Golongan Shiddiqin

Melanjutkan bahasan ayat 10-11 sebelumnya, di ayat 18 diterangkan mereka yang memberikan pinjaman harta yang baik kepada Allah, mereka ini disebut sebagai Shiddiqin (18):

  1. Mereka membenarkan, mengakui dan melaksanakan perintah Allah dan RasulNya
  2. Mereka memberi pinjaman kepada Allah, menginfakkan sebagian hartanya yang baik-baik di jalan Allah

Allah SWT mengulangi menjelaskan balasan kepada golongan Shiddiqin ini - sebagai penegasan atas apa yang sudah disebutkan pada ayat 11 sebelumnya (18-19):

  1. Mereka akan mendapatkan pengembalian, return yang berlipat-ganda dari harta yang mereka pinjamkan
  2. Mereka akan menerima pahala yang besar
  3. Mereka akan dikaruniai cahaya di Akhirat
  4. Mereka akan mendapat tempat khusus di sisi Allah SWT, bersama-sama para syuhada

Sebagai catatan, golongan Shiddiqin ini adalah salah satu dari empat golongan orang-orang yang diberi nikmat yang disebutkan pada surah Al-Fatihah ayat 7. Keempat golongan tersebut diterangkan pada ayat berikut:

Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: (1) Nabi-nabi, (2) para shiddiiqiin, (3) orang-orang yang mati syahid, dan (4) orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (An-Nisa' 4:69)

Sebagai kontras, Allah pun mengancam mereka yang kafir dan menolak mengakui kebenaran ayat-ayatNya menjadi penghuni neraka (19).

Kehidupan Dunia dan Hakikatnya

Di ayat-ayat selanjutnya, Allah SWT menerangkan howto, cara bagaimana seharusnya agar manusia dapat selamat menjalani kehidupan dunia dan juga memperoleh kemenangan di akhirat.

1. Menyadari Hakikat Dunia

Langkah pertama adalah mengetahui dan menyadari hakikat dan sifat-sifat kehidupan dunia, sebagaimana dijelaskan pada ayat 20 sebagai berikut:

  • Dunia adalah permainan dan senda gurau
    Kehidupan dunia hanyalah permainan, hiburan yang dinikmati hanya sesaat saja kemudian langsung selesai dan hilang. Apa yang terjadi di dunia adalah fragmen demi fragmen kehidupan yang sementara dan singkat.

    Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui. (Al Ankabuut 29:64)

    Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu. (Muhammad 47:36)

    Perbandingan singkatnya kehidupan dunia yang fana ini dengan kekalnya kehidupan akhirat digambarkan pada ayat berikut:

    Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu. (Al-Hajj 22:47)

  • Dunia bersifat melalaikan
    Kesibukan dalam bekerja dan berbagai pencapaian keduniaan dalam bentuk berbagai kenikmatan (seperti nikmat materi, keluarga, nama baik dll) berpotensi besar menghanyutkan dan melalaikan kita dari tujuan utama penciptaan hidup dunia, yakni untuk beribadah kepada Tuhannya Yang Maha Menciptakan. Juga, menutupi kita untuk menghitung-hitung kecukupan tabungan amal kita sebagai bekal akhirat.

    Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah. (Luqman 31:33)

  • Dunia ibarat perhiasan
    Atribut yang kita peroleh dalam kehidupan di dunia, seperti status sosial, gelar, kecantikan, kesehatan yang prima, banyaknya harta dan keturunan pun berpotensi besar menutupi siapa diri kita sebenarnya. Menjadikan diri kita merasa lebih baik daripada yang seharusnya. Di ayat lain disebutkan, bisa jadi seseorang merasa berbuat baik padahal apa yang dilakukannya adalah sedang merusak:

    Dan bila dikatakan kepada mereka,"Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi". Mereka menjawab, "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan." (Al-Baqarah 2:11)

  • Dunia dapat menjadikan kita bermegah-megah dan menjadi kebanggaan
    Dengan harta dan kedudukan yang kita miliki, dunia mendorong kita hidup mewah, glamor dan berlebih-lebihan. Dunia menjadi tempat untuk saling bersaing dalam banyaknya harta dan anak.
    Dunia dengan segala pencapaiannya ini (seperti banyaknya harta, keturunan dan nama baik) dapat menjadi sesuatu yang sedemikian dibanggakan sehingga sangat besar kecintaan kita kepadanya, sebagaimana dijelaskan pada ayat berikut:

    Dijadikan indah pada (pandangan) manusia cinta terhadap apa-apa yang diingini, yaitu: perempuan-perempuan, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (Ali Imran 3:14)

  • Dunia bersifat fana atau sementara
    Dunia pun memiliki karakteristik utama, yakni memiliki siklus tumbuh-berkembang-mati seperti siklus tumbuh-berkembang-matinya tanaman, sebagaimana disebutkan di pertengahan ayat 20 dan ayat lain berikut:

    ...seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. (20)

    Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al-Kahfi 18:45)

    Di ayat lain juga diterangkan, bahwa manusia pun tidak luput dari siklus ini:

    Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya). (Al-Mu'min 40:67)

    Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (An-Nahl 16:70)

    Kemudian dijelaskan pula di ayat lain, bukan hanya bersifat sementara dan memiliki siklus, tetapi dalam kehidupan duniawi pun dapat terjadi hal-hal yang tidak diduga dan di luar perhitungan (unpredictable).

    Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dan langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir. (Yunus 10:24)

    Sesungguhnya Kami telah menguji mereka sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik hasilnya di pagi hari, dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir miskin), lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur, maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita (Al Qalam 68:17-20)

  • Dunia adalah kesenangan yang menipu, sebagaimana diterangkan juga di ayat berikut:
    Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. (Al-Mu'min 40:39)

    Sa'd bin Jubair (w. 95 H/714 M) menjelaskan, dunia adalah kesenangan tipuan ketika dunia itu melalaikan anda dari mencari akhirat. Adapun jika dunia bisa mendorong anda mencari ridha Allah SWT dan pertemuan denganNya, dunia itu menjadi sebaik-baik kesenangan dan sebaik-baik media dan sarana.

2. Fokus Mencari Ampunan Allah dan Balasan Surga

Langkah kedua, dijelaskan pada akhir ayat 20, yakni mengerahkan segala upaya, waktu dan tenaga untuk melaksanakan amal-amal dengan tujuan meraih dua hal: ampunan Allah SWT dan balasan surga yang kekal. Kita diperintahkan untuk berlomba, berpacu, bergegas menyegerakan amal-amal ketaatan dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan agar dapat menghapus dosa-dosa dan kesalahan serta menghasilkan pahala dan balasan surga (21).

Hal ini senada dengan perintah Allah di ayat lain:

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa (Ali Imran 3:133)

Di ayat lain, dijelaskan bahwa fokus melakukan amal-amal untuk kehidupan akhirat ini tidak boleh dilakukan dengan menelantarkan kebutuhan duniawi, seperti pemenuhan kebutuhan ekonomi, pendidikan dll:

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Al-Qasas 28:77)

3. Menyadari Hakikat Musibah dan Nikmat

Langkah ketiga, adalah menyadari bahwa setiap peristiwa pada hakikatnya sudah ditentukan dan tercatat di sisi Allah sebelum peristiwa itu terjadi (22). Hal ini tidak lain agar kita tidak terlalu menyesali atas musibah yang menimpa, juga tidak terlalu gembira dan berbangga diri atas nikmat yang dikaruniakan Allah kepada kita (23). Di ayat lain dijelaskan,

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (At-Taghabun 64:11)

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)" (Al-An'am 6:59)

Diterangkan pula di ayat lain, bahwa cobaan musibah adalah suatu keniscayaan di dalam kehidupan. Kita diperintahkan menghadapinya dengan kesabaran.

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" (Al-Baqarah 2:155-156)

Para Pencinta Dunia

Sebagai kontras dari mereka yang mengejar akhirat di atas, Allah SWT kemudian menerangkan profil mereka yang mencintai dunia. Mereka ini disebutkan memiliki dua ciri utama, yakni (24):

  1. Kikir, enggan menunaikan hak Allah yang terdapat pada harta kekayaan mereka
  2. Mengajak orang lain untuk kikir seperti mereka, memerintahkan dan mempengaruhi orang lain untuk bersikap seperti mereka, bakhil dan kikir dengan apa yang dimiliki

Sebagai penutup, di akhir ayat 24 Allah SWT menegaskan bahwa Dialah Tuhan Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji di langit dan di bumi. Kebakhilan manusia tidak akan mendatangkan mudharat dan kerugian sedikit pun kepada Allah, melainkan terhadap diri manusia itu sendiri.

Dan Musa berkata, "Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji." (Ibrahim 14:8)

Sifat Maha Kaya dan Maha Terpujinya Allah atas makhlukNya ini dinarasikan dengan indah di dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Dzarr, dapat dibaca di sini.

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.

Photo credit: Boris Smokrovic