Sikap Yusuf dalam Menerima Jabatan
- Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya), "Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering". Hai orang-orang yang terkemuka, "Terangkanlah kepadaku tentang ta'bir mimpiku itu jika kamu dapat mena'birkan mimpi".
- Mereka menjawab, "(Itu) adalah mimpi-mimpi yang kosong dan kami sekali-kali tidak tahu menta'birkan mimpi itu".
- Dan berkatalah orang yang selamat diantara mereka berdua dan teringat (kepada Yusuf) sesudah beberapa waktu lamanya, "Aku akan memberitakan kepadamu tentang (orang yang pandai) mena'birkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya)".
- (Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru), "Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya".
- Yusuf berkata, "Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan.
- Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan.
- Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan dimasa itu mereka memeras anggur".
Allah kemudian menceritakan kisah Yusuf yang menafsirkan mimpi Raja (Penguasa) Mesir saat itu (Al Aziz) sebagai salah satu mukjizat beliau.
- Raja berkata, "Bawalah dia kepadaku". Maka tatkala utusan itu datang kepada Yusuf, berkatalah Yusuf, "Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wanita yang telah melukai tangannya. Sesungguhnya Tuhanku, Maha Mengetahui tipu daya mereka".
- Raja berkata (kepada wanita-wanita itu), "Bagaimana keadaanmu ketika kamu menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadamu)?" Mereka berkata, "Maha Sempurna Allah, kami tiada mengetahui sesuatu keburukan dari padanya". Berkata isteri Al Aziz, "Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar".
- (Yusuf berkata), "Yang demikian itu agar dia (Al Aziz) mengetahui bahwa sesungguhnya aku tidak berkhianat kepadanya di belakangnya, dan bahwasanya Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang yang berkhianat.
- Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.
- Dan raja berkata, "Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku". Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata, "Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami".
Menarik disini melihat respon pertama Yusuf ketika diminta menghadap Raja Mesir. Beliau menitipkan pesan kpd utusan Raja, “Tanyakanlah kpd Raja, bgmn halnya dg tuduhan menggoda istrinya yg mengakibatkan saya dihukum penjara” (50).
Di sini, tampak bhw yg pertama dilakukan Yusuf saat itu (sebelum menerima menghadap Raja) adalah meminta Raja meninjau ulang kasusnya, dan memastikan bhw memang dia tdk bersalah (walaupun menjalani hukuman penjara). Akhirnya istri Al Aziz mengakui bahwa dialah yang menggoda Yusuf (51).
Hal lain yang menarik adalah perkataan Yusuf mengenai peristiwa tsb. Beliau mengatakan, bhw sebenarnya pun kalau tdk ingat Allah, dia sudah pasti terjerumus mengikuti nafsunya ketika digoda oleh istri Al Aziz (53). Beliau tdk mengingkari adanya nafsu yg menjadikan dia tertarik kpd istri Al Aziz tsb.
- Berkata Yusuf, "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan".
- Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju kemana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.
- Dan sesungguhnya pahala di akhirat itu lebih baik, bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa.
Kemudian Yusuf bertemu dg Al Aziz, dan diangkat menjadi tangan kanan, org kepercayaannya. Menarik lagi, ternyata Yusuf menolak dg halus tawaran tsb dan mengajukan dirinya sbg bendahara negara (mirip spt Menteri Keuangan) sesuai dg pengalaman/experience dan keahliannya, “Jadikanlah aku bendahara negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah org yang pandai menjaga (pengalaman/experience) dan berpengetahuan (skill/keahlian)”
Allah kemudian menegaskan bhw Dia tdk menyia-nyiakan pahala org yang berbuat baik spt Yusuf as (56). Ditegaskan pula, bhw betapa pun besarnya karunia Allah kpd Yusuf, tetap balasan di akhirat masih lebih baik daripada semua karunia yg diterima di dunia (57).
Sikap Tawakkal dan Pasrah Ya’qub as
- Dan saudara-saudara Yusuf datang (ke Mesir} lalu mereka masuk ke (tempat)nya. Maka Yusuf mengenal mereka, sedang mereka tidak kenal (lagi) kepadanya.
- Dan tatkala Yusuf menyiapkan untuk mereka bahan makanannya, ia berkata, "Bawalah kepadaku saudaramu yang seayah dengan kamu (Bunyamin), tidakkah kamu melihat bahwa aku menyempurnakan sukatan dan aku adalah sebaik-baik penerima tamu?
- Jika kamu tidak membawanya kepadaku, maka kamu tidak akan mendapat sukatan lagi dari padaku dan jangan kamu mendekatiku".
- Mereka berkata, "Kami akan membujuk ayahnya untuk membawanya (ke mari) dan sesungguhnya kami benar-benar akan melaksanakannya".
- Yusuf berkata kepada bujang-bujangnya, "Masukkanlah barang-barang (penukar kepunyaan mereka) ke dalam karung-karung mereka, supaya mereka mengetahuinya apabila mereka telah kembali kepada keluarganya, mudah-mudahan mereka kembali lagi".
Allah kemudian menceritakan pertemuan Yusuf dg saudara2nya. Ketika kakak2nya datang meminta bantuan bahan makanan, Yusuf as meminta agar adiknya (Bunyamin) bisa diajak ketika nanti mereka kembali sbg syarat bisa menerima bantuan bahan makanan dari Yusuf as (58-62).
- Maka tatkala mereka telah kembali kepada ayah mereka (Ya'qub) mereka berkata, "Wahai ayah kami, kami tidak akan mendapat sukatan (gandum) lagi, (jika tidak membawa saudara kami), sebab itu biarkanlah saudara kami pergi bersama-sama kami supaya kami mendapat sukatan, dan sesungguhnya kami benar benar akan menjaganya".
- Berkata Ya'qub, "Bagaimana aku akan mempercayakannya (Bunyamin) kepadamu, kecuali seperti aku telah mempercayakan saudaranya (Yusuf) kepada kamu dahulu?". Maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga dan Dia adalah Maha Penyanyang diantara para penyanyang.
- Tatkala mereka membuka barang-barangnya, mereka menemukan kembali barang-barang (penukaran) mereka, dikembalikan kepada mereka. Mereka berkata, "Wahai ayah kami apa lagi yang kita inginkan. Ini barang-barang kita dikembalikan kepada kita, dan kami akan dapat memberi makan keluarga kami, dan kami akan dapat memelihara saudara kami, dan kami akan mendapat tambahan sukatan (gandum) seberat beban seekor unta. Itu adalah sukatan yang mudah (bagi raja Mesir)".
- Ya'qub berkata, "Aku sekali-kali tidak akan melepaskannya (pergi) bersama-sama kamu, sebelum kamu memberikan kepadaku janji yang teguh atas nama Allah, bahwa kamu pasti akan membawanya kepadaku kembali, kecuali jika kamu dikepung musuh". Tatkala mereka memberikan janji mereka, maka Ya'qub berkata, "Allah adalah saksi terhadap apa yang kita ucapkan (ini)".
- Dan Ya'qub berkata, "Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri".
Ya’qub awalnya tdk setuju krn masih terbayang peristiwa hilangnya Yusuf dahulu ketika diajak oleh mereka, ttp akhirnya dg berat hati menerima adik Yusuf dibawa oleh saudara2nya (63-66). Menarik di sini, kalau kita perhatikan, bagaimana Ya’qub memasrahkan dirinya di tengah rasa putus asa dan tidak percayanya dia thd anak2nya krn khawatir terulangnya peristiwa hilangnya Yusuf dulu. Beliau mengatakan, “…namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikit pun dari (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri.”
Ya’qub sadar bhw apa yang terjadi sudah ditetapkan Allah melalui takdirNya, termasuk dirinya, dan adalah hak Allah utk menetapkan suatu takdir walaupun itu tdk sesuai dg keinginan hambaNya (Ya’qub), serta tugas hamba adalah bertawakkal dan berserah diri kpd Allah atas segala takdirNya. Tugas hamba adalah menerima segala keputusan takdir Allah, tetap menjaga prasangka baik kpd Allah atas apa pun yang terjadi, dan tetap berserah diri kpd Allah, tdk putus asa utk terus berusaha dan berdoa kpd Allah. Di ayat lain, prinsip ini pun dijelaskan sbb:
Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah… (At Taghaabun 64:11)
Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya… (Al Hadiid 57:22)
- Dan tatkala mereka masuk menurut yang diperintahkan ayah mereka, maka (cara yang mereka lakukan itu) tiadalah melepaskan mereka sedikitpun dari takdir Allah, akan tetapi itu hanya suatu keinginan pada diri Ya'qub yang telah ditetapkannya. Dan sesungguhnya dia mempunyai pengetahuan, karena Kami telah mengajarkan kepadanya. Akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.
- Dan tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf. Yusuf membawa saudaranya (Bunyamin) ke tempatnya, Yusuf berkata, "Sesungguhnya aku (ini) adalah saudaramu, maka janganlah kamu berdukacita terhadap apa yang telah mereka kerjakan".
- Maka tatkala telah disiapkan untuk mereka bahan makanan mereka, Yusuf memasukkan piala (tempat minum) ke dalam karung saudaranya. Kemudian berteriaklah seseorang yang menyerukan, "Hai kafilah, sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang mencuri".
- Mereka menjawab, sambil menghadap kepada penyeru-penyeru itu, "Barang apakah yang hilang dari pada kamu?"
- Penyeru-penyeru itu berkata, "Kami kehilangan piala raja, dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta, dan aku menjamin terhadapnya".
- Saudara-saudara Yusuf menjawab "Demi Allah sesungguhnya kamu mengetahui bahwa kami datang bukan untuk membuat kerusakan di negeri (ini) dan kami bukanlah para pencuri".
- Mereka berkata, "Tetapi apa balasannya jikalau kamu betul-betul pendusta? "
- Mereka menjawab, "Balasannya, ialah pada siapa diketemukan (barang yang hilang) dalam karungnya, maka dia sendirilah balasannya (tebusannya)". Demikianlah kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang zalim.
- Maka mulailah Yusuf (memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian dia mengeluarkan piala raja itu dari karung saudaranya. Demikianlah Kami atur untuk (mencapai maksud) Yusuf. Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali Allah menghendaki-Nya. Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki; dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui.
- Mereka berkata, "Jika ia mencuri, maka sesungguhnya, telah pernah mencuri pula saudaranya sebelum itu". Maka Yusuf menyembunyikan kejengkelan itu pada dirinya dan tidak menampakkannya kepada mereka. Dia berkata (dalam hatinya), "Kamu lebih buruk kedudukanmu (sifat-sifatmu) dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu terangkan itu".
- Mereka berkata, "Wahai Al Aziz, sesungguhnya ia mempunyai ayah yang sudah lanjut usianya, lantaran itu ambillah salah seorang diantara kami sebagai gantinya, sesungguhnya kami melihat kamu termasuk oranng-orang yang berbuat baik".
- Berkata Yusuf, "Aku mohon perlindungan kepada Allah daripada menahan seorang, kecuali orang yang kami ketemukan harta benda kami padanya, jika kami berbuat demikian, maka benar-benarlah kami orang-orang yang zalim".
- Maka tatkala mereka berputus asa dari pada (putusan) Yusuf mereka menyendiri sambil berunding dengan berbisik-bisik. Berkatalah yang tertua diantara mereka, "Tidakkah kamu ketahui bahwa sesungguhnya ayahmu telah mengambil janji dari kamu dengan nama Allah dan sebelum itu kamu telah menyia-nyiakan Yusuf. Sebab itu aku tidak akan meninggalkan negeri Mesir, sampai ayahku mengizinkan kepadaku (untuk kembali), atau Allah memberi keputusan terhadapku. Dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya".
- Kembalilah kepada ayahmu dan katakanlah, "Wahai ayah kami! Sesungguhnya anakmu telah mencuri, dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui, dan sekali-kali kami tidak dapat menjaga (mengetahui) barang yang ghaib.
- Dan tanyalah (penduduk) negeri yang kami berada disitu, dan kafilah yang kami datang bersamanya, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang benar".
Ketika rombongan anak2 Ya’qub sampai di tempat Yusuf as, Yusuf diam2 memberitahukan kpd adiknya, Bunyamin agar tdk perlu takut thd perlakuan kakak2nya (69). Yusuf pun sengaja menahan Bunyamin dg memasukkan gelas piala ke dalam karung Bunyamin (70-82). Diceritakan juga, bagaimana Yusuf menyembunyikan kejengkelannya ketika dikatakan oleh kakak2nya bhw Bunyamin sudah sering mencuri sebelumnya, padahal Yusuf tahu bhw kedudukan mereka di sisi Allah lebih buruk daripada Bunyamin krn perbuatan dan sikap mereka (77).
Akhirnya mereka kembali pulang dan menyampaikan bhw Bunyamin ditahan shg tdk bisa dibawa pulang kembali.
- Ya'qub berkata, "Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana".
- Dan Ya'qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata, "Aduhai duka citaku terhadap Yusuf", dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya).
- Mereka berkata, "Demi Allah, senantiasa kamu mengingati Yusuf, sehingga kamu mengidapkan penyakit yang berat atau termasuk orang-orang yang binasa".
- Ya'qub menjawab, "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya".
- Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir".
Mendengar berita tsb, Ya’qub mengatakan sambil menahan marah, “Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (83-84). Menurut riwayat, Ya’qub sampai buta matanya krn menangis terus menerus atas kehilangan Yusuf. Beliau pun mengatakan, “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya.” (86).
Akhirnya Ya’qub memerintahkan anak2nya utk kembali menghadap Yusuf dan mencari cara agar bisa membawa pulang Bunyamin (87). Di sini, Ya’qub mengingatkan mereka (anak2nya) agar tdk berputus asa thd rahmat Allah krn sikap tsb membawa kpd kekufuran. Pesan yg sama juga dikatakan oleh Ibrahim as di ayat berikut:
Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat.” (Al Hijr 15:56)
- Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, mereka berkata, "Hai Al Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga, maka sempurnakanlah sukatan untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah".
- Yusuf berkata, "Apakah kamu mengetahui (kejelekan) apa yang telah kamu lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kamu tidak mengetahui (akibat) perbuatanmu itu?".
- Mereka berkata, "Apakah kamu ini benar-benar Yusuf?". Yusuf menjawab, "Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami". Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik"
- Mereka berkata, "Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)".
- Dia (Yusuf) berkata, "Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang".
- Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkanlah dia kewajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku".
- Tatkala kafilah itu telah ke luar (dari negeri Mesir) berkata ayah mereka, "Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku)".
- Keluarganya berkata, "Demi Allah, sesungguhnya kamu masih dalam kekeliruanmu yang dahulu".
- Tatkala telah tiba pembawa kabar gembira itu, maka diletakkannya baju gamis itu ke wajah Ya'qub, lalu kembalilah dia dapat melihat. Berkata Ya'qub, "Tidakkah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak mengetahuinya".
- Mereka berkata, "Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)".
- Ya'qub berkata, "Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".
Ketika mereka kembali bertemu Yusuf, maka Yusuf pun menceritakan bhw dirinya adalah adik mereka yang dulu mereka buang ke dalam sumur (89-90). Yusuf pun kemudian memaafkan dan meminta mereka pulang membawa baju gamis Yusuf dan menutupkannya ke muka ayahnya (Ya’qub) agar beliau dapat melihat kembali (91-93). Diceritakan juga, melalui kekuasaan Allah, Ya’qub bisa mencium bau baju gamis Yusuf bahkan sejak rombongan anak2nya masih di jalan, baru keluar dari Mesir (94-95).
Ya’qub diceritakan akhirnya dapat melihat kembali setelah mukanya ditutup dg baju gamis Yusuf (96). Anak2nya mengakui kesalahan mereka dan meminta didoakan oleh Ya’qub agar dosa mereka diampuni oleh Allah SWT (97). Ya’qub pun memenuhi permintaan anak2nya ini (98).
Maha Benar Allah dg segala firmanNya.
Wallahu a’lam bishawab