Tema utama surah ini adalah mengenai tiga kelompok manusia pada hari Kiamat, siapa mereka, apa sifat dan karakteristiknya serta bagaimana akhir kesudahan mereka di Hari Akhir.

Di dalam beberapa hadits, Nabi SAW menerangkan keutamaan surah ini sebagai berikut:

Barangsiapa membaca surah Al-Waqi'ah setiap malam, maka dirinya tidak akan mengalami kefakiran dan kekurangan. (Hadits diriwayatkan oleh al-Hafizh Abu Ya'la dan Ibnu Asakir, dari Abdullah bin Mas'ud ra)

Surah Al-Waqi'ah adalah surah "kekayaan" (memberi rasa cukup), maka bacalah surah Al-Waqi'ah dan ajarkanlah kepada anak-anak kalian. (Hadits diriwayatkan oleh Ibnu Murdawaih dari Anas ra)

Al-Waqi'ah adalah salah satu nama hari Kiamat; berarti kejadian, fakta - yang menggambarkan kepastian dan nyatanya kedatangan hari Kiamat.

Surah Al-Waqi'ah dibuka dengan gambaran peristiwa terjadinya hari Kiamat (1) sebagai berikut:

  • Peristiwa kiamat akan disaksikan oleh seluruh manusia. Digambarkan bahwa seluruh manusia akan spontan mengakuinya bila kiamat tersebut terjadi (2)
  • Keadaan manusia pada saat itu ada yang dihinakan (yakni mereka yang mendapat siksa neraka), dan ada pula yang dimuliakan (mereka yang mendapat balasan surga) (3). Hal ini digambarkan pula di ayat berikut:
    Di kala datang hari itu, tidak ada seorangpun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya; maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia. (Hud 11:105)
  • Keadaan saat itu digambarkan:
    • Bumi mengalami gempa bumi yang dahsyat (5), sebagaimana diterangkan pula di ayat lain:
      Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat) (Al-Zalzalah 99:1)
    • Gunung hancur menjadi butiran debu yang beterbangan (6). Di ayat lain, digambarkan gunung-gunung tersebut hancur menjadi laksana tumpukan pasir:
      Pada hari bumi dan gunung-gunung bergoncangan, dan menjadilah gunung-gunung itu tumpukan-tumpukan pasir yang berterbangan. (Al-Muzammil 73:14)
  • Manusia akan dibagi menjadi tiga kelompok (7-10). Ketiga kelompok ini akan diterangkan dengan detail pada ayat-ayat selanjutnya.

Tiga Kelompok Manusia pada Hari Kiamat

Kelompok 1: Orang yang Paling Dahulu Beriman - As-Sabiqun

Kelompok ini dikatakan sebagai orang yang didekatkan kepada Allah (11).

Mayoritas mereka berasal dari generasi awal dan sebagian kecil dari generasi kemudian (13-14) - yakni para Rasul, Nabi, orang-orang shiddiq dan para syuhada.

Mereka tinggal di dalam surga yang penuh kenikmatan (12) dengan gambaran berikut:

  • Furniture yang terbuat dari emas dan permata (15-16)
  • Dijamu berbagai makanan (buah-buahan dan daging) dan minuman yang tidak membuat sakit dan tidak memabukkan. Mereka dikelilingi oleh para pelayan dari anak-anak dan para pemuda (17-21)
  • Ditemani oleh bidadari bermata indah dan terjaga kehormatannya (22-23) Di ayat lain, digambarkan bidadari ini sebagai berikut:
    Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya, seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik. (As-Saffat 37:48-49)
  • Pembicaraan antara mereka penuh kelapangan dan kebahagiaan, membawa manfaat dan kebaikan; tidak ada yang sia-sia atau yang menimbulkan dosa (25-26). Mereka mendengar sebaik-baiknya ucapan salam di antara sesama mereka, sebagaimana disebutkan pada ayat berikut:
    Dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dengan seizin Tuhan mereka. Ucapan penghormatan mereka dalam surga itu ialah "salaam" (Ibrahim 14:23)

Kelompok 2: Golongan Kanan

Kelompok ini berasal dari generasi terdahulu dan kemudian (39-40), yakni umat pengikut para Nabi dan Rasul terdahulu hingga umat Rasulullah SAW.

Mereka tinggal di surga yang digambarkan penuh kenikmatan berikut:

  • Berada di tengah taman yang terbentang luas, berisi tanaman yang tidak berduri dan berbuah rimbun, tidak berhenti berbuah serta sumber air yang melimpah (28-33)
  • Duduk bercengkrama dan tidur di kasur yang tebal dan empuk (34)
  • Ditemani oleh bidadari yang diciptakan secara langsung (tanpa melalui proses kelahiran) dan perempuan yang sebaya dan sangat mencintai dan merindukan mereka (35-37)

Kelompok 3: Golongan Kiri

Terakhir, adalah golongan kiri, yakni mereka yang sesat dan mendustakan kebenaran. Mereka ini digambarkan ketika di dunia memiliki karakter:

  • Kehidupannya bergelimang dalam kemewahan dengan sesuatu yang tidak halal (45)
  • Mereka terus menerus melakukan dosa besar (46)
  • Mereka meragukan kepastian datangnya hari kebangkitan (47-50)
  • Mereka sesat dan menyesatkan orang lain (51, 92)

Kelompok ini dibakar di dalam neraka jahanam yang penuh siksaan (94) yang digambarkan sebagai berikut:

  • Kondisi daerah mereka berangin dengan udara yang sangat panas, berbau busuk dan kotor, serta air panas yang mendidih (42)
  • Lingkungan sekeliling mereka dipenuhi asap hitam yang menyesakkan dari neraka Jahanam (43-44)
  • Makanan mereka adalah pohon zaqqum (52-53)
  • Minuman mereka adalah air yang mendidih sangat panas (54m 93). Digambarkan, bahkan air yang sangat panas itu pun terpaksa mereka minum karena sangat hausnya disebabkan udara yang sangat panas (55)

Argumentasi terhadap Kesesatan Kelompok Kiri

Pada ayat-ayat selanjutnya, Allah mengajukan berbagai pertanyaan hiperbolik dan argumentasi kepada kelompok kiri ini, sebagai pelajaran bagi kita atas pengingkaran mereka terhadap kebenaran.

Proses Penciptaan dan Kebangkitan Manusia

Mengapa mereka menolak mengakui bahwa Allah SWT yang telah menciptakan mereka?
Padahal mereka tidak mampu menandingi kekuasaan Allah seperti diciptakannya nutfah (sperma) (57-59)?

Mengapa mereka tidak mengakui bahwa Allah SWT yang menentukan kematian mereka, yang waktunya tidak bisa diundurkan atau pun dimajukan sedikit pun (60)?
Padahal mudah bagi Allah memusnahkan suatu umat dan menggantikannya dengan umat yang lain. Mereka tidak mengetahui nasib mereka di dunia, pun mereka tidak mengetahui nasib mereka setelah meninggal, di akhirat kelak (61)

Mengapa pula mereka mengingkari adanya hari Kebangkitan?
Padahal sangat mudah bagi Allah SWT yang menciptakan pertama kali dari yang tiada menjadi ada, daripada sekedar membangkitkan dari mati sesuatu yang sebelumnya pernah ada atau hidup (62). Di ayat lain, disebutkan pula:

Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali; dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Dan bagi-Nyalah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Ar-Rum 30:27)

Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah satu kali tiupan saja, maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permukaan bumi. (An-Nazi'at 79:13-14)

Proses Kehidupan Tumbuhan

Mengapa mereka mengingkari adanya Pencipta yang menumbuhkan pepohonan dan tanaman (64)?
Padahal Allah lah yang menumbuhkan, sementara mereka hanyalah menanam. Juga, mudah bagi Allah dengan iradat kehendakNya menjadikan pepohonan dan tanaman tersebut hancur dan kering di luar dugaan dan perhitungan mereka (65-67).

Di dalam satu hadits, Nabi SAW menerangkan,

Janganlah seseorang dari kalian berkata, "Zara'tu" - "Aku menanam dan menumbuhkan tanaman," dan hendaklah ia berkata, "Haratstu" - "Aku mengolah tanah dan menanamkan benih." Karena hanya Allah-lah yang menumbuhkan tanaman. (Hadits riwayat Ibnu Hibban dari Abu Hurairah ra)

Siklus Air

Mengapa mereka tidak mensyukuri karunia Allah dalam bentuk air tawar yang dapat diminum (68-69)?
Padahal mudah bagi Allah untuk menjadikan air tersebut asin (70). Hal ini diterangkan pula dalam doa yang diajarkan Nabi SAW,

الحمد لله الذي سقان عذبا فراتا برحمته، ولم يجعله ملحااجاجا بذنوبنا

Segala puji bagi Allah SWT Tuhan yang memberi kami air minum yang tawar dan segar, dengan rahmatNya dan tidak menjadikan air itu asin lagi pahit karena dosa-dosa kami.

Asal-Usul Api

Mengapa mereka tidak memikirkan asal-usul api, yang dapat dinyalakan dari kayu (71)?
Mengapa mereka tidak mensyukurinya? Padahal mereka tidak mampu menciptakan kayu (72), walaupun api sangat vital perannya dalam kehidupan manusia (73)

Al-Qur'an

Mengapa mereka meremehkan Al-Qur'an dan mendustakannya (82-83)?
Padahal Allah SWT Tuhan yang Maha Pencipta pun bersumpah atas nama Al-Qur'an (75-76), sebagai sebuah kitab yang sangat mulia, suci dan sangat terpelihara (77-78) serta diturunkan oleh Tuhan Semesta Alam (80). Sumpah Allah SWT ini terdapat dalam banyak ayat, diantaranya:

Yaa siin. Demi Al-Qur'an yang penuh hikmah (Ya Sin 36:1-2)
Shaad. Demi Al-Qur'an yang mempunyai keagungan. (Sad 38:1)
Haa Miim. Demi Kitab (Al-Qur'an) yang menerangkan. (Az-Zukhruf 43:1-2, Ad-Dukhan 44:1-2)

Proses Kematian Manusia

Mengapa mereka menolak adanya Dzat yang Maha Menguasai ajal kehidupan (86)?
Padahal setiap manusia pasti akan menyaksikan betapa proses kematian dirinya, yakni ketika dalam keadaan sekarat, ajal sudah sampai di kerongkongan, maka tidak ada yang dapat menghindarkan, menghentikannya atau mengembalikannya (87).

Penutup

Sebagai penutup, Allah mengulang kembali janjiNya terhadap ketiga golongan manusia di atas:

  • Kelompok pertama, yakni mereka yang didekatkan kepada Allah, akan dikaruniai ketentraman dan rezeki serta surga yang penuh kenikmatan (88-89)
  • Kelompok kedua (golongan kanan), mereka akan diberi keselamatan di akhirat (90-91)
  • Kelompok ketiga (golongan kiri), mereka akan menjalani siksaan neraka Jahanam (92-94)

Kemudian ditegaskan pula bahwa semua keterangan dan janji Allah di atas adalah sesuatu yang pasti kebenarannya (haqqul yaqin), yang disampaikan oleh Tuhan yang Maha Besar (95-96).

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.

Photo credit: Jakub Kriz