Risalah Allah melalui Rasul, Kitab Suci dan Mizan

Bagian akhir surah Al-Hadid menerangkan mengenai risalah Allah - penyampaian dan internalisasinya di dalam suatu komunitas / masyarakat. Disebutkan, ada 3 komponen yang terlibat dalam penyampaian risalah Allah ini kepada masyarakat, umat para Rasul, yakni (25):

  1. Para Rasul yang membawa mukjizat sebagai bukti nyata kerasulannya.
  2. Al-Kitab (kitab-kitab Allah) yang mengandung hikmah dan berbagai hukum syariah yang diajarkan oleh Rasul kepada umatnya
  3. Keadilan - sikap adil yang dicontohkan oleh Rasul agar diikuti oleh umatnya

Kombinasi Rasul, Al-Kitab, dan Keadilan dalam penyampaian risalah ini diterangkan pula pada ayat lain:

Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat (An-Nisa' 4:105)

Allah kemudian menganalogikan risalahNya dengan besi yang memiliki kekuatan yang hebat dan memberi banyak manfaat bagi manusia. Implisit di sini, kaum beriman dijanjikan, bila mereka menaati risalah Allah, yakni berpegang pada ketiga komponen di atas, yakni: (1) menjadikan kitab suci sebagai pedoman kehidupannya, (2) mengikuti sunnah RasulNya serta (3) menjaga keadilan hukum, niscaya mereka akan dikaruniai kekuatan yang hebat dan akan berkuasa di muka bumi serta menebarkan banyak manfaat kebajikan kepada peradaban umat manusia. Hal yang sama ditegaskan juga pada ayat berikut:

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (An-Nur 24:55)

Dengan demikian, disimpulkan bahwa syarat agar komunitas orang beriman dapat menjadi kuat secara sosial dan politik serta menjadi kekuatan yang efektif dalam menjalankan fungsi rahmatan lil 'alamin adalah dengan melaksanakan ketiga kombinasi di atas, yakni ketaatan melaksanakan Sunnah Rasul, menggali dan berpedoman pada nilai-nilai dan prinsip di Al-Qur'an serta menegakkan keadilan hukum yang tidak diskriminatif.

Perintah berlaku adil kepada orang beriman terhadap masyarakat secara umum tanpa memandang agama, ras dan golongan ini sangat fundamental sehingga secara khusus diterangkan pada dua ayat yang hampir identik maknanya sebagai berikut:

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Maidah 5:8)

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar-balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan. (An-Nisa' 4:135)

Sebagai informasi, ayat 135 surah An-Nisa' di atas dikutip di Harvard Law School Entrance Wall dan diakui sebagai salah satu ekspresi tertinggi umat manusia mengenai keadilan.

Tujuan diturunkannya Risalah Allah

Selanjutnya disebutkan pula, tujuan diturunkannya risalah Allah ini, selain untuk (1) memenangkan kaum beriman di atas umat lain seperti diterangkan di atas, namun juga bertujuan untuk (2) mensyiarkan agama Allah dan sebagai (3) ujian keikhlasan bagi orang beriman, menguji siapa di antara mereka yang mampu melaksanakan ketaatan dan membela agamaNya, dengan keikhlasan yang sebenar-benarnya (25).

Rasul diutus untuk Mendakwahkan Risalah Allah

Allah SWT kemudian mengilustrasikan beberapa Rasul yang telah diutus sebelumnya, yakni Nuh as dan Ibrahim as beserta keturunan mereka. Sebagian dari mereka menerima Al-Kitab (seperti Daud as yang membawa Zabur, Musa as yang membawa Taurat, Isa as yang membawa Injil dan Muhammad saw yang membawa Al-Qur'an), sebagian lainnya menerangkan Al-Kitab yang telah diutus kepada Rasul sebelumnya kepada umatnya (26).

Selanjutnya dijelaskan, bahwa ada sebagian dari umat Rasul yang menerima dan menaati risalah yang dibawakan oleh para Rasul tersebut, namun sebagian besar mengingkari atau mendustakannya (26).

Larangan Berlebihan dalam Beragama

Kemudian pada ayat selanjutnya dinarasikan umat Nabi Isa as, yakni kaum Nasrani - yang dikenal berhati santun dan kasih sayang, namun mereka berlebih-lebihan dalam rahbaniyah. Menurut ar-Razi dan beberapa mufassir lain, rahbaniyah atau kerahiban ini adalah hidup menyendiri dan terpencil di bukit-bukit atau biara untuk menyelamatkan diri dari fitnah dalam agama, memfokuskan diri sepenuhnya untuk beribadah, serta memaksa diri melakukan hal-hal yang melebihi dari ibadah-ibadah yang wajib bagi mereka, seperti mengenakan pakaian kasar dan menjauhi perempuan (tidak menikah).

Rahbaniyah ini sebenarnya hanya dilakukan pada kondisi tertentu seperti ketika zaman sudah rusak dan fitnah merajalela. Namun lama setelah Isa as tidak ada, para pemuka alim ulama melebih-lebihkannya sehingga dilakukan terus menerus walaupun tidak ada dasar dalilnya dari Nabi Isa as atau perintah di dalam Al-Kitab (kitab Injil) (27).

Disebutkan pula di ayat yang sama, kaum Nasrani tidak memelihara ajaran dan kitab Injil yang dibawa oleh Nabi Isa as sebagaimana mestinya dan tidak menjunjung tinggi prinsip-prinsipnya, tetapi justru mereka menyia-nyiakannya dan mengabaikannya. Mereka mengubah-ubah kitab Injil agar sesuai dengan keinginan para pendeta mereka (27). Hal ini disebutkan pula pada ayat berikut:

Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui? (Al-Baqarah 2:75)

...Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya... (Al-Maidah 5:113)

Allah SWT juga menerangkan kemungkaran yang dilakukan oleh sebagian besar pemuka agama Yahudi dan Nasrani di ayat-ayat lain, diantaranya sebagai berikut:

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih (At-Taubah 9:34)

Al-Hafizh Abu Ya'la meriwayatkan dari Anas bin Malik ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda,

Janganlah kalian memperberat diri kalian sendiri, maka ketika itu diri kalian akan diperberat dan kalian akan kesulitan sendiri, karena sesunggunya ada kaum yang memperberat diri mereka sendiri, lalu akhirnya Allah SWT pun memperberat mereka. Lihatlah sisa-sisa mereka itu di biara-biara.

Rasulullah saw juga menerangkan kerahiban umat beliau:

Setiap Nabi memiliki kerahiban, dan kerahiban umat (Islam) ini adalah jihad di jalan Allah SWT (HR. Imam Ahmad dari Anas bin Malik ra)

Sebagai penutup, Allah memerintahkan kepada orang beriman untuk bertakwa kepadaNya dan menaati Rasul utusanNya. Mereka ini dijanjikan balasan berikut (28):

  1. Rahmat Allah, berupa berbagai nikmat dan kebaikan di dunia dan akhirat
  2. Cahaya hidayah dan petunjuk serta bimbingan Allah di dalam kehidupannya
  3. Ampunan dan maaf Allah atas dosa-dosa (kecil) yang mereka perbuat

Sebagai penutup, ditegaskan bahwa menjadi bertakwa dan menaati Allah dan RasulNya adalah pilihan bagi seluruh umat manusia. Allah SWT dengan tegas menyanggah dan mementahkan asumsi dan dugaan orang-orang Yahudi yang mengklaim bahwa kenabian, wahyu dan risalah hanya khusus dari dan untuk kalangan mereka saja:

Agar Ahli Kitab mengetahui bahwa sedikit pun mereka tidak akan mendapat karunia Allah (jika mereka tidak beriman kepada Muhammad), dan bahwa karunia itu ada di tangan Allah. Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (29).

Dari ayat 29 di atas, dapat pula disimpulkan bahwa keimanan Ahli Kitab kepada Taurat dan Injil, serta kepada Nabi Musa as dan Nabi Isa as belumlah cukup dan belum dihitung sebagai keimanan yang benar selama mereka belum beriman kepada Nabi Muhammad saw dan mengakui beliau sebagai Nabi dan Rasul Allah SWT.

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.