Al Kahfi 18 : 47-59

Beberapa Peristiwa pada Hari Kiamat

  1. Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan dapat melihat bumi itu datar dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak kami tinggalkan seorangpun dari mereka.

Allah menjelaskan beberapa peristiwa di hari kiamat sebagai berikut:

  • Gunung-gunung seakan berjalan, bergeser horizontal dari tempatnya. Di ayat lain, bahkan disebutkan, gunung-gunung tersebut bukan hanya berjalan, tetapi dihancurkan menjadi debu yang beterbangan:

    Dan gunung-gunung dihancur-luluhkan sehancur-hancurnya; maka jadilah ia debu yang beterbangan (Al Waaqi’ah 56:5-6)

    Pada hari ketika langit menjadi seperti luluhan perak, dan gunung-gunung menjadi seperti bulu (yang berterbangan) (Al Ma’aarij 70:8-9)

  • Permukaan bumi saat itu tampak terhampar datar, karena gunung-gunung sudah tidak ada, sebagaimana juga dijelaskan di ayat lain:

    maka Dia akan menjadikan (bekas) gunung-gunung itu datar sama sekali, tidak ada sedikitpun kamu lihat padanya tempat yang rendah dan yang tinggi-tinggi. (Thaahaa 20:106-107)

  • Dikumpulkannya seluruh manusia yang pernah hidup (dari seluruh generasi) tanpa tertinggal satu orang pun (47), sebagaimana disebutkan pula di ayat berikut:

    Katakanlah, “Sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang terkemudian, benar-benar akan dikumpulkan di waktu tertentu pada hari yang dikenal.” (Al Waaqi’ah 56:49-50)

  1. Dan mereka akan dibawa ke hadapan Tuhanmu dengan berbaris. Sesungguhnya kamu datang kepada Kami, sebagaimana Kami menciptakan kamu pada kali yang pertama; bahkan kamu mengatakan bahwa Kami sekali-kali tidak akan menetapkan bagi kamu waktu (memenuhi) perjanjian.
  • Seluruh manusia berbaris dibawa menghadap Allah sebagaimana keadaan mereka ketika baru lahir (sendiri-sendiir, tanpa busana, tanpa harta dan tanpa anak dan istri) (48). Hal ini dinyatakan juga di ayat lain sebagai berikut:

    Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya… (Al An’aam 6:94)

    Di dalam satu hadits, Nabi saw bersabda,

    Hai manusia, sesungguhnya kalian akan dikumpulkan kepada Allah dalam keadaan tidak berbusana dan belum dikhitan, " lalu beliau membaca, "Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya itulah suatu janji yang pasti Kami tepati." (Al-Anbiya 21:105) Orang yang pertama kali diberi pakaian pada hari itu adalah Ibrahim ..." (HR Tirmidzi 3091, Bukhari 3191, Muslim 5104)

  1. Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, "Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun".
  • Setiap manusia diberikan buku berisi catatan amalnya yang sangat detail dan lengkap (49). Di ayat lain disebutkan bahwa manusia pada saat itu dibagi menjadi 3 kelompok. Penjelasan detail mengenai ini dapat dibaca di bahasan Al-Waqi'ah 56 : 1-96.

Dan kamu menjadi tiga golongan. Yaitu (1) golongan kanan (mereka yg menerima catatan amal dg tangan kanan). Alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan (2) golongan kiri (mereka yg menerima catatan amal dg tangan kiri). Alangkah sengsaranya golongan kiri itu. Dan (3) orang-orang yang beriman paling dahulu, mereka itulah yang didekatkan kepada Allah. (Al Waaqi’ah 56:7-12)

Peringatan Allah agar Memusuhi Iblis (Syetan)

  1. Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.

Allah kemudian mengingatkan agar kita tidak mengikuti Iblis dengan segala godaannya, karena sejak awal penciptaan manusia, Iblis lah satu-satunya makhluk yang menolak bersujud kpd Adam shg dikeluarkan dari surga (50). Dikatakan Iblis sangat membenci manusia. Dia sengaja memohon agar dipanjangkan usianya hingga hari kiamat dan bersumpah mendedikasikan hidupnya agar dapat menggoda manusia dari segala penjuru arah, sebagaimana disebutkan di ayat berikut:

Iblis berkata, “Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan”.
Allah berfirman, “Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari Kiamat)”. (Shaad 38:79-80)

Iblis menjawab, “Karena Engkau telah menghukum aku tersesat, aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). (Al A’raaf 7:16-17)

Mengingat iblis yang memusuhi manusia ini, maka Allah mengingatkan kita juga untuk menjadikan Iblis sebagai musuh (makhluk) yang nyata keberadaannya di tengah kita, bukan sebagai konsep dan ilusi pikiran belaka, sebagaimana diterangkan di banyak ayat lain sbb:

Dan janganlah kamu sekali-kali dipalingkan oleh syaitan; sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (Az Zukhruf 43:62)

Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu” (Yaasiin 36:60)

Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. (Al Israa’ 17:53)

Paradigma iblis sebagai musuh yang nyata ini dicontohkan oleh perkataan Nabi Yusuf as ketika berkumpul kembali dengan saudara dan orangtuanya:

…Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antara aku dan saudara-saudaraku… (Yusuf 12:100)

Juga perkataan Nabi Musa as ketika menyesal karena tanpa sengaja membunuh orang yang berkelahi dengan kaum Bani Israil:

…Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata, “Ini adalah perbuatan syaitan sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya).” (Al-Qashash 28:15)

Implisit dari ayat-ayat di atas, kita diminta untuk menyadari peran serta bisikan syetan dalam setiap peristiwa perbuatan dosa.

  1. Aku tidak menghadirkan mereka (iblis dan anak cucunya) untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri; dan tidaklah Aku mengambil orang-orang yang menyesatkan itu sebagai penolong.

Allah kemudian menerangkan beberapa hal yang kalau dipikirkan dengan jernih maka seharusnya tidak pantas manusia menuhankan Iblis, atau lebih mengikuti bisikan godaannya daripada perintah Allah dan RasulNya, yakni:

  1. Iblis tidak ada ketika langit dan bumi diciptakan, tidak tahu sama sekali bagaimana proses penciptaan langit dan bumi
  2. Iblis tidak tahu apa-apa bagaimana dia sendiri diciptakan Allah
  3. Iblis tidak seperti malaikat, tidak pernah diberikan tugas apa pun oleh Allah sbg pasukan Allah dlm mengatur alam semesta

Dari rangkaian ayat di atas, dapatlah kita ambil beberapa kesimpulan:[1]

  • Allah memuliakan bapak kita, Adam, dan manusia secara keseluruhan dengan memerintahkan malaikat untuk bersujud (sujud untuk memberi hormat dan memuliakan - bukan sujud untuk menyembah dan menganggapnya suci) kepada Adam saat pertama kali diciptakan
  • Seluruh malaikat tunduk kepada perintah Allah untuk bersujud, kecuali Iblis yang berasal dari jin.
  • Di dalam penolakan Iblis untuk bersujud kepada Adam terkandung unsur permusuhannya kepada manusia. Oleh karena itu, Allah mencela siapa pun yang menjadikan Iblis dan keturunannya (syetan) serta pengikutnya sebagai penolong karena mereka adalah musuh manusia. Penolakan itu juga mengandung unsur kesombongan terhadap Adam dan merasa lebih mulia darinya. Melalui ayat ini, Allah seakan berkata kepada orang yang kafir dan sombong karena kemuliaan nasab (garis keturunan) dan status sosial mereka, "Sesungguhnya dengan perkataan tersebut, kalian telah mengikuti perbuatan iblis yang sombong terhadap Adam."

Nasib Orang Kafir di Akhirat

  1. Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Dia berfirman, "Serulah olehmu sekalian sekutu-sekutu-Ku yang kamu katakan itu." Mereka lalu memanggilnya tetapi sekutu-sekutu itu tidak membalas seruan mereka dan Kami adakan untuk mereka tempat kebinasaan (neraka).

Ayat selanjutnya, menerangkan apa yang terjadi pada hari Kiamat, saat Allah berkata kepada orang-orang kafir sebagai ejekan dan hinaan, "Panggillah semua yang kalian anggap sebagai sekutu-Ku untuk menolong dan menyelamatkan kalian dari keadaan kalian saat ini." Kemudian mereka memanggil sekutu-sekutu itu tetapi tidak ada satu pun yang menjawab dan memberi manfaat kepada mereka. Hal ini sesuai dengan firman Allah,

... Kami tidak melihat pemberi syafaat (pertolongan) besertamu yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu (bagi Allah). Sungguh telah terputuslah (semua pertalian) antara kamu dan telah lenyap dari kamu apa yang dahulu kamu sangka (sebagai sekutu Allah). (Al-An'am 6:94)

  1. Dan orang-orang yang berdosa melihat neraka, maka mereka meyakini, bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya dan mereka tidak menemukan tempat berpaling dari padanya.

Bagi mereka yang berdosa ini, digambarkan di hari Kiamat, bahwa mereka melihat neraka secara langsung dan merasa yakin, tidak dapat menghindar pasti akan masuk ke dalamnya karena neraka sudah mengepung mereka dari segala arah. Di dalam satu hadits disebutkan,

Sesungguhnya saat orang kafir melihat neraka, mereka langsung menduga (yakin) bahwa neraka itu adalah tempat mereka sebelumn mereka memasukinya dengan jarak selama empat puluh tahun. (HR Ibnu Jarir dari Abu Said ra)

Suasana ini juga digambarkan di ayat lain,

Apabila ia (neraka) melihat mereka (para pendurhaka) dari kejauhan, niscaya mereka telah (pasti akan) mendengar darinya (suara) kegeraman dan desis (apinya). (Al-Furqan 25:12)

Peran Al-Qur'an dan Diutusnya Para Rasul

  1. Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al-Qur'an ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.

Selanjutnya, Allah secara eksplist menerangkan bhw Al-Qur'an mengandung berbagai macam perumpamaan dengan jelas sebagai peringatan bagi manusia, tetapi anehnya kebanyakan mereka tidak mau mengikutinya.

  1. Dan tidak ada sesuatupun yang menghalangi manusia dari beriman, ketika petunjuk telah datang kepada mereka, dan dari memohon ampun kepada Tuhannya, kecuali (keinginan menanti) datangnya hukum (Allah yang telah berlalu pada) umat-umat yang dahulu atau datangnya azab atas mereka dengan nyata.

Dikatakan, salah satu bentuk bantahan orang kafir adalah mereka baru mau beriman dan bertaubat kepada Allah kalau sudah melihat langsung azab di depan mata, azab yang sama yg pernah diturunkan kepada umat-umat terdahulu (55) Sikap membangkang ini digambarkan di ayat lain berikut:

Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata, “Ya Allah, jika betul (Al-Qur'an) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.” (Al Anfaal 8:32)

  1. Dan tidaklah Kami mengutus rasul-rasul hanyalah sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan; tetapi orang-orang yang kafir membantah dengan yang batil agar dengan demikian mereka dapat melenyap kan yang hak, dan mereka menganggap ayat-ayat kami dan peringatan-peringatan terhadap mereka sebagai olok-olokan.

Allah kemudian menegaskan misi diutusnya para rasul, yakni (1) pembawa berita gembira dan (2) pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia hanya menjadikan Rasul dan ayat-ayat Allah sebagai bahan cemoohan.

Menarik kalau diperhatikan, ternyata Rasul dan kitab Allah (Al-Qur'an) memiliki tujuan yang sama seperti di atas. Seakan Allah berpesan kepada kita untuk memperlakukan Al-Qur'an sebagai living prophet, utusan Allah yang hidup di tengah kita setelah Rasulullah tidak ada. Kesamaan ini disebutkan dalam banyak ayat, diantaranya sebagai berikut:

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. (Saba’ 34:28)

Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling, tidak mau mendengarkan. (Fushshilat 41:3-4)

  1. Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya lalu dia berpaling dari padanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.

Ayat selanjutnya, Allah menyebut mereka yang ingkar ini sebagai orang yang paling zalim, bodoh karena menganiaya diri sendiri, yang secara logika tidak akan bisa mendapat hidayah selama-lamanya, dengan ciri-ciri berikut (57):

  • Mereka melupakan, tidak aware dengan segala perbuatan buruk yang dikerjakan

  • Mereka menutup hatinya dari segala hal yang berkaitan dengan kebenaran, sehingga dikatakan telinga mereka tersumbat, seakan tuli, tidak bisa mendengar kebenaran. Hati seperti ini dijelaskan di ayat lain sbb:

    maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. (Al Hajj 22:46)

  1. Dan Tuhanmulah yang Maha Pengampun, lagi mempunyai rahmat. Jika Dia mengazab mereka karena perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan azab bagi mereka. Tetapi bagi mereka ada waktu yang tertentu (untuk mendapat azab) yang mereka sekali-kali tidak akan menemukan tempat berlindung dari padanya.
  2. Dan (penduduk) negeri telah Kami binasakan ketika mereka berbuat zalim, dan telah Kami tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka.

Terakhir, Allah menjelaskan, bahwa walaupun mereka ini secara akal rasio tidak mungkin mendapatkan hidayah selama-lamanya, namun Allah dengan rahmat dan ampunanNya tetap membuka jalan-jalan hidayah bagi mereka yang ingkar ini (58) dan memberi waktu bagi mereka untuk bertaubat sebelum turun azab dan siksaNya (59), sebagaimana digambarkan di ayat lain sbb:

Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. (Al Baqarah 2:74)

Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melata pun akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya. (Faathir 35:45)

Di sini tampak jelas betapa rahmat Allah jauh lebih luas dan lebih mendahului daripada siksaNya, yg juga dikuatkan dlm hadits Nabi saw berikut:

Ketika Allah telah menciptakan makhluk-Nya, Allah menulis dalam kitab-Nya, dan kitab itu ada di atas ‘Arasy-Nya (yg isinya) “Sesungguhnya kasih sayang-Ku mengalahkan kemurkaan-Ku” (HR Muslim No. 2751)

Mudah-mudahan kita termasuk ke dalam hamba-hambaNya yang bertaubat. Aamiin.

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam bishawab


  1. Dikutip dari tafsir Al-Munir oleh Wahbah az-Zuhaili ↩︎