Allah kemudian menjelaskan kontras orang bertakwa yang dijelaskan di ayat sebelumnya dengan dua golongan orang yang sesat dan dimurkai sebagai berikut:

Golongan Kafir

Dijelaskan bahwa mereka ini tidak akan beriman, sama saja – diberi peringatan atau pun tidak (6). Bahkan lebih keras dijelaskan bahwa hati dan pendengaran mereka telah dikunci mati serta penglihatan mereka pun ditutup (7).

Hati (qalb) ini di dalam Al-Qur'an mencakup bukan hanya emosi tetapi juga kesadaran, pengetahuan, dan keimanan, sebagaimana dijelaskan di beberapa ayat berikut:

Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (Al Fath 48:4)

Golongan Munafik

Mereka ini dijelaskan memiliki ciri sebagai berikut:

  1. Mengaku org beriman tetapi dengan tujuan menipu Allah dan org beriman lainnya (9). Di ayat lain dijelaskan sikap mereka yang bermuka dua sebagai berikut:

    Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.

    Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.

    Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti. (Al Munafiqun 63:1-3)

    Di ayat selanjutnya, Allah menerangkan bahwa di dalam hati kaum munafik ini ada penyakit, sehingga mereka selalu dalam kebohongan dan keragu-raguan (10) sebagaimana disebutkan di ayat lain:

    Apakah (ingkarnya mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zalim. (An Nuur 24:50)

  2. Mereka merasa melakukan perbaikan (11)

  3. Mereka merasa lebih pandai daripada org beriman yg ‘bodoh’ (13). Di ayat lain disebutkan sikap mereka yang memandang rendah kepada orang beriman:

    (Orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih. (At Taubah 9:79)

  4. Mereka banyak berbohong. Di depan mereka menampakkan seperti berpihak pada org beriman ttp di belakang mendukung org kafir (14)

Dijelaskan juga karena awalnya mereka org beriman, maka dikatakan mereka membeli kesesatan dengan petunjuk (yang sebelumnya pernah ada pada diri mereka) (16).

Allah kemudian memberi dua perumpamaan orang Munafik ini:

  1. Mereka diumpamakan seperti orang yang sudah menyalakan api (menerima hidayah), tetapi kemudian tiba-tiba api tersebut mati (keimanan mereka diangkat oleh Allah) sehingga mereka seperti orang yang dalam keadaan gelap gulita, yang diliputi keraguan dan kekhawatiran (17). Di dalam kegelapan ini, mereka seperti orang tuli, bisu dan buta (18).

  2. Mereka seperti orang-orang yang ditimpa hujan, kilat dan halilintar. Mereka meletakkan ujung jari di telinga agar tidak mendengar suara halilintar sebab mereka takut akan mati dan mengira bahwa dengan berbuat demikian mereka akan terhindar dari kematian. Bila mereka mendengar ayat Al-Qur'an yang mengandung penjelasan tentang kekafiran dan ancamannya, mereka berpaling dan berusaha menghindar. Mereka mengira sikap menghindar itu akan menyelamatkan mereka dari siksaan. Akan tetapi Allah Maha Mengetahui orang-orang yang kafir, menguasai dari segala penjuru dengan ilmu dan kekuasaan-Nya (19)

Kedua perumpamaan di atas menggambarkan suasana hati mereka yang diliputi keragu-raguan - yang merupakan ciri utama kaum Munafik ini. Mereka seperti orang yang ketika melihat tanda-tanda kekuasaan Allah, maka langsung beriman. Tetapi tidak lama mereka kembali lagi kepada kekafiran dan kemunafikan (20). Di ayat lain digambarkan lebih jelas keragu-raguan kaum Munafik ini:

Mereka (kaum Munafik) berada dalam keraguan antara yang demikian (iman atau kafir); tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir), maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya. (An-Nisa' 4:143)

Perintah Menyembah hanya kepada Allah

Allah kemudian memerintahkan kita menyembah hanya kepadaNya:

  • Tuhan yang telah menciptakan kita dan juga orang-orang sebelum kita (21)
  • Tuhan yang telah menjadikan bumi untuk kita tinggal dan langit yang menaungi seperti atap (22)
  • Tuhan yang menurunkan hujan yang kemudian menumbuhkan berbagai tanaman dan buah-buahan yang dapat dimakan (22)

Kemuliaan Al-Qur'an

Melanjutkan perintah agar kita menyembah kepada Allah, dijelaskan juga ketinggian mutu ayat-ayat di dalam Al-Qur'an yang tidak mungkin disaingi oleh manusia dan segenap makhluk yang ada (seperti jin dan syetan) – walaupun mereka bekerja sama untuk membuat satu saja surah yang kualitasnya setara dengan surah Al-Qur'an (23-24). Bahwa tidaklah mungkin Al-Qur'an ini disusun oleh Nabi SAW yang ummi, sosok manusia yang tidak menguasai sastra Arab dan juga bukan orator atau penyair terkenal, sebagaimana disebutkan di ayat berikut:

(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur'an), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Al-A'raf 7:157)

Allah mengulang tantangan membuat tandingan Al-Qur'an ini dalam beberapa ayat lain:

Katakanlah, “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”. (Al Israa’ 17:88)

Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al-Qur'an itu jika mereka orang-orang yang benar. (At Thuur 52:34)

Atau (patutkah) mereka mengatakan "Muhammad membuat-buatnya". Katakanlah: "(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar." (Yunus 10:38)

Menurut Ibnu Katsir di dalam tafsirnya, penjelasan mengenai kemuliaan Al-Qur'an ini adalah dalam satu rangkaian syahadat, yakni pengakuan Allah SWT sebagai Tuhan yang Maha Esa - pada ayat 21-22, yang kemudian penegasan kerasulan Rasulullah SAW melalui kemuliaan Al-Qur'an - pada ayat 23-24.

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a’lam