakanlah, "Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu kebenaran (Al-Qur'an) dari Tuhanmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu."
Prinsip dakwah berikutnya adalah menyampaikan bahwa ketaatan ataupun penolakan mereka, manfaat dan mudharatnya akan kembali kepada mereka. Beriman dan bertaqwa bukanlah untuk kepentingan Allah SWT, melainkan untuk menyelamatkan mereka di dunia dan akhirat. Demikian juga, bersikukuh dalam kekufuran dan kemaksiatan serta kezaliman tidak lain hanya akan membawa kesengsaraan dan kerugian di dalam hidup mereka - dunia dan terlebih di akhirat.
Prinsip Dakwah 5: Tabligh dan Sabar
- Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya.
Terakhir, Allah menutup bahasan mengenai prinsip dakwah ini dengan perintah menjaga sikap tabligh (menyampaikan kebenaran sebagai apa adanya) dan bersabar dalam menghadapi berbagai tantangan dalam berdakwah. Termasuk di dalam sikap tabligh ini adalah menyesuaikan dakwah dengan kondisi sosial-budaya umat yang dihadapi. Bila diperlukan, dakwah dapat dilakukan secara bertahap (mabda'ut tadarruj / prinsip tahapan) sebagaimana dicontohkan Rasulullah dalam penetapan hukum khamr.[1]
Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Referensi tafsir klik di sini.
Photo credit: Misbahul Aulia
Diselesaikan pada 20210825
Di dalam riwayat Ahmad dari Abu Hurairah diterangkan proses pemberlakuan hukum khamr yang dilakukan secara bertahap, hingga benar-benar diharamkan:
Tahap 1: Dan dari buah kurma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rezki yang baik. Sesunggguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda kebesaran Allah bagi orang yang memikirkan. (An-Nahl 16:67)
Tahap 2: Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah, "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya" (Al-Baqarah 2:219)
Tahap 3: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan (An-Nisa' 4:43)
Tahap 4: Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya meminum khamr, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan (Al-Maidah 5:90) ↩︎