Surah Al-Hadid termasuk dalam kategori Surah Madaniyyah.

Ayat pertama surah ini menyatakan segenap ciptaanNya yang ada di penjuru bumi dan langit bertasbih mensucikanNya, sebagai Dzat yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (1). Hal ini diterangkan pula di ayat berikut:

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (Al-Isra' 17:44)

Selanjutnya kedua sifat Allah SWT di atas (Maha Perkasa dan Maha Bijaksana) diuraikan dengan lebih detail pada ayat-ayat selanjutnya.

Tuhan yang Maha Perkasa

Allah SWT sebagai Tuhan yang Maha Perkasa dijelaskan dalam berbagai bentuk kekuasaanNya sebagai berikut:

  1. Dialah yang kekuasaanNya meliputi segala sesuatu (2)
    • Dialah yang memiliki kerajaan langit dan bumi
    • Dialah yang menghidupkan dan mematikan
  2. Dialah yang pengetahuanNya meliputi segala sesuatu (3)
    • Dialah Yang Awal dan Yang Akhir
    • Dialah Yang Zahir dan Yang Batin
  3. Dialah yang Maha Melihat seluruh ciptaanNya (4)
    • Dialah yang menciptakan alam semesta dalam enam fase
    • Dialah yang bersemayam di atas 'Arasy
    • Dialah yang mengetahui segala yang masuk ke dalam bumi dan yang keluar dari bumi
    • Dia pula yang mengetahui segenap makhluk dan materi yang turun dari langit dan naik kepadaNya. Di ayat lain, hal senada juga dijelaskan,
      Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)" (Al-An'am 6:59)
    • Dialah yang selalu bersama manusia dimana pun manusia berada. Di ayat lain dijelaskan pula, bukan hanya bersama kita, tetapi bahkan Allah lebih dekat daripada urat nadi kita.
      Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya (Qaf 50:16)
  4. Dialah yang menjadi tempat kembali segala urusan segenap ciptaanNya di langit dan bumi
  5. Dialah yang mengatur urusan yang bersifat makro, seperti peredaran bumi dan matahari sehingga terjadi siklus malam dan siang. Dia pula yang mengetahui berbagai urusan yang bersifat halus, yakni mengeahui segala isi hati manusia (6)

Tuhan yang Maha Bijaksana

Sedangkan sifat Allah yang Maha Bijaksana digambarkan dalam interaksi Allah SWT yang Maha Penyantun dan Maha Penyayang dengan manusia, yang dijewantahkan dalam perintah untuk (1) beriman kepadaNya dan (2) menafkahkan sebagian harta di jalanNya (7).

Mengapa Manusia harus Beriman?

Ayat selanjutnya menjelaskan, mengapa sudah sepantasnya manusia beriman kepada Allah SWT.

  1. Dialah yang telah mengutus Rasul yang menyerukan keimanan kepada setiap umat (8). Allah SWT menyebutkan di ayat lain ketulusan seorang Rasul dalam melaksanakan tugas dakwah kepada umatnya sebagai berikut:

    Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Al-Ahzab 33:21)

    Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, teramat besar belas kasih dan penyayangnya terhadap orang-orang yang beriman. (At-Taubah 9:128)

  2. Dialah yang telah mengambil janji kesaksian seluruh manusia ketika mereka masih di alam ruh (8), sebagaimana disebutkan di ayat berikut:

    Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)" (Al-A'raf 7:172)

  3. Dia pula yang telah menurunkan ayat-ayatNya (dalam bentuk kitab suci) sebagai petunjuk bagi manusia, menyelamatkan manusia dari kegelapan menuju cahaya (9).

    Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur'an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur'an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Asy-Syura 42:52)

    Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur'an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun. (Az-Zumar 39:23)

Di akhir ayat 9, Allah SWT menegaskan, Dialah Tuhan yang Maha Penyantun dan Maha Penyayang atas hambaNya yang menunjukkan kepada manusia jalan-jalan menuju keimanan kepadaNya.

Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang terhadapmu. (9)

Mengapa Manusia harus Menafkahkan Hartanya?

Kemudian, dijelaskan pula, mengapa manusia sudah sepantasnya menafkahkan sebagian harta mereka.

  1. Segala apa yang ada di bumi dan langit, pada hakikatnya semua adalah milik Allah SWT, sedangkan manusia hanya mengolah dari modal awal berupa karunia dan rezeki yang dikaruniakan kepada mereka (10).

  2. Allah SWT Maha Mengetahui apa dan bagaimana seorang hamba dalam menafkahkan hartanya. Manusia tidak perlu khawatir pahalanya akan tertukar atau berkurang. Dijelaskan bahwa semakin sulit dan berat pengorbanan yang dilakukan, maka semakin besar pula balasan yang diterima seorang hamba. Digambarkan, Allah SWT memberi keutamaan dan balasan yang lebih tinggi kepada mereka yang menafkahkan harta dan jiwanya dalam membela perjuangan Rasulullah SAW pada masa-masa yang sangat sulit, sebelum penaklukan Mekkah (futhul Makkah) - dimana kaum Muslim pada saat itu masih sangat lemah, dibandingkan mereka yang menyumbangkan hartanya dan ikut berperang setelah penaklukan Mekkah - pada saat kaum Muslim sudah cukup kuat (10).

    Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas ra, ia berkata,
    Pernah terjadi percekcokan antara Khalid bin al-Walid ra dan Abdurrahman bin Auf ra. Lalu Khalid bin al-Walid berkata kepada Abdurrahman bin Auf ra, "Kalian bersikap merasa superior atas kami dengan hari-hari yang kalian mendahului kami dengannya." Lalu hal itu dilaporkan kepada Rasulullah SAW. Beliau bersabda, "Biarkanlah para sahabatku; jangan kalian ganggu dan menjelek-jelekkan mereka. Karena sungguh Demi Dzat Yang jiwaku berada dalam genggamanNya, seandainya kalian menginfakkan semisal gunung Uhud besarnya, atau menginfakkan emas sebesar gunung-gunung, niscaya kalian tidak akan bisa menyamai amal-amal mereka."

  3. Allah SWT menjamin balasan bagi mereka yang memberi pinjaman kepadaNya, yakni menafkahkan sebagian hartanya yang baik sebagai berikut:

    • Harta mereka akan diganti dengan berlipat-lipat (11), sebagaimana pula disebutkan di ayat lain:
      Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Al-Baqarah 2:261)
    • Mereka akan menerima pahala yang banyak (11)
    • Mereka akan dikaruniai cahaya di hadapan dan di sebelah kanan mereka pada hari Akhir (12)
    • Mereka akan masuk surga sebagai keberuntungan mereka karena menerima balasan yang berlipat-lipat jauh lebih besar daripada amal yang mereka kerjakan (12)

Keadaan Orang Munafik di Akhirat

Sebagai kontras terhadap manusia yang beriman dan memberikan pinjaman kepada Allah SWT, ayat berikutnya menerangkan mengenai orang Munafik yang tidak tulus dalam beriman dan selalu berusaha menghindari menolong agama Allah dan menafkahkan sebagian harta mereka.

Diceritakan, di Akhirat orang Munafik akan mendatangi orang beriman yang mereka kenal ketika di dunia untuk meminta sedikit cahaya dari orang beriman.

Orang Munafik: "Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu"

Orang Beriman: "Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)"

Orang Munafik: "Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?" (14)

Orang Beriman: "Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (nasib buruk menimpa kami). Kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu. Maka pada hari ini tidaklah diterima tebusan (amal) dari kamu - sebagaimana juga orang-orang kafir. Tempat kamu ialah neraka. Di sanalah tempat tinggalmu. Dan sungguh neraka adalah tempat kembali yang sangat buruk." (14-15)

Rangkaian ayat di atas menggambarkan sebagian profil orang Munafik sebagai berikut:

  • Mereka berteman, bergaul dengan komunitas yang sama dengan orang yang beriman. Pun mereka ikut bersama-sama orang beriman melaksanakan berbagai bentuk ibadah, seperti sholat di masjid, shaum, zakat dan haji. Di dalam satu hadits, Nabi SAW bersabda,

    Tanda orang munafik itu tiga: (1) apabila ia berucap berdusta, (2) jika membuat janji berdusta, dan (3) jika dipercayai mengkhianati. (HR Al-Bukhari dan Muslim).

    Menurut riwayat lain, disebutkan pula:

    Dan apabila ia mengerjakan puasa dan shalat, ia menyangka bahwa dirinya seorang muslim (HR Muslim).

  • Di dalam hatinya, mereka selalu dihinggapi keragu-raguan akan kebenaran risalah Allah SWT. Bimbang dan ragu ini adalah salah satu ciri utama mereka, sebagaimana diterangkan di ayat lain:

    Mereka (kaum Munafik) berada dalam keraguan antara yang demikian (iman atau kafir); tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir), maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya. (An-Nisa' 4:143)

    Nabi SAW pun menggambarkan keraguan orang Munafik ini:
    Perumpamaan orang munafik adalah seperti seekor domba yang kebingungan dan bimbang di antara dua kumpulan kambing, terkadang ke kumpulan kambing yang ini dan terkadang ke kumpulan kambing yang itu. Dia tidak tahu manakah yang akan diikutinya. (HR Muslim)

  • Demikian pula, mereka berharap agar orang beriman kena batunya karena sikap keimanan dan ketaatan orang beriman kepada Allah dan RasulNya. Mereka bergembira bila orang beriman mengalami kesulitan dan tidak suka bila orang beriman mendapatkan kemenangan / keberhasilan.

  • Pragmatis, mereka lebih mengutamakan keuntungan yang bisa diperoleh di dunia (berupa kenikmatan duniawi) daripada balasan Allah yang diberitakan oleh Rasulullah dalam bentuk pahala dan surga di Akhirat. Cara pandang mereka ini dijelaskan juga di ayat lain,

    Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata, "Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya." (Al-Ahzab 33:12)

Peringatan Allah kepada Orang Beriman

Kalau pada ayat di atas digambarkan orang-orang Munafik yang dalam kehidupannya di dunia mereka hidup berdekatan dengan orang beriman, maka kemudian Allah SWT memberikan peringatan dan clue pencegahan agar mereka yang sebelumnya telah beriman dan menaati Allah dan RasulNya tidak terjerumus ke dalam kefasikan orang-orang Munafik, dengan pertanyaan yang menggetarkan hati pada ayat selanjutnya:

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)? Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. (16)

Allah SWT seakan menyapa orang beriman yang sedang jauh dari ketakwaan, yakni mereka yang dahulunya pernah menerima keimanan dan menaati ayat-ayat Allah namun karena kelalaian dan kesibukannya, mereka jauh dari ketakwaan kepada Allah.

Bukankah sudah saatnya bagi mereka (orang beriman) untuk melembutkan hati dengan kembali berdzikir dan melantunkan ayat-ayatNya? Janganlah sampai mereka menjadi fasik dan terjerumus menjadi orang munafik dengan terus menunda-nunda taubat serta melalaikan ketaatan terlalu lama sehingga hati terlanjur menjadi keras dan sulit mengenali kembali cahaya hidayah Allah SWT.

Kemudian di ayat berikutnya, Allah SWT menggambarkan kasih sayang dan ampunanNya. Betapa Dia yang mampu menghidupkan bumi, tanah dan tanaman setelah mati dan kering di musim kemarau, tentu tidaklah sulit bagi Dia untuk menghidupkan kembali hati hambaNya yang sudah mengeras selama sang hamba berdoa dan memohon ampunan kepadaNya (17).

Di ayat lain, kita pun diperintahkan untuk tidak berputus-asa, segera kembali kepada Allah SWT, memohon ampunanNya - betapa pun besarnya dosa dan kezaliman yang telah diperbuat.

Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitan pun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan. (Al-An'am 6:43)

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (Ali Imran 3:135)

Katakanlah, "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Az-Zumar 39:53)

Di dalam satu hadits Qudsi, Allah SWT berfirman,

Wahai anak Adam, selagi kamu minta dan berharap kepadaKu, maka Aku akan mengampuni bagimu segala yang telah berlalu dari dosamu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, kemudian kamu meminta ampun kepadaKu, niscaya Aku ampuni kamu, dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, jika kamu datang kepadaKu dengan kesalahan (dosa) sepenuh bumi, kemudian kamu mendatangiKu dengan tidak menyekutukanKu dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan ampunan sepenuh bumi pula.” (Shahih Al-Jami’ 5/584)

Sebagai penutup, kita diminta untuk kembali ke awal, merenungkan tanda-tanda, perumpamaan dan pesan yang disampaikan Allah SWT pada ayat-ayat awal surah mengenai dua sifatNya, yakni Allah Yang Maha Perkasa dalam bentuk kekuasaanNya yang meliputi segala sesuatu, serta Allah Yang Maha Bijaksana dalam bentuk kasih sayang dan ampunanNya atas seluruh makhlukNya termasuk manusia (17).

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.

Photo credit: Pxhere