وَمَن يُسْلِمْ وَجْهَهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ ٱسْتَمْسَكَ بِٱلْعُرْوَةِ ٱلْوُثْقَىٰ ۗ وَإِلَى ٱللَّهِ عَـٰقِبَةُ ٱلْأُمُورِ

“Dan barang siapa menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan (muhsin), maka sungguh dia telah berpegang pada buhul tali yang kokoh. Hanya kepada Allah kesudahan segala urusan.” (QS Luqman 31:22)

Setiap orang yang bekerja dan berpikir serius pasti pernah sampai pada titik dimana banyak urusan yang tak kunjung selesai, masalah yang berputar tanpa jalan keluar, beban yang terasa di luar kendali. Pada titik itu, ayat di atas menawarkan bekal yang ringan namun menyelamatkan. Sebelum menyelaminya, kita perlu mengenal lebih dulu satu kata kunci yang berdiri di jantung ayat ini: ihsan.

Bagian 1: Ihsan dan Muhsin dalam Al-Qur’an

Kata muhsin adalah pelaku dari ihsan, keduanya berasal dari akar ح-س-ن yang berputar pada makna baik, indah, dan sempurna. Secara kebahasaan, ihsan terbentang ke dua sisi sekaligus:

  1. Menyempurnakan dan memperindah amal — melakukan apa pun dengan rapi, tuntas, dan berkualitas.
  2. Berbuat baik kepada orang lain — mengalirkan manfaat dan kebaikan kepada sesama.

Pembagian dua sisi ini umum dirujuk pada analisis Ar-Raghib al-Ashfahani dalam Mufradat Alfazh al-Qur’an. Maka seorang muhsin adalah orang yang merawat kedua sisi ini: amalnya dia sempurnakan sebaik-baiknya, dan kehadirannya membawa kebaikan bagi orang di sekitarnya.

Sisi Pertama: Menyempurnakan dan Memperindah Amal

Sisi ini menghadap ke atas, kepada Allah, dan terlihat pada mutu amal. Allah menjadikan hidup ini sebagai ujian kualitas, bukan sekadar kuantitas:

ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Yang menciptakan kematian dan kehidupan, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.” (QS Al-Mulk 67:2)

Kata kuncinya aḥsanu ’amalan — yang paling baik amalnya, bukan yang paling banyak. Inilah makna ihsan yang dijelaskan Nabi ﷺ dalam hadis Jibril yang masyhur: ketika ditanya tentang ihsan, beliau menjawab bahwa ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya; jika engkau tidak mampu merasa melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu. (Muttafaq ’alaih, diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dari Umar bin al-Khaththab.) Hadis ini berpayung pada ayat tentang kebersamaan Allah dengan hamba-Nya, wahuwa ma’akum aina mā kuntum — “Dia bersama kalian di mana pun kalian berada” (QS Al-Hadid 57:4).

Cakupan ihsan ini meluas ke semua urusan, bahkan ke hal yang kecil. Nabi ﷺ bersabda bahwa Allah menetapkan ihsan atas segala sesuatu, lalu mencontohkannya hingga pada cara menyembelih agar dilakukan dengan baik. (Diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus; juga Arba’in An-Nawawi no. 17.) Para pensyarah seperti Ibnu ‘Allan dalam Dalil al-Falihin memaknai ihsan di sini sebagai itqān al-fi’l — menyempurnakan dan merapikan pekerjaan.

Sisi Kedua: Berbuat Baik kepada Orang Lain

Sisi ini mengalir ke luar, kepada sesama. Al-Qur’an memuji para muhsinin yang menyisihkan hak orang lain dalam hartanya:

وَفِىٓ أَمْوَٰلِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّآئِلِ وَٱلْمَحْرُومِ

“Dan pada harta-harta mereka ada hak bagi orang yang meminta dan orang yang tidak mendapat bagian.” (QS Adz-Dzariyat 51:19)

Allah merinci jangkauan ihsan ini dari lingkaran terdekat ke terjauh:

وَٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًٔا ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَـٰنًا وَبِذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَـٰمَىٰ وَٱلْمَسَـٰكِينِ

“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun; dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin …” (QS An-Nisa 4:36)

Wujud konkretnya digambarkan Allah dengan jelas: berinfak dalam keadaan lapang maupun sempit, menahan amarah, dan memaafkan orang lain (QS Ali ’Imran 3:134). Allah pun memerintahkan keadilan dan ihsan secara bersanding sebagai pondasi kehidupan sosial (QS An-Nahl 16:90). Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengaitkan rangkaian sifat para muhsinin di Surah Adz-Dzariyat dengan ihsan yang utuh, memadukan ketekunan ibadah dan kepedulian sosial.

Dengan dua sisi ini, gambaran muhsin menjadi lengkap: hatinya tertuju kepada Allah lewat amal yang sempurna, dan tangannya terbuka bagi sesama lewat kebaikan yang nyata.

Bagian 2: Surah Luqman Ayat 22 — Bekal Urusan yang Berat

Berbekal pemahaman ihsan tadi, mari kita kembali menyelami ayat pembuka tulisan ini:

وَمَن يُسْلِمْ وَجْهَهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ ٱسْتَمْسَكَ بِٱلْعُرْوَةِ ٱلْوُثْقَىٰ ۗ وَإِلَى ٱللَّهِ عَـٰقِبَةُ ٱلْأُمُورِ

“Dan barang siapa menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan (muhsin), maka sungguh dia telah berpegang pada buhul tali yang kokoh. Hanya kepada Allah kesudahan segala urusan.” (QS Luqman 31:22)

Ayat ini terasa seperti penghibur bagi siapa pun yang sedang kepentok dan mumet menghadapi cobaan dunia. Di tengah urusan yang berat dan rumit, Allah meringankan beban: cukup pegang dua hal, dan keduanya sudah memadai sebagai pegangan.

Konsep pertama: berserah diri kepada Allah (aslama wajhahu). Ini berarti menyerahkan urusan yang mumet dan belum tuntas kepada Allah, setelah ikhtiar ditunaikan. Beban yang berputar tanpa jalan keluar diletakkan di hadapan Pemilik segala urusan, sebagaimana ditegaskan penutup ayat: wa ilallāhi ’āqibatu al-umūr (hanya kepada Allah kesudahan segala urusan). Berserah meringankan dada, sebab hasil akhir memang berada di tangan-Nya.

Konsep kedua: menjaga sikap ihsan (huwa muhsin). Inilah ihsan yang sudah kita kenal di Bagian 1, dengan dua sisinya. Di tengah kesulitan, seorang hamba tetap merawat mutu amalnya dan tetap berbuat baik kepada orang di sekitarnya.

Susunannya bertingkat, dan struktur berikut memudahkan kita memahaminya:

Tali yang kokoh (QS Luqman 31:22)
├── Berserah  → menyerahkan urusan kepada Allah
└── Ihsan     → menjaga sikap ihsan
        ├── Menyempurnakan amal sendiri
        └── Berbuat baik kepada orang lain

Mengapa disebut tali pegangan? Sebab tali digenggam justru ketika pijakan goyah. Frasa al-’urwah al-wutsqa muncul dua kali dalam Al-Qur’an, dan kemunculan keduanya menambahkan jaminan yang menenangkan:

فَقَدِ ٱسْتَمْسَكَ بِٱلْعُرْوَةِ ٱلْوُثْقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَا

”… maka sungguh dia telah berpegang pada buhul tali yang kokoh, yang tidak akan putus.” (QS Al-Baqarah 2:256)

Tambahan lā infiṣāma lahā — “tidak akan putus” — adalah inti penghiburannya. Yang dijamin kokoh adalah talinya, bukan kekuatan genggaman kita yang sedang letih. Selama tangan masih mau memegang, tali itu tetap utuh dan menahan. Para mufassir seperti Ath-Thabari, Ibnu Katsir, dan Al-Qurthubi secara umum memaknai al-’urwah al-wutsqa sebagai pegangan terkuat yang menyelamatkan, seperti kalimat tauhid dan iman yang teguh. (Pemaknaan ini disampaikan sebagai arah umum tafsir mereka, sebagai hasil istinbath.)

Maka kepada hati yang sedang jatuh, Allah memberi kabar menenangkan. Bagi mereka yang berkata “Rabb kami Allah” lalu istiqamah, malaikat turun menguatkan:

تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَبْشِرُوا۟ بِٱلْجَنَّةِ

”… ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah dengan (memperoleh) surga …’” (QS Fushshilat 41:30)

Bahkan saat seseorang merasa sudah jauh tergelincir, Allah membentangkan harapan yang luas: lā taqnaṭū min raḥmatillāh — “janganlah berputus asa dari rahmat Allah” (QS Az-Zumar 39:53), selaras dengan pesan Nabi Ya’qub agar seorang mukmin merawat harapan kepada kelapangan rahmat Allah (QS Yusuf 12:87). Memilih untuk tetap berharap adalah cara tangan tetap menggenggam tali.

Beban dua hal ini pun ringan untuk ditekuni. Nabi ﷺ mengingatkan bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang ditekuni terus-menerus, sekalipun sedikit. (Muttafaq ’alaih; Sahih al-Bukhari no. 6464 dan Sahih Muslim, dari ’Aisyah.) Para ulama menerangkan bahwa “sedikit” bermakna sesuai kemampuan tanpa memaksakan diri. Persis seperti menggenggam tali: yang penting tetap memegang, sekuat yang kita bisa.

Bagian 3: Prinsip yang Bisa Diamalkan

  1. Pisahkan yang bisa kita kendalikan dari hasilnya, lalu serahkan hasilnya. Saat sebuah urusan buntu, tuntaskan bagian yang berada dalam jangkauan ikhtiar kita dengan sungguh-sungguh, lalu lepaskan hasil akhirnya kepada Allah. Inilah wujud praktis berserah: bekerja sepenuh daya pada yang bisa, tenang pada yang di luar kuasa.
  2. Sempurnakan amal yang ada di tangan kita hari ini. Tunaikan ibadah dan pekerjaan — laporan, keputusan, amanah jabatan — dengan itqān: rapi, tuntas, indah dan berkualitas tinggi. Kualitas kerja yang dijaga dengan niat menghadap Allah adalah bentuk nyata sisi pertama ihsan (QS Al-Mulk 67:2).
  3. Tunaikan satu kebaikan nyata kepada orang di sekitar kita. Memaafkan rekan, membantu bawahan, memberi kepada yang membutuhkan, berlaku lembut kepada keluarga — satu kebaikan konkret setiap hari menghidupkan sisi kedua ihsan (QS Ali ’Imran 3:134).

Penutup

Surah Luqman ayat 22 menyapa hati yang sedang lelah dengan tawaran yang ringan namun menyelamatkan: serahkan urusanmu kepada Allah, dan jaga ihsanmu — rapikan amalmu, dan berbuat baiklah kepada sesama. Dua pegangan ini menjalin tali yang kokoh, yang menahan seorang hamba agar tetap dekat dengan jalan-Nya, betapapun goyahnya keadaan. Ketika tangan terlalu lemah untuk mendaki, cukuplah memilih untuk tidak melepas. Tali itu kuat, dan Yang memegang ujungnya Maha Penyayang.

Hanya kepada Allah kesudahan segala urusan. Wallahu a’lam.